
The Penthouse, Manhattan
8.16 pm
Semenjak mereka memutuskan untuk kembali ke Penthouse Liam. Sejak tiba, Harumi memilih melanjutkan sikap dinginnya dan hanya diam dalam keheningan.
Harumi tak ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya sedikit pun kepada Liam, yang dibutuhkan Harumi saat ini hanya Waktu, Yah tentu saja Waktu untuknya menyendiri.
Wanita itu menyadari kondisinya tidak memungkinkan untuk bisa bersikap tenang dan tidak akan melihat Liam dengan pandangan yang sama seperti dulu, karena apa yang sudah terjadi padanya dan Liam Hari ini. Dan membuat Harumi lebih takut bukan kepada Para Pria Misterius tersebut, melainkan... Liam. Pria yang sedang bersamanya saat ini.
Liam menghabisi nyawa seseorang tanpa berdosa sedikit pun. Dan masih bisa bersikap tenang dan santai seolah itu sudah menjadi hal yang biasa dalam hidupnya. Dan itu membuat Harumi lebih takut.
Harumi merebahkan dirinya di atas tempat tidur, bahkan ia belum mengganti pakaian yang dikenakannya tadi. Tatapannya menuju pada jendela kaca yang menembus pemandangan langit yang berbintang indah malam itu. Tapi, itu tidak berhasil membuatnnya menghilangkan kecemasannya.
Tatapannya yang kosong, menerawang, merangkum kejadian-kejadian yang sudah dilaluinya selama beberapa hari ketika ia mulai tiba di New York hingga kejadian serangan mengerikan itu.
Harumi bergeser menggulingkan tubuhnya hingga telentang, kali ini tatapannya terpaku pada langit-langit putih di kamar tersebut. Wanita itu tidak menyadari kegelisahan yang terus memuncak merambat di tiap-tiap bagian tubuhnya.
Liam berdehem "Rumi ?"
Harumi tidak menyadari kehadiran Pria itu yang berdiri semenit lalu di ambang pintu, menatapnya dengan sangat cemas.
Melihat kondisi Wanitanya yang masih seperti ini tidak ada perubahan, membuat jantung Liam terasa terkoyak dan perih. Liam tidak pernah menginginkan akan menghadapi kejadian ini dengan Harumi.
"Sayang...Please say something" Liam menelan gumpalan aneh di tenggorokannya "Sejak kita tiba, kau hanya di kamar, bahkan tidak menyentuh makanan itu" mata Pria itu tertuju pada sebuah nampan yang diatasnya sudah ada bubur dan segelas susu yang sedikit pun posisinya tidak berubah di atas nakas, karena Harumi sama sekali belum menyentuhnya.
Liam berjalan perlahan mendekati ranjang, lalu menatap Harumi dari dekat. Tapi, sikap Wanita itu mengejutkannya karena dia terbangun lalu mengangkat tubuhnya dari tempat tidur tersebut berdiri menjauh.
"Kumohon Rumi, jangan bersikap seperti ini" ketegangan muncul di punggung bidangnya
Harumi berbalik, Bulumata Wanita itu terbuka lebar, dan mengerjap sampai matanya terfokus pada Liam.
"Harumi ?" panggilnya lagi
Harumi terdiam lalu menjilat bibirnya.
Pandangan Wanita itu terhadap Liam sangat berubah hanya dalam satu hari. Harumi tidak mampu memandang Pria itu dengan pandangan yang sama seperti kemarin.
__ADS_1
Liam melangkah perlahan untuk mendekat, tapi Harumi bergerak mundur menjauh.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Liam, dia benar-benar ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh seorang wanita "Please, Harumi katakan sesuatu. Kumohon jangan menyiksaku seperti ini"
Harumi hanya menatapnya, tak kuasa menyembunyikan kekecewaan dari matanya yang berkabut.
Liam memahami itu, bukannya Liam menginginