
Keesokan harinya, Alvin menemui Kiana di kamar Kiana untuk bertanya, "Gimana semalam? Kau berhasil meminta raja Alaric bermeditasi denganmu?"
Kiana menggeleng pelan dan berkata, "Aku diusir sebelum aku bilang soal meditasi"
"Kamu masak sesuatu untuk raja Alaric, gih! Konon katanya pria akan luluh kalau perutnya dipuaskan" Sahut Alvin.
"Ah, benar! Cinta itu datang dari perut lalu naik ke hati, hehehehe" Sahut Kiana.
"Kalau sudah tahu buruan masak sana! Malah meringis"
"Makasih Alvin" Kiana langsung berlari melintasi Alvin.
Alvin tersenyum lebar sambil berputar mengikuti arah perginya Kiana, lalu pria tampan itu bergumam, "Aku akan bantu kamu sampai kamu dan suami kamu ingat akan kamu Kiana. Karena aku menyukai kamu dan aku ingin melihat kamu terus tertawa riang seperti ini"
Sementara itu, Raja Alaric yang tengah didandani oleh para dayang, seringkali menoleh ke arah pintu. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya, apa Kiana pagi ini akan membawakan sesuatu untukku? Apa dia akan datang bersama Alvin? Bisanya Alvin ke sini untuk memeriksa kesehatanku, lalu Kiana? Kenapa aku ingin melihat wajah cantiknya Kiana sepagi ini? Ada apa denganku? Aku mencintai Kiana dan bukan Sofie. Padahal Sofie lah istriku. Apa itu pantas?
Alaric sontak merengut saat ia melihat Sofie yang datang mengunjunginya sepagi ini dan bukannya Kiana.
Seharusnya aku menyambut Sofie dengan bahagia karena dia adalah Istriku. Tapi kenapa aku justru kesal melihatnya. Batin Alaric.
"Saya membuat kue lagi, Raja. Kali ini bukan dari kacang. Tolong dicicipi" Sofie melangkah mendekati Alaric dengan mengulas senyuman paling cantik andalannya.
Namun, Alaric langsung berkata, "Taruh saja di meja!"
"Baik" Sofie meletakkan piring berisi kue berbentuk bunga di atas meja kerjanya Alaric. Lalu, Sofie melangkah pelan mendekati Alaric.
Alaric langsung mendelik dan berteriak, "Stop! Berhenti di sana! Jangan dekati aku!"
"Kenapa saya ridak pernah Anda ijinkan mendekati Anda dan saya tidak pernah Anda ijinkan menyentuh Anda? Anda juga tidak pernah mau menyentuh saya. Apa salah saya? Apa kurangnya saya, Raja?"
__ADS_1
Alaric tertegun sesaat karena ia sungguh-sungguh tidak menyangka kalau Sofie berani mengatakan semua itu, lalu Alaric menghela napas panjang dan berkata, "Karena aku sudah berjanji pada seseorang untuk tidak menyentuh wanita lain yang bukan........." Alaric menggantung Kalimatnya saat ia merasa heran akan ucapannya sendiri.
Kapan aku berjanji seperti ini dan dengan siapa? Batin Alaric.
"Tapi, saya adalah Istri sah Anda. Kenapa Anda berjanji seperti itu pada seseorang? Lalu, siapa orang itu? Apakah dia wanita? Apakah Anda selingkuh, Raja?" Sofie bertanya dengan wajah frustasi dan sorot mata penuh kecemburuan.
"Berani sekali kau menuduhku selingkuh! Aku tidak pernah selingkuh!" Alaric berteriak kencang dengan mata menyala merah. "Pergi!"
Putri Sofie berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar pribadinya Alaric dengan berurai air mata.
Sofie kemudian menghentikan laju larinya di atas jembatan yang memisahkan paviliunnya dengan paviliun suaminya.
Sofie menatap air di danau dan bergumam lirih sambil mencengkram dadanya, "Aku mencintai Alaric pada pandangan pertama lalu aku masukkan bubuk cinta agar Alaric bertekuk lutut padaku di minuman anggurnya di malam pernikahanku dan Alaric. Sama seperti aku memasukkan bubuk cinta di minuman anggur Jenderal Luis, suamiku dulu yang sudah aku bunuh setelah ia tidak berguna lagi. Aku menikahi Jenderal Luis agar aku bisa masuk ke istana bunga dan menjadi wanita nomer satu di kerajaan bunga. Dengan begitu lambat lain aku bisa menjadi ratu di kerajaan naga ini. Tapi, sayangnya Alaric tidak masuk ke kamar dan tidak minum anggur itu. Pagi ini aku masukkan bubuk itu di kue bikinanku. Lihat saja, Aric, kau akan mencariku dan tergila-gila padaku setelah kau makan kue bikinanku"
Kiana melewati jembatan dan menyapa wanita yang kemarin dia obati, "Selamat pagi, Putri" Kiana memanggil wanita itu putri karena Kiana melihat pakaian wanita itu sangat bagus dan dandanannya mewah.
Sofie langsung mengusap pipinya dan berbalik badan. Namun, Sofie hanya menatap Kiana dengan wajah datar dan Sofie tidak membalas sapaannya Kiana.
