
Saat melihat pagar yang terbuat dari kayu menjulang nyata di depannya, Agha langsung terbang melesat masuk ke dalam pemukiman kecil melewati pagar sederhana yang terbuat dari kayu yang hampir lapuk dan pria tampan itu tanpa berpikir panjang berteriak kencang, "Di mana pimpinan kalian?! Suruh dia keluar dan menghadapi aku!"
"Sial! Dia selalu saja bertindak di luar dugaan dan sesuka jidat dia" Gumam Bhadra sambil meraup kasar wajah tampannya lalu Bhadra melesat terbang mengejar Agha.
Sementara itu, Bora,.Aisyah dan pasukan pilihannya Agha menghalangi gerombolan pria yang ingin menyerang Agha.
Sementara Agha dan Bhadra berhadapan dengan pria tinggi besar yang memegang golok besar. Pria tinggi besar itu melangkah sambil menarik goloknya. Bunyi berdecit yang timbul dari gesekan ujung golok yang terbuat dari logam dengan lantai yang terbuat dari semen membuat Agha dan Bhadra menutup telinga mereka. Suara itu membuat tulang dan gigi Agha juga Bhadra terasa ngilu.
Agha dan Bhadra sontak menghindar dan berputar ke arah yang berlawanan saat pria tinggi besar itu mengayunkan golok ke mereka.
Agha dan Bhadra bersitatap kaget saat mereka melihat ternyata pria tinggi besar dengan senjata golok itu memiliki kembaran.
"Sial! Dia punya kembaran" Pekik Agha sambil terus menghindari kibasan golok.
"Dan gerakan mereka luwes padahal golok yang menjadi senjata mereka sangat besar" Pekik Bhadra
Karena lelah selalu menghindar, maka Agha melompat mundur beberapa langkah lalu ia berjongkok dan menapakkan telapaknya di atas tanah sambil berteriak, "Arrghhhhhh!!!!"
Bhadra ikutan melompat mundur beberapa langkah lalu mengangkat tinjunya sambil berteriak, "Arrghhhhhh!"
Agha melepaskan jurus andalannya yang membuat lawannya bergelinjang seperti kena setrum lalu rebah di atas tanah dalam keadaan mulut berbusa.
Sedangkan ilmu andalannya Bhadra membuat lawannya terbang meliuk-liuk di udara kemudian jatuh cukup keras di atas tanah dalam kondisi kepala retak.
Bora, Aisyah dan pasukannya juga berhasil melumpuhkan semua gerombolan bandit.
Saat Aisyah ingin berlari menemui Agha untuk melepas kegirangan bersama atas kemenangan mereka menumpas habis para bandit, Agha justru melompat naik ke punggung kuda kesayangannya dan langsung menghentak perut Red Hair agar melaju kencang.
Bhadra langsung menyusul Agha dengan teriakan, "Hei! Kenapa kau pergi begitu saja?!"
"Aku merindukan Kiana, Kak!" Teriak Agha sambil menoleh ke belakang.
"Huufttt! Aku juga punya Istri dan bahkan anak, tapi nggak merindu gila kayak bocah tengil itu, tzk!" Gumam Bhadra.
Aisyah menatap kepergian Agha dengan wajah kecewa. Lalu, ia melompat ke atas kudanya dan berteriak ke Bora, "Urus semua di sini dan kamu bisa mengambil semua barang-barang di istanaku tanpa aku"
"Baik, Ratu"
__ADS_1
Penjaga gebang depan langsung berlari ke dalam untuk bergegas melaporkan kedatangan raja Agha dan rombongannya.
Tak begitu lama, penjaga gerbang depan itu terbungkus di depan singgasana dengan wajah penuh keringat dan napas terngah-engah.
"Ada apa? Apa yang terjadi di gerbang depan?" Tanya Kiana dengan wajah kaget dan wanita cantik itu langsung bangkit berdiri saling kagetnya.
Penjaga gerbang depan itu tersenyum lebar dan dengan napas yang masih terengah-engah dia berkata, "Saya membawa kabar gembira, Ratu. Raja dan rombongannya hampir sampai di gerbang depan dan saya lihat, raja pulang dalam keadaan sehat dan senyum cerah.
"Benarkah?!" Kiana membeliak senang.
Lalu, terdengar sangkakala dan teriakan kencang, "Raja dan pasukannya telah sampai dengan selamat!!!!"
Mendengar suaminya sudah sampai di gerbang istana dengan selamat, Kiana bergegas turun dari singgasana lalu berlari kencang menuju ke gerbang istana. Kiana mengabaikan teriakan para dayang, para menteri, pejabat tinggi kerajaan, dan nyonya Janet.
Agha berlari kencang menuju ke kamarnya dengan wajah semringah. Dia sudah tidak sabar ingin memeluk Kiana. Dia merindukan semua yang ada di diri Kiana. Wajahnya, wanginya, senyumannya, tawanya, pokoknya semuanya.
"Yang Mulia Raja, tunggu!" Pekik Aisyah.
Agha mengerem laju larinya lalu memutar badan dengan cepat dan bruk! Aisyah jatuh ke dalam pelukannya.
Kiana menghentikan langkahnya. Nyonya Janet dan semua dayang yang mengikuti laju larinya Kiana spontan menghentikan laju lari mereka.
Nyonya Janet sontak menoleh ke belakang dan menyuruh semua dayang menundukkan kepala mereka dan melarang mereka semua mengikuti ratu mereka.
Nyonya Janet kemudian mengarahkan pandangannya ke depan untuk menunggu raja berjalan ke arahnya.
Agha langsung mendorong kedua bahu Aisyah sambil bertanya, "Kau tidak apa-apa?"
