Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Selamat Tidur


__ADS_3

Kendra menoleh ke belakang dan langsung berteriak gembira, "Kak Kiana! aku sudah bisa bilang R" Kendra bangkit berdiri dan memeluk pinggang Kiana.


Kiana berjongkok dan memeluk Kendra sambil berkata, "Wah! hebat sekali adik tampanku"


Agha bangkit berdiri dan langsung ikutan berjongkok di antara Kendra dan Kiana yang sedang berpelukan.


Kendra melepaskan pelukannya untuk berkata, "Kak Agha yang mengajariku. Kak Agha juga mengajariku membuat katak dan burung dari kertas lipat. Lihat!" Kendra mengarahkan jari telunjuknya ke meja taman.


Kiana mengikuti arah jari telunjuknya Kendra dengan tawa riang, "Wah! Kendra hebat sekali"


Agha menatap Kiana dari arah samping dan seketika pria tampan itu mematung. Ia terpesona akan indahnya tawa Kiana.


Dia memang memiliki tawa yang sangat cantik. Batin Agha.


Kendra lalu menggenggam tangan Agha dan berkata, "Kak Agha keren banget. Aku sayang sama Kak Agha, Kak"


Kiana sontak menoleh ke kiri dan seketika gadis itu menyesali tindakannya. Wajah dia dan wajah Agha berada di jarak yang sangat dekat. Kiana bisa merasakan hembusan hangat napas Agha dan begitu juga sebaliknya.


Agha seketika kesulitan menelan air liurnya. Jakunnya tampak naik turun dan jantungnya berdebar-debar.


Kiana mengerjapkan mata beberapa kali saat ia merasakan jantungnya berdebar-debar.


Begini ini ternyata rasanya berdebar-debar. Batin Kiana tanpa melepaskan tatapannya dari wajah tampan suaminya yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.


Wajah Kiana terasa semakin panas begitu juga dengan wajah Agha.


Kendra langsung menarik tangan keduanya sambil berkata, "Kak Agha, Kak Kiana, apa aku boleh tidur di kamar kalian malam ini? Besok aku harus pulang. Aku ingin tidur bersama kalian"


Agha dan Kiana sontak menoleh ke Kendra secara bersamaan dan membuat kening mereka beradu. Kiana sontak mengaduh lirih sambil mengusap keningnya dan Agha sontak bangkit berdiri dengan canggung.


Pria tampan itu langsung berkata, "Oke, Kendra tidur bersama kita makan ini. Aku tunggu kalian di kamar" Lalu, pria tampan itu berputar badan dan langsung melangkah lebar meninggalkan Kiana dan Kendra begitu saja. Agha butuh untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sampai ke otak agar otaknya kembali bersih dari fantasi liar untuk itulah Agha buru-buru pergi meninggalkan Kiana dan Kendra.


Kiana menatap punggung Agha yang menjauh sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya dan bergumam lirih, "Kenapa panas sekali? Kenapa tiba-tiba terasa gerah begini"


Agha juga melakukan hal yang sama. Ia melangkah lebar sambil mengibaskan-ngibaskan tangan di depan wajahnya dan bergumam lirih, "Aduh! Kenapa gerah banget begini?"


Kendra mendongak dan menarik tangan Kakak tirinya sambil bertanya, "Kak? Kita bisa masuk ke kamar sekarang. Dingin banget, nih"


Kiana menunduk kaget dan langsung bertanya, "Dingin? Kakak justru merasa gerah, nih"


"Iya dingin banget malam ini, Nyonya muda. Lebih baik kalian cepat masuk ke kamar karena sepetinya akan turun hujan salju di awal bulan ini" Sahut Debi.


Kiana menoleh ke Debi dan bertanya, "Kamu juga merasa dingin?"


"Iya" Sahut Debi.


Kiana langsung menautkan kedua alisnya dan bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa cuma aku yang merasa gerah di sini, ya?


Kiana lalu menggendong Kendra dan berlari kecil ke kamarnya Agha karena Kendra terus berkata, "Cepat masuk kamar, Kak! Aku kedinginan"

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam kamarnya Agha, turunlah hujan salju.


