
Kiana, Agha, Bhadra, dan Adyaksa akhirnya sampai di depan pintu tempat singgasananya Kaisar Abinawa berada.
Putri Kesya tersentak kaget saat ia bertemu dengan Bhadra. Kesya langsung teringat akan kebodohannya dulu. Dia melarikan diri dari perjodohannya dengan Agha demi mengejar kekasihnya. Pria yang sangat ia cintai, yakni Bhadra. Namun, sayangnya pas Kesya sampai di kerajaan Timur, terdengar kabar bahwa Bhadra sudah menikah dengan adik sepupunya raja Abimantya. Lalu, Kesya pergi ke sebuah kuil, menetap di sana selama beberapa bulan untuk menenangkan diri dari rasa kecewa, marah, dan arah hati. Setelah ia merasa cukup tenang, ia kembali ke kerajaannya Kaisar Abinawa untuk menerima perjodohannya dengan Agha, namun ternyata Agha juga sudah menikah.
Bhadra melempar senyum canggung ke Kesya dan Kesya langsung berbalik badan lalu berlari pergi dengan derai air mata.
Agha dan Adyaksa sontak menoleh ke Bhadra dan Agha langsung berkata, "Wah, kau sangat sakti saudaraku"
Bhadra menoleh kaget ke Agha dan bertanya, "Kok kamu ngomong gitu?"
Adyaksa menepuk pundak Bhadra dan berkas, "Karena senyuman kamu mampu membuat seorang wanita berlari pergi dan menangis"
Bhadra menoleh ke Adyaksa lalu menepis tangan Adyaksa dari pundaknya sambil berkata, "Itu bukan sakti tapi ketampananku memang sangat menakjubkan dan bisa membuat seorang wanita menangis saking takjubnya"
"Cih! Sok keren!" Sahut Adyaksa dan Agha secara bersamaan.
"Kakak sepupuku memang tampan" Sahut Kiana dengan lugunya.
"Tuh, ada wanita selain Istriku yang mengakui ketampananku" Bhadra tersenyum lebar sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
Agha langsung menarik tangan Kiana masuk ke dalam sambil mendengus kesal dan Adyaksa menyusul Agha sambil melirik tajam ke Bhadra.
Bhadra kemudian melangkah masuk dengan santai dan terkekeh geli melihat tingkah konyolnya Agha dan Adyaksa. Lalu ia bergumam lirih, "Kenapa Kesya menangis?"
Setelah berdiskusi panjang lebar dengan Agha, Adyaksa, Ibundanya Kiana, dan para menteri, akhirnya raja memutuskan Permaisuri diasingkan di pulau terpencil tak berpenghuni yang letaknya sangat jauh dari pemukiman manusia. Lalu, pangeran Adnan yang menderita sakit jiwa karena cintanya ada Kiana bertepuk sebelah tangan, dibawa ke rumah sakit jiwa yang letaknya di atas pegunungan dan jauh dari pemukiman manusia juga. Adan dan Permaisuri tidak dihukum mati atas permintaannya Kiana dan karena Kiana adalah menantunya, maka Kaisar Abinawa menuruti permintaan Kiana., namun kaisar Abinawa juga tidak mengabaikan permintaan para menteri yang menginginkan permaisuri dan pangeran Adnan dihukum seberat-beratnya. Maka raja akhirnya mengambil keputusan bijaknya dan semua orang langsung tersenyum puas dengan kebijakan raja.
Setelah permasalahan dalam negeri selesai, Bhadra maju ke depan, memberi hormat dengan membungkukkan badan ke raja Abinawa lalu ia menegakkan badan kembali dan berkata, "Raja Abimantya sedang sakit dan membutuhkan Bibi saya, Bibi Kayla untuk mengobatinya. Apakah raja mengijinkannya?"
Raja Abinawa tersenyum dan berkata, "Itu aku serahkan ke tabib Kayla saja. Apakah tabib Kayla bersedia pergi ke kerajaan Timur atau tidak"
Kayla maju ke depan, memberi hormat kepada raja, lalu menoleh ke Bhadra untuk berkata, "Kenapa tidak membawa tabib Alzam yang jauh lebih pintar dari aku?"
