
Di dalam istana, Adyaksa mengumpat kesal, "Sial! Pasukan bayarannya permaisuri hebat juga. Kalau seperti ini terus, aku bisa kalah"
Jenderal Arya yang kembali ke depan gerbang istana untuk menyelamatkan sahabatnya yang terkena panah, mengucapkan kata yang sama dengan Adyaksa, "Sial! Kalau bantuan tidak datang, aku dan semuanya akan mati konyol di sini. Agha cepatlah datang!"
Adyaksa terus mengibaskan pedangnya sambil bergumam, "Cepatlah datang Agha! Aku tidak kuat lagi menahan pasukan sehebat ini"
Agha sontak memadamkan aliran tenaga dalam di kepalan tinjunya dengan pandangan yang masih mengarah tajam ke Adnan.
Sedangkan Adnan penuh semangat menoleh ke asal suara dan menyeringai senang karena ia mengira Kiana mengkhawatirkan dirinya. Adnan kemudian terkekeh senang dan berkata di sisa tenaganya, "Kiana datang untukku"
Agha sontak terbakar cemburu lalu menggeram, "Diam Kau!!!!" Dan mendarat lah bogem mentah tanpa aliran ilmu tenaga dalam ke wajah Adnan.
Adnan tak sadarkan diri tepat di saat Kiana menghentikan laju larinya di samping kanannya Agha.
"Mas, dia?"
Agha menyahut tanpa menoleh ke Kiana, "Dia hanya pingsan. Tidak mati"
"Syukurlah!" Kiana menghela napas lega dan Agha menoleh kaget ke Kiana, "Kenapa kau peduli padanya? Dia sudah melecehkan kamu, kan? Dia pantas mati!"
Kiana mengerjap kaget lalu berkata, "Aku tidak perduli padanya. Aku peduli padamu, Mas. Aku tidak ingin kamu membunuh saudara tiri kamu dalam amarah karena kamu pasti akan menyesalinya nanti"
Agha tertegun mendengar ucapannya Kiana.
Kiana lalu menangkup wajah Agha, "Kamu berhati baik dan lembut. Kamu bukan seorang pembunuh, Mas"
Agha langung mengecup bibir Kiana lalu memeluk Kiana sambil terus berkata, "Syukurlah kau baik-baik saja" Agha mengelus rambut panjang indahnya Kiana. Lalu, Agha melepaskan pelukannya untuk memeriksa leher Kiana. Agha mengusap lembut leher yang dibebat kain robekan roknya Kiana lalu berkata dengan nada sedih, "Leher cantik kamu terluka. Kenapa kau melakukan tindakan yang sangat berbahaya tadi?"
Kiana menarik tangan Agha dari lehernya dengan lembut lalu menggenggam tangan itu dan berkata "Aku baik-baik saja, Mas. Kalau Mas yang oleskan salep lukanya nanti, aku yakin leherku akan pulih seperti sedia kala" Kiana tersenyum penuh cinta dan Agha kembali memeluk Kiana dengan penuh rasa cinta dan rasa syukur.
"Biarkan Kiana ikut kami"
__ADS_1
Agha menoleh ke asal suara lalu berkata dengan wajah penuh tanda tanya,"Paman Jenggot api dan Paman Tongkat Emas?" Agha lalu melepaskan pelukannya.
Kiana langsung memberikan salam ke Jenggot Api dan Tongkat Emas, "Salam, Paman"
Jenggot Api dan Tongkat Emas menganggukkan kepala secara bersamaan ke Kiana.
Agha langsung bertanya dengan panik, "Ayahanda Raja?"
"Ayah kamu, emm, Yang Mulia Kaisar sudah sadar dan masih memulihkan tenaga di ruang tersembunyi bersama Tabib Alzam dan Bunda Kayla" Ucap Tongkat Emas sambil menoleh ke Adnan yang terbujur tak sadarkan diri di atas tanah.
"Syukurlah" Agha dan Kiana langsung saling pandang dan tersenyum penuh syukur.
"Cepatlah pergi ke istana! Pihak kita mulai terdesak" Sahut Jengot Api.
"Aku dan Jenggot Api akan mengurus Kiana dan si brengsek ini" Tongkat Emas menendang kaki Adnan.
"Kiana ingin menemani Mas Agha. Kiana bisa mengobati beberapa pasukan yang terluka di sana" Sahut Kiana
"Keadaan sangat genting dan bahaya. Kalau kau ikut justru membebani Agha. Biarkan Agha bertarung dengan tenang dan menang" Sahut Jenggot Api.
