Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 100 So Please, Enough


__ADS_3

Rasa panas di dasar tenggorokan Harumi menandakan dia harus keluar dari sini.


Ini....ini sudah terlalu jauh.


Kembali ke Apartemen Cathy tidaklah aman, dan dia bukan Wanita bodoh mengingat apa yang menimpanya. Baiklah, jelas dia bukanlah orang paling cerdas sebab bisa terseret ke dalam situasi ini.


Sebenarnya hati Harumi terasa berat saat dia harus mengucapkan perpisahan pada Liam, terasa bagaikan tusukan jarum di kulitnya, tetapi dia harus pergi.


Harumi menyadari hubungan ini sudah lebih dari sebuah pelarian dan bersenang-senang. Hubungan mereka telah berubah menjadi gairah panas yang menggumpal di dalam dadanya.


Dia jatuh cinta.


Harumi jatuh cinta setelah bersumpah pada dirinya bahwa dia tidak akan pernah melibatkan hubungan ini lebih dalam apalagi menyangkut Hati dan Perasaan.


"Hubungan ini tidak akan pernah berakhir" tatapan Liam mengeras mengunci ekspresi Harumi


Wanita itu merasa sangat rapuh, yang tampaknya agak tidak berarti pada saat ini, lalu dia melipat tangannya menutupi dada.


"Liam...mengertilah" dengan tatapan memohon


Liam menggeleng "Enough !"


Pria itu menatap Harumi sangat lama, Liam melangkah. Tangannya mendarat di pinggul Harumi dan saat dia berbicara, suaranya berbisik di telinga Harumi "Aku tahu kau juga merasakan yang sama"


Tubuh Harumi gemetar "Liam, Kumohon...jangan"


Liam menggelengkan kepalanya "Aku tidak dengar"


Dada Harumi menegang "Tidak ?"


Pria itu mengeluarkan senyuman nakal yang sangat di kenal Harumi, dalam pikiran Harumi Dia tidak boleh lemah, Wanita itu tidak ingin hanyut dalam pusaran ini lagi.


Harumi harus melawan godaan ini, Dia tahu bahwa terus-menerus melewati batas bersama Liam bukanlah tindakan yang cerdas. Tubuh dan hati Harumi berperang dengan akal sehatnya.


Seharusnya dia menyuruh Liam keluar, mengemas barang-barangnya, lalu pergi dari sini, tetapi....


Tetapi apalah artinya satu kali lagi ? Satu malam lagi ? Itu tidak akan mengubah hasil akhirnya, menetap tidak akan mengubah semua yang sudah terjadi. Hanya saja, itu bukan tindakan yang cerdas. Namun bagaimanapun, Harumi sudah tidak bersikap cerdas sehubungan dengan ini semua dan lihatlah di mana dia berada sekarang ? sudah ada rasa sakit yang mendalam di lubuk hatinya.

__ADS_1


"Harumi..."


Panggilan namanya di bibir Liam memberikan keputusan. Suara itu benar-benar menggoda.


Liam tidak melepaskan tatapannya pada Wanita itu, semakin menusuk sekaligus penuh pengharapan, lalu Harumi menarik napas pendek "Yah"


Tentu saja Liam bukan Pria yang penyabar, Dia tidak ingin menunggu.


Pria itu langsung mendaratkan ciuman di bibir Wanitanya, lahar panas pun mengisi perut Harumi. Wanita itu tidak menolak justru dia mendekatkan dirinya lebih merasuk dalam pelukan Liam.


Liam menyapukan bibirnya ke bibir Harumi, Harumi membuka bibirnya, mengundang pria itu masuk sementara dia melingkarkan tangannya di tengkuk Liam. Indranya meledak saat lidah Liam menyapu lidahnya.


"Kau milikku" Liam berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari Harumi.


Pipi Harumi membara, tetapi begitu juga dengan darah dalam nadinya. Semakin lama Liam menatapnya, semakin dia mengetahui betapa Pria itu menginginkannya.


"Kau tidak berencana mengenakan setelan ini terus, kan ?" Liam bertanya dengan suara parau


Perut Harumi bergejolak "Maksudmu ?"


Pria itu menyunggingkan satu sudut bibirnya, menatap tiap lekukan tubuh Harumi yang samar-samar "Karena baju ini tidak akan utuh dalam beberapa detik"


Kemudian, Liam mencengkeramkan bagian depan dress Harumi dan menyentakkannya. Mendengar suara kain yang robek, tubuhnya terasa panas. Dan dalam beberapa detik Wanita itu sudah berdiri di hadapan Liam, hanya mengenakan Br* dan celana dal**.


