
Agha menempelkan keningnya di kening Kiana untuk meredakan gairahnya.
"Kak Agha, Kak Kiana! Ini Kendra. Ijinkan Kendra masuk, Kak" Teriak Kendra dari arah luar.
Mendengar suara Kendra, Kiana langsung menarik keningnya dan bangkit berdiri dari pangkuan Agha, lalu berbalik badan dengan cepat untuk berlari ke pintu.
Setelah pintu dibuka, munculah wajah mungil Kendra. Kendra langsung mendorong pintu dan melesak masuk. Kiana menutup kembali pintu kamar ruang kerja milik mendiang Ibundanya dan saat ia berbalik badan, ia melihat Kendra sudah duduk di atas pangkuan Agha dan mengusap-usap wajah Agha dengan kedua tangan mungilnya sambil bertanya, "Kak Agha tidak apa-apa?"
Agha mencium gemas pipi Kendra lalu berkata, "Kak Agha baik-baik saja"
"Lukanya tidak parah, kan?" Tanya Kendra sambil menjulurkan kepalanya untuk melihat punggung Agha.
Agha terkekeh geli dan memeluk Kendra dengan erat sambil berkata, "Kok, jadi kayak jerapah menjulurkan kepala segala"
Kendra terkekeh geli dan berkata, "Itu karena Agha sayang sama Kak Agha dan mengkhawatirkan Kak Agha"
"Makasih sudah mengkhawatirkan Kakak. Luka Kakak nggak dalam dan sudah diobati sama Kak Kiana kamu"
"Syukurlah" Sahut Kendra dengan wajah lega dan penuh syukur.
Kedua pria tampan berbeda generasi itu kemudian mengobrol dengan asyik dan mengabaikan Kiana yang masih berdiri tegak memunggungi pintu.
Melihat Kendra dan Agha asyik mengobrol, Kiana tersenyum dan bergumam lirih, "Wah, aku diabaikan sama mereka, nih. Lebih baik aku ke dapur saja untuk membuat Bakpao.Yang Mulia belum makan tadi dan aku harus merebus obat anti infeksi dan demam untuk Yang Mulia" Kiana kemudian berbalik badan kembali dan keluar tanpa mengeluarkan suara.
Kiana berjalan ke dapur dan melintasi halaman depan. Ia masih melihat Komala masih berlutut di tengah halaman depan dengan wajah tertunduk.
Kiana menatap punggung Komala sejenak dan bergumam lirih, "Kasihan sekali dia. Aku akan bikin bakpao dan teh hijau madu juga untuk Komala. Bakpao dan teh hijau madu, kan, kesukaannya Komala dan semoga Yang Mulia Agha juga menyukainya karena teh hijau madu baik untuk menenangkan jiwa dan raga" Kiana kemudian bergegas menuju ke dapur untuk segera membuat bakpao, obat anti infeksi dan demam untuk Agha, dan membuat teh hijau madu untuk Komala dan Agha.
Kendra kemudian berkata, "Kak, Kendra kembali ke kamar Kendra dulu, ya. Ini sudah malam"
"Baiklah. Selamat tidur Kendra"
Setelah mencium punggung tangannya Agha, Kendra melompat turun dari pangkuan Agha dan langsung berlari meninggalkan Agha.
Barulah Agha menyadari kalau Kiana tidak ada di dalam ruangan.
"Ke mana dia? Apa dia ke dapur untuk merebus obat? Aku ke dapur saja. Aku yakin dia ada di sana" Agha kemudian bangkit berdiri lalu melangkah lebar menuju ke dapur.
Agha menoleh ke halaman depan saat labgakhnya melintasi halaman depan dan ia melihat punggung Komala. Agha bergumam di dalam hatinya, dia dan Kiana memiliki Ayah yang sama, tapi kenapa dia sangat jauh berbeda dengan Kiana. Dia penuh dengki, bodoh, dan jahat.
Agha kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.