Agha menangkup pipi Kiana dan berkata, "Paman Jenggot Api benar, Sayang. Aku akan segera kembali untuk mengobati leher kamu" Agha mengelus lembut leher Kiana yang dibebat sobekan rok bagian bawahnya Kiana dan setelah itu jenderal tampan dan gagah itu langsung berbalik badan lalu melesat terbang dalam wujud naga hitam.
Kiana menatap ke langit malam lalu berteriak kencang, "Kamu harus kembali dengan utuh, Mas! Jangan sampai terluka!!!!!!"
Jenggot Api lalu memanggil Adnan dan Tongkat Emas mengajak Kiana melangkah ke arah barat menuju ke perkebunannya Adyaksa.
"Ini ke arah perkebunan milik Pangeran Adyaksa" Kiana berkata sembari mengimbangi langkah lebarnya Jenggot Api dan Tongkat Emas.
"Iya, kau benar" Sahut Jenggot Api.
"Bisakah kita terbang saja? Capek jalan kayak begini" Sahut Tongkat Emas dengan wajah jutek.
__ADS_1
"Lalu, Kiana?" Tanya Jengot Api.
"Sial! Kau benar. Aku nggak mungkin menggendongnya atau membopongnya. Agha bisa marah besar" Sahut Tongkat Emas.
Kiana langsung menyahut, "Anda bisa menggenggam tangan saya dan menariknya. Pangeran Adyaksa pernah melakukannya"
Tongkat Emas dan Jenggot Api langsung menghentikan langkah mereka. Kiana ikutan menghentikan langkah kakinya dan menatap dua orang pria gagah di depannya dengan meringis, "Hehehehehe"
"Oke. Aku rasa kalau cuma memegang pergelangan tangan, Agha ridak akan keberatan" Sahut Tongkat Emas.
Kiana langsung mengulurkan tangan kanannya dan Tongkat Emas langsung menggenggam pergelangan tangan Kiana lalu menariknya terbang. Jenggot Api langung menyusul sambil terus membopong Adnan.
Agha dalam wujud naga hitam menoleh dan menganggukkan kepala.
Alvin, pamannya, pasukan naga dari dunia langit berhasil menghadang pasukan naga hitam gadungan sebelum pasukan naga hitam gadungan itu sampai ke gerbang istana. Peperangan besar-besaran antara naga asli dan naga gadungan pun terjadi.
Sementara itu, Agha langsung menukik tajam di depan gerbang istana saat ia melihat Jenderal Arya terjatuh dari atas kuda dan pasukannya Jenderal Arya terdesak.
Agha langsung berubah wujud menjadi manusia kembali dan menolong Jenderal Arya. Lalu, Agha berjalan sambil memapah Jenderal Arya dan menyemburkan api ke prajurit bayarannya permaisuri yang menghadang langkahnya. Setelah Agha berhasil menghapus rata semua pasukan bayarannya permaisuri yang menghadangnya, Agha menghadap ke pasukannya Jenderal Arya dan berteriak untuk membangkitkan kembali semangat pasukannya Jenderal Arya, "Jangan menyerah! Aku akan memimpin kalian maju dan kita pasti menang! Jenderal Arya baik-baik saja! Dia hanya pingsan!"
"Ya, ya, ya!!!!!!" Pasukannya Jenderal Arya berteriak sambil mengacungkan pedang mereka ke atas dengan penuh semangat.
Agha lalu memimpin pasukannya Jenderal Arya maju ke depan dengan gagah berani bertepatan dengan datangnya Bora membawa pasukan yang dihimpun serta dididik sendiri oleh Agha. Agha dan Bora saling melempar senyum. Mereka berdua sama-sama mengucap syukur melihat mereka berdua baik-baik saja dan siap bertempur habis-habisan.
Setelah melakukan pencarian selama dua jam dan belum menemukan keberadaan raja, Permaisuri akhirnya terpaksa kembali ke istana setelah ia mendengar kabar pasukan naga hitamnya dikalahkan telak oleh pasukan naga yang entah datang dari mana.
Permaisuri melecut kudanya sambil menggeram, "Aku tidak boleh kalah! Aku sudah sampai sejauh ini. Aku tidak boleh kalah!"
Di perkebunannya Adyaksa, Agni, Kiana, dan Debi saling berpelukan dengan melompat-lompat riang. Mereka bertiga sangat bersyukur semuanya selamat.
"Kenapa leher kamu, Kiana?"
__ADS_1
Kiana menarik diri dari pelukan Agni dan Debi lalu menoleh ke arah suara, "Ayah! Ayah juga selamat, syukurlah!" Kiana lalu berlari ke ayahnya dan tabib Danur langsung membuka kedua lengannya lebar-lebar untuk memeluk Kiana.
Ayah dan anak itu kemudian berpelukan dengan isak tangis.