Liam melangkah mundur, tatapannya melahap Harumi, kemudian Dia menarik tangan Wanita itu dengan penuh ketergesaan.


"Kemana ?" Harumi tampak bingung


Liam tidak akan hanya berdiri diam, dibalik senyuman nya ada sebuah permainan yang direncanakannya "Kau akan menikmatinya"


Pria itu membawa Harumi ke kamar mandi, dan kini mereka berada tepat dibawah pancuran. Liam membuka keran, aliran yang mantap menghujaninya.


Dengan wajah yang sempat terkejut Harumi membiarkan semburan air menghantam wajah cantiknya, sambil ia mengusapnya perlahan dengan kedua tangannya.


Pintu kaca pancuran mulai beruap, menandakan keadaan semakin panas, Bukan dari air yang mengalir di tubuh mereka, tapi gejolak kobaran panas yang merasuk di dalam tubuh keduanya.


Liam berdiri di sana, melepas kemejanya, bertelanjang dada, dan celananya menggantung sangat rendah dan tidak pantas di pinggul Pria itu.

__ADS_1


Kemudian Pria itu mengaitkan jemarinya ke celana dal** Harumi, menariknya turun. Br* Wanita itu menyusul. Dalam ketergesaannya, Liam mematahkan kaitnya yang rapuh. Harumi tidak peduli karena ia sudah hancur, hidupnya berantakan oleh semua yang terjadi, bahaya yang mengancam, pandangan buruk kepadanya dan semua hal mengerikan siap menerjangnya.


Dia menginginkan Liam, hanya Liam.


Harumi mengulurkan tangan ke bawah ke kancing celana jins Pria itu. Dengan bantuan Liam, dia melepaskan jins itu dan semua yang dikenakan Liam. Bukti gairah Liam menekan perutnya saat Pria itu mendesak tubuh mungil Harumi menempel ke dinding keramik dingin merambat ke tubuhnya dengan cepat menyesuaikan tubuh mereka.


Tubuh Harumi menjadi kaku, tangannya mencengkeram dada.


"Aku suka saat kau memanggil namaku" Liam menekan tubuh Harumi lalu mengulurkan tangan ke antara tubuh mereka, melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Harumi "Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku"


Liam memindahkan pergelangan tangan Harumi ke satu tangan lalu meletakkan tangannya yang bebas ke pinggul Wanita itu.


Sambil menekankan kening ke kening Harumi, dia bernapas dalam-dalam "Larilah jika itu membuatmu merasa lebih baik dan membantumu tidur pulas pada malam hari."


Harumi ingin menyangkal sebab tuduhan tersebut, ia ingin memberontak. Tapi apapun itu, membuatnya terasa lemah.


"Jadi. Larilah. Aku tidak keberatan" Bibir Liam menciumi sepanjang pipi Harumi lalu giginya menangkap daun telinga Harumi, membuat Wanita itu mengera** "Aku akan mengejarmu, sayang"


Gairah panas menghantam Harumi dimulai dari nadi sampai ke perutnya "Hentikan...."


"Kau ingin aku berhenti ?" Liam mendesak ke depan, bukti gairahnya menekan perut Harumi dengan kuat "Aku akan mengejarmu, Dan Menangkapmu"


"Kumohon...Liam"


Harumi tidak akan pernah melihat kamar mandi dengan cara yang sama lagi. Tidak mungkin.


"Katakan lagi padaku," Liam bergumam di pipi Harumi, sambil menyelipkan tangannya antara pah* Wanita itu, menangkup diri Harumi dengan intim "Katakan lagi dua kata itu padaku"


"Kata apa?" pinggul Harumi mendesak ke depan, menekan pah* dan tangan Liam. Kenikmatan menajam, membuat Harumi pening dan kehabisan napas.


Liam menggeram rendah, tangannya mencengkeram untuk menghentikan gerakan pinggul Harumi "Aku senang melihatmu memohon"


Rasanya seakan-akan Pria itu sedang meremukkan Harumi, atau setidaknya itulah yang terasa untuk sedetik yang membuatnya panik.


Emosi yang kuat meledak di dalam dada. Seharusnya dia mendorong Liam menjauh, menghentikan ini, tetapi dia mendongakkan kepalanya menekan dinding dan pinggulnya bergerak dalam putaran-putaran kecil.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thankb yOu


__ADS_2