
Kiana dan Agha kemudian didandani oleh para dayang. Hari ini adalah hari pertama bagi pasangan suami istri itu menjalani kehidupan dan rutinitas di dalam istana.
Agha mencium keningnya Kiana lalu mereka melangkah ke arah yang berlawanan. Kiana belok ke kiri dan Agha belok ke kanan.
Kiana memasuki ruangan yang cukup luas. Ruangan itu adalah ruangan pelatihan bagi ratu baru. Kiana diajari cara berjalan dan Kiana baru bisa dinyatakan lulus setelah bolak-balik berjalan di ruangan luas itu sambil membawa buku tebal dan besar di kepalanya selama dua jam lebih. Pinggang Kiana rasanya mau copot. Pas jam istirahat makan siang, Kiana diajari table manner. Di pelajaran table manner Kiana juga tidak bisa lulus dengan cepat karena ia terbiasa makan berdua dengan suaminya saling suap dan tidak memperhatikan table manner.
Kiana menghela napas lega di jam tiga sore saat pelatihnya yang bernama Nyonya Janet berkata, "Sekarang Ratu saya ajak pergi ke taman. Ratu harus belajar memetik dan menata bunga di sana"
Kiana yang terbiasa berlarian dan hidup bebas di hutan sontak berlari kecil menuju ke taman dan Nyonya Janet langsung menggeram, "Ratu! Jangan berlari! Ingat cara berjalan yang saya ajarkan tadi!"
Kiana langung mengerem laju larinya lalu berjalan dengan anggun di samping Nyonya Janet.
Nyonya Janet adalah wanita tinggi dan kurus dengan penampilan yang sangat anggun dan sangat sempurna. Cara berjalan Nyonya Janet bahkan lebih anggun dari cara berjalan mertuanya. Cara makan dan cara bicara Nyonya Janet juga lebih tertata daripada cara makan dan cara bicara ibu mertuanya.
Kiana mengulum bibir menahan tawa saat ia penasaran bagaimana gaya Nyonya Janet saat tidur dan membayangkan gaya tidur Nyonya Janet dengan dagu terangkat tinggi dan tubuh tegap kaku.
Kiana merasa tersiksa melakukan pelatihan kedisiplinan di hari ini dan berharap semoga acara di taman mengasyikkan.
Perasaan tersiksanya Kiana juga dirasakan oleh Agha. Meskipun ia sudah terbiasa membaca berkas dan menangani kasus, namun menghadapi para menteri dan petinggi kerajaan yang saling debat adalah hal yang sangat berbeda dan membuat Agha terus menghela napas panjang lalu memijit kening dan mendengus kesal.
Ternyata menjadi seorang raja itu tidak mudah. Kenapa banyak orang ingin berebut menjadi raja? Batin Agha dengan mengerucutkan bibir dan menopang kepalanya yang miring dengan kepalan tangan.
Karena merasa tidak betah melihat para menteri saling tuding, teriak, dan debat tiada henti, Agha akhirnya bangkit berdiri dan berteriak nyaring, "Silakan selesaikan debat kalian sampai pagi nggak apa-apa tapi jangan lupa kirimi aku petisinya! Aku akan periksa nanti!" Agha kemudian turun dari singgasananya lewat samping kanan dan langsung melesat keluar.
Para menteri dan para petinggi kerajaan sontak menghentikan debat mereka dan menatap arah perginya raja baru mereka dengan wajah penuh tanda tanya.
Agha terus melangkah dengan wajah cemberut., namun wajah cemberut pria tampan itu seketika berubah semringah saat ia melihat Kiana sedang asyik menatap dan menata bunga di tengah taman.
__ADS_1
Agha langsung memerintahkan prajuritnya untuk mensterilkan taman dan sekeliling taman dari yang namanya manusia. Nyonya Janet pun dengan sangat terpaksa melangkah mundur meninggalkan ratu Kiana tanpa sempat pamit.
Saat melihat taman dan sekeliling taman telah steril dari yang namanya manusia, Agha melangkah pelan menuju ke tengah lapangan dan langsung memeluk Kiana dari arah belakang sambil berbisik, "Apa kau merindukan aku?"
Kiana menoleh kaget dan langsung mendapatkan kecupan dari Agha. Lalu Agha kembali bertanya, "Apa kau merindukan aku?"
