Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Nggak Enak


__ADS_3

Di dalam kereta kuda Debi bertanya ke Kiana, "Nyonya muda, apa benar Nyonya besar pergi atau sebenarnya Nyonya besar ada di rumah, tapi beliau tidak mau menemui Anda"


"Entahlah. Yang penting niatku baik ingin pamit sama beliau. Kalau beliau tidak mau menemuiku, ya, sudah. Aku tidak mau ambil pusing. Beliau boleh membenciku, tapi aku tidak akan pernah membencinya" Sahut Kiana sambil mengusap-usap kening Kendra yang sudah lelap di dalam dekapannya.


"Anda memang terlalu baik, Nyonya muda. Saya yakin suatu saat nanti Nyonya besar akan menyadari kebaikan hati Anda dan menyayangi Anda"Sahut Debi.


"Amin" Sahut Kiana dengan senyum hangat.


Sementara itu, di dalam kediaman Caraka, Agha langsung belok kanan dan mengabaikan Agni. Agha berjalan dengan tangan terkait di belakang dan alis terus bertaut. Pria tampan dan gagah itu memikirkan ucapannya Agni.


Apa benar aku ini tidak peka? Pikir Agha dengan wajah kesal. Ia kesal kepada dirinya sendiri.


Agni langsung berlari kecil menyusul langkah kakaknya.


Agha masuk ke ruang kerjanya dan duduk di depan meja yang sudah bertahun-tahun menemaninya bekerja. Agha kemudian menatap tumpukan berkas yang lumayan tinggi dengan helaan napas panjang. Tangannya terangkat untuk mengambil berikan di tumpukan paling atas. Agha membanting berkas itu di atas meja dan membukanya dengan kesal.


"Kenapa Kakak nggak anter Kak Kiana pulang? Kakak, kan, suaminya" Agni langsung bertanya saat ia sudah berdiri di depan meja kerjanya Agha.


Agha diam seribu bahasa. Pria tampan itu juga tidak mengangkat wajah untuk menatap wajah cantik adik perempuannya. Sebenarnya Agni adalah adik sepupunya bukan adik kandungnya, namun Agha menyayangi Agni seperti adik kandungnya sendiri. Agha menyayangi Agni dengan caranya sendiri.


"Kak!" Agni meninggikan nada suaranya karena kesal.


Bora langsung menoleh tajam ke Agni dan berkata, "Nona, jangan ganggu Yang Mulia!"

__ADS_1


Namun, Agni mengabaikan ucapannya Bora. Gadis cantik yang sebaya dengan Kiana itu langsung melangkah maju dan meletakkan cakue gosong yang sedari tadi ia pegang, lalu Agni meletakkan kedua telapak tangannya di meja kerjanya Agha lalu berkata dengan menundukkan wajahnya untuk melihat wajah kakak laki-lakinya.


Agha melirik cakue yang menggelinding mengenai punggung tangan kanannya.


"Ibunda bahkan tidak mau keluar dari dalam kamarnya saat Kak Kiana ingin berpamitan. Lalu, Suaminya juga tidak mau mengantarkannya pulang. Malang benar nasib Kak Kiana. Padahal, Kak, asal Kakak tahu,ya, seorang Istri yang pulang ke rumah orangtuanya tanpa ditemani Suaminya akan dijadikan gunjingan, akan dituduh kalau ia bukan Istri yang cakap, dia akan dituduh kalau ia dibenci sama Suaminya, dan akan dituduh kalau dia akan diceraikan. Kakak tega semua tuduhan itu menimpa Kak Kiana?"


Bora hanya bisa menunduk dan menggelengkan kepalanya mendengar Agni terus nyerocos di depan Agha tanpa henti.


Agha mengambil cakue lalu mengangkat wajahnya untuk bertanya, "Kau makan cakue ini?"


"Iya. Cakue gosong itu pahit dan keras. Nggak enak! Aku protes sama Bi Ina tadi kenapa dia bikin cakue gosong, pahit, dan alot banget, sumpah!" Agni nyerocos dengan santainya.


Agha menggigit cake itu dan langsung melepehnya lalu melemparkan cakue itu ke tempat sampah.


"Nggak enak, kan? Kenapa Bi Ina yang sudah menjadi kepala di dapur kita selama puluhan tahun, bisa gagal juga bikin cakue pagi ini. Udah gosong, bentuknya jelek, dan alot, tzk!" Agni menegakkan badannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia makan dengan lahap sepiring penuh cakue bikinanku. Padahal rasanya sangat pahit dan alot untuk dikunyah. Apa perutnya akan sakit? Lalu, kenapa dia katakan kalau cakue bikinanku enak? Kenapa dia lakukan semua itu? Batin Agha dengan wajah serius.


"Kakak kenapa diam saja sekarang? Kakak keracunan cakue gosong dan jelek itu, ya?"


Bora langsung melipir keluar. Dia memilih mencari aman karena ia tahu kalau cakue itu hasil masakannya Agha dan Agni terus menghina cakue itu. Bora tidak ingin ikutan terkena imbas emosinya Agha.


Agha sontak bangkit berdiri dan menghunus tatapan tajam ke Agni.

__ADS_1


"Apa? Kenapa Kakak melotot ke aku seperti itu?" Agni sontak menautkan kedua alisnya dengan wajah kesal.


"Karena kau telah menghina cakue bikinanku"


Agha menggeram kesal.


"Apa?!" Agni tersentak kaget. "Kakak masak? Kakak masuk dapur pagi ini? Kakak, kan, benci masuk ke dapur dan nggak pernah masuk ke dapur?"


Agha mengambil gulungan tissue dan melemparkannya ke Agni dengan kesal sambil menggeram, "Diam!"


Agni berhasil menangkap gulungan tissue itu lalu meletakkannya ke meja sambil bertanya, "Kakak mau ke mana?" Saat ia melihat kakak laki-laki kesayangannya berjalan keluar dari balik meja dan melangkah lebar meninggalkannya.


Agha diam seribu bahasa dan sesampainya di depan, Agha menoleh ke Bora dan berkata, "Siapkan kuda"


"Baik, Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia mau ke mana? Bukankah kantor penyidik libur hari ini dan Anda akan memakai hari ini untuk mengerjakan berkas-berkas yang sudah menumpuk sangat tinggi"


"Siapkan saja kudanya dan jangan berisik!"


"Lalu, laporan saya dan Nona Agni terkait dengan gadis pencuri yang sosok ya sangat mirip dengan Nyonya muda bagiamana?" Tanya Bora sambil berlari kecil mengekor langkah lebarnya Agha.


"Laporkan nanti pas aku pulang"


"Pulang? Memangnya Anda akan pergi ke mana? Apa Anda akan menginap? Apa perlu saya temani?"

__ADS_1


"Tidak perlu kau temani dan ya! Kemungkinan aku kan menginap" Sahut Agha tanpa menoleh ke Bora.


Agni berdiri di depan pintu dan langsung tersenyum lebar, "Aku yakin kalau Kak Agha menyusul Kak Kiana. Kak Kiana harus mentraktirku makan nanti karena aku sudah berhasil membuat Kak Agha menyusulnya"


__ADS_2