
Di kediaman Caraka, Maharani dengan wajah semringah membawa nampan berisi teh hijau dan kue kesukaannya Agha yang dia bikin sendiri dengan sepenuh jiwa dan raga ke kamar pribadinya Agha. Maharani melangkah lebar karena ia ingin bisa segera memandangi wajah tampan pujaan hatinya.
Namun, Maharani harus menelan pil pahit kekecewaan saat pelayan yang berdiri di depan kamar pribadinya Agha Cara berkata, "Maaf, Non Rani. Yang Mulia Agha dan Nyonya muda keluar dari kamar sejak pagi buta dan belum kembali sampai sekarang"
Maharani langsung menjejalkan nampan ke pelukan salah satu pelayan yang berjaga di depan pintu kamar pribadinya Agha Caraka dan berbalik badan dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut lancip.
Aku akan langsung memainkan aktingku begitu Kak Agha balik nanti. Lihat saja Kiana, tunggu saja! Kau akan gigit jari melihat Kak Agha menikahiku dan setelah itu aku akan memiliki Kak Agha sepenuhnya, cih! Batin Maharani sambil terus melangkah lebar menuju ke kamarnya.
Sementara itu di toko aksesoris, Agha dan Kiana tengah bersitatap dengan jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya jarak mereka, mereka bisa mendengar degup jantung abnormal mereka.
"Mana tangan kiri kamu?" Ucap Agha sambil terus menatap lekat wajah cantik istri kecilnya.
Kiana tersenyum dan mengangkat tangan kirinya. Agha langsung meletakkan kotak berwarna merah di atas tangan kiri Kiana yang terbuka lebar sambil berkata, "Jaga kotak ini?" Agha lalu membuka kotak itu.
Kiana mengangguk dan tersenyum karena di belum bisa melihat isi kotak itu.
Agha lalu meraih tangan Kiana dan setelah ia mencium buku-buku jari tangan kanan Kiana, jenderal tampan dan gagah itu mengambil cincin dari kotak yang masih bertengger di atas telapak tangan kiri Kiana. Agha lalu memasangkan cincin giok berwarna hijau jau berukiran naga hitam yang sangat indah ke jari manis tangan kanan Kiana dengan wajah tegang.
Kiana tersentak kaget dan refleks menarik jarinya.
Agha sontak bertanya, "Kenapa kau tarik jari kamu? Kau tidak suka, ya? Aku akan ganti dengan yang lain dan ........."
Cup! Kiana mendaratkan ciuman di pipi Agha lalu berkata, "Aku sangat menyukainya karena ini pemberian pertama dari Mas yang Mas pilih sendiri untukku"
Agha langsung menyeringai lebar saking lega dan bahagianya, karena sang istri sangat menyukai pilihannya bahkan sang istri sampai memberikan ciuman di pipinya. Agha berasa ingin terbang ke angkasa luas saat itu juga. Lalu Agha berkata, "Aku beli cincin itu berpasangan. Sekarang kau pasangkan cincinku ke jari manis tangan kananku"
Agha menunggu Kiana mengambil cincin yang masih ada di dalam kotak dengan seringai lebar. Tampak ketidaksabaran terpampang nyata di wajah tampannya Agha Caraka. Seperti seorang anak kecil yang tengah menunggu diberikan permen. Kiana sampai mengulum bibir menahan geli melihat sikap kekanak-kanakannya Agha Caraka.
Kiana memasangkan cincin ke jari manis tangan kanannya Agha dan kembali berjinjit untuk mencium pipi Agha.
Agha semakin menyeringai lebar dan terus menatap lekat wajah cantik istrinya sambil terus menyeringai lebar tanpa mampu berkata-kata saking bahagianya.
Kiana sampai terkekeh geli melihat tingkah polos suaminya itu. Lalu Kiana menepuk pelan bahunya Agha dan berbisik, "Kalau Mas terus menyeringai lebar seperti ini, Mas akan membawa pulang satu lusin anak perempuan seperti dia, dia, dia, dan dia" Kiana menunjukkan jari ke sekelilingnya Agha.
Kepala Agha spontan berputar mengikuti arah tunjuknya Kiana dan tersentak kaget dengan sendirinya, "Lho, hei, kenapa tiba-tiba ada banyak anak perempuan di sekelilingku?"
Salah satu anak perempuan yang ada di sekeliling Agha nyeletuk, "Kakak tampan sekali"
Salah satu anak yang lainnya lalu menyahut, "Iya, senyum Kakak bagus sekali. Aku suka"
Kiana tidak bisa lagi menahan tawanya. Kiana tertawa dan terus tertawa saat suaminya mulai bingung dan dengan masih menyeringai lebar, Agha menautkan alis. Wajah suaminya tampak sangat lucu bagi Kiana dan wanita cantik itu terus tertawa tiada henti.
__ADS_1
Agha langung menghapus senyumannya, menggandeng tangan Kiana dan langsung mengajak Kiana melangkah lebar keluar dari toko aksesoris itu.
Sesampainya di dalam kereta kuda, Agha langsung menggeram, "Kenapa kau tertawa?"
"Habisnya wajah Mas lucu banget waktu Mas kebingungan dan terus menyeringai lebar. Lucu banget, Mas, hahahahaha" Kiana masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Kau tidak cemburu suami kamu dikelilingi banyak sekali anak perempuan tadi?"
Kiana yang masih tertawa ngakak menggelengkan kepalanya laku berkata di sela tawanya, "Mereka masih anak-anak, Mas. Tentu saja aku nggak cemburu"
"Kau belum berterima kasih dengan benar malah tertawa ngakak terus seperti ini" Agha mendengus kesal.