Bhadra menoleh ke bibinya, "Karena itu adalah permintaannya raja Abimantya, Bibi. Saya mohon Bibi ikut saya pulang ke kerajaan Timur untuk mengobati raja Abimantya"
Kiana maju ke depan dan setelah memberi hormat kepada raja, ia berkata ke ibundanya, "Kiana akan menemani Ibu pergi ke kerajaan Timur"
"Aku juga ikut" Sahut Agha dengan cepat
Raja Abinawa langsung kaget dan berkata, "Agha! Kamu akan dilantik menjadi raja. Kenapa malah ikut pergi ke kerjaan Timur? Ingat juga kalau kerajaan kita dan kerajaan Timur masih bertikai soal tanah di perbatasan"
__ADS_1
Agha maju ke depan lalu memberikan hormat ke ayahandanya dan langsung berkata, "Maafkan Agha, Ayah. Agha akan kembali ke sini setelah raja Abimantya sembuh. Ijinkan Agha menikmati bulan madu bersama Istri Agha di kerajaan Timur. Agha juga akan mencoba berdiskusi dengan raja Abimantya mengenai perebutan tanah di perbatasan"
"Baiklah. Ayahanda ijinkan. Tapi, setelah adik kembarku itu sembuh dari penyakitnya, kalian semua harus segera balik ke sini untuk mempersiapkan pelantikan raja baru"
"Siap, Ayah dan terima kasih" Sahut Agha dengan senyum lebar.
Raja Abinawa tersenyum senang melihat putra yang sangat ia kasihi bisa tersenyum lebar di depannya.
Setelah semuanya kembali ke rumah mereka masing-masing, Agha, Kiana, Kayla, langsung berkemas untuk pergi ke kerajaan Timur.
Tabib Danur mengetuk pintu kamarnya Kayla dan Kayla keluar.
"Ada apa, Mas?"
"Kau akan menemui pria yang selalu mencintai kamu. Bahkan raja Abimantya belum menikah sampai sekarang ini karena belum bisa melupakan kamu. Apakah kamu berpikiran akan menerima cintanya saat ini?" Tabib Danur berkata dengan wajah was-was.
Kayla hanya diam mematung dan membisu.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Kamu akan mengambil keputusan yang terbaik. Hati-hati di jalan" Tabib Danur lalu berbalik badan dan melangkah pergi dengan punggung melengkung.
"Aku juga tidak tahu harus mengambil keputusan apa, Mas" Gumam Kayla dengan helaan napas panjang.
Sementara itu, Bhadra yang tengah duduk di bangku taman untuk melepas lelah, kembali dikejutkan dengan kemunculan Kesya dan kali ini Bhadra berhasil menahan lengan Kesya dan bertanya, "Kenapa kau sepetinya takut bertemu denganku? Atau kau benci padaku? Lalu, kenapa tadi kau menangis?"
"Terima kasih. Apa kabarmu?"
"Tidak baik dan itu karena kamu"
"Karena aku?" Bhadra menautkan kedua alisnya.
"Ya. Aku lari dari perjodohan dan mencarimu tapi kamu sudah menikah. Kau pikir aku akan baik-baik saja saat ini?"
Bhadra tersentak kaget, "Jadi, kau masih menyimpan masalah kita berdua? Aku menerima perjodohan karena aku pikir kamu akan menikah dengan Agha. Namun, saat aku tahu pada akhirnya Agha menikah dengan Kiana, aku pikir kamu sudah bahagia dengan yang lain"
"Kau jahat Bhadra"
"Iya. Aku jahat. Salahkan saja diriku. Lalu, apa yang harus aku katakan untuk kamu yang tiba-tiba datang dan berkata kalau kamu akan menikah dengan Agha Caraka?"
