
Agha meletakkan Jendera Arya di tempat yang aman dan meminta salah satu anak buah kepercayaannya untuk menjaga Jenderal Arya.
Agha lalu terbang melesat dengan kecepatan kilat saat ia melihat helm besi Adyaksa terlepas dan terlempar cukup jauh lalu Adyaksa jatuh tergeletak di atas tanah. Dengan sigap, Adyaksa masih mampu menahan pedang seorang pria dengan baju zirah lengkap.
Agha yang tidak mengenakan baju zirah kebanggannya langsung menendang pinggang pria yang sudah lancang melepas dan melemparkan helm besi pamannya.
Pria itu bergeser ke samping cukup jauh sehingga bisa memberikan cukup waktu bagi Agha untuk menolong Adyaksa.
Adyaksa langsung menepuk pundak Agha dan berkata, "Syukurlah kau datang tepat waktu. Kiana aman?"
"Aman" Sahut Agha.
"Dia sangat hebat Agha. Pakailah pedangku untuk melawannya dan ........"
Agha menepis tangan pamannya dengan sopan lalu berkata, "Paman butuh pedang dan aku tidak"
"Heh! Kau ternyata masih sombong juga, Bocah" Adyaksa terkekeh geli.
Agha tersenyum dan berkata, "Paman mundur saja! Bebat tangan Paman yang berdarah dulu! Aku akan melawannya"
"Baiklah, hati-hati Agha" Adyaksa menepuk pundak Agha sekali lagi lalu ia berbalik badan sambil mengarahkan pedangnya ke depan untuk mencari jalan baginya menuju ke tempat yang aman guna membebat tangannya yang terus mengeluarkan darah.
Pria berbaju zirah lengkap melesat maju dan berdiri di depan Agha dengan jarak dua meter. "Kau Jenderal Agha Caraka yang terkenal itu"
"Dan kau........"
Pria berbaju zirah lengkap itu melepas helmnya dan tersenyum tipis di depan Agha.
"Kau..........."
"Iya, benar. Aku Bhadra"
Agha kemudian teringat akan pertempuran besarnya beberapa bulan yang lalu di mana seorang Jenderal besar dari kerajaan timur, yang bernama Bhadra hampir membunuhnya. Namun, entah kenapa Jenderal yang bernama Bhadra itu tidak jadi membunuhnya dan justru pergi meninggalkannya. Padahal saat itu Agha benar-benar tidak berdaya.
"Kenapa kau tidak membunuhku saat itu?"
Pria yang mengaku bernama Bhadra itu tersenyum tipis lalu berkata, "Karena aku dengar kalau kamu akan dijodohkan dengan Kiana"
Agha sontak mendelik kaget saat ia mendengar seorang pria gagah dan tampan menyebut nama Kiana. Agha lalu berteriak dengan sorot mata penuh kecemburuan, "Apa hubungan kamu dengan Kiana?!"
__ADS_1
"Kiana adalah adik sepupuku. Kami pernah tinggal bersama dan aku sangat menyayanginya. Aku tidak ingin Kiana kehilangan calon suaminya, maka dari itu aku tidak membunuh kamu saat itu"
"Diam! Jangan katakan kalau kamu menyayangi Kiana! Dia Istriku!" Agha mendelik kesal.
"Hahahahaha! Kau masih sama saja ternyata. Gampang tersulut emosi kamu dan itulah kelemahan kamu"
"Diam! Lawan aku sekarang juga!"
"Dengan senang hati" Sahut pria yang mengaku bernama Bhadra.
Bhadra membuang pedangnya dan meladeni Agha bertarung dengan tangan kosong.
Tenaga dalam keduanya sama-sama kuat, teknik beladiri mereka berdua sama-sama hebat, dan ilmu mereka sama-sama tinggi.
Duel di antara Bhadra dan Agha membuat tanah yang mereka pijak, retak.
Bhadra berhasil mengunci tapak Agha dan berkata, "Kau maju pesat Agha. Aku senang melihatnya. Kau juga jauh lebih bersabar saat ini. Kerja bagus, Agha!"
Agha mengurai kuncian itu dan menendang tangan Bhadra. Keduanya mundur ke belakang beberapa meter. Agha kemudian berdiri di atas kuda-kudanya dan berteriak, "Kau juga bertambah hebat Bhadra. Cuma sayangnya kau berpihak pada orang yang salah"
"Benarkah?!" Teriak Bhadra.
"Aku di sini karena kesalahpahaman. Aku tidak berpihak pada siapa pun. Pria tadi yang tiba-tiba menyerangku dan ........"
