
Setelah merasa kenyang, Kiana berhenti makan dan saat ia keluar dari dalam kamar dan hendak membawa semua Pring dan cangkir kotor ke dapur, dua orang pelayan yang berjaga di depan pintu langsung menghentikan langkah Kiana, mengambil semua piring dan cangkir kotor dari tangan Kiana dan berkata, "Biar kami yang membawanya ke dapur, Nyonya Muda. Kalau kami membiarkan Anda membawanya sendiri ke dapur, maka kami akan kena hukuman"
"Oh, baiklah. Terima kasih" Sahut Kiana.
Salah satu pelayan bertanya ke Kiana, "Apakah Anda sudah selesai makan, Nyonya muda?"
"Sudah" Sahut Kiana dengan senyum ramah.
"Kalau begitu, saya akan membawa semua makanan yang masih ada ke dapur untuk dipanaskan"
"Silakan. Masuklah!" Sahut Kiana sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu menghadap Kiana dan berkata, "Saya akan bawa semuanya ke dapur Anda bisa masuk dan tutup kembali pintunya, Nyonya Muda"
Kiana tersenyum, mengangguk, dan menutup pintu kamarnya. Kiana kemudian melangkah menuju ke meja baca. Dia duduk di depan. meja baca, meraih sebuah buku dari rak buku, dan membaca buku itu, "Hah?! Buku hukum? Males banget baca buku beginian" Kiana lalu menoleh ke tak buku dan mendengus kesal, "Kenapa buku-buku yang ada di rak buku ini semuanya buku-buku politik, hukum, sejarah bangsa, sejarah kota, dan strategi perang? Huh! Males banget baca buku beginian"
Kiana lalu menjatuhkan dagunya ke meja dengan perlahan sambil bergumam, "Aku dilarang berkeliaran di luar. Lalu, aku mesti ngapain di dalam kamar ini?"
Kiana menghela napas panjang, laku menegakkan kembali badannya dan bergumam dengan wajah semringah, "Besok aku, kan, pergi ke kebun herbalnya Pangeran Adyaksa. Aku akan bikin resep bedak dan krim anti jerawat. Aku akan bikin bedak dan krim anti jerawat, lalu menjualnya. Aku harus mencari uang yang banyak agar bisa menghidupi diriku sendiri pas aku pergi dari sini nanti. Pokoknya sebelum Agha si manusia es itu menikahi Kesya, aku harus kumpulkan uang sebanyak-banyaknya"
Kiana lalu menuangkan tinta ke tempat tinta, mengaduknya sebentar, lalu ia mengambil secarik kertas dan alat tulis untuk mulai menulis resep bedak dan krim anti jerawat hasil racikannya sendiri.
Di bawah pohon mangga manalagi yang berdiri kokoh juga rindang di tengah halaman kediamannya, Adyaksa meletakkan kecapinya di atas meja panjang dan duduk di bangku. Pangeran tampan yang jika dilihat dengan saksama wajahnya memiliki kemiripan bentuk dengan Agha Caraka itu menghela napas panjang. "Aku benci politik dan tidak berminat memperebutkan tahta. Tapi, demi almarhum permaisuri yang terdahulu aku akan mempertaruhkan segalanya. Jika Agha benar-benar adalah Putra Mahkota yang sah, maka aku akan mempertaruhkan jiwa dan ragaku untuk mengantarkan Agha naik ke tahta" Gumam Adyaksa sambil terus bermain kecapi.
Sementara itu pangeran tampan dan gagah yang satunya lagi, yang bernama Adnan sang putra mahkota, tengah berada di luar istana. Pangeran berwajah lembut, ramah dan sangat tampan itu memiliki watak licik, egois, dan tamak. Sejak kecil ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, untuk itulah di saat ia menginginkan Kiana, maka ia pun harus mendapatkannya dengan berbagai cara. Maka putra mahkota yang dianugerahi kecerdasan itu memanfaatkan kecerdasannya untuk melenyapkan Agha selamanya dan setelah Agha lenyap dari muka bumi ini, ia akan mengambil Kiana dan menikahinya. Menjadikan Kiana menjadi permaisurinya.saat ia sudah dilantik menjadi Kaisar nanti"
"Kau paham apa rencanaku tadi?" Tanya Adnan ke pimpinan pembunuh bayaran yang ia temui dan ia sewa dengan bayaran sangat besar.
