
Adyaksa terkejut bukan main saat ia menemukan Debi yang bertubuh polos berada di dalam pelukannya. Adyaksa sontak bergumam sangat lirih, "Sial! Apa yang sudah terjadi semalam?"
Adyaksa mencoba dengan keras mengingat-ingat kembali kejadian semalam di saat kepalanya masih terasa sangat penting karena pengaruh alkohol.
Adyaksa lalu memijit keningnya dan mengumpat, "Sial! Aku mabuk berat semalam dan Debi memapahku pulang. Tapi kenapa Debi bisa memapahku pulang? Sial! Aku tidak bisa ingat keseluruhan kejadian semalam"
"Eng" Terdengar Debi melenguh dan Adyaksa membeliak kaget saat Debi menatapnya.
Adykasa dengan sigap membungkam mulut Debi dengan telapak tangan kanannya sambil bergumam, "Jangan teriak! Kita bicarakan ini baik-baik"
Debi mengangguk pelan dan Adyaksa langsung menarik telapak tangan kanannya dari mulut Debi.
Adyaksa langsung berkata, "Maafkan aku dan aku akan bertanggung jawab" Saat ia melihat Debi menunduk dan menangis terisak-isak.
Debi hanya bisa terus menangis terisak-isak karena tanpa ia duga ia berakhir di atas ranjang bersama dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai.
"Aku akan bertanggung jawab Debi. Aku akan menikahi kamu secepatnya. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kamu bisa memapahku pulang semalam?"
Dengan masih menunduk dan menangis terisak-isak, Debi menjawab pertanyaannya Adyaksa, "Sa....saya, huhuhuhuhuhu,hiks, hiks, hiks, sa....saya nggak sengaja melihat Anda dan Bayu tergeletak di pinggir jalan pas saya ingin pulang ke kediaman Caraka. Bayu lalu ditolong oleh seorang laki-laki gagah dan kata laki-laki gagah itu dia adalah sahabatnya Bayu, maka saya serahkan Bayu ke dia dan saya menolong Anda. La......lalu, huhuhuhuhu"
Adyaksa langsung memeluk Debi dan berkata sambil mengusap lembut punggung Debi yang masih polos, "Aku ingat kelanjutan cerita kamu. Jangan diteruskan. Maafkan aku! Aku akan bertanggung jawab dan benar-benar menikahi kamu secepatnya"
Tangisannya Debi semakin menjadi-jadi di dalam dekapan hangat pangeran Adyaksa.
Jenderal Arya menghadap ke raja secara sembunyi-sembunyi, namun tetap saja pertemuan rahasianya dengan raja tidak lepas dari tatapan tajam mata-matanya permaisuri yang ditanam oleh permaisuri di mana saja.
Jendral Arya duduk di depan raja dan menyampaikan informasi yang berhasil ia dapatkan setelah ia yakin tidak ada satu orang pun yang mengikutinya, "Saya sudah sangat yakin, Yang Mulia Raja"
Pondok sederhana di tengah hutan Tengkorak menjadi tempat yang dipilih oleh raja untuk menemui Jendral Arya secara sembunyi-sembunyi.
Raja terhenyak kaget dan langsung menyandarkan punggungnya ke bangku kayu lalu berkata, "Apa yang membuat kamu yakin kalau Agha Caraka adalah putraku dengan Jelita?"
__ADS_1
"Salah satu dari anak buah saya bersahabat dekat dengan Bayu. Bayu adalah pengawal pribadinya pangeran Adyaksa. Saat mereka berdua mabuk berat Bayu mengatakan hal yang mengejutkan" Sahut Jendral Arya.
"Apa itu?" Tanya raja.
Pangeran ketujuh Jenderal Agha Caraka memiliki gelang peninggalan ratu Jelita dan Jenderal Agha Caraka memiliki tanda lahir di pantatnya yang mirip dengan burung merpati"
Kedua pelupuk mata raja seketika tergenang air mata. Lalu raja berkata dengan suara bergetar menahan tangis, "Bawa Agha Caraka secepatnya menghadap aku! Aku dengar dia dan istrinya sudah balik dari meditasi mereka"
"Baik Yang Mulia Raja" Sahut Jenderal Arya.
"Apakah Anda sakit permaisuri?" Tanya dayang istana yang selalu berada di samping permaisuri.
Permaisuri yang berbaring di atas ranjang dan berpura-pura sakit langsung menggelengkan kepala.
"Tapi kenapa Anda berbaring seperti ini dan memanggil Nyonya Agha Caraka?"
