Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kalah


__ADS_3

Agha lalu mencium kening Kiana, pipi, dan mengecup singkat bibir Kiana, setelah itu pria tampan itu berbisik penuh kasih sayang di telinga kIana, "Tidurlah, Sayangku"


Setelah menyelimuti Kiana, Agha bergegas bangun lalu berlari ke kamar mandi karena ia merasakan matahari semakin terasa hangat berlari itu tandanya hari semakin siang.


Dua puluh lima menit kemudian, Agha berlari keluar dari kamar mandi lalu bergegas memakai baju kebesarannya sambil berlari ke sana kemari. Setelah itu pria tampan dan gagah itu melesat cepat ke pintu kamar dan saat pintu kamar ia buka, ia dikejutkan dengan wajah manyunnya Bora.


"Kenapa kamu manyun seperti itu, Bora?"


"Anda sudah ditunggu oleh para menteri dan pejabat tinggi kerajaan dari satu setengah jam yang lalu. Kemudian, Ibu mertua Anda dan Jenderal Bhadra juga menunggu Anda. Ibu mertua Anda dan Jenderal Bhadra akan kembali ke kerajaan Timur untuk mengurus persiapan pernikahan Mertua Anda, Yang Mulia"


"Ayo kita segera ke sana" Agha berkata sambil berlari kencang sambil memegangi mahkotanya.


Bora, Kasim, para dayang dan para pengawal sontak berlari mengikuti laju lari junjungan mereka dengan wajah kaget.


Akhirnya Agha sampai di singgasananya dan belum sempat merasakan duduk selama tiga menit di singgasananya, Agha langsung dicecar laporan dari para menteri dan para pejabat istana.


Ibundanya Kiana dan Bhadra terpaksa menunggu Agha menyelesaikan urusan kerajaannya, dengan sangat bersabar.


Setelah menunggu selama dua jam lebih beberapa menit akhirnya Agha turun dari singgasananya untuk menemui ibu mertua dan Kakak sepupunya Kiana.


Bhadra langsung mendengus kesal, "Waaaahhh, gila kamu! Kenapa baru keluar kamar jam setengah sebelas, hah?! Kamu......wah, gila kamu!" Bhadra lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali dan Agha hanya bisa meringis sambil mengelus tengkuknya dan berkata, "Maaf, khilaf, Kak, hehehehehe"


Ibundanya Kiana langsung menepuk bahu Bhadra sambil berkata, "kayak kamu nggak pernah aja khilaf"


Bhadra langsung memamerkan deretan gigi putihnya di depan bibi cantiknya sambil mengelus tengkuknya.


"Maaf Ibunda, Kiana masih tidur saat ini dan Agha tidak tega membangunkannya" Agha tersenyum malu di depan ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa. Biarkan Kiana tidur lebih lama biar kalian cepat memberikan aku seorang cucu" Ibundnya Kiana tersenyum lebar ke Agha.


Agha kembali meringis dan mengelus tengkuknya.


"Kamu minum apa emangnya, kok, bisa khilaf selama berjam-jam, hah?!" Tanya Bhadra dan Kayla langung menepuk bahu keponakannya dengan senyum geli.


Agha merona malu dan berkata, "Ibunda yang kasih ramuan ke aku, Kak"


"Kalau gitu, nanti aku minta ramuannya, ya, Bi" Bhadra kembali memamerkan deretan gigi putihnya ke ibundanya Kiana dan ibundanya Kiana langsung berkata, "Iya. Nanti aku kasih. Sekarang kita harus segera kembali ke kerajaan Timur, Yang Mulia Raja Abimantya sudah menunggu kepulangan kita"

__ADS_1


"Ah, iya, Bibi benar" Sahut Bhadra.


Agha langsung berkata, "Saya akan antarkan Ibunda dan Kak Bhadra sampai depan gerbang Istana dan setelah Kiana bangun nanti, saya akan langsung ajak Kiana pergi ke kerajaan Timur. Saya akan mengajukan cuti ke Paman saya nanti"


"Baiklah. Jaga Kiana dengan baik dan jangan keseringan khilaf nanti malah nggak jadi. Kasih jeda sehari" Sahut Ibundanya Kiana.


"Baik, Ibunda" Sahut Agha dengan rona malu di wajahnya.


"Mana mau dia diberi jeda" Sahut Bhadra dan Agha langsung menepuk pundak kakak sepupunya Kiana itu dengan senyum lebar dan menunduk malu.


Setelah ibundanya Kiana dan Bhadra meninggalkan kerajaan Pusat, Agha berbalik masuk ke dalam dan melesat kembali ke kamarnya untuk mengerjakan bertumpuk-tumpuk berkas yang belum sempat ia jamah sama sekali. Sedangkan tabib Danur hanya bisa menatap kereta kudanya Kayla dari kejauhan dengan linangan airmata.


"Aku sudah tidak bisa lagi menatap wajah Kayla secara sembunyi-sembunyi. Kayla sudah pergi jauh dariku untuk selamanya" Gumam Tabib Danur sambil meremas dadanya.


Sementara itu, setelah menjalani perjalanan selama berjam-jam dengan kereta kuda, Kayla dan Bhadra langsung disambut hangat oleh raja Abimantya sendiri. Raja Abimantya langsung membawa Kayla ke paviliunnya dan Bhadra langsung kembali ke kediamannya setelah berpamitan.