Pimpinan pembunuh bayaran yang berperawakan tinggi besar itu mengulangi perkataan pria di depannya, "Dua bulan lagi Jenderal Agha Caraka akan pergi ke pelabuhan untuk melawan bajak laut Jepang yang masuk secara ilegal dan di sana lah saya dan anak buah saya akan pergi untuk bersembunyi di tempat yang strategis dan menembakkan anak panah beracun ke Agha Caraka. Begitu, kan, Tuan"
Pangeran Adnan yang malam itu mengenakan baju serba hitam dan memakai topeng, tertawa lirih di balik topengnya, lalu berkata, "Bagus! Lakukan dengan baik! Pastikan Agha Caraka benar-benar mati dan jangan melakukan kesalahan! Aku sudah bayar kamu dengan sangat mahal"
"Baik, Tuan"
__ADS_1
Adnan kemudian pergi meninggalkan bilik sederhana yang ada di luar kota dan di atas kudanya, pangeran tampan dan gagah itu bergumam, "Aku tidak sabar menunggu dua bulan lagi aku akan mendengar kabar kematian Agha Caraka di Medan perang dan aku akan mengambil apa yang aku inginkan"
Di dalam perjalanan menuju ke tempat ia biasa berdinas setiap harinya ketika ia tidak sedang berada di tengah Medan pertempuran, Agha terus tersenyum-senyum sendiri di atas kudanya yang tengah melaju kencang.
Setelah tiba di depan kantor penyidik, Bora menyerahkan kuda dia dan kuda junjungannya ke anak buahnya untuk dibawa ke kandang kuda.
Ketika Bora mensejajari langkah lebar junjungannya, Bora menoleh ke Agha dan mengernyit kaget, lalu ia spontan bertanya, "Kenapa Anda senyum-senyum, Yang Mulia?"
Agha langsung menghapus senyumnya, menghentikan langkah lebarnya, menoleh ke Bora dan menyahut cepat, "Tidak. Aku tidak tersenyum"
Bora langsung berkata, "Oh, maafkan saya kalau saya salah lihat, Yang Mulia"
Agha dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan kembali melangkah lebar sambil berkata, "Iya, kau salah lihat. Sepertinya kau harus banyak-banyak makan wortel agar penglihatan kamu nggak buram, cih!"
"Baik, Yang Mulia. Mulai besok dan seterusnya saya akan mengonsumsi wortel" Sahut Bora dengan nada serius.
Padahal aku tadi beneran melihat Yang Mulia Agha tersenyum. Mataku tidak buram..Eh, tapi baru kali ini aku melihat Yang Mulia tersenyum padahal Yang Mulia akan menemui penjahat kejam dan Yang Mulia akan melakukan interogasi. Biasanya di saat-saat seperti ini wajah Yang Mulia dingin sedingin es. Batin Bora sambil menelengkan kepalanya ke kiri dan menautkan kedua alisnya.
"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora.
Setelah Bora selesai mengikat penjahat kejam yang sudah menjadi buronannya Agha selama berbulan-bulan, Agha bangkit berdiri dan melangkah pelan mendekati tiang penyiksaan. Dengan wajah dingin sedingin es, Agha menyorotkan tatapan mematikan, lalu menggeram sambil membakar timah ke dalam tungku api kecil, "Katakan siapa yang menyuruhmu membantai keluarga Menteri kehakiman?"
Pria berperawakan tinggi kurus dan memiliki jambang di wajahnya menyeringai mengejek, lalu berkata, "Aku tidak akan mengatakannya meskipun kau siksa aku dengan sangat kejam. Aku tidak takut menghadapi siksaan fisik"
Agha langsung menghantamkan rumah panas ke dada pria itu. Pria itu berteriak kencang, "Aaaaaaa!" Untuk menahan kesakitannya,
"Masih bisa tahan dan mau tetap bungkam"
"Cih! Siksaan itu biasa bagiku" Sahut pria yang masih terikat di tiang penyiksaan dengan napas terengah-engah.
Agha kemudian melecutkan pecut di badan pria itu beberapa kali. Terdengar kembali suara teriakan kesakitan.