Aisyah berkata dengan menunduk untuk menyembunyikan rona malu di wajahnya, "Saya baik-baik saja, Yang Mulia Raja"
Lalu, Aisyah menjulurkan tangan kanan samb berkata masih dengan menunduk, "Ini buah tangan untuk Ratu Kiana" Saat tidak mendengar sahutan, Aisyah mengangkat wajahnya pelan-pelan dan wanita cantik jelita itu sontak menghela napas panjang karena Agha ternyata sudah menghilang dari hadapannya.
Aisyah kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok pria idamannya, namun dia tidak menemukan sosok pria idamannya. Lalu, Aisyah berbalik badan dan melangkah ke kamarnya dengan lesu dan murung.
Agha langsung mendobrak kamarnya dengan wajah panik setelah ia mengetahui dari Nyonya Janet, Istri kecil cantiknya menangis karena cemburu melihat dirinya memeluk wanita cantik.
Agha menemukan Kiana tengah berdiri di depan jendela sambil bersedekap.
__ADS_1
Agha Langsung memeluk Kiana dari arah belakang lalu berkata, "Sayangku, aku sangat merindukanmu"
Kiana mengurai tangan Agha lalu menepis kasar tangan suaminya sambil lu berkata, "Benarkah?"
Agha kembali memeluk Kiana dari arah belakang dan kembali berkata, "Tentu saja benar. Kau tidak bisa merasakan detak jantungku?"
Kiana kembali mengurai dekapannya Agha dan berkata, "Enak banget, ya, Mas, habis meluk kekasih kamu sekarang memeluk Istri kamu"
Agha sontak berjalan dan berdiri di depan Kiana untuk bertanya, "Kekasih? Kekasih apa? Aku nggak punya kekasih"
Kiana mendengus kesal di depan Agha.
"Oh, tadi, kau lihat yang tadi, kan, kejadian yang sebenarnya adalah, aku balik badan saat Aisyah memanggil namaku lalu dia sepertinya tersandung dan secara tidak sengaja jatuh ke pelukanku. Aku refleks menangkapnya karena rasa kemanusiaan saja. Aku hanya menolongnya agar tidak jatuh. Aku tidak berlama-lama memeluknya. Sumpah!" Agha mengangkat tangannya ke atas.
"Akrab sekali kamu memanggilnya, Mas. Kamu juga selalu memuji-muji dia di dalam surat kamu. Apa kamu berniat menjadikannya selir? Kamu pasti bertambah gagah karena bisa memiliki selir secantik dan sehebat Ratu Aisyah" Kiana menghujamkan tatapan tajam ke Agha.
"Selir? Selir apa? Aisyah, aku memanggilnya begitu karena dia itu sahabatku. Sahabatnya Bora juga. Dan dia ingin kenal sama kamu, makanya dia ikut ke sini. Dia juga ingin berteman dengan kamu karena aku sering bercerita tentang kamu ke dia. Di dalam suratku aku nggak ada niat memuji-muji dia. Kau hanya ingin kamu punya teman baru karena aku lihat Aisyah mirip denganmu karakternya" Ucap Agha dengan senyum penuh cinta.
Kiana melihat kejujuran di mata suaminya, namun kecemburuan yang sangat besar masih menguasainya. Karena kecemburuan itulah Kiana menangis dan berkata, "Maafkan aku, Mas"
"Hei! Sayangku, cantikku, kenapa kamu menangis?" Agha maju dan mengusap air mata di pipi Kiana dengan bibirnya lalu Agha memeluk Kiana sambil bertanya, "Maaf untuk apa, Sayang?" Agha mengusap lembut pipi istri kecilnya.
"Maafkan aku kalau aku nggak mau berkenalan dengan Ratu Aisyah, hiks, hiks, hiks. Aku juga nggak mau berteman dengan ratu Aisyah. Aku juga nggak mau disamakan dengannya, hiks, hiks, hiks. Meskipun dia jauh lebih hebat dan jauh lebih cantik dari aku, aku tetaplah aku jangan disamakan dengan dia, huhuhuhuhu"
Agha mengusap lembut rambut panjang indah dan harumnya Kiana yang sudah sangat ia rindukan sambil berkata, "Iya. Maafkan aku. Aku nggak sengaja menyamakan kamu dengan dirinya. Kalau kamu nggak mau berkenalan dan berteman dengannya tidak apa-apa. Tapi, kasih aku alasannya"
"Karena dia penuh taktik. Dia tadi tidak tersandung, hiks, hiks, hiks. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan kamu, Mas. Mas percaya sama aku, kan?"
Agha menyusupkan wajahnya ke rambut panjang indah dan wanginya Kiana untuk menghirup dalam-dalam keharuman yang selalu bisa menenangkan hati dan jiwanya, lalu pria tampan dan gagah itu berkata, "Tentu saja aku percaya padamu, Sayang. Kalau begitu nggak usah kenalan dan berteman dengan Aisyah nggak papa. Aku akan bilang ke Aisyah kalau ........"
Kiana melepaskan diri dari pelukannya Agha dan menatap Agha dengan wajah cemberut.
Agha menangkup wajah Kiana dan bertanya, "Apa? Kenapa lagi? Maafkan aku kalau aku salah ngomong"
"Jangan menemuinya lagi! Jangan panggil namanya lagi! Jangan....... hmpppttthhh!"
Agha memagut bibir Kiana. Lalu, melepaskannya sebentar untuk tersenyum dan berkata, "Apa kamu cemburu, sayang?" Agha menoel pucuk hidungnya Kiana.
__ADS_1
"Iya! Aku cemburu. Sangat cemburu!" Kiana mengerucutkan bibirnya dan saat Agha ingin memagutnya kembali bibir ranum menggemaskan itu, terdengar ketukan di pintu.