
Kiana duduk di tepi ranjang yang bersih karena kamar kecil dan terpencil yang diberi nama kamar perenungan itu memang setiap hari tidak pernah luput dari perawatan dan setiap hari dibersihkan.
Kiana hanya bisa menghela napas panjang merenungkan nasibnya yang selalu saja mendapatkan hukuman untuk hal yang menurutnya tidak salah.
Sementara itu di tengah jalan menuju ke kantor penyidik, Bora menatap Agni dan segera berkata,"Ke....kenapa saya, Nona? Masih banyak pria bangsawan di luar sana yang jauh lebih baik daripada saya" Sahut Bora.
"Karena aku sudah kenal kamu sedari kecil dan hanya kamu pria yang bisa memahami aku, menerima aku apa adanya, seperti Kak Agha. Selain kalian berdua nggak ada yang bisa memahami aku. Benar, kan, Kak Agha?" Agni menoleh ke belakang dan sontak menghadapkan badannya ke depan saat ia melihat Agha bersedekap, bersandar di bangku, dan tampak senyum-senyum sendiri.
"Nona! Kita bicarakan lagi masalah ini di rumah, ya!" Teriak Bora dari arah luar.
Agni yang masih heran dengan sikap kakaknya langsung berteriak, "Iya!"
Agha bergumam dengan senyum tertahan, "Kiana kenapa bisa selimut itu tadi"
"Kak! Kakak kenapa? Kenapa senyum-senyum aneh kayak gitu dan menggumamkan apa barusan? Hayo! menggumamkan hal mesum ya?"
Pletak! Kening Agni langsung kena sentilannya Agha.
"Aduh! Kak! Sakit!" Agni melotot ke Agha dan Agha langsung memajukan badannya untuk bertanya, "Apa aku beneran terlihat mesra sama Kiana?"
Agni tentu saja memundurkan wajahnya dan menautkan alisnya sambil bertanya, "Kakak kesambet, ya?"
__ADS_1
"Mau ku sentil lagi?!" Agha mendelik.
Agni sontak menutup jidatnya yang lebar dengan kedua tangan dan menggelengkan kepala dengan kencang.
"Katakan cepat! Apa benar aku terlihat mesra dengan Kiana?"
Agni menghela napas panjang dan berkata dengan wajah kesal, "Iya. Aku udah bilang,kan, tadi"
Agha sontak menyandarkan punggungnya dan dengan tersenyum lebar pria tampan itu berkata, "Itu karena Kiana sangat imut. Kau tahu itu, kan? Dia sangat imut" Agha melebarkan senyumannya.
Agni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam, "Kak Agha benar-benar kesambet,nih, kayaknya..Dia, kan, nggak pernah senyum selebar itu"
Di dalam kediaman Caraka, ruang penerimaan tamu penuh sesak dengan pengawal pribadinya pangeran Adnan sang putra mahkota.
Ibundanya Agha sontak membeliak kaget dan segera berkata, "A.....apakah semuanya untuk Tante?"
"Tentu saja" Sahut Adnan dengan senyum cerah.
"Terima kasih banyak" Ibundanya Agha langsung memerintahkan semua pelayannya untuk membawa masuk semua kain mahal pemberian dari putra mahkota.
Lalu, Adnan yang masih mengulas senyum cerah di wajah tampannya berkata, "Tapi, Tante harus memberikan imbalan kepada saya atas kain-kain tersebut dan satu set perhiasan mutiara ini"
__ADS_1
Ibundanya Agha yang sangat menyukai kain-kain mahal dan perhiasan yang terbuat dari mutiara, langsung membeliakkan kedua matanya.
"Ini mutiara asli dan sangat mahal" Adnan berucap sembari menyerahkan kotak yang berisi satu set perhiasan mutiara ke ibundanya Agha.
"Imbalan?" Ibundanya Agha sontak menautkan kedua alisnya dan memeluk kotak berisi satu set perhiasan mutiara.
"Iya dan jangan khawatir, Tante! Aku tidak meminta uang atau materi dalam jenis apapun" Sahut Adnan dengan sikap tenang dan wajah cerah. Wajah Adnan terus cerah di hari ini karena dia sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya.
"Lalu, apa imbalannya?" Ibundanya Agha menatap Adnan dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ijinkan aku bertemu dengan Kiana dan mengajak Kiana pergi keluar sebentar. Hanya sebentar"
"Hanya itu yang Anda minta, Yang Mulia?" Tanya Ibundanya Agha dengan wajah yang masih penuh dengan tanda tanya.
"Iya. Hanya itu. Di mana Kiana?.Kiana ada di rumah, kan?"
"Iya, Kiana ada di rumah. Tapi, Kiana, emm, dia......." Ibundanya Agha tampak ragu melepaskan Kiana dari kamar perenungan lalu mengijinkan Kiana pergi keluar bersama dengan putra mahkota.
"Aku ingin bertemu dengan Kiana. Hanya ingin mengobrol dan berjalan-jalan sebentar. Apakah tidak boleh? Kalau tidak boleh maka aku akan bawa semua kain indah yang sudah Tante bawa masuk ke dalam dan mengambil kotak yang Tante dekap erat itu" Ucap Adnan dengan wajah santai.
"An.....Anda akan mengajak Kiana berjalan-jalan ke mana?" Ibundanya Agha masih tampak meragu, namun dia semakin mendekap erat kotak berisi satu set perhiasan mutiara.
__ADS_1
"Hanya berjalan-jalan di sekitar kota. Tidak sampai ke luar kota" Sahut Adnan
"Baiklah Kalau hanya jalan-jalan di kota, Tante ijinkan. Tante akan panggilkan Kiana" Sahut Ibundanya Agha.