
Namun, sepetinya dewa keberuntungan masih melindungi kerajaan Pusat kerena tiba-tiba, datanglah seorang memakai baju seragam utusan kerjaan menyampaikan ke raja Langit, "Maafkan saya Yang Mulia Raja Langit, saya menerobos masuk karena Nenek Anda terkena wabah Misterius dan gejalanya sama dengan wabah Misterius yang menyerang rakyat kerajaan Pusat di pinggiran kota"
"Apa?! Kenapa Nenek bisa terkena wabah Misterius?"
"Yang Mulia Permaisuri Agung baru saja melakukan perjalanan ziarah dan beliau melintasi pinggiran kota di kerajaan Pusat" Sahut pria berseragam utusan itu.
"Baik, pergilah!" perintah Raja Langit.
Saat Raja Langit berkata, "Aku harus menerima Nenekku. Silakan kalian kembali ke kemah kalian dan besok kita mulai peperangan kita"
"Ayo, kita balik ke kemah!" Agha mendengus kesal.
Tiba-tiba Abinawa yang terkenal bijaksana dan cinta dalami itu, kembali mengeluarkan pendapat bijaksananya, "Kiana sangat pandai ilmu pengobatan. Bagaimana kalau........"
Agha langsung mendelik ke ayahandanya, "Tidak Ayah! Aku tidak akan ijinkan Kiana datang ke sini untuk ........"
"Dengarkan Ayahanda dulu, Agha. Ini demi rakyat kita kalau sampai terjadi peperangan rakyat yang dirugikan" Sahut Abinawa.
Bhadra langsung mencekal bahu Agah dan berbisik, "Tunggu dan dengarkan dulu pendapat Ayahanda kamu!"
Agha terpaksa diam tapi kedua tangannya mengepal erat dan rahangnya berkedut.
Abinawa meneruskan kalimatnya yang terpotong karena emosinya Agha, "Kiana sangat cerdas. Dia ahli ilmu pengobatan dan ......"
"Saya tahu itu. Lalu, apa yang ingin Anda negosiasikan?" Sahut Raja Langit yang sedari dulu sangat menghormati dan mengagumi Abinawa
"Kiana saat ini sedang mencari penyebab wabah Misterius ini dan kalau Kiana sudah berhasil menemukan penyebab dan cara mengobatinya, Kiana akan mengobati para rakyat di pinggiran kota kerajaan kami terlebih dahulu setelah itu, kami semua yang ada di sini akan mengantarkan Kiana ke sini. Kiana bisa mengobati Yang Mulai Permaisuri Agung sekaligus Anda bisa menanyakan soal kalung itu kepada Kiana"
"Tapi, tidak berduaan. Aku tidak ijinkan kamu berduaan saja dengan Istriku, cih" Sahut Agha dengan masih mengepalkan kedua tangannya dan menghujamkan tatapan tajam ke Langit.
"Baiklah. saya beri waktu Satu Minggu......
"Satu Minggu saya rasa terlalu cepat" Sahut Abinawa.
"Baiklah, dua Minggu lagi bawa Kiana ke sini kalau Kiana bisa menyembuhkan Nenek saya, maka saya akan menanyakan soal kalung ini kepada Kiana di depan kalian semua. Tapi, kalau Kiana gagal menemukan penyebab dan cara mengobati wabah Misterius ini yang secara.ototmstis dia pun tidak bisa mengobati Nenekku, maka aku akan membawa Kiana ke sini dan menanyai Kiana berduaan saja. Kalau kalian tidak setuju, maka kita perang"
"Sial! Kiana Istriku tapi kenapa kamu yang mengatur semuanya, hah?! Kau mati, ya?!" Agha mencekal kerah baju kerajaannya Langit dan Abinawa sontak menarik tangan Agha sambil berteriak, "Astaga, Agha! Jangan sembrono! Deal! Kita deal! Maafkan Agha!"
__ADS_1
"Saya maafkan. Silakan kalian kembali ke Kerajaan Pusat dan ke sini lagi bersama Kiana Dua Minggu ke depan.
