Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Hukuman


__ADS_3

Alih-alih melepaskan istri imutnya yang sangat cantik, Agha justru mempererat pelukannya sampai tubuh Kiana menempel erat di tubuhnya.


Kiana sontak mendongakkan wajahnya karena kaget dan saat Agha menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Kiana, terdengar suara, "Ehem!!!!" Yang sangat keras.


Agha refleks melonggarkan pelukannya dan Kiana sontak mendorong dada Agha. Suami istri itu kemudian menoleh secara bersamaan ke arah suara.


"Hei! Ada dua anak kecil di sini, jangan bermesraan sembarangan!" Agni yang sudah menggendong Kendra berteriak sambil melotot dan mencebikkan bibir ke Agha.


Agha langsung membungkuk, mengambil kerikil kecil dan menyentilkan kerikil itu ke kening Agni dengan mata melotot kesal.


"Aduh!" Agni sontak mengusap-usap keningnya dengan tangan kiri karena tangan kanan ia pakai untuk mendekap tubuh mungilnya Kendra yang masih nemplok dirinya.


Dia hobi nyentil kening ternyata. Kiana menatap wajah tampan suaminya dari arah samping.


Agha tiba-tiba membungkukkan badan dan mengarahkan pipinya ke Kiana.


Kiana sontak mundur selangkah ke belakang sambil bertanya, "Ke....kenapa Anda tiba-tiba membungkukkan badan begini, Yang Mulia?"


"Biasa. Cepat berikan!"


"Biasa apa?" Kiana sontak menautkan kedua alisnya.


"Ciuman selamat pagi di pipi. Cepat berikan!"


Kiana berbisik lirih, "Tepi, ada Agni" Kiana tampak panik


Melihat Kiana tampak panik, Agni langsung berteriak, "Hei! Jangan menindas Kakak iparku!"


Agha mulai menggeram saat ia mulai pegal membungkuk, "Cepat cium pipiku atau aku akan sentil kening Agni sekarang juga"


Ish! Kok, pengen banget dicium, sih. Ini, kan di depan orang. Aku, kan malu.


"Cepat!" Agha memperdalam suaranya.


Cup! Kiana mengecup kilat pipi Agha.


"Kurang" Agha masih belum menegakkan badannya.


Kiana langsung mengecup kembali pipi Agha daripada pria aneh itu marah dan semuanya terkena imbasnya.


Agha merasakan wajahnya merona malu untuk itulah ia segera menegakkan badan dan langsung melangkah lebar melintasi Kiana,


Agni hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan-gelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan kakak laki-laki tersayangnya.


Kiana mematung dan kaget saat Agni menyerahkan Kendra ke pelukan Kiana sambil berkata, "Aku nitip Kendra, ya, Kakak Ipar. Aku harus ikut Kak Agha bekerja di kantor penyidik"


Kiana langsung menyahut, "Iya"


Tapi Kiana kemudian berteriak kencang, "Yang Mulia Agha, tunggu!"

__ADS_1


Agha sontak mengentikan langkahnya dan berbalik badan dengan perlahan.


Saat melihat Agha berbalik badan dan menatap kakak perempuannya, Kendra langsung merosot turun dari dekapannya Kiana dan berlari masuk ke kamarnya Kiana.


Setelah mengikuti arah perginya Kendra dan memastikan Kendra aman, Kiana berlari kecil ke arah Agha dan berhenti tepat di depannya Agha.


Agni langsung berkata, "Aku tunggu di kereta kuda sama Bora"


Agha menatap Kiana dan menunggu Kiana mengucapkan sesuatu dengan wajah datar dan dingin.


Kiana langsung berkata, "Apakah saya boleh bekerja di luar? Saya terbiasa beraktivitas di luar"


"Boleh. Tapi, jangan pergi ke hutan dan ke kebunnya Kak Adyaksa!"


"Baik, Yang Mulia. Emm, satu lagi"


"Katakan!" Agha masih menatap Kiana dengan wajah datar dan dingin.


"Apakah saya boleh mengantarkan Kendra pulang besok?"


"Hmm"


"Apakah Anda akan menemani saya pulang, Yang Mulia?"


"Aku repot. Nggak bisa. Udah itu aja yang ingin ku tanyakan?"


Agha lalu berbalik badan dengan cepat tanpa pamit dan Kiana yang masih menundukkan wajah menghela napas kecewa.


Sepeninggalnya Agha dan Agni, ibundanya Agha bergegas menyuruh pelayan pribadinya untuk memanggil Kiana.


Kiana berputar badan dan langsung berteriak kaget, "Astaga! Maafkan saya hampir menabrak Anda"


"Tidak apa-apa, Nyonya muda. Nyonya besar meminta Anda menghadap beliau sekarang juga. Mari saya antarkan"


Tanpa bertanya Kiana langsung mengekor langkah wanita paruh baya yang sudah menjadi kepala pelayan di kediaman Caraka sejak Agha masih bayi.


Di dalam kereta kuda, Agni yang berhasil lulus ujian negara dan menjadi pegawai di kantor penyidik membantu Agha, langsung berkata, "Kakak beruntung memperoleh hadiah seorang Istri yang cantik dan baik hati"


"Dia juga cerdas" Sahut Agha.


