
Alaric terus mengulas senyum bahagia bisa makan di piring yang sama dengan Kiana dan wanita pujaan hatinya itu mau menyuapi dirinya.
Saking bahagianya, Alaric terus menatap wajah cantik Kiana dengan terus tersenyum lebar dan tanpa sadar ia menggigit tangan Kiana.
"Aduh!" Kiana mengaduh kaget dan Alaric sontak membeliak kaget dan bertanya, "Ada apa? Kamu kenapa?"
"Yang Mulia! Kenapa Anda menggigit tangan saya?" Kiana merengut sambil meniup jari telunjuknya.
"Masak aku gigit jari kamu? Mana coba lihat" Alaric langsung menarik tangan Kiana lalu ia memasukkan jari telunjuk wanita cantik itu ke dalam mulutnya.
"Yang Mulia! Kenapa sekarang malah Anda masukan jari saya ke mulut Anda?"
Alaric mengeluarkan jari Kiana dari dalam mulutnya, menghempaskan tangan Kiana, dan langsung merengut, "Lalu, mau kamu apa? Kenapa semua yang aku lakukan salah di mata kamu?" Alaric lalu bangkit berdiri, memunggungi Kiana dan bersedekap.
Lho, ngambek, nih, kenapa Mas Agha jadi ngambek gini? Aduh, gimana cara menenangkannya? Aku belum pernah lihat Mas Agha ngambek kayak gini. Batin Kiana.
"Yang Mulia?" Kiana bangkit berdiri. Lalu, wanita cantik itu kembali mengeluarkan suara, "Yang Mulia, marah?"
Seharusnya aku, kan, yang marah karena jariku digigit sama dia. Batin Kiana sambil menghela napas panjang.
Alaric cuma menyahut singkat, "Hmm"
"Maafkan saya, Yang Mulia. Apa yang harus saya lakukan untuk meredakan amarah Anda, Yang Mulia?"
"Entahlah. Pikirkan sendiri!" Sahut Alaric.
"Hah?!"
Alaric berbalik badan dan masih dengan bersedekap ia memandangi wajah Kiana dan kembali berkata, "Iya, pikirkan sendiri!"
"Saya belum pernah melihat Mas Agha suami saya ngambek seperti ini. Mana saya tahu bagaimana caranya menghilangkan ngambeknya Anda. Kasih ide satu aja apa yang bisa meredakan ngambeknya Anda" Kiana menatap Alaric dengan sorot mata penuh rasa bersalah dan wanita cantik itu tanpa sadar memonyongkan bibirnya.
Alaric hampir saja melepas tawanya melihat tingkah Kiana yang menurutnya sangat imut dan lucu itu. Namun, pria tampan dan gagah itu bisa menahan tawanya dengan berdeham. Lalu, Alaric segera berkata, "Aku kasih satu ide"
"Baiklah, katakan Yang Mulia" Sahut Kiana dengan binar mata penuh antusias
"Peluk aku sekarang juga"
"Hah?! Mana boleh begitu, ada beberapa datang di sini" Bisik Kiana.
Alaric mendengus kesal, lalu pria tampan itu langsung berteriak, "Semua dayang keluar! Kecuali Kiana"
__ADS_1
Kiana tesentak kaget dan sontak menoleh ke kelima dayang yang berdiri mengelilingi meja makan dengan sorot mata bersalah karena gara-gara dirinya kelima dayang itu diusir keluar.
Kelima dayang langsung menyahut secara bersamaan, "Baik, Yang Mulia" Mereka semua pun kelua dari dalam kamar pribadinya Alaric secara bersamaan.
Kiana menatap Alaric, "Kenapa Anda mengusir semua dayang?"
"Biar kamu bisa memeluk aku secara leluasa. Ayo! Aku ijinkan kamu memeluk aku sesuka hati kamu" Alaric berucap sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Mana ada seperti itu? Siapa yang mau memeluk dia? Batin Kiana kesal.
"Kiana? Kenapa diam? Kamu mau aku ngambek lebih lama dan kasih hukuman ke kamu?"
Kiana langsung melompat maju dan langsung menggelungkan kedua lengan rankingnya di pinggang kokohnya Alaric.
Pria tampan itu memeluk Kiana, mengusap rambut panjang Kiana yang sangat indah, merebahkan pipinya di pucuk kepalanya Kiana, dan berkata, "Aku sudah nggak ngambek lagi dan aku ingin seperti ini lebih lama lagi"
Kiana hanya bisa menghela napas panjang dan menyahut, "Baik, Yang Mulia"
Sementara itu di dunia manusia, keadaan menjadi semakin kacau. Melihat dan mencium bau kalau Agha Caraka tidak akan kembali dan Jenderal besar itu sebenarnya telah meninggal dunia dan masih disembunyikan oleh pangeran Adyaksa membuat Adnan nekat membuat gebrakan. Dia pergi ke kediaman pangeran Adyaksa dengan membawa prajuritnya.
"Kau katakan kebenarannya atau aku akan menyeret Paman ke pengadilan kerajaan sekarang juga" Teriak Adnan sambil mengarahkan mata pedang ke lehernya Adyaksa.
Adyaksa tersenyum tipis dan berkata, "Aku penggantinya Agha saat ini selama Agha bermeditasi dengan Istrinya. Lalu, Kakakku Abinawa juga sudah memberikan ijin cuti untuk Agha selama dua bulan. Sekarang atas dasar apa kau mendesak aku untuk mengatakan kebenarannya. Kebenaran yang manalagi yang harus aku katakan, Adnan? Satu lagi, kau tidak berhak menyeretku ke pengadilan kerajaan"
Adyaksa membungkuk mengambil pedangnya Andan lalu menyarangkan pedang itu ke sarungnya sambil berkata, "Kenapa kau geram? Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Katakan di mana Jenderal Agha dan Istrinya melakukan meditasi!" Adnan melotot ke Adyaksa.