Dia sangat cantik. Tapi nggak ramah sama sekali. Dia Putri apa, ya? Baju dan dandanannya mewah banget. Batin Kiana sambil meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya Alaric.
"Tunggu!"
Kiana menghentikan langkahnya dan berbalik badan dengan pelan. Lalu, Kiana menekuk kedua lututnya di depan Sofie dan setelah ia berdiri tegak kembali, Kiana bertanya, "Ada apa Putri? Apa jari tangan Anda sakit lagi?"
"Jariku sudah sembuh. Emm, apa kamu nanti bisa datang ke gerbang barat? Aku ingin minta bantuan sama kamu"
"Bantuan apa? Kenapa harus ke gerbang barat?"
"I....itu, emm, temanku jatuh keseleo di sana dan belum bisa jalan lalu ......."
__ADS_1
Mendengar ada yang terluka, Kiana langsung menyahut, "Saya akan ke sana. Tunggu saya di sini sebentar saja, Putri. Saya akan segera kembali ke sini" Kiana langsung berbalik badan dan berlari kecil menuju ke kamar pribadinya Alaric.
Kiana langsung masuk ke kamarnya Alaric karena pintu kamar itu terbuka lebar dan Alaric yang tengah duduk bersila dan membaca di depan meja langsung tersenyum lebar melihat wanita cantik yang dia tunggu-tunggu kemunculannya sedari tadi kini melangkah lebar mendekati mejanya.
Saat Kiana meletakkan piring berisi kue berbentuk ikan, bebek, dan kura-kura itu di meja Alaric, Alaric langsung memasang wajah datar dan dingin kembali sebelum Kiana sempat melihat senyum tampannya.
"Ini kue kukus isi daging kesukaan Mas Agha. Jadi, saya yakin kalau Anda juga akan menyukainya karena Anda adalah Mas Agha. Saya permisi" Kiana menekuk lututnya lalu menegakkannya kembali untuk segera berbalik badan.
Di langkahnya Kiana yang ketiga, terdengar suara, "Tunggu!"
Kiana berbalik badan dengan pelan, "Kau mau ke mana? Aku sedang baca buku dan aku tidak bisa makan sendiri kue ini. Suapi aku sekarang juga!"
"Maafkan saya, Yang Mulia. Ada orang sakit di gerbang barat. Saya harus segera menolong orang itu"
"Kau lebih mementingkan orang itu daripada raja kamu? Suapi aku sekarang juga!"
"Anda sehat dan tidak sakit. Anda bisa makan sendiri. Saya permisi Yang Mulia" Kiana nekat berbalik badan lalu berlari kencang meninggalkan Alaric sebelum Alaric berteriak tunggu.
Alaric langsung mengerucutkan bibir dan bergumam, "Kenapa dia pergi begitu saja? Aku, kan, masih ingin berlama-lama menatap wajahnya dan mendengarkan ocehannya"
Sofie menunggu Kiana di jembatan dan langsung mengajak Kiana ke gerbang barat. Sofie tersenyum tipis saat ia berjalan di samping Kiana dan menertawakan Kiana di dalam hati, gadis ini cantik banget tapi dia ternyata bodoh banget. Gampang dibujuk dan dijebak.
Tanpa sepengetahuannya Sofie, burung pemangsa peliharaannya Alaric mengetahui niat busuknya Sofie dan untuk membalas budi kepada Kiana karena Kiana sudah menyembuhkan luka di kakinya, burung pemangsa yang diberi nama Bora itu terbang ke kamar pribadinya Alaric.
Alaric tersenyum dan hatinya terasa hangat saat ia mencicipi kue bikinannya Kiana. Lalu, gimana nasib kue bikinannya Sofie? Alaric memberikan kue bikinannya Sofie ke dayang-dayang yang tadi mendandaninya. "Kue ini enak banget. Hatiku terasa hangat saat aku makan kue ini. Kiana memang sangat luar biasa. Dia bukan saja gigih, berani, tabib yang hebat, cantik, menarik, ternyata dia juga sangat pandai bikin kue"
Alaric memandangi kue bikinan Kiana dan dengan senyum tampannya ia kembali bergumam, "Bentuk kuenya juga menggemaskan sama seperti yang bikin, menggemaskan"
Burung pemangsa peliharaannya Alaric mendarat di pundak Alaric dan Alaric sontak terkejut dan langsung bertanya, "Ada apa Bora?"
__ADS_1
Sejak menjadi naga, Alaric memiliki kemampuan berkomunikasi dengan hewan apapun. Pria tampan itu sontak bangkit berdiri dan menoleh kaget ke burung pemangsa peliharaannya. Lalu, Agha berlari kencang sambil bertanya ke burung pemangsa peliharaannya yang terbang di sampingnya, "Benarkah? Sofie ingin menjebak Kiana membuka portal pintu gerbang barat agar iblis ikan yang hebat bisa masuk dan menyerang kerajaan ini dengan begitu Kiana akan dihukum cambuk petir sebanyak sepuluh kali?" Burung pemangsa peliharaannya Alaric menganggukkan kepala
Alaric langsung melesat terbang menuju ke gerbang barat sambil bergumam, "Sial! Kalau beneran terjadi, Kiana bisa mati. Kena tiga cambukan saja Kiana pasti mati. Semoga aku belum terlambat"