Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 21 Cemburu dan Amarah


__ADS_3

Dengan percaya dirinya aku berjalan kembali ke arah yang tadi kulewati dengan pelayan itu.


Sambil memperhatikan di sekelilingku, aku mencoba mengingatnya. Mata ku tiba-tiba tertuju pada tangga rumah menuju ke Lantai dua.


Aku memberanikan diri mengelilingi rumah tersebut, setidaknya aku tidak bosan. Daripada aku kembali ke ruangan mereka dan menunggu Anton dan Liam yang sedang asik membicarakan pekerjaan, bahkan aku sendiri sama sekali tidak mengerti.


Kutemukan sebuah Ruangan, sepertinya itu adalah Kamar tidur utama. Pintunya bercorak keemasan bergaya klasik kerajaan Inggris.


"waaaaah, pintunya saja sudah semewah itu bagaimana di dalamnya. Mansion semegah ini, kenapa Liam masih tetap memilih tidur di Hotel ?" batinku


Aku menggenggam gagang pintu tersebut, mendorong nya. Diam-diam aku memasuki kamar itu, benar sekali sesuai dengan ekspektasiku, ini adalah Kamar Tidur Utama. Luasnya saja sudah seperti lima kali kamarku.


Kamar bercorak grey muda, hampir semua perabotannya dari silver. Minimalis tapi sangat elegan, sepertinya ini kamar tidur milik Liam. Aku juga melihat jam tangan mahal Pria tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Saat aku ingin keluar kamar tersebut, aku di kagetkan dengan seseorang yang tengah berdiri di belakangku.


Hari ini kedua kalinya jantungku hampir lepas pertama gara-gara tingkah pelayan tadi dan sekarang terjadi lagi.


"sedang apa di sini, Gadis Bunga ?" tegur Liam yang berdiri dibelakangku, entah sejak kapan ia berada di kamar ini. Senyuman iblisnya mulai keluar memandangiku yang ketahuan memasuki kamarnya.


Aku berbalik dengan wajah terkejut, aku berjalan melewatinya untuk segera keluar dari kamar itu.. Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya, Aku terlanjur malu karena sudah sangat tidak sopan memasuki area pribadinya.


Liam langsung menangkap lengan ku, aku bisa merasakan genggaman kuat tangannya menarikku.


"Kenapa buru-buru!"


"Lepaskan aku, maaf aku masuk tanpa izin ke kamar mu" jawabku dengan hati yang tidak nyaman dengan situasi saat itu.


Aku berusaha menarik tanganku, tapi genggaman Liam terlalu kuat.


Lalu ia menarikku, dan langsung melemparku ke tempat tidurnya. Tak kuasa melawannya, tubuhku langsung terhempas dengan posisi telentang di atas kasur.


Liam memdekatiku mengunci kedua tanganku ke atas, posisinya sekarang berada di atasku. Ia menatapku dengan tatapan seolah ingin melahapku hidup-hidup.

__ADS_1


"Liam, lepaskan aku !!! Apa kau gila, ada suamiku disini. Hentikaaaann!!" Teriakku berusaha memberontak dan melawannya sekuat tenaga.


Aku tak berhenti mengumpat kepadanya, perlakuannya sudah kelewat batas. Tapi Kekuatanku sia-sia tidak akan menyaingi Liam.


"Aku tidak tahan melihatmu datang dengannya, dari tadi aku berusaha menahan emosiku melihatmu di sampingnya. "


"Anton suamiku, dia berhak atas diriku. Lepaskaaaan aku !"


Kata-kataku membuat Liam semakin emosi, matanya penuh amarah. Rasa Cemburunya semakin berapi-api, aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya, aku berusaha terus melawannya.


"Akan kusingkirkan Anton dengan mudah, jika kau tidak menurutiku !!!"


"aku tidak takut !!! Aku akan melawanmu, takkan kubiarkan kau mengatur hidupku. Tidak Akaaaaaan!!!" teriakku lagi dan kali ini lebih keras agar Liam tidak akan pernah memandang rendah padaku lagi.


Sorot Matanya semakin tajam, bagai sebilah pisau yang siap menusuk dan membunuhku.