"Nah, beruntung banget, kan, Kakak bisa memiliki Istri seperti Kak Kiana. Aku lebih menyukai Kak Kiana daripada Kak Rani yang manja itu. Aku lega banget doaku dikabulkan sama Tuhan. Kakak tidak jadi menikah dengan Kak Rani. Aku jadi pengen menikah juga. Aku ingin mesra kayak Kakak dan Kak Kiana tadi"


Agha tersenyum singkat lalu dengan wajah datarnya ia berkata, "Hush! Jangan sembarangan bicara! Kamu masih sangat muda"


"Kak Kiana umurnya sama dengan aku dan sudah menikah. Kenapa aku tidak boleh menikah?"


"Karena kamu beda sama Kiana"


"Kenapa beda? Di mana bedanya?"

__ADS_1


Agha menghela napas.kesal lalu bersedekap, menyandarkan kepala, dan langsung memejamkan mata.


Agni langsung berkata, "Kak! Kok malah diam"


Agha bergeming dan mengabaikan teriakannya Agni.


"Kak!" Agni menggoyang-goyangkan kedua lutut Agha yang duduk di depannya.


Agha membuka mata dengan kesal dan dengan masih bersedekap ia menegakkan badan lalu bertanya, "Oke, boleh menikah. Tapi, kamu harus........"


"Benarkah? Bora!" Agni langsung menyibak tirai jendela di belakangnya.


Bora yang mengendarai kuda di samping kereta kuda, sontak berteriak, "Berhenti!" Lalu, Bora memutar si Bopeng kuda kesayangnnya untuk berjalan pelan ke sisi kanan kereta kuda yang dinaiki oleh junjungannya.


Agha sontak kaget dan bertanya, "Kenapa kau memanggil Bora?"


"Kita tunggu sampai Bora muncul di depanku" Sahut Agni tanpa.menoleh ke belakang.


Agha langsung menautkan kedua alisnya.


Beberapa detik kemudian Bora muncul di depannya Agni dan langung bertanya, "Ada apa Nona memanggil saya?"


"Kita sudah diijinkan menikah sama Kak Agha. Kamu akan menikahi aku kapan?"


"Hah?!" Agha dan Bora berteriak kaget secara bersamaan.


Sementara itu di dalam kediaman Caraka yang megah dan luas, Ibundanya Agha tengah menceramahi Kiana. Kiana terus berdiri menunduk di depan ibundanya Agha yang tengah duduk di depan Kiana sambil sesekali menyeruput teh madu hangat.


"Kamu itu seorang Istri yang tidak tahu sopan santun. Belum ada hitungan Minggu pernikahan kamu dengan Agha, kamu sudah mengundang Putra Mahkota datang ke sini. Kamu berani menggoda Putra Mahkota. Dasar gadis murahan. Kau bahkan bermain seharian di kebunnya Pangeran Adyaksa. Kasihan sekali, Agha"


Kiana sontak mengangkat wajahnya dan menyahut dengan sopan, "Maaf, Ibu. Saya tidak pernah mengundang Putra Mahkota datang kemari, saya tidak pernah menggoda Putra Mahkota, dan saya juga bukan gadis murahan. Saya pergi ke kebunnya Pangeran Adyaksa karena saya....."


"Diam!" Ibundanya Agha melemparkan cangkir yang masih berisi teh hangat ke Kiana sampai teh itu mengenai bajunya Kiana. "Berani kamu membantah omonganku, hah?!"


Kiana menunduk saat teh mengenai bajunya dan cangkir teh mengenai kakinya. Untung saja cangkir teh itu tidak pecah dan melukai kaki Kiana. Kiana kemudian mengangkat wajahnya dengan sopan dan langsung berkata, "Maafkan saya, Ibu. Saya selalu mengatakan kebenaran dan tidak pernah berbohong. Kalau saya salah maka saya tidak akan ragu untuk meminta maaf. Tepi, kalau ada pendapat yang salah tentang apapun juga maka saya tidak akan pernah ragu untuk meluruskannya. Saya bukan wanita murahan, Ibu"


Ibundanya Agha langsung bangkit berdiri dan melotot ke Kiana sambil menunjuk wajah Kiana dan melotot ia kemudian berteriak, "Jangan panggil aku Ibu! Aku bukan Ibu kamu!"


"Baik, Nyonya besar" Sahut Kiana dengan nada bicara dan sikap yang sopan.


"Bawa dia ke kamar perenungan agar dia menyadari kesalahannya dan jangan beri dia makan sampai jam empat sore nanti!" Teriak Ibundanya Agha masih dengan jari telunjuk mengarah ke wajahnya Kiana.


Kiana kemudian dicekal lengannya oleh kedua pelayan dan ditarik paksa ke kamar perenungan.


Kamar perenungan adalah kamar kecil yang bersih, tapi sangat kecil. Kamar itu berada di pojok timur kediamannya Caraka dan kamar itu terpisah dari semua bangunan dan jarang dipakai ataupun dikunjungi orang.


Kiana dipaksa masuk ke dalam kamar itu dan pintu kamar itu langsung dikunci dari luar. Kiana hanya bisa pasrah menerima hukuman dari mertuanya.


Tepat setelah cangkir dan tumpahan dibersihkan, Ibundwnya Agha dikejutkan dengan kedatangannya pangeran Adnan, sang Putra Mahkota yang kembali datang bertamu dan mencari Kiana.

__ADS_1


__ADS_2