"Diam kau!!!!!" Agha melesat maju sambil mengarahkan kedua tapaknya.
Pria yang bernama Bhadra dengan sigap menghindari tapak saktinya Agha sambil berkata, "Aku ke sini mencari........"
"Diam kau! Kau sudah melukai Pamanku, maka kau harus membayarnya"
"Aku tidak melukainya" Sahut Bhadra sambil terus mengindari serangannya Agha.
"Aku lihat sendiri kau hendak membunuhnya dan tangan Kanannya terluka. Cih! Kau masih mau mengelaknya?!"
"Sudah aku bilang kalau dia tiba-tiba menyerangku dan aku........."
"Diam kau!" Agha berhasil mendaratkan tapak saktinya di dada Bhadra dan Bhadra langsung terjengkang mundur beberapa langkah. Bhadra kemudian batuk, namun karena tenaga dalamnya sangat bagus, Bhadra tidak sampai mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Tepat di saat itu, Permaisuri muncul dan berteriak, "Agha! Bersiaplah untuk mati!" Permaisuri mengarahkan panah andalannya ke Agha dan dengan sigap Bhadra memasang badan di depan Agha lalu memutar dua tangannya untuk mengeluarkan angin tornado yang cukup besar. Panah Permaisuri tidak mengenai Agha dan permaisuri terjatuh dari atas kuda.
__ADS_1
Bhadra langsung menarik terbang Agha menuju ke tempat yang aman.
"Lepaskan aku!" Agha menarik tangannya dengan hunusan tatapan tajam.
"Dia punya panah emas dan kau punya inti sari setengah dewa. Tergores panah emas sedikit saja kau bisa mati. Kau harus berhati-hati" Sahut Bhadra.
"Kenapa kau menolongku? Bukankah kau ada di pihak Permaisuri?"
"Sudah aku bilang aku di sini karena kesalahpahaman. Aku bukan anak buahnya permaisuri karena aku nggak jahat dan bodoh. Dan karena kamu itu suaminya Kiana, maka aku menolong kamu. Aku tidak ingin Kiana bersedih kalau kamu sampai kenapa-kenapa"
"Jangan pedulikan Istriku! Dasar brengsek!" Agha menepuk kasar dada Bhadra.
Bhadra terkekeh geli lalu berkata, "Aku kakak sepupunya Kiana. Kenapa kau cemburu nggak jelas seperti ini?"
"Diam dan jelaskan kenapa kau bisa ada di sini?!" Agha menggeram kesal dengan sorot mata masih penuh dengan kecemburuan.
"Aku mencari Bibiku. Bibiku katanya ada di istana menengok Kaisar Abinawa. Raja Abimantya dari kerajaan Timur menyuruhku ke sini untung menyelamatkan Bibiku dan mengajak bibiku ke kerajaan Timur"
"Kenapa kau mencari ibu mertuaku?"
"Hei! Dia bibiku. Kenapa aku tidak boleh mencarinya?" Bhadra kembali terkekeh geli.
"Katakan!" Agha menggeram kesal.
"Raja Abimantya itu saudara kembarnya Kaisar Abinawa dan Bibi Kayla itu mantan kekasihnya Raja Abimantya. Raja mengutus aku mencari Bibi Kayla karena Raja membutuhkan Bibi Kayla untuk menyembuhkan penyakit Raja Abimantya dan Raja Abimantya mengkhawatirkan Bibi Kayla karena Raja Abimantya tahu permaisuri kerajaan ini sangat jahat dan memiliki panah emas yang bisa mencelakai Bibiku"
"Kenapa harus mencari Ibu mertuaku? Banyak tabib hebat, kan, di sana"
"Hanya Bibi Kayla yang bisa menyembuhkannya. Tapi, pas aku sampai di sini, aku dikejutkan dengan perang besar ini dan Paman kamu tiba-tiba menyerangku"
Agha menautkan kedua alisnya dan berkata, "Jadi, kerajaan Timur dan kerajaan Kaisar Abinawa sudah berdamai saat ini?"
"Belum"
"Jadi, kau di sini berada di pihak mana?"
"Pihak kerajaan Timur, dong. Tapi, aku akan menolong kamu karena kamu adalah suaminya Kiana. Ayo kita lawan permaisuri itu dan kita akan diskusikan soal politik Kerajaan Timur dan Kerajaan Kaisar Abinawa setelah kita berhasil menjatuhkan. permaisuri itu"
Agha terpaksa menganggukan kepala dan berkata, "Oke, aku ikuti kamu"
__ADS_1