Lalu, Agha menghentikan lecutannya untuk bertanya, "Masih bisa bertahan?"
__ADS_1
"Kau memang kejam Jenderal Agha! Rumor di luar sana ternyata benar. Kau sangat kejam. Tapi, aku tidak akan membiarkan kamu menang. Lebih baik aku mati daripada harus mengkhianati junjunganku dan teman-temanku"
"Baiklah. Sepertinya yang selanjutnya ini akan mampu membuatmu buka mulut dengan sendirinya" Agha menarik sebuah karung yang terikat atasnya.
"A.....apa isi karung itu?" Pria yang terikat kedua tangannya di tiang penyiksaan menunduk panik menatap karung yang ada di antara dia dan Agha.
Agha mengambil capitan yang biasanya digunakan untuk mencapit ular, lalu membuka ikatan karung itu dan saat ia membuka lebar-lebar karung itu, Bora berteriak, "Hati-hati, Tuan!"
Agha menganggukkan kepala. Saat tangan Agha keluar dari dalam karung, Agha mendekatkan ular berbisa yang berhasil ia capit kepalanya dengan capitan ular ke pria itu secara perlahan sambil berkata, "Kau akan tetap bungkam dan membiarkan ular ini menjadikanmu pria lumpuh tidak berguna untuk selamanya atau kau akan buka mulut dan aku akan berikan keringanan hukuman untukmu dan kamu tidak akan jadi pria lumpuh yang tidak berguna"
"U.......ular apa itu?" Pira itu menatap ular di depannya dengan wajah panik. Wajahnya yang sudah penuh dengan keringat semakin berkeringat.
Agha menggoyangkan capitan di depan pria itu dan berkata, "Aku lupa namanya. Tapi, spesies ular ini mampu membuat orang yang digigitnya bisa mengatakan kejujuran dengan sendirinya. Dia punya serum kejujuran dan setelah itu, ia akan membuat orang yang digitnya menjadi lumpuh selamanya"
"Aku tetap tidak akan bicara"
"Aku tidak akan repot-repot lagi membuatmu buka mulut. Setelah kau digigit ular ini kau akan mengatakan semuanya dan setelah kau mengatakan semuanya kau akan lumpuh dan menjadi pria tak berguna. Aku mendapatkan keuntungan dobel dan kamu hanya akan mendapatkan kerugian" Agha berucap sembari mendekatkan capitan ke wajah pria itu
Pria yang masih terikat di tiang gantungan langsung berteriak ketakutan, "Baik! Aku akan katakan semuanya"
"Katakan cepat!" Agha masih menghadapkan ular yang masih ia capit di depan wajah pria itu.
Beberapa jam kemudian, setelah menyelesaikan. pekerjaannya dengan baik, Agha masuk ke dalam kamar pengantinnya. Ia terkejut menemukan Kiana ketiduran di atas meja baca
Agha melangkah ke meja baca, lalu berjongkong untuk melihat apa yang Kiana tulis, "Apa ini? Apa ini resep obat? Dia mau bikin obat untuk siapa? Bukankah luka di perutku sudah mulai mengering"
Agha kemudian membopong Kiana dengan pelan lalu membaringkan Kiana di atas ranjang dengan perlahan. Agha kemudian menyelimuti Kiana, menjumput rambut yang menutupi wajah cantiknya Kiana dan menyelipkan rambut itu ke belakang telinga.
Agha tanpa sadar tersenyum saat ia memandangi wajah istri kecilnya. Lalu, ia mencium kening Kiana, berbisik, "Selamat tidur. Mimpikan aku, ya? Kalau aku boleh meminta" Agha kembali tersenyum dan setelah itu, pria gagah dan tampan itu melangkah keluar kamar dan berkata ke pelayan yang masih berjaga di depan pintu, "Ganti baju Nyonya muda!"
"Baik, Yang Mulia"
Agha kemudian melangkah ke kamar pribadinya untuk melanjutkan misi menjebak mata-mata permaisuri yang akan mengambil gulungan kertas besok. "Kalau Kiana benar-benar melakukan perintah Permaisuri dan mengkhianati aku, apa yang akan aku lakukan?" Agha termangu di depan gulungan kertas itu"
__ADS_1