Adyaksa menepuk pundak Adnan dan tersenyum lalu berkata, "Aku tidak bisa mengatakannya. Karena meditasi harus dilakukan tanpa gangguan. Kalau ada yang tahu keberadaannya Agha dan istrinya, maka meditasi mereka akan terganggu, kan"
Adnan mengepalkan kedua tangannya lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan kediaman Adyaksa dengan wajah kesal dan bergumam di dalam hatinya, sejak kapan ayahanda memberikan surat cuti untuk Agha dan istrinya? Aku harus tanya ke ayahanda soal ini. Kalau memang benar Ayahanda memberikan cuti ke Agha, maka jangan salahkan aku kalau aku akan mulai meracuni Ayahanda secara perlahan karena Ayahanda sudah membuatku sangat kecewa kali ini.
Beberapa jam kemudian Adnan menghadap Kaisar Abinawa untuk bertanya, "Apa benar Ayahanda memberikan cuti untuk Jenderal Agha Caraka?"
"Iya" Sahut Kaisar Abinawa dengan santainya
"Kenapa Ayahanda memberikan cuti cukup lama untuk Jenderal Agha padahal tugas dia sangat banyak dan sangat penting"
"Karena dia sudah berhasil menumpas bajak laut dan dia butuh istirahat. Lagipula Adyaksa mendukung Agha" Sahut Kaisar Abinawa.
"Apa Ayahanda tahu di mana tempat Jenderal Agha dan istrinya melakukan meditasi?"
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak tahu. Itu privasi mereka"
Adnan langsung berbalik badan dengan sangat kesal dan kaisar Abinawa langsung menatap punggung putranya sambil bergumam, "Kenapa dengannya? Kenapa dia sangat peduli di mana tempat Agha dan istrinya melakukan meditasi?"
Adnan lalu masuk ke kamar pribadinya dan mulai melemparkan pedangnya ke lantai sambil berteriak, "Aaaaaaa!!!!! Kenapa semua orang tidak tahu keberadaannya Kiana saat ini dan Adyaksa brengsek yang tahu malah membisu. Padahal aku sangat merindukan Kiana. Aku sangat merindukan Kiana" Adnan lalu duduk selonjor di atas lantai dan terisak kesal.
Malam akhirnya tiba, di dunia manusia mulai kondusif keadaannya karena Adykasa berhasil membujuk kakaknya Sang Kaisar Abinawa untuk mengejutkan surat ijin selama dua bulan ke Agha Caraka dan Kiana. suntik sementara waktu, Adyaksa bisa bernapas lega. Kediaman Caraka pun bernapas lega karena ancaman mulai mereda. Namun, tidak demikian di istana Awan. Mulai ada gejolak tersembunyi di istana Awan. Putri Sofie mulai bergerak karena terbakar kecemburuan lalu Jenderal Luis juga mulai merancang taktik untuk menjatuhkan Sofie.
Alaric mengajak Kiana ke air terjun dan ia berdiri di depan Kiana cukup lama.
Kiana langsung mendelik, "Apa yang Anda tunggu, Yang Mulia? Anda sudah bertelanjang dada kenapa belum masuk ke dalam air?"
"Aku menunggu kamu buka baju. Siapa tahu kamu butuh bantuanku" Ucap Alaric dengan santainya.
"Kyaaaa! Dasar otak mesum!" Kiana berteriak sambil mendorong Alaric agar masuk ke dalam air dan saat Alaric sudah masuk ke dalam air tapi masih menatap Kiana, wanita cantik itu langsung berteriak, "Yang Mulia! Balik badan!"
"Kenapa? Aku, kan, Agha suami kamu"
"Anda saat ini adalah raja Alaric. Tolong balik badan, Yang Mulia!"
Alaric langsung berbalik badan dan melangkah ke bawah air terjun dengan gumaman kesal, "Katanya kau ini suaminya, kok, masih malu sama aku, cih!"
Saat Kiana akhirnya duduk bersila di depannya, Alaric langsung tersenyum lebar.
Dan tanpa meminta ijin dari Kiana, Alaric menarik tengkuk Kiana dan saat bibir pria tampan itu hampir saja memagut bibir Kiana, wanita cantik itu memalingkan wajah dengan pelan.
"Kenapa kau menolak aku saat ini? Bukankah kalau kita berciuman Ganoderma hitamnya tumbuh dengan cepat?" Tanya Alaric dengan wajah sedikit tidak senang.
"Sa.....saya malu, Yang Mulia"
"Kenapa malu? Kamu pernah berciuman dengan Agha, kan?"
"Ciuman pertama saya adalah dengan Mas Agha tentunya. Dia suami saya. Waktu itu saya juga merasa malu dan merasa sangat gugup. Sangat-sangat gugup. Saya banyak melakukan tindakan yang menunjukkan kecemasan saya saat Mas Agha melakukannya. Jantung saya berdetak kencang, telapak tangan saya berkeringat dan perut saya rasanya aneh yang tidak karuan" Ucap Kiana dengan rona malu di kedua pipinya.
"Aku juga seperti itu" Sahut Alaric.
Kiana langsung menepuk dada Alaric sambil berkata, "Mana ada seperti itu? Anda melakukannya dengan profesional"
"Profesional apa? Aku melakukannya pertama kali denganmu. Jantungku berdegup kencang dan perutku rasanya juga nggak karuan" Sahut Alaric dengan wajah serius.
Kiana langsung menunduk malu.
__ADS_1
Alaric mencubit pelan dagu Kiana dan menaikannya lalu dengan tanpa menunggu lama ia memagut bibir wanita cantik yang tengah merona malu itu.