Permaisuri yang sangat memercayai datangnya langsung menyahut, "Itu karena secara aku mendengar dari salah satu mata-mataku kalau Yang Mulia raja berkata ke Jenderal Arya beliau ingin menemui Agha Caraka secepatnya secara sembunyi-sembunyi"
"Jenderal Arya orang kepercayaannya raja setelah Agha diutus oleh raja secara diam-diam mencari putra dari mendiang ratu Jelita. Jenderal Arya menyampaikan kepada raja kalau Agha Caraka kemungkinan besar adalah putra dari mendiang ratu Jelita" Sahut Permaisuri.
"Lalu?" Dayang istana kepercayaan permaisuri itu masih menatap lekat wajah cantik junjungannya dengan eajah penuh tanda tanya.
"Tentu saja aku akan menjebak Agha dan saat tahu kalau Agha memang benar putra mahkota yang asli, maka aku akan membunuh Agha dan Kiana sekaligus" Sahut Permaisuri.
"Tapi kenapa harus berpura-pura sakit, Permaisuri?"
Permaisuri menghela napas panjang dan menyahut dengan wajah kesal, "Agha sangat mencintai Kiana. Mata-mata yang aku tanam di kediaman Caraka belum menemukan bukti yang bisa menyatakan kalau Agha Caraka adalah putra mendiang ratu tapi mata-mataku menyampaikan ke aku kalau Agha sangat mencintai Kiana. Kalau aku membuat Kiana masuk penjara, maka Agha tidak akan segan melakukan apapun untuk menyelamatkan Kiana"
"Lalu apa rencana Anda dengan berpura-pura sakit seperti ini Permaisuri?"
Permaisuri menyeringai menakutkan lalu berkata, "Kau akan lihat nanti"
__ADS_1
Mata-mata Adyaksa langsung melapor ke Adykasa, "Permaisuri ingin menjebak Jendral Agha dan Istrinya"
"Sial! Nenek sihir itu masih belum bertobat juga ternyata. Oke, aku akan ladeni permainannya" Sahut Adyaksa.
Setelah mata-mata itu pergi meninggalkan kamar pribadinya, Adyaksa langsung melesat ke penjara istana.
Sementara itu Agha Caraka tersentak kaget saat ia menemukan Maharani dan Ibundanya terikat di sebuah tiang kayu yang ada di dalam rumah besar yang sudah tua. Rumah besar itu sepertinya sudah lama tidak dihuni.
Agha melihat Agni dan Bora tengah sibuk meladeni para pria berbaju serba hitam dengan penutup wajah.
Agha ingin segera menolong ibundanya, namun seorang laki-laki berperawakan besar dan cukup tinggi menghadang Agha.
Maharani langsung berteriak, "Kak Agha! Aku yang telah menemukan keberadaannya Tante. Kak Agha harus membebaskan aku dan Tante lalu setelah ini Kak Agha harus menikahiku! Kak Agha harus menikahiku karena aku telah mengorbankan keselamatanku untuk menolong Tante"
Agha mengabaikan teriakannya Maharani karena ia tengah sibuk melawan laki-laki berperawakan besar dan cukup tinggi itu.
Dan Kiana akhirnya melangkahkan kakinya di dalam istana dengan langkah mantap tanpa rasa takut dan kecurigaan sama sekali.
Pangeran Adnan yang melihat Kiana berjalan memasuki istana langsung berlari kencang untuk menyambut Kiana. Pangeran Adnan sangat bahagia akhirnya dia bisa melihat kembali wajah cantik perempuan yang sangat ia cintai.
Kiana menghentikan langkahnya saat pangeran Adnan menghadang jalannya dengan wajah semringah.
Kiana langsung membungkukan badan sambil berkata, "Selamat siang, Putra Mahkota"
Saking bahagianya bisa bertemu lagi dengan Kiana, Adnan nekat menyentuh kedua bahu Kiana sambil berkata, "Jangan sungkan padaku, Kiana. Kita ini teman"
Kiana langsung melangkah mundur dan tangan Adnan seketika lepas dari kedua bahu Kiana.
Adnan langsung bertanya, "Kenapa kau melangkah mundur? Aku hanya memegang kedua bahu kamu. Kita ini teman, kan? Kenapa aku tidak boleh memegang kedua bahu kamu?"
"Karena dari ujung kepala sampai ujung kaki saya adalah milik suami saya dan hanya suami saya yang boleh menyentuh dan memegangnya" Sahut Kiana dengan tegas.
__ADS_1
Adnan langsung meradang penuh kecemburuan dan saat Adnan ingin meraih tangan Kiana, raja hadir di tengah mereka dan langsung berkata, "Untuk apa kamu masuk ke istana Kiana? Kamu datang bersama dengan suami kamu? Di mana Agha Caraka?"