Agha tersenyum lebar menemukan punggung wanita yang sudah berhasil membuat hati dan jantungnya sering bekerja abnormal akhir-akhir ini. Agha kemudian tersenyum jahil sambil melangkah pelan mendekati Kiana. Lalu, dengan pelan ia memeluk tubuh ramping Kiana dari belakang.
Kiana terperanjat kaget dan langsung memeluk di depan kukusan dan panci berisi rebusan obat.
__ADS_1
Agha dengan santainya mendararkan dagunya di pundak Kiana dan bertanya, "Baunya sedap banget. Kau masak apa? Kebetulan aku lapar banget. Aku belum makan tadi"
Kiana menghela napas panjang karena dia tidak memiliki keberanian untuk mengurai gelungan tangan Agha di pinggangnya padahal ia merasa sangat canggung dipeluk seperti itu oleh pria yang belum begitu ia kenal meskipun pria itu adalah suaminya. Lalu, Kiana segera menyahut, "Saya masak bakpao isi daging ayam dan bubur manis. Lalu, panci yang ini adalah rebusan obat untuk Yang Mulia. Saya juga sudah menyeduh teh hijau madu di meja makan. Silakan Yang Mulia duduk di meja makan dan menunggu di sana. Saya akan segera hidangkan semuanya.
"Aku akan tetap memeluk kamu seperti ini sampai semuanya matang" Agha kemudian mencium pipi Kiana lalu mencium leher Kiana.
Kiana menoleh dan langsung berkata, "Yang Mulia, saya penuh keringat dan......."
Cup! Agha mengecup bibir Kiana dan mencium kembali leher Kiana sambil berkata, "Aku tidak keberatan kamu berkeringat"
"Yang Mulia, ke.....kenapa Anda mencium saya? Kalau ada yang melihat bagaimana?"
"Bodo amat! Kamu adalah Istriku. Aku berhak mencium kamu kapan pun aku mau" Sahut Agha dan pria itu kembali mengecup bibir Kiana lalu mencium leher Kiana kembali.
Kiana hanya bisa diam membiarkan suaminya melakukan apapun yang suaminya suka.
Setelah semua masakan Kiana matang, Agha melepaskan ciuman dan pelukannya untuk membantu Kiana membawa semuanya ke meja makan.
"Masakan saya ini adalah tanda terima kasih saya karena Anda sudah melindungi saya dari pisau buah"
"Syukurlah kau peka. Kalau tidak aku akan puasa malam ini karena aku nggak mau makan masakannya Komala" Sahut Agha.
Kiana tersenyum dan berkata, "Saya akan suapi Anda, Yang Mulia"
Setelah menyuapi Agha dengan penuh kelembutan. Kiana memberikan rebusan obat ke Agha sambil berkata, "Apakah saya boleh memberikan bakpao dan teh ini ke Komala? lalu, emm, apakah saya boleh menyuruh Komala masuk ke kamarnya setelah makan? Saya tidak tega membiarkan Komala terus berlutut sampai pagi"
"Terima kasih, Yang Mulia. Emm, saya bawa bakpao dan teh ini ke halaman depan dulu, ya, Yang Mulia"
Agha menyahut, "Hmm" Lalu, memonyongkan bibirnya di depan Kiana.
"Ada apa dengan bibir Anda, Yang Mulia?" Kiana sontak menautkan alisnya.
"Cium dulu" Ucap Agha dengan santainya.
"Apa?!" Kiana langsung menutup mulutnya yang ternganga sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Kiana melihat eberapa pelayan di kediaman tabib Danur yang ada di ruang makan langsung menunduk dan saling melempar pandang.
Kiana kemudian menatap Agha yang kembali memonyongkan bibir dan berbisik lirih, "Saya malu, Yang Mulia. Banyak pelayan di sini"
Agha tetap memonyongkan bibirnya dan mulai mendelik sambil menggeram kesal.
Melihat Agha mendelik dan menggeram kesal, Kiana langsung mengecup bibir Agha lalu bangkit berdiri dan langsung berlari kencang meninggalkan ruang makan dengan rona malu di wajah.
Agha menatap punggung Kiana dengan tawa lepas.
