
Agha bangun, duduk di tepi ranjang, meraih pergelangan tangan, lalu menariknya sampai Kiana jatuh di atas pangkuannya. Sepasang pengantin baru itu bersitatap dengan degup jantung yang berpacu cepat.
Kiana refleks menundukkan wajahnya saat ia melihat wajah Agha mendekati wajahnya secara perlahan.
Dia mau apa? Aaaaa! Dia mau apa? Apa dia mau menciumku lagi seperti kemarin? Kalau aku berdiri dan langsung lari apa dia akan menangkap ku dan menghukum ku? Aaaaaa!!!!! Aku harus gimana, nih? Kiana bergumam panik di dalam hatinya.
Agha mencubit pelan dagu Kiana lalu menaikkan pelan wajah istrinya. Agha masih belum merasa puas menikmati wajah ayu alaminya Kiana di pagi hari.
Agha memandangi wajah Kiana mulai dari rambut, kening, kedua alis, mata yang terpejam dan di sana Agha bisa melihat kalau ternyata Kiana memiliki bulu mata yang sangat lentik dan indah, lalu Agha menuruni hidung Kiana yang mungil dan lancip, hingga pandangan pria tampan itu turun ke bibir mungil, tipis, merah alami bak bunga mawar dan tampak ranum seperti buah plum merah kesukaannya.
Kau hadiah dari Ayah. Aku akan menghargai kamu dan melindungi kamu, Kiana. Meskipun kamu adalah mata-mata Permaisuri, aku akan tetap menghargai dan melindungimu, Karena Ayah kandungku sendiri yang memilih kamu untuk aku. Dan aku rasa aku sudah menyukai kamu di awal perjumpaan kita. Di malam pengantin kita waktu kamu mengobati lukaku. Dan entah kenapa aku merasa nyaman saat berada di dekat kamu, Kiana. Batin Agha sambil terus menatap bibir ranum istri kecilnya.
Aaaaaa!!!! Bodo amat! Kalau dia mau menciumku cium aja! Kan, hanya daging ketemu daging. Lagian dia adalah Suamiku. Batin Kiana sambil merapatkan kelopak matanya dan kedua tangan gadis cantik itu mencengkeram kedua ujung bajunya Agha.
Kiana yang masih berumur dua puluh tahun dan masih lugu memang belum merasakan apapun sama Agha Caraka. Kiana masih menganggap Agha sebagai teman, sama seperti Kiana menganggap Adyaksa dan Adnan. Namun, Kiana seringkali bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, dia mengganggap Agha sama seperti Adykasa dan Adnan, tapi kenapa hatinya sering berdebar-debar ketika Agha berada di dekatnya seperti sekarang ini.
Di saat pria tampan itu menemukan wajah istrinya tampak tegang, Agha melirik tangan Kiana dan melihat tangan istri kecilnya mencengkeram kedua ujung baju dan tangan kurus itu tampak gemetar ketakutan.
Pffttt! Agha spontan mengulum bibir menahan geli tanpa mengeluarkan suara. Kenapa dia justru tampak semakin menggemaskan saat ia ketakutan seperti ini, pffttt! Batin Agha.
Melihat Kiana semakin merapatkan matanya, membuat pria tampan itu mengurungkan niatnya untuk mencium bibir Kiana. Agha menghela napas panjang lalu menempelkan keningnya di kening istri kecilnya.
Eh! Kenapa nggak menciumku? Eh?! Kenapa aku mengharapkan dia menciumku? Kiana refleks membuka mata karena kaget.
Agha langsung menyentil keningnya Kiana sambil bertanya, "Apa yang kau pikirkan anak kecil?!"
Kiana sontak berteriak, "Aduh, sakit!" Sambil mengusap-usap keningnya.
Agha menatap Kiana dengan wajah datar dan dingin. "Kau suka aku pangku, ya? Apa kamu terpesona sama ketampananku sampai kamu mematung dan menatapku terus seperti ini?
Eits! Bodoh banget aku. Kenapa aku malah bilang seperti itu? Padahal, kan, aku masih ingin berlama-lama memangku dirinya. Agha sontak menautkan kedua alisnya karena kesal pada dirinya sendiri.
Melihat kedua alis Agha bertautan dan Agha tampak kesal, Kiana langsung bangkit berdiri dan melangkah mundur sambil berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
Padahal dia, kan, yang menarik aku ke pangkuannya tadi? Dasar aneh. Batin Kiana kesal.
Agha lalu bangkit berdiri dan melangkah mendekati Kiana dengan langkah perlahan. Kiana refleks melangkah mundur.
__ADS_1
Agha terus melangkah maju dan Kiana terus melangkah mundur sampai punggungnya membentur tembok.
Agha langsung meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Kiana dan menapakkan tangannya di tembok tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik istri imutnya.
Kiana refleks menahan dada suaminya dengan telapak tangan kanan dan tangan kiri mencengkeram ujung bajunya.
Agha terus menunduk dan menatap wajah cantik istrinya lalu bergumam, "Bolehkah?"