Kesya langsung melompat dan memeluk erat Bhadra lalu berkata, "Jadikan aku selir kamu, Bhadra. Aku masih sangat mencintaimu"
__ADS_1
Bhadra langsung mendorong kedua bahu Kesya cukup keras lalu melompat mundur dan "Lupakan soal kita. Aku sudah bahagia dengan Istri dan anakku. Aku bahkan merasa sangat bersyukur dijodohkan dengan wanita berwajah manis, lembut dan baik hati seperti Delia, Istriku. Saking bahagianya hidup bersama Delia dan anakku Nunu, aku tidak ingin memiliki selir"
"Diam! Aku tidak mau dengar kamu memuji wanita lain" Kesya memekik kesal dan menutup kedua telinganya dengan derai air mata.
"Menangislah agar jiwamu bisa murni kembali dan bisa melupakan aku!" Bhadra kemudian berbalik badan dan melesat terbang meninggalkan Kesya.
Kesya lalu berjongkok dan berteriak frustasi, "Kenapa semua pria di dunia ini tidak menginginkan aku?!!!!!! Kenapa?!!!!!!!"
Keesokan harinya, Bhadra memimpin rombongan menuju ke kerajaan Timur.
Agha terpaksa menahan diri untuk tidak memegang tangan Kiana, merangkul atau memeluk Kiana karena dia dan Kiana berada di dalam kereta kuda bersama dengan Ibundanya Kiana.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, akhirnya mereka sampai di kerajaan Timur.
Karena raja sakit, maka Bhadra mengajak Kiana dan Agha pergi ke kediamannya. Sementara ibundanya Kiana langsung masuk ke istana untuk menemui raja Abimantya dan memeriksanya.
Kiana langsung memeluk istrinya Bhadra, "Kakak ipar! Kenalkan aku Kiana"
Istrinya Bhadra mendorong pelan kedua bahu Kiana lalu tersenyum penuh kasih dan berkata, "Wah, kamu sangat cantik. Namaku Delia dan aku sangat senang bertemu denganmu Kiana"
"Kakak juga sangat manis. Senang bertemu dengan Kakak ipar. Maafkan aku kalau langsung memeluk Kakak tadi"
Delia langsung memeluk Kiana dan berkata, "Sekarang giliran Kakak yang memeluk kamu"
Kiana dan Delia langsung tertawa bersamaan.
Agha dan Bhadra tersenyum lebar melihat Kiana dan Delia bisa langsung akrab.
"Ayah!" Suara anak kecil tiba-tiba menggema di antara mereka dan Bhadra langsung menyambar tubuh gembul putra kesayangnnya, "Wah, Nuno! Nuno kangen sama Ayah, ya?*
"Iya!" Sahut Nuno.
Kiana lalu mendekati Bhadra dan Nuno, "Ini Bibi Kiana. Kamu mau Bibi gendong?'
Tanpa ragu Nuno langsung melompat masuk ke dalam gendongannya Kiana dan Delia langsung berkata dengan senyum lebar, "Wah, kamu hebat Kiana. Nuno tidak pernah mau digendong orang lain selama ini. Apalagi sama seseorang yang belum pernah ia temui. Tapi sama kamu dia langsung mau digendong"
Kiana tertawa senang mendengar ucapannya Delia lalu ia menciumi wajah Nuno dengan penuh kasih sayang.
Nuno tertawa riang. Bhadra dan Delia ikut tertawa riang.
__ADS_1
Agha menatap Kiana dengan sorot mata penuh cinta dan kekaguman. Aurora keibuan Kiana langsung terpancar dan membuat Agha mematung takjub.
Kiana menyukai anak-anak itulah kenapa dia memiliki kelas kecil dan mengajar baca tulis anak-anak di sekitar kediaman ayahnya. Itulah kenapa saat ia bertemu dengan Nuno, putra tunggalnya Bhadra yang masih berumur tiga tahun, Kiana langsung bermain asyik dengan Nuno dan seakan tidak ingin melepaskan Nuno. Agha memperhatikan Kiana dan Nuno dan bergumam di dalam hatinya, Kiana sangat menyukai anak-anak tapi aku masih takut memiliki anak. Aku takut kalau aku tidak bisa mengurus anakku dengan baik karena aku selalu bepergian dan jarang pulang. Aku juga takut kalau anakku akan mengalami nasib yang sama denganku. Bagaimana ini?