Kiana langsung mendekap tangan suaminya lalu berbisik di telinga suami tampannya, "Iya, Yang Mulia Raja. Ratu kamu ini sangat merindukan Rajanya yang tampan ini karena sepanjang hari Ratu kamu ini disiksa sama Nyonya Janet"
Agha terkekeh geli dan berkata, "Sama dong. Aku juga disiksa sama para menteri dan petinggi kerajaan"
Giliran Kiana yang terkekeh geli.
Agha lalu memutar tubuh Kiana lalu memagut bibir ratunya yang cantik jelita dan berhati malaikat itu dengan penuh kerinduan.
Kiana mendorong pelan dada suaminya sambil berkata, "Mas, ada orang?"
Kiana menoleh ke kanan lalu ke kiri dan menatap suaminya dengan wajah penuh tanda tanya, "Ke mana Nyonya Janet dan semua dayang?"
"Aku sudah sterilkan tempat ini dari Nyonya Janet, para dayang, dan para menteri" Agha mengusap pipi Kiana dengan punggung tangannya.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin berduaan dengan wanita cantik di depanku ini" Agha mencubit mesra dagu istrinya dengan penuh cinta.
Kiana langsung menunduk malu dan Agha menaikkan wajah istrinya dengan kepalan tangan lalu memagut bibir ranum istri kecilnya dengan lebih liar dan menuntut.
Agha terus memainkan lidahnya di dalam mulut Kiana sambil menjelajahi tubuh Istri kecilnya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Agha lalu merebahkan kiana di atas rumput dalam keadaan polos. Agha mengungkung mungil dan ramping istrinya tanpa sehelai kain pun melilit tubuh kekar dan tegapnya.
Kiana tersentak kaget dan menahan dada Agha saat Agha ingin melanjutkan ciuman mereka, "Mas! Kapan kita ........"
"Saat kita berciuman semua kain sudah teronggok manis di atas rumput" Agha tersenyum menatap wajah paniknya Kiana.
"Tenanglah! Tidak akan ada yang melihat kita"
"Tapi, kita di tengah taman begini, Mas. bagaimana kalau tiba-tiba......... hmpppttthhh"
Agha langsung membungkuk bibir Kiana lalu menyatukan raga dan seperti biasanya, Agha melepaskan pekik kepuasannya di luar. Setelah itu Agha memeluk Kiana dan mengajak Kiana berciuman kembali sebelum istrinya bangun. Lalu, Agha membalik tubuh langsing istri kecilnya dan menyatukan raga dari belakang. Kiana menyerah kalah dan melupakan semua tanya dan harapannya akan seorang anak.
Agha mengajak Kiana bercinta sebanyak tiga ronde dengan berbagai gaya di tengah taman bunga yang berhadapan dengan danau buatan yang sangat indah. Seindah cinta mereka berdua. Dan seperti biasanya, Agha memekikkan erangan kepuasannya di luar. Setelah memuaskan gairah bulan madu yang masih terasa sangat kental di jiwa dan raga, pasangan raja dan ratu itu saling membantu memakai semua busana kebesaran mereka dan tak lupa menyematkan mahkota di kepala mereka.
Kiana memegang kepalanya dan berkata dengan rona malu di wajahnya, "Mas, rambutku berantakan pastinya, kok, kamu pasangkan tiaraku? Aku malu kalau berjalan melewati para dayang nanti"
"Kalau begitu aku akan mengajak kamu lewat jalan rahasia yang pernah aku lalui bersama Paman Adyaksa waktu kami masih kecil dulu pas ku diajak main ke istana sama Paman" Agha langsung membopong Kiana dan mengajak Kiana berlari menuju ke jalan kecil rahasia itu.
Kiana memegang tiara di atas kepalanya sambil tertawa senang dan Agha pun ikutan tertawa senang.
"Aku nggak nyangka kamu senakal ini, Mas" Ujar Kiana dengan senyum geli.
"Kamu suka Agha yang nakal atau Agha yang kalem?"
"Yang nakal" Sahut Kiana dengan suara lirih dan wajah merona malu.
Agha terbahak senang lalu mengecup bibir ranum istrinya.
__ADS_1