Ia diam sebentar, nafasnya semakin cepat. Detak jantungnya tidak beraturan, Liam sudah di selimuti kemarahan dan rasa cemburu, ia bahkan tidak peduli dengan perkataan yang keluar dari mulutku.


Rasa cemburu yang besar sampai membuatnya Buta.


Aku yang berusaha mendorong tubuh Liam, takkan pernah mampu menandingi kekuatan Pria itu. Pria yang sudah terbakar cemburu jauh lebih mengerikan, ia seakan tak perduli segala risiko dihadapannya.


Akhirnya aku terdiam membeku, Kejadian itu seolah menghentikan detak jantungku, pikiranku langsung kosong. Kekuatan yang kumiliki tiba-tiba dalam level yang sangat lemah, Mataku terbuka lebar.


Bibirku kelu tak merasakan apapun. Dunia seakan runtuh di hadapanku, Liam menciumku, melumatkan seluruhnya.


Ciumannya bahkan sudah mulai merambat ke leherku, tak segan ia mengukir banyak tanda-tanda cinta yang berbekas di leherku seolah ia menandakan bahwa aku kini sudah dalam genggamannya.


Liam seperti manusia yang kelaparan, melahap mengobrak abrik dengan bibirnya. Bibir kami saling bertemu untuk pertama kalinya dengan situasi yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.


Ia berani menciumku saat Anton berada satu tempat dengannya. Aku sudah seperti wanita murahan, Kami berciuman di kamar Liam Lantai dua, sedangkan suamiku berada di Lantai bawah.


Pelacur sekalipun lebih baik dibandingkan aku yang sekarang, aku perempuan bersuami mudahnya berselingkuh dengan pria lain.

__ADS_1


Seketika aku meneteskan air mata membayangkan rasa bersalahku yang besar kepada Anton.


Air mataku tak hentinya mengalir keluar dan penglihatanku mulai kabur.


Tiba-tiba Liam menghentikan ciuman itu, ia kembali menatapku yang terdiam dan tatapan kosong dengan air mata. Airmata yang terus mengalir sampai membasahi daun telingaku.


"Harumi ?" Liam terkejut melihat ekspresi wajahku yang diam tanpa ekspresi. Mataku hanya fokus lurus melihat ke arah lain. Jika di gambarkan aku mungkin lebih mirip seperti Mayat.


Liam mulai tersadar dari tindakan gilanya kepada Harumi. Wanita yang seharusnya ia lindungi harga dirinya, kini tergores perih di hati Harumi. Kejadian itu akan terus membekas dalam hidupnya.


"Harumi.... maafkan aku." Liam memohon, mengusap kepala ku dengan lembut. Ia mulai menampakkan wajah bersalahnya.


Aku bahkan yang terbaring, hanya samar-samar mendengar suara Liam. Pikiranku seperti melayang, tubuhku terasa lemas.


Liam bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya, ia menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya sebagai penyangga.


Liam sudah melakukan kesalahan diluar kendalinya. Ia tau Harumi akan sangat membencinya. Lebih parahnya, Harumi tidak akan pernah mau menemuinya lagi.


"Harumi, maaf....." ucap lirih Liam


Aku yang masih terbaring mulai perlahan bangkit, aku tidak menatap Liam sama sekali. Hanya diam seribu bahasa, berjalan perlahan menjauh dari tempat tidur itu, menjauh dari sosok pria tersebut. Tatapanku masih kosong, aku menuju sebuah cermin besar dengan ukiran klasik berwarna silver di pinggirannya.


Berdiri menatap diriku dihadapan cermin itu, aku melihat diriku yang berantakan. Pakaianku yang awalnya rapi kini tak terlihat baik sama sekali, rambutku berhamburan, lipstikku sudah tak berbentuk lagi.


Mataku sudah sangat sembab, aku tidak sanggup menemui Anton dengan kondisi seperti ini.


Kini mataku tertuju pada bagian leherku yang banyak terdapat pola merah hasil perbuatan Liam tadi.


Pelan-pelan aku merapikan pakaianku, mengatur kembali rambutku. Dengan hati yang sedih, rasa bersalah dan gelisah aku berusaha mengembalikannya seperti awal kembali tapi takkan pernah bisa.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you ❤


__ADS_2