__ADS_1
Kiana berjongkok di depan Komala dengan napas terngah-engah dan Komala menatap Kiana dengan wajah heran bercampur kaget. "kenapa kau kemari? Pergi! Aku tidak mau melihat wajah kamu"
"Aku membuat bakpao dan teh hijau madu kesukaan kamu. Makanlah" Kiana meletakkan nampan kecil di depan Komala.
Komala berteriak, "Bawa pergi makanan kamu!"
Plak! Ibundanya Komala tiba-tiba muncul di halaman depan dan langsung menampar Komala.
Komala menoleh ke ibundanya dan sambil mengelus pipinya, Komala mendelik, "Ibu?! Kenapa Ibu menamparku?!"
"Minta maaf sama Kakak kamu dan makan makanan yang sudah diantarkan oleh Kakak kamu, cepat!" Ibundanya Komala melotot ke Komala.
Komala dengan terpaksa berkata, "Maafkan aku, Kiana"
"Aku sudah memaafkan kamu. Makanlah dan masuk ke kamar kamu setelah makan. Kamu nggak usah berlutut sampai besok pagi"
Ibundanya Komala langsung membungkukkan badan dan berkata, "Terima kasih untuk kemurahan hati kamu, Kiana"
Kiana menatap ibu tirinya dan bergegas pergi meninggalkan ibu tirinya dan Komala tanpa mengucapkan apa-apa.
Kiana masuk ke kamarnya dan langsung duduk di tepi ranjang yang sangat ia rindukan dengan tubuh lelah.
Kiana terlonjak kaget saat pintu kamarnya terbuka pelan dan Agha melangkah masuk dengan langkah tegap.
"Ke......kenapa Yang Mulia masuk ke kamar saya?"
Agha duduk di samping Kiana dengan santainya dan menyahut, "Kita ini Suami Istri. Akan sangat aneh, kan, kalau aku tidur di kamar tamu. Apa yang akan dipikirkan oleh Ayahanda kamu kalau kita tidur terpisah. Kamu juga pernah bilang kalau seorang tabib tidak membedakan pria dan wanita"
"Itu diucapkan tabib saat ia mengobati pasiennya, Yang Mulia. Kalau saat ini, ya, tentu saja beda. Saya ini wanita dan Anda Pria, Yang Mulia"
"Benarkah kau seorang wanita? Mana ada seorang wanita berlarian kencang di dalam rumah, memanjat pohon, dan kata Kendra kau sering memanjat tembok rumah"
"Yang Mulia. Saya malu" Kiana refleks menepuk bahu Agha cukup keras dan saat Kiana melihat Agha terlonjak kaget dan mengaduh, Kiana langsung berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
Agha terkekeh geli dan berkata, "Tidak apa-apa. Ayo kita tidur. Ini sudah sangat malam dan aku sangat lelah"
Kiana terpaksa menaikan kakinya dan bergeser sampai punggungnya menyentuh tembok.
Agha merebahkan diri dan langsung memiringkan badannya untuk menatap Kiana lalu pria tampan itu berkata, "Rebahkan badan kamu. Aku tidak akan menyentuh kamu. Santai saja. Aku ini Suami kamu. Tidak usah takut padaku"
Kiana merebahkan badannya dengan perlahan lalu tidur miring untuk menatap wajah Agha.
"Aku tidak bisa melakukan apapun saat ini karena punggungku terluka. Kamu menginginkan malam pertama kita, kan?"
Wajah dan telinga Kiana sontak memerah malu dan gadis cantik itu langsung berkata, "Si......siapa yang menginginkan malam pertama"
__ADS_1
Agha mengulum bibir menahan geli. Lalu, pria gagah dan sangat tampan itu berkata, "Kita mengobrol saja. Kamu tadi bilang, kan, kalau kamu belum mengenal aku dengan baik. Sekarang tanyakan apa saja yang ingin kamu ketahui tentang aku"
Kenapa mengobrol versi dia selalu seperti ini, sih? Selalu aku yang diharuskan banyak nanya. Batin Kiana.