Raja Abimantya langsung mengajak Kayla duduk di depan sebuah meja panjang lalu berkata, "Pilihlah baju pengantin yang kamu suka beserta aksesorisnya. Aku belum pernah berpacaran dan belum pernah menikah, jadi aku tidak tahu cara memilih yang benar"


Kayla menoleh ke Abimantya dengan senyum hangat lalu berkata, "Saya ingin tahu selera Anda, Yang Mulia. Tolong pilihkan untuk saya"


"Saya akan menerima pilihan Anda, Yang Mulia karena dengan begitu saya jadi bisa lebih dalam mengenal Anda lewat pilihan Anda nanti"


"Hahahahahaha. Kau memang unik, Kayla. Baiklah aku akan pilih yang ini dan yang ini"


Raja Abimantya mengambil nampan yang berisi setelan baju pengantin berwarna merah dengan bordiran burung merak, lalu nampan yang berisi aksesoris dengan tema yang sama dengan baju pengantinnya.


"Saya menyukai pilihan Anda, Yang Mulia. Tapi, maafkan saya kalau saya ingin tahu alasannya kenapa Anda memilih itu?" Tanya Kayla.


Raja Abimantya kembali tertawa, "Hahahahaha. Dari dulu kau bukan hanya sangat cantik, Kayla, tapi kau juga sangat kritis dan cerdas. Bordiran merak Hijau di baju pengantin yang aku pilih ini melambangkan kekuatan, karena aku ingin cinta kita semakin kuat ke depannya. Lambang merak Hijau ini juga memiliki arti keanggunan yang tidak lain adalah lambang keanggunan dirimu. Lalu, lambang merak Hijau ini juga memiliki arti keunggulan. Aku ingin pernikahan kita lebih unggul dibanding semua pernikahan yang pernah ada"


Bilang saja kalau Anda ingin pernikahan kita lebih unggul dari pernikahan saya yang sebelumnya dengan Mas Danur. Batin Kayla.


"Kenapa bengong? Kau suka tidak?" Tanya Raja Abimantya sambil menggenggam tangan Kayla.


"Saya sangat menyukainya, Yang Mulia"


Raja Abimantya langsung merangkul Kayla dan mencium pucuk kepalanya Kayla lalu berkata, "Aku akan membuatmu bahagia dan kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu ini, Kayla. Aku sangat mencintaimu"

__ADS_1


Kayla hanya bisa menyahut, "Baik, Yang Mulia" Karena saat ini dia masih belum memiliki rasa cinta untuk raja Abimantya.


Raja Abimantya lalu berkata, "Aku juga akan menunggu kamu benar-benar siap memberikan hati dan diri kamu ke aku secara penuh, Kayla. Selama kamu belum siap, aku tidak akan memaksa kamu"


Kayla langsung menyahut, "Terima kasih, Yang Mulia. Saya sungguh beruntung memiliki cinta Anda yang begitu besar dan tulus, Yang Mulia"


"Aku harap tidak lama lagi kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu, Kayla"


"Saya akan berusaha dengan keras untuk belajar mencintai Anda, Yang Mulia"


Raja Abimantya tersenyum bahagia lalu mencium kembali pucuk kepalanya Kayla.


Sementara itu, Agha yang tengah asyik menekuri berkas-berkas di ruang kerjanya, dikejutkan dengan kemunculan Aisyah di depan meja kerjanya.


"Yang Mulia, saya buatkan teh hijau khas kerajaan Kecil yang sangat bagus untuk menjaga stamina Anda" Ucap Aisyah sambil meletakkan cangkir teh di atas meja kerjanya Agha.


Agha mendongak kaget lalu kembali menunduk menatap berkas-berkas di depannya sembari berkata, "Aku tidak bisa minum teh bikinan wanita lain. Aku hanya minum teh bikinan Istriku. Maaf, bawa pergi saja tehnya"


Aisyah langsung menyahut, "Saya tahu kalau selama Anda tinggal di kerajaan kecil, Anda hanya minum air putih dan tidak pernah mau saya bikinkan teh. Tapi, saya pikir kalau Anda ..........."


Agha kembali mendongak dan menatap Aisyah yang masih berdiri di depan mejanya lalu berkata, "Di sini, di kerajaan kecil, atau di mana saja, aku hanya akan minum teh bikinannya Kiana, Istri tercintaku. Kalau Istriku belum bikin teh untuk aku, maka aku hanya akan minum air putih. Bawa kembali teh kamu ini, maaf"


Bora langsung mengambil cangkir teh dan memberikannya ke Aisyah, "Raja Agha memiliki pendirian yang sangat kuat, jadi lebih baik Anda bawa teh Anda ini, Ratu"


Aisyah terpaksa menerima cangkir teh itu dan tersenyum palsu karen hatinya mulai terasa sakit karena cemburu. Lalu, Aisyah bertanya, "Ratu Kiana di mana sekarang? Kapan saya bisa bertemu dan berkenalan dengan beliau?"


Agha langsung berkata, "Istriku saat ini tengah fokus menjalani program kehamilan dan tidak berkenan menemui siapa pun saat ini, maaf. Mungkin dalam waktu dekat ini kamu belum bisa bertemu dan berkenalan dengan Kiana"


"Oh, baiklah. Kalau begitu saya kembali dulu ke kamar saya, Yang Mulia" Sahut Aisyah dengan senyum palsu.


"Hmm" Sahut Agha sambil kembali menunduk untuk membaca berkas-berkas di depannya.


"Aku pamit ke kamar, Bora" Ucap Aisyah samb menoleh ke Bora.


"Silakan, Ratu" Sahut Bora dengan senyum hangat.


Aisyah melangkah kembali ke kamarnya dan sesampainya di kamar, Aisyah melemparkan cangkir teh dengan kesal dan bergumam, "Aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Aku harus perjuangkan cintaku. Aku benar-benar cemburu pada Kiana. Bahkan untuk secangkir teh saja aku kalah sama Kiana!"

__ADS_1


__ADS_2