
Di dalam istana tepatnya di dalam paviliunnya Yang Mulia Abinawa, Jenderal Arya menghadap untuk memberikan laporan, "Putri melarikan diri bersama Jenderal Hernowo, Jendral kepercayaannya mantan permaisuri"
"Biarkan saja. Dia sudah memilih jalannya. Lagipula Jendral Hernowo adalah ayah kandungnya"
"Hah?! Ah, maafkan saya, Yang Mulia. Saya kaget mendengarnya"
"Tidak apa-apa. Rahasiakan hal ini dari siapapun. Tapi Agha harus mengetahuinya dan aku yang akan menceritakan hal ini ke Agha"
"Baik, Yang Mulia. Saya pamit" Sahut Jendral Arya.
Kembali ke danau yang sudah dihias cantik.
Agha menancapkan pandangannya ke wajah Kiana yang bermandikan cahaya bulan dan semburat cahaya lilin.
Degup jantung mereka beradu dengan bunyi gemericik air dan berpadu apik di tingkah kicau burung malam.
Kiana mengusap pipinya sambil bertanya, "Kenapa, Mas, menatapku terus?" Lalu, wanita cantik itu memalingkan wajah menatap danau sambil memainkan tangannya di air danau yang tidak begitu dingin di malam itu.
"Aku tidak ijinkan kamu memalingkan wajah kamu, Sayang" Ucap Agha dengan suara lembut.
Kiana menoleh ke Agha, namun ia masih memainkan jari jemarinya di air danau.
Agha tersenyum saat ia bisa kembali menikmati indahnya wajah wanita di depannya. Agha kemudian berkata dengan sorot mata sendu, "Karena ingin cepat-cepat menautkan jariku ke jari kamu tadi, aku lupa bilang kalau kamu cantik banget hari ini"
Kiana menunduk untuk melihat bajunya lalu mendongak dan berkata, "Aku suka bajunya. Terima kasih, Mas. Mas yang membelikannya, kan? Bajunya yang cantik, Mas"
"Kamu ternyata cocok sekali memakai warna merah jambu. Selama ini kamu selalu memakai baju warna hijau. Saat aku melihat baju itu, aku langsung yakin kalau kamu pasti cantik sekali dibalut warna merah jambu. Baju itu sangat cocok untuk kamu. Kamu tampak cantik karena pancaran kecantikan kamu, Sayang. Kamu sempurna walaupun sebenarnya aku lebih suka melihatmu tidak memakai apapun"
Kiana langsung mencipratkan air danau ke wajah Agha dan Agha sontak mengerjap dengan tawa terbahak-bahak lalu pria tampan itu berkata, "Wah, kamu jahil juga, ya, Sayangku"
Kiana terkekeh geli lalu berkata, "Mas, yang jahil"
"Hahahahahaha!" Agha kembali terbahak-bahak.
Perahu akhirnya sampai di seberang dan setelah menambatkan perahu, Agha membantu Kiana turun dari perahu dan terus menggandeng tangan Kiana menuju ke sebuah pondok yang juga dihias sangat cantik.
Di dalam pondok terdapat meja panjang yang dipenuhi aneka macam makanan kesukaannya Kiana.
Kiana menoleh ke Agha dengan wajah semringah dan mata berkaca-kaca saking bahagianya.
__ADS_1
Agha memeluk Kiana, mencium kening Kiana, lalu berkata, "Soal makanan ini, kamu harus berterima kasih sama Agni dan Debi. Mereka yang menyiapkan semuanya. Dari Agni dan Debi aku jadi tahu semua makanan kesukaan kamu, Sayang"
"Wah, Agni dan Debi baik banget Aku jadi kangen sama mereka, Mas"
"Wah, nyesel aku ngomong soal makanan ini" Agha langsung mengerucutkan bibir.
"Kenapa?" Kiana mendongakkan wajahnya dan langsung tersenyum geli saat ia menemukan kerucut di bibir suami tampannya.
"Karena kamu merindukan Agni dan Debi. Kamu nggak merindukan aku" Agha semakin melancipkan bibirnya.
Lho, kamu,kan, di sini, Mas. Kenapa aku merindukan kamu?" Kiana terkekeh geli.
"Pokoknya kamu harus selalu merindukan aku" Agha menyipitkan matanya dan masih mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya, aku akan selalu merindukan kamu, Mas" Kiana mengelus lembut dada bidang suaminya dengan mengulum bibir menahan senyum.
"Mencintai aku juga. Harus selalu mencintai aku" Tegas Agha.
"Iya, iya, aku juga akan selalu mencintai kamu, Mas" Kiana lalu berjinjit dan mencium bibir Agha sebelum sebelum suaminya bertingkah lebih manja lagi.
Agha membeliak senang mendapatkan ciuman dari Kiana dan tentu saja pria tampan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia membalas ciumannya Kiana dengan penuh kelembutan. Lalu, dengan sangat terpaksa Agha melepaskan ciumannya untuk berkata, "Kamu belum makan dengan benar tadi. Sekarang kami duduk dan aku akan menyuapi kamu"
"Iya, baiklah. Aku menuruti kata Istriku saja" Agha kemudian duduk dengan wajah semringah dan bertingkah seperti anak kecil yang sedang menunggu mamanya menyuapi dirinya.
Kiana duduk di depan Agha dengan mengulum bibir menahan senyum dan saat ia menyuapi Agha, Kiana berkata, "Kenapa aku baru sadar, ya?"
"Sadar apa?" Tanya Agha sambil mengunyah makanan.
"Sadar kalau ternyata Suamiku ini sangat manis, imut, dan menggemaskan"
Agha langsung tertunduk dengan rona merah di wajahnya dan Kiana langsung mengulum bibir menahan senyum.
