
Setibanya di kantor penyidik, Agha langsung berkata ke Agni, "Kamu suka memakai baju pria, kan?"
"Iya. Memangnya kenapa, Kak?" Agni sontak menautkan kedua alisnya.
"Pakailah baju pria dan pergilah bersama Bora ke paviliun Arjuna untuk mencari perempuan yang bernama Kenanga dan tanya ke perempuan itu tentang wanita yang memiliki sosok tubuh yang sama persis dengan Kiana" Sahut Agha.
Agni langsung menoleh ke Bora yang berdiri di samping kirinya. "Oke. Sekalian aku ingin membahas soal tadi sama Bora"
Bora langsung menyahut, "Kalau sedang menjalankan misi, kita tidak boleh membicarakan masalah apapun selain misi kita, Nona"
"Bodo amat!" Agni langung meraih lengan Bora dan menarik Bora keluar dari ruang kerjanya Agha dengan langkah lebar.
Bora menoleh ke belakang untuk meminta pertolongan ke Agha, tapi Agha justru melambaikan tangan dan berteriak, "Semoga sukses dengan misi pribadi kamu, Bora"
Bora hanya bisa mewek melihat nona mudanya terus menarik dirinya sampai keluar dari kantor penyidik.
Di kediamannya Caraka, di halaman belakang yang sepi dan jarang dikunjungi orang, Kiana tersentak kaget saat ia melihat pintu terbuka dan mertuanya melangkah masuk ke dalam kamar perenungan.
Kiana bangkit berdiri lalu bergegas bertanya, "Ada apa Nyonya besar datang ke kamar perenungan ini?"
"Aku akan memberikan hukuman kamu besok. Hari ini keluarlah! Putra mahkota mencari kamu" Sahut Ibundanya Agha dengan wajah dingin dan sorot mata penuh dengan ketidaksukaan. Dia tidak membenci Kiana, dia hanya tidak suka ada wanita lain selain Maharani yang menjadi istri sahnya Agha dan jika Agha menikahi Maharani, maka Maharani hanya akan menjadi seorang selir padahal ibundanya Agha sangat dekat dan sangat menyayangi Maharani. Bahkan lebih dekat dengan Maharani jika dibandingkan dengan Agni putri kandungnya sendiri.
Maharani memiliki banyak kesamaan dalam hal makanan, minuman, dan hobi dengan ibundanya Agha. Maharani suka berdiam diri menemani ibundanya Agha untuk merajut.
Sedangkan Agni tomboy dan lebih menyukai berlatih beladiri, bermain pedang, memanah, dan belajar taktik perang daripada harus menemani ibundanya di rumah dengan kegiatan belanja, memilih kain, dan merajut. Karena itulah ibundanya Agha lebih dekat dengan Maharani.
Agni pun menjadi tidak dekat dengan ibundanya karena dia tidak menyukai Maharani. Di mata Agni, Maharani terlalu manja, lembek, dan sangat pandai berpura-pura. Saat Agni masih berumur lima tahun,, Agha berumur sepuluh tahun, dan Maharani berumur sama dengan Agni, Agni pernah memergoki Maharani berpura-pura keseleo agar Agha menggendongnya pulang. Sejak itulah Agni semakin tidak menyukai Maharani.
Agni lebih menyukai Kiana karena di mata Agni, Kiana itu mandiri, apa adanya, dan cocok untuk diajak mengobrol. Itulah kenapa Agni langsung bisa langsung dekat dengan Kiana.
"Putra Mahkota kenapa kemari, Nyonya?"
"Dia ingin mengajak kamu berjalan-jalan di seputar kota. Keluarlah dan cepat temui Putra Mahkota" Sahut ibundanya Agha dengan masih memeluk kotak berisi satu set perhiasan mutiara.
Kiana melangkah keluar dari kamar perenungan dengan pelan dan dengan wajah masih penuh tanda tanya.
Beberapa menit kemudian, Kiana muncul di depan putra mahkota dengan wajah masih penuh tanda tanya.
Adnan sontak semringah dan melangkah lebar mendekati Kiana.
__ADS_1
Kiana refeleks melangkah mundur sambil berkata, "Maaf, Putra Mahkota, jangan terlalu dekat dengan saya!"
Adnan langsung menghentikan langkah lebarnya dan menatap Kiana lalu bertanya, "Kenapa kau sekarang seperti ini? Kenapa kau takut sama aku, menjaga jarak, dan memakai bahasa formal sama aku? Aku Adnan teman baik kamu"
"Maafkan saya, Putra Mahkota. Kita teman, jadi kita harus menjaga jarak karena saya sudah menikah. Dan saya harus memakai bahasa formal karena Anda adalah Putra Mahkota"
"Apa kamu marah karena aku tidak mengatakan ke kamu bahwa aku adalah putra mahkota di awal perjumpaan kita, Kiana?"
Kiana langsung berkata, "Saya tidak memiliki keberanian untuk marah kepada Anda, Putra Mahkota"
"Syukurlah kalau kamu ridak marah soal itu. Aku tidak katakan sejak awal identitasku karena aku takut kamu tidak mau berteman denganku"
"Saya tidak marah"
"Kalau begitu, ayo kita pergi berjalan-jalan keluar. Ibu mertua kamu sudah mengijinkan kamu keluar denganku. Aku ingin berjalan-jalan berdua saja dengan kamu, Kiana"
"Saya tidak mau"
"Kenapa tidak mau?"
"Karena saya sudah menikah dan saya harus menjaga kehormatan Suami saya dan kehormatan keluarga Caraka. Kalau saya pergi berjalan-jalan dengan pria lain berdua saja, maka akan timbul rumor negatif"
"Saya tetap tidak mau keluar dengan Anda sekeras apapun Anda memaksa saya, saya tidak akan keluar berdua saja dengan Anda"
Adnan langung melangkah maju dan menggenggam pergelangan tangan Kiana dengan sangat erat dan menariknya.
"Lepaskan saya! Saya tidak mau keluar berdua saja dengan Anda" Kiana berucap sembari menahan langkahnya dan berusaha menarik tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar, "Lepaskan tangan Istriku!!!!!"
Agha langsung melangkah maju dan menarik tangan Kiana yang satunya.
Kiana berada di tengah-tengah antara Agha dan Adnan.
Adnan menarik tangan kiri Kiana dan Agha menarik tangan kanan Kiana.
"Lepaskan Istriku!"
"Tidak mau! Aku ingin berjalan-jalan dengan Kiana" Adnan melotot ke Agha.
__ADS_1
Agha langsung mendorong dada Adnan dengan tenaga dalam saking marahnya dan Adnan langsung terjengkang beberapa langkah ke belakang.
Agha langsung memeluk Kiana.
Adnan melotot ke Agha dan maju ke depan untuk mengajak Agha berduel.
Dengan terus memeluk tubuh istri kecilnya, Agha meladeni Adnan berduel dan menang.
Melihat Adnan jatuh tergeletak di atas rumput, Agha langsung berkata, "Jangan bikin perkara di kediaman saya. Kalau Anda nekat melanjutkannya, maka Anda sendiri yang akan rugi" Setelah berkata seperti itu, Agha langsung menarik tangan Kiana menuju ke kamar pribadinya.
Adnan bangkit berdiri dan berbalik badan pergi meninggalkan kediaman Caraka dengan penuh kemarahan dan kecemburuan.
Agha menutup pintu kamar lalu mendorong Kiana sampai punggung gadis cantik itu membentur tembok.
Agha kemudian menatap Kiana dengan sorot mata penuh kecemburuan. Lalu, dengan menggertakkan geraham ia menarik tengkuk istri kecilnya dan langsung memagut bibir Kiana.
Kiana membeliak kaget dan memejamkan mata saat Agha menggigit bibirnya pelan dan mendesak Kiana agar gadis cantik berkulit putih bening sebening kristal itu membuka bibir dan jenderal berkarakter kaku dan dingin itu bisa memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kiana begitu gadis cantik itu membuka bibirnya. Lidah Agha kemudian menari-nari menjelajahi mulut istri kecilnya.
Tiba-tiba Agha menarik bibirnya dan menggeram, "Kenapa kau menahan napas terus, bodoh? Kau bisa mati. Dasar bodoh!"
Kiana sontak menarik napas dan melepaskannya dengan perlahan.
"Kenapa kau bodoh banget? Berciuman saja tidak bisa? Dasar bodoh! Bukankah kita sudah berciuman beberapa kali?" Agha kembali menggeram kesal.
Kiana tersengal, lalu memberanikan diri untuk berkata, "Karena saya bodoh, maka tolong lepaskan saya, Yang Mulia. Saya tidak pandai berciuman, jadi Anda akan melepaskan saya, kan?"
"Jangan harap aku akan melepaskan kamu kali ini setelah kamu melakukan kesalahan yang sangat besar"
"Ke..... kesalahan apa?" Tanya Kiana.
"Kau mengobrol di taman bunga yang ada di kediamanku dengan pria lain bahkan kau biarkan pria itu menggenggam tangan kamu"
"Tapi, saya tidak...... hmmmppppt!" Ucapan Kiana terbungkam dengan bibir Agha dan pria itu langsung membopong tubuh istrinya lalu melangkah lebar ke ranjang.
Agha kembali mencium bibir Kiana dan pelan pelan pria tampan itu meletakkan tubuh Kiana di ranjang.
Agha melepas ciumannya untuk menatap wajah Kiana sambil bergumam, "Bernapas lah, bodoh!"
Kiana kembali tersengal sambil mencengkram lebih erat kedua ujung bajunya Agha.
__ADS_1
Pria tampan itu kemudian mencium kedua mata, lalu mengarah ke telinga, tubuh Agha kini berada di atas tubuh istri kecilnya. Agha kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Kiana dan menciuminya. Pria tampan itu menghirup wangi Kiana sepuasnya. Di saat Agha menggigit lehernya, Kiana melemas dan Agha bisa merasakan Kiana jatuh pingsan. Jenderal gagah dan tampan itu pun langsung menegakkan badannya dan menatap wajah cantik alaminya Kiana dengan panik.