
Tabib Danur melilitkan perban di leher Kiana setelah ia mengoleskan salep. "Jangan terkena air dan jangan buka perbannya selama tiga hari ini!"
"Terima kasih, Ayah" Sahut Kiana.
Bhadra dan Agha kemudian memancing permaisuri menjauhi istana dan peperangan. Karena Agha dan Bhadra tidak ingin permaisuri melesatkan panah emas dengan sembarangan.
Permaisuri mengejar Agha dan Bhadra dengan tetap menunggang kuda.
"Aku yang akan maju dan kamu nonton dulu di sini. Lalu, kau serang dia saat aku sudah berhasil merebut panah emasnya" Ucap Bhadra di tempat persembunyian.
"Untuk apa aku menuruti perintah kamu? Pangkat kita sama. Kita sama-sama Jenderal, cih! Enak aja kau main perintah. Kau dengar baik-baik kalau seorang Agha Caraka itu tidak pernah nonton dan bersembunyi seperti ini cih!" Agha mendengus kesal.
Bhadra sontak mendelik kesal dan menggeram, "Kau mau mati, ya?! Kalau kau tidak menuruti perintahku, maka kau mencari mati. Panah emas itu sangat berbahaya untuk orang seperti kamu. Orang yang punya inti sari dewa"
"Aku tidak akan terkena panah itu. Aku akan tunjukkan padamu kehebatan ilmuku. Aku akan merebut sendiri panah itu lalu melumpuhkan wanita Iblis itu sendirian dan kau yang nonton saja di sini!" Agha kemudian melenggang santai ke depan dan sebelum Agha keluar dari tempat persembunyian, Bhadra langsung menahan lengan Agha sambil berkata, "Kiana tidak suka sama pria yang keras kepala dan ceroboh. Kalau aku ceritakan soal ini ke Kiana, maka.........."
"Sial! Oke, baiklah! Silakan maju sana dan rebut panah emasnya!" Agha merengut dan menyipitkan matanya karena kesal.
Bhadra tersenyum lebar lalu ia melesat terbang keluar dari persembunyiannya.
Bhadra yang memiliki ilmu angin tornado berhasil menghindari serangan anak panah dan terus melesat maju sampai pada akhirnya dia berhasil merebut panah emas dari tangan Permaisuri jahat itu.
__ADS_1
Bhadra melesat mundur dan langsung berteriak, "Agha sekarang giliran kamu!"
Agha langsung melesat keluar dari persembunyian dan langsung mengarahkan tapak tangan petirnya di kening permaisuri sebelum Permaisuri sempat melepaskan jurus.
Performa Agha dan Bhadra yang sangat luar biasa hanya membutuhkan waktu tiga puluh lima menit untuk melumpuhkan Permaisuri jahat yang sudah berkuasa dan bertindak semena-mena selama puluhan tahun.
Dan di istana, Kaisar Abinawa berhasil datang tepat waktu dan langsung menghentikan peperangan dengan berteriak memakai pengeras suara jaman dulu. Raja berdiri dan berteriak di atas balkon depan istana, "Hentikan peperangan! Raja kalian masih hidup! Kenapa kalian saling pernah, hah?! Kalian itu saudara dan satu rumpun! Hentikan peperangan!"
Semua prajurit langsung menghentikan aktivitas mereka dan mereka saling pandang lalu berteriak, "Raja ternyata masih hidup! Hidup raja! Hentikan peperangan!"
Anak buahnya permaisuri langsung melipir pergi untuk menyelamatkan diri mereka sebelum mereka ditangkap dan dihukum mati.
Adyaksa menghela napas panjang dan tersenyum lega melihat pamannya masih hidup. Ia langsung mengambil sebuah alat yang terbuat dari bambu lalu ia melesatkan asap. Asap itu tanda untuk Bayu.
Kiana, Agni, dan Debi langsung berpelukan dengan senyum lega dan tawa penuh syukur. Tabib Danur ikutan tertawa lega dan berkata, "Akhirnya kebaikan bisa mengalahkan kejahatan dan akhirnya kedamaian akan menguasai negeri ini"
Semuanya langsung menoleh ke tabib Danur dan berkata, "Iya, akhirnya kedamaian akan muncul di negeri ini"
Tongkat Emas, Jenggot Api, dan Bayu akhirnya mengawal Kiana, Agni, Debi, dan tabib Danur kembali ke istana.
Agha dan Bhadra lalu saling pandang.
__ADS_1
"Kau yang panggul wanita iblis itu" Sahut Agha dengan sikap acuh tak acuh.
"Enak aja! Kau yang menjatuhkannya dari atas kuda dan melumpuhkannya, maka kau harus bertanggung jawab. Panggul dia!"
"Cih! Ogah banget! Kau saja!" Sahut Agha dengan nada meninggi dan mata melotot kesal.
"Aku tidak ada kaitannya dengan pertempuran negara kalian. Aku dari kerajaan lain. Mana bisa aku bertanggung jawab atas masalah ini. Aku sudah membantu kamu dan itu cukup. Sekarang panggul dia!" Bhadra berucap dengan nada yang tidak kalah tinggi saking kesalnya menghadapi pria keras kepala seperti Agha Caraka.
"Nggak mau! Kalau aku bilang nggak mau, ya, nggak mau!" Agha langsung bersedekap lalu berjalan meninggalkan Bhadra.
Bhadra menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat saking kesalnya. Kemudian Bhadra dengan sangat terpaksa menaikkan tubuh permaisuri di atas punggung kuda lalu ia melompat naik ke punggung kuda dan melajukan kuda itu melintasi Agha begitu saja
Agha tersentak kaget dan sontak berteriak, "Hei! Kenapa kau naik kuda dan kau tinggalkan aku!"
Namun, Bhadra mengabaikan teriakannya Agha dan pria tampan juga gagah itu terus melakukan kuda sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
"Sial! Mau pamer dia, cih! Oke, aku akan terbang dalam wujud naga hitam sekarang juga biar dia melongo, cih! Pamer, kok, di depan Agha Caraka!" Agha kemudian terbang melintasi Bhadra dalam wujud naga hitam dan dia menoleh ke belakang dengan tawa mengejek.
Bhadra hanya bisa terkekeh geli melihat sikap kekanak-kanakannya Agha Caraka itu lalu Bhadra bergumam, "Lihat saja nanti. Aku akan kasih pelajaran atas sikap konyol kamu itu"
Sementara itu, di dalam istana, akhirnya tabib Danur bisa bertemu kembali dengan istri tercintanya. Dengan linangan air mata haru bercampur bahagia tabib Danur berkata, "Syukurlah kamu masih hidup, Istriku"
__ADS_1
Ibundanya Kiana hanya diam membisu dan mematung di depan suami yang sesungguhnya sangat ia rindukan itu. Namu, saat bertemu kembali ia justru tidak tahu bagaimana harus bersikap dan tidak tahu harus berkata apa. Belasan tahun mereka tidak bertemu dan mereka berdua menjadi canggung.