Kiana kemudian berkata, "Sepertinya malam ini aku akan memberikan banyak bonus untuk Suamiku yang imut, manis, dan menggemaskan ini"
Agha sontak mengangkat wajahnya dan bertanya, "Apa bonusnya?"
"Rahasia" Kiana kembali mengulum bibir menahan senyum.
Acara kencan pertama mereka yang sangat indah dan memberikan kesan cinta yang semakin dalam di hati dan benak keduanya, ditutup dengan peraduan manis gairah mereka di atas ranjang. Setelah makan malam di pondok pinggir danau selesai, Agha langsung membawa Kiana terbang kembali ke istana dan langsung melesat masuk ke kamar mereka. Agha sudah tidak tahan lagi untuk tidak memakan Kiana.
__ADS_1
Kiana benar-benar memberikan bonus ke Agha dan wajah Agha terus semringah. Agha menyatukan raganya dengan posisi Kiana di bawah dan seperti biasanya Agha bertanya, "Kamu sudah sampai puncak, Sayang?"
Kiana mengangguk dan langsung membalikkan keadaan. Agha berada di bawah kungkungannya dan Kiana langsung bergerak tanpa jeda di atas Agha sambil terus menahan dada Agha dengan kedua telapak tangannya.
Agha membeliak kaget dan langsung bertanya dengan wajah panik karena ia hampir mencapai puncak, "Kiana! Hentikan! Apa yang kau lakukan?! Hentikan! Kiana........ Arrrghhhh!!!!!" Akhirnya Agha mengerang puas dengan masih menyatu di raga Kiana.
Kiana kemudian merosot turun dari atas suaminya, meraih lalu memakai baju tidurnya dan duduk bersila di atas kasur dengan bersedekap.
Agha bangun dengan perlahan dan bertanya dengan wajah ketakutan, "Kenapa? Kamu marah? Kenapa kamu lakukan hal yang tadi?"
"Karena tadi siang Ibunda menemuiku dan aku manfaatkan pertemuan itu untuk bertanya ke Ibunda, bagaimana caranya agar aku bisa segera memiliki anak. Caranya adalah jangan biarkan suami kamu mengeluarkan pekik kepuasannya di luar, itu jawab Ibunda"
Agha mulai panik dan meraup wajah tampannya dengan kasar. Dia masih belum siap mengatakan ke Kiana kalau dia tidak menginginkan anak.
Kiana kembali berkata, "Selama ini, Mas, mengeluarkan pekik kepuasan di luar. Apakah, Mas, tidak ingin punya anak?"
Agha akhirnya menghela napas panjang, lalu menunduk dan menjawab lirih, "Iya. Aku tidak menginginkan anak"
Kiana menghapus tetes airmata di pipinya sambil bertanya, "Kenapa, Mas?"
Agha mengangkat wajahnya dan tersentak kaget saat ia menemukan Kiana menangis. Agha berkata, "Sayang, jangan menangis!" Dan di saat Agha ingin mengusap wajah Kiana, Kiana menepis tangan Agha sambil bertanya, "Jawab pertanyaanku, Mas!"
Agha meraup wajah tampannya dan langsung melompat dari atas tempat tidur untuk memakai baju tidurnya. Kemudian Agha menatap Kiana dalam-dalam dan berkata dengan suara berat, "Pertama, aku takut kalau anakku akan mengalami nasib seperti aku. Kedua, aku takut anakku tidak mendapatkan kasih sayang penuh dariku karena aku ini super sibuk. Aku adalah raja sekaligus seorang jenderal. Ketiga, aku tidak ingin melihatmu menderita saat kamu hamil dan melahirkan nanti. Kata Kak Bhadra, Istrinya menderita saat ia hamil dan mengalami kesakitan yang sangat luar biasa saat ia melahirkan. Lalu.........."
"Tapi, itu hanya bayangan kamu, Mas. Ada aku, Mas. Aku tidak akan membiarkan anak kita berada di dalam bahaya. Aku tidak akan biarkan anak kita kekurangan kasih sayang ayah dan ibunya. Dan Aku ingin merasakan hamil dan merasakan sakitnya waktu melahirkan. Aku ingin semuanya itu, Mas!" Kiana melompat dari atas tempat tidur dengan wajah penuh airmata.
Agha melangkah maju dan ingin mengusap pipi Kiana, namun Kiana menepis tangan Agha dan melangkah mundur sambil bertanya, "Kalau aku menginginkan itu semua apakah, Mas, akan mengabulkannya?"
Agha diam membisu dan mematung.
"Mas, katanya Mas mencintaiku!" Kiana memekik kesal dan derai airmatanya semakin menderas.
"Justru karena aku sangat mencintai kamu, aku tidak menginginkan anak. Justru karena aku sangat menjaga anak kita, biarkan anak kita tetap berada di Surga dan tidak masuk ke rahim kamu lalu terlahir di dunia yang kejam ini" Agha berkata sambil melangkah pelan mendekati Kiana, namun Kiana langsung berbalik badan, lalu berlari keluar dari dalam kamar dengan menangis tersedu-sedu.
Alih-alih mengejar Kiana, Agha justru mematung. Dia masih memegang teguh keputusannya. Itulah kenapa dia tidak mengejar Kiana.
Kiana masuk ke kamar tamu dan tidur di sana sendirian malam itu. Dia ketiduran karena lelah menangis.
Sementara Agha sama sekali tidak bisa memejamkan mata malam itu. Akhir dari bulan madu dan kencan manisnya kenapa bisa berakhir seburuk ini? Batin Agha sambil terus menatap baju pengantinnya dan Kiana yang masih terlipat manis di atas meja rias.
__ADS_1