Kiana tersentak kaget saat ia menurunkan Kendra di lantai, "Anda sedang apa Yang Mulia?"


Agha menyahut tanpa menoleh ke Kiana, "Aku tahu akan turun salju sebentar lagi dan cuaca akan sangat dingin malam ini. Jadi, aku menyalakan perapian" Agha kemudian bangkit berdiri setelah menyalakan perapian yang ada di tengah kamarnya.


"Wah! Kamar ini luas banget dan bagus" Pekik Kendra sambil berjalan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Agha kembali bersitatap dengan Kiana. Jantung keduanya kembali berdebar-debar dan tubuh mereka kembali terasa hangat.


Agha kemudian berdeham lalu berkata, "Kamu sama Kendra naik dulu ke ranjang. Aku akan mandi dan berganti baju"


Mendengar kata mandi, Kiana langsung teringat akan misi yang diberikan oleh Pangeran Adyaksa. Kiana sontak berkata ke Kendra, "Kamu duduk dulu di bangku dan jangan banyak bergerak! Kakak akan membantu Kak Agha mandi. Jangan ke perapian! Duduk manis dan makan camilan di sini"


"Baiklah" Sahut Kendra.


Kiana lalu berlari kecil menyusul Agha dan berjalan santai saat ia sudah sampai di sampingnya Agha.


Agha menoleh kaget ke Kiana dan sontak berkata, "Kenapa menyusul aku?"


Kiana berlari kecil karena ia harus mengimbangi langkah lebarnya Agha sambil berkata, "Saya akan membantu Anda mandi, Yang Mulia"


Agha sontak mendelik dan menyahut sambil mengalihkan pandangannya ke depan, "Nggak usah! Aku bisa mandi sendiri"


"Tapi, kata Yang Mulia, salah satu kewajiban Istri adalah membantu Suaminya mandi. Saya akan membantu Anda" Kiana nekat mengikuti langkah lebar Agha ke kamar mandi.


Agha mendengus kesal sambil menghentikan langkah kakinya lalu ia menghadap ke Kiana, "Mulai sekarang nggak usah membantuku mandi!"


Kenapa? Tentu saja aku malu sama kamu. Aku, kan, sudah ada rasa sama kamu. Batin Agha.


Agha seketika merona malu dan memalingkan wajah sambil berkata, "Pokoknya nggak usah! Balik sana ke Kendra dan tidur sana!"


Kiana kemudian berkata, "Baiklah, Yang Mulia. Selamat mandi"


Agha lalu melangkah lebar meninggalkan Kiana.


Agha menyiapkan sendiri semuanya lalu ia melepaskan semua bajunya dengan membelakangi pintu dan ia tidak menyadari kalau Kiana mengintip.


Semoga aku nggak bintitan. Tapi, aku rasa kalau ngintip orang tampan mandi, nggak akan bintitan. Batin Kiana dengan senyum geli.


Kiana tersentak kaget saat ia melihat ada tanda lahir yang mirip seperti burung merpati ada di pantatnya Agha Caraka. Kiana langsung menutup mulutnya yang ternganga lebar dan buru-buru berbalik badan untuk berlari pelan kembali ke Kendra.


Sesampainya di depan Kendra yang masih asyik duduk dan makan camilan, Kiana langung berkata, "Ayo buruan tidur! Kita pulang besok pagi, kan?"


"Baik, Kak" Sahut Kendra.


Sepuluh menit kemudian, Kendra yang tidur di tengah ranjang sudah mendengkur lirih.


Kiana mencium pipi Kendra dengan senyum penuh cinta. "Aku sepertinya tidak asing dengan gambaran tadi"

__ADS_1


Kiana kemudian termangu untuk mengingat-ingat kembali kapan dia pernah melihat tanda lahir berbentuk burung merpati di pantat. "Astaga!" Kiana memekik kaget dengan sendirinya. "Apa Jenderal Agha Caraka adalah anak remaja yang aku lihat mandi di hutan waktu aku masih kecil dulu? Kalau Jenderal Agha memiliki kain yang aku pakai untuk membebat luka di telapak kakinya dulu. Kain dengan sulaman huruf K, maka Jenderal Agha adalah anak remaja yang mandi di hutan waktu aku masih kecil dulu. Aku akan cari kain itu besok pas Jenderal Agha tidak ada di rumah" Gumam Kiana sambil menepuk-nepuk pantat Kendra.


Agha tiba-tiba duduk di tepi ranjang dan bertanya, "Kau menggumamkan apa?"


Kiana tersentak kaget, "Astaga!" Lalu, gadis itu buru-buru bangun, duduk bersila dan membungkukan badan ke Agha, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak menyadari Anda sudah selesai mandi. Saya tidak menggumamkan apa-apa. Saya akan pindah tidur di bangku karena Kendra sudah tidur"


Agha langsung menaikkan kakinya ke ranjang untuk menahan tubuh Kiana yang ingin turun dari ranjang dan berkata, "Nggak usah pindah! Tidurlah di ranjang"


"Tapi, saya tidak bisa, emm, tapi, Yang Mulia......."


"Jangan berisik dan rebahkan badan kamu! Apa kamu ingin aku yang merebahkan badan kamu?" Tanya Agha sambil menyusupkan telapak tangan kanannya ke belakang kepala dan tanpa menoleh ke Kiana. Pandangan Agha terus lurus ke langit-langit kamar. Dia tidak berani menoleh ke Kiana. Dia takut khilaf.


"Saya akan merebahkan diri saya sendiri, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengijinkan saya tidur di ranjang" Sahut Kiana sambil buru-buru merebahkan badan letihnya di ranjang.


Agha kemudian bertanya, "Apa Ibu baik sama kamu?"


"Iya, Yang Mulia. Ibu baik sama saya" Sahut Kiana.


Maafkan saya, Tuhan, saya berbohong demi kebaikan. Sekali ini saja Tuhan ijinkan saya berbohong, ya. Batin Kiana.


"Kenapa ada noda teh hitam madu di baju kamu dan ada tanda merah di dada kamus seperti habis terkena siraman air panas"


Kiana sontak menunduk dan barulah ia menyadari kalau ia sudah berganti baju. Kiana sontak bertanya, "Siapa yang mengganti baju saya, Yang Mulia?"


"Pelayan yang menggantinya" Sahut Agha.


Maafkan saya, Tuhan, saya berbohong demi kebaikan. Batin Agha.


"Apa kamu minum teh hitam madu bersama Ibunda tadi pagi?"


"Iya dan tanpa sengaja saya menumpahkan teh ke baju saya sendiri karena saya kaget tehnya terlalu panas, Yang Mulia" Sahut Kiana.


Maafkan saya kalau saya berbohong lagi demi kebaikan, Tuhan. Batin Kiana.


Ternyata begitu. Batin Agha.


"Lain kali hati-hati! Sayangi badan kamu dan jangan ceroboh lagi! Aku nggak suka melihat ada bekas luka apapun di badan kamu. Kecuali tanda kepemilikan dariku" Ucap Agha.


Kiana yang masih lugu dan belum tahu soal tanda kepemilikan, sontak bertanya, "Tanda kepemilikan? Tanda kepemilikan apa, Yang Mulia"


Agha langsung berdeham dan mengalihkan pembicaraan, "Apa Ibu sudah memberikan gaji bulanan ke kamu? Jangan bohong soal ini! Aku bisa tahu kalau kamu berbohong soal ini karena aku memeriksa laporan keuangan di kediaman ini setiap bulannya"


"Belum, Yang Mulia. Mungkin Ibu masih sibuk, jadi beliau lupa" Sahut Kiana.


"Baiklah. Aku akan ingatkan Ibu besok soal gaji kamu sebagai Istriku. Sekarang tidurlah!"


"Baik, Yang Mulia. Selamat tidur"


"Hmm!" Sahut Agha.

__ADS_1


Selamat tidur Kiana dan mimpikan aku. Batin Agha


__ADS_2