Kiana kembali berkata di sela tawanya, "Aku sudah mencium Mas di pipi sebanyak dua kali, kan"
Agha langung menarik Kiana ke dalam pangkuannya dan berkata, "Berterima kasih dengan benar itu harus mencium di sini" Agha mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk.
Alih-alih menuruti kemauan suaminya, Kiana justru terkekeh geli.
Agha langsung membungkam bibir istrinya dan Kiana langsung membeliak lebar. Namun, di detik berikutnya Kiana memejamkan mata dan menyerah kalah mengikuti permainan lembut suaminya.
Setelah mengajak istrinya berciuman cukup lama, Agha lalu memeluk Kiana yang masih berada di atas pangkuannya. Lalu Agha memainkan jari jemari tangan kanan Kiana sambil bertanya, "Kau menyukai pilihanku?"
Kiana mengusap cincin di jari Agha sambil berkata, "Iya, Mas. Aku sangat menyukainya"
"Indah sekali artinya. Mas bisa bersikap romantis juga ternyata"
"Kau suka?" Tanya Agha.
"Iya. Aku sangat menyukainya"
"Kalau kau sangat menyukainya kenapa kau tidak berikan ciuman ke aku?
"Sudah,.kan, barusan?"
"Tzk!" Agha berdecak kesal lalu berkata, "Tadi yang mencium, kan, aku"
Kiana terkekeh geli dan langsung menegakkan kepalanya dan mencium bibir suaminya dengan lembut. Sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu kembali berciuman di dalam kereta kuda yang tengah menuju ke kediaman Caraka.
Sesampainya di kediaman Caraka Agha mengusap bibir Kiana yang tampak basah dan sedikit bengkak karena ulahnya lalu Agha merapikan rambut dan mengancingkan kembali beberapa kancing bajunya Kiana yang terbuka.
Agha mencium kening Kiana lalu berkata, "Hmm. Sudah rapi. Ayo kita turun"
__ADS_1
Kiana tersenyum sambil menganggukkan kepala dan turun dari kereta kuda dengan bantuan suaminya. Agha menggandeng tangan istri cantiknya saat ia melangkah masuk ke kediamannya.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan hadirnya Maharani. Maharani lalu berlari melintasi Agha sambil berkata, "Kak! Aku sudah menemukan keberadaannya Tante, ayo kita ke sana sekarang juga!"
Bora dan Agni langsung mengekor Maharani tanpa sempat menyapa Agha dan Kiana.
Tubuh Agha spontan berputar. Kiana otomatis ikut memutar tubuhnya. Lalu saat Agha hendak mengajak Kiana berlari mengekor Maharani, muncul utusan dari istana dari balik gerbang besar kediamannya Agha. Urusan dari istana itu langsung berkata, "Nyonya Agha Caraka, Anda dipanggil oleh permaisuri untuk mengobati permaisuri sekarang juga"
Agha dan Kiana saling pandang. Lalu, Agha berkata, "Aku akan ke kamar dulu untuk bicara empat mata dengan istriku"
"Baik, Yang Mulia Agha Caraka" Sahut urusan dari istana itu.
Sesampainya di kamar, Agha langsung memeluk Kiana dan sambil terus mengelus rambut panjang indahnya Kiana, ia menghela napas panjang hampir tanpa jeda.
Kiana mengelus punggung suaminya dan berkata, "Mas selesaikan dulu masalah Ibunda dan Maharani. Aku akan jaga diri dengan baik di kediaman Permaisuri. Aku nggak akan kenapa-kenapa"
Agha mencium pucuk kepala Kiana, lalu mendorong pelan kedua bahu Kiana untuk mencium kening, pucuk hidung, pipi kanan dan kiri, lalu berlama-lama mencium bibir Kiana. Ada perasaan tidak rela membiarkan Kiana pergi sendirian ke dalam istana untuk memeriksa kondisi kesehatan permaisuri.
Kiana mendorong pelan dada Agha saat terdengar suara ketukan di pintu.
Kiana menangkup wajah Agha dan berkata, "Jangan khawatir, Mas! Aku akan jaga diri dengan baik"
Agha mencium kening Kiana dan berkata, "Aku akan segera menjemput Kamu setelah masalah Ibunda selesai. Kamu harus jaga janji kamu dengan benar, mengerti?!"
Kiana yang masih menangkup wajah tampan suaminya menganggukan kepala dengan senyum cantiknya.
"Ah! Jangan senyum secantik itu!"
Kiana langsung menghapus senyumannya dan bertanya, "Kenapa?"
"Aku tambah berat melepasmu pergi tanpa aku" Agha mengusap pelan bibir Kiana.
Kiana terkekeh geli dan setelah mencium pipi suaminya, Kiana menarik tangan Agha untuk ia ajak keluar dari dalam kamar sambil berkata, "Aku harus segera pergi ke istana, Mas!"
Begitu sampai di luar kamar, utusan dari istana langsung berkata, "Nyonya Agha Caraka, kita harus segera pergi ke istana" Kiana mengangguk ke utusan istana itu dan menyahut, "Baiklah"
Agha terus menggenggam tangan Kiana sampai langkah mereka terhenti di depan gerbang besar kediaman Caraka. Agha mencium tangan Kiana dan dengan helaan napas berat ia akhirnya melepas Kiana naik ke kereta kuda dan pergi ke istana tanpa dirinya.
Agha menunggu sampai kereta kuda yang membawa Kiana menghilang di tikungan jalan.
Lalu, Agha menoleh ke beberapa anak buahnya yang sudah bersiap dan berkata, "Kita kejar Bora!"
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia" Sahut kesepuluh anak buahnya Agha secara serempak.