A.....apa maksudnya boleh? Batin Kiana sambil menatap Agha dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kalau kamu diam berarti boleh, kan?" Agha nekat mengecup bibir Kiana.
Kiana tersentak kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa kau menutup mulut kamu? Apa aku bau? Perasaan aku nggak bau" Agha menunduk untuk mencium ketiaknya sendiri.
Kiana menggelengkan kepalanya dan berkata dibalik punggung tangan, "Sa.....saya belum sikat gigi"
"Aku tidak peduli" Agha mengusap rambut Kiana dan saat pria itu menundukkan wajahnya ke wajah Kiana secara perlahan, ia kembali bertanya, "Apakah boleh?"
Melihat Kiana diam saja, Agha terus menundukkan wajahnya dan........Brak! Agha dan Kiana sontak menoleh ke pintu.
"Kak! Aku pulang! Halo, Kakak iparku yang cantik! Selamat pagi!"
Kiana melihat seorang gadis cantik seumuran dirinya melangkah masuk sambil menggendong Kendra.
Kendra yang takut sama Agha tampak menyusupkan wajahnya di dada gadis cantik berwajah ramah itu.
Agha terpaksa melepaskan kungkungannya dan berkata sambil terus menatap wajah cantik istri kecilnya, "Dia Agni Caraka adikku"
Agni mencium pipi Agha dan langsung menggenggam tangan Kiana untuk ia tarik keluar dari samping Agha sambil berkata, "Ayo kita ke kamar Kakak ipar! Kita sarapan di sana sambil berkenalan"
Agha bergegas meraih tangan Kiana untuk menahan tangan istrinya agar istrinya tidak pergi dari sisinya, namun terlambat. Agha hanya bisa menghela napas panjang memandang punggung istrinya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari balik pintu
Bora kemudian masuk ke dalam dan langsung memberikan laporan, "Ternyata benar, Yang Mulia. Nyonya muda seharian berada di kebunnya Pangeran Adyaksa. Pangeran Adyaksa tidak berbohong. Jadi, sama sekali nggak mungkin kalau Nyonya muda yang mencuri gulungan kertas itu"
Agha langsung berkata dengan wajah yang tampak lega, "Jadi, Kiana tidak mengkhianati aku?"
__ADS_1
"Iya, Yang Mulia"
"Bagus" Agha refleks tersenyum semringah.
Untuk sepersekian detik Bora tertegun melihat senyum semringah di wajah Agha, kemudian pengawal pribadinya Agha ang jago bermain pedang dan beladiri itu segera berkata untuk melanjutkan laporannya, "Tapi, anehnya........"
"Apa?" Agha langsung menghapus senyum semringah di wajahnya dan menatap Bora dengan wajah penuh tanda tanya.
"Orang kita yang kita tanam di paviliunnya permaisuri mengatakan ada seorang gadis berpakaian serba hitam dengan penutup wajah menyerahkan gulungan kertas dan permaisuri berkata, terima kasih Kiana, kerja bagus" Bora menautkan alisnya di depan Agha.
"Kamu selidiki siapa gadis itu. Pergilah ke paviliun yang dikatakan Kiana kemarin. Kalau aku yang pergi ke sana,kan, tidak mungkin"
"Kalau bukan Nyonya muda yang mencuri gulungan kertas itu kenapa.Anda masih peduli sama.gadis yang kemungkinan besar ada di paviliun itu, Yang Mulia?"
"Aku ingin tahu siapa yang membantu Kiana dan semoga bukan seorang pria" Sahut Agha dengan kilatan kecemburuan di kedua bola.matanya.
"Baik, Tuan"
"Pergilah!"
"Lalu, Anda ingin sarapan di mana Yang Mulia? Nyonya muda dan Nona Agni bersama.tuan muda Kendra sarapan di taman" Sahut Bora.
"Bagaimana.mereka? Apa mereka tampak akrab dan bahagia?"
"Sangat akrab. Saya bahkan heran, kenapa Nona Agni bisa akrab dengan seorang wanita. Biasanya,kan, Nona Agni susah akrab dengan seorang wanita" Sahut Bora.
"Bukan Agni yang aku maksudkan, tapi Kiana. Apa Kiana tampak bahagia?"
"Iya, Yang Mulia. Nyonya muda saya lihat terus tertawa lepas tanpa henti"
"Kalau begitu biarkan mereka mengakrabkan diri dan bersenang-senang. Sepetinya Agni menyukai Kiana dan begitu juga sebaliknya. Aku senang akhirnya Kiana bisa memiliki teman sebaya di kediaman ini.Suruh pelayan membawa sarapanku ke sini. Aku akan sarapan di sini saja"
"Baik, Yang Mulia"
Agha tersenyum semringah dan sepeninggalnya Bora, dia pergi mandi.
Bora melangkah ke dapur sambil bergumam, "Baru kali ini aku melihat Yang Mulia tersenyum semringah dan peduli pada seorang wanita. Saya bersyukur Nyonya muda bisa membuat Yang Mulia bahagia"
__ADS_1