Agha terpaksa menuruti kesepakatan Ayahandanya dengan raja Langit demi rakyat. Dan Agha ingin segera menemui Kiana karena ia yakin betul Kiana tidak mengetahui soal kalung itu dan Kiana bukan tunangan masa kecilnya raja Langit.
Setelah memeriksa Debi selama satu jam lebih dan selama dua jam lebih memeriksa baju yang dipakai Debi saat pergi ke pinggiran kota dan Adyaksa yang paham betul dengan sifat Kiana, tidak mencuci baju istrinya itu dia menyimpan baju itu untuk diperiksa Kiana nanti pas Kiana pulang.
Kiana akhirnya menemukan ada sengatan lebah yang tersangkut di baju Debi itu.
Dan setelah memeriksa sengatan lebah itu selama dua jam lebih, Kiana menoleh ke Adyaksa, "Wabah misterius ini penyebabnya adalah sengatan lebah dan lebah ini berasal dari Padang Pasir. Lebah spesial yang langka dan kecil bentuknya. Lebah ini cukup beracun dan berbahaya, tapi untungnya tidak mematikan cuma kalau tidak segera diobati dengan tepat selama sebulan lebih, pasien bisa mati karena diserang sesak napas terus menerus"
"Apa kau tahu obatnya?" Tanya Adyaksa.
"Tahu. Tapi, bahan-bahannya tidak ada di sini. Bahannya ada di Padang pasir" Sahut Kiana.
"Tuliskan saja semua bahannya, maka aku akan suruh anak buahku memetiknya di kebun herbal milikku. Kau lupa, ya, kalau aku punya kebun herbal yang sangat lengkap dan kebun herbal milikku jauh lebih dekat daripada harus ke Padang pasir" Sahut Adyaksa.
"Ah, iya, benar, aku lupa, hehehehehe. Baiklah aku akan tuliskan semua bahannya" Sahut Kiana sambil menuliskan semua bahan yang dia butuhkan.
Sepeninggalnya Adyaksa, Kiana bergumam, "Sepertinya Aisyah masih belum mau menyerah. Oke, aku akan lihat sampai mana permainan kamu, Aisyah" Lalu, Kiana kembali berkutat dengan tanaman-tanaman herbal yang ada di apotik istana sementara ayahandanya, tabib Danur tengah berbincang dengan para petinggi kerajaan.
Entah sudah berapa jam Kiana ridak menyadari dirinya terus duduk di apotik istana dan menekuri tanaman obat. Dan saat Kiana ingin bangkit berdiri untuk mengambil minum, pandangannya tiba-tiba gelap dan saat Kiana hampir jatuh, dengan sigap Agha melesat dan berhasil menangkap tubuh Kiana.
Tiga puluh menit kemudian, tabib Danur tersenyum ke Agha dan ke Kiana yang sudah sadar dari pingsannya.
"Kenapa Ayah tersenyum seperti itu?" Tanya Agha dan Kiana secara bersamaan.
"Selamat untuk kalian berdua. Ayah ikut bahagia" Tabib Danur melebarkan senyumannya.
"Ada apa, Ayah?" Agha dan Kiana bertanya kembali secara bersamaan.
"Kiana hamil. Sebentar lagi Ayah dan Yang Mulia Abinawa akan menjadi seorang Kakek. Selamat untuk kalian berdua"
Agha langsung memeluk Kiana dan menciumi wajah Kiana yang tengah tersenyum lebar. Kiana sontak berkata ke Agha, "Terima kasih, Mas"
Agha mengentikan ciumannya untuk berkata,Harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih, Kiana. Kau Istri yang sangat luar biasa" Lalu, ia kembali menciumi wajah Kiana.
Tabib Danur tersenyum bahagia melihat putrinya begitu dicintai oleh suaminya, lalu Tabib Danur berkata, "Ayah akan bikinkan vitamin untuk Kiana. Ayah tinggal dulu" Sahut tabib Danur.
__ADS_1
"Iya, Ayah terima kasih" Sahut Kiana sementara Agha masih terus menciumi wajah Kiana.
Kiana lalu mendorong pelan dada suaminya sambil berkata, "Yang Mulia Adyaksa pasti sudah mendapatkan bahan herbal yang aku minta. Aku akan mulai meramunya, Mas"
"Nggak! Kamu istirahat dulu. Kata semua dayang, sejak kamu sampai ke istana kamu sama sekali belum beristirahat. Paling nggak sampai Ayah datang membawakan vitamin untuk kamu dan setelah kamu minum vitamin, kamu boleh beraktivitas lagi"
"Baiklah, Mas" Sahut Kiana.
Dan Agha belum jadi bertanya soal kalung ke Kiana. Karena raja tampan dan gagah itu tidak ingin membuat Kiana banyak pikiran apalagi saat hamil muda seperti ini. Apalagi ini adalah kehamilan pertama bagi Kiana dan dirinya.
Tiba-tiba Kiana memeluk pinggang suaminya dan berkata sambil mendaratkan pelipisnya ke dada bidang suami tampannya, "Mas, sudah siapkan nama untuk anak kita?"
"Aku serahkan urusan nama anak kita sepenuhnya ke kamu. Aku sudah bekerja keras membuatnya, maka urusan nama aku serahkan ke kamu" Sahut Agha sambil memainkan rambut indahnya Kiana.
Kiana menepuk pelan dada bidang suami tampannya sambil tertawa geli. Lalu Kiana berkata, "Kalau cowok aku maunya huruf depan nama anak kita K"
"Lho, K? Nggak A?" Tanya Agha sambil mengusap lembut rambut Kiana.
"Iya, K biar seru. Emm, gimana kalau Kenzie, Mas? Nama Kenzie artinya pemimpin yang bijaksana" Sahut Kiana sambil mengusap perutnya yang masih tampak rata.
"Kalau cewek?" Sahut Agha. Karena Agha masih menginginkan anak pertamanya perempuan. Dia ingin memiliki anak yang cantik seperti Kiana.
"Kalau anak kita cewek, aku mau huruf depan nama anak kita A, emm, apa, ya, kalau Alka bagaimana, Mas? Alka artinya gadis cantik. Mas, ingin anak gadis yang cantik, kan?" Kiana mengusap perutnya sambil menatap suaminya dengan senyum bahagia
Agha memeluk Kiana lalu mendaratkan kecupan di kening Kiana dan berkata di sana, "Alka, aku suka nama itu. Suka sekali" Agha mengusap lembut perut Kiana.
"Kalau Kenzie suka tidak?" Tanya Kiana.
Agha mencium pipi Kiana dan dengan masih mengusap lembut perut Kiana, Agha berkata, "Aku juga suka nama Kenzie"
"Kalau begitu deal,ya, nama anak kita nanti kalau cowok Kenzie dan kalau cewek Alka" Sahut Kiana.
Agha mengangguk mantap sambil tersenyum penuh cinta lalu pria tampan itu memagut bibir istri kecilnya. Saat Agha memperdalam ciumannya dan mulai melibatkan lidah sambil menjelajahi lekuk tubuh Kiana dengan telapak tangannya, Kiana sontak menarik bibirnya lalu menatap Agha dengan masih memejamkan mata, "Mas, belum boleh melakukan itu"
Agha menyentuh pipi Kiana dengan lembut dan saat Kiana membuka mata untuk menatap suaminya, Kiana melihat pria tampan di depannya mengerucutkan bibir lalu pria tampan itu bertanya, "Kenapa belum boleh?"
"Ya, belum empat bulan, Mas. Jadi, ya, belum boleh. Kandunganku, kan, masih berumur seminggu, Mas. Masih dalam masa rawan dan belum kuat betul janinnya, jadi belum boleh"
__ADS_1
Agha langsung memerosotkan tubuhnya lalu mengerucutkan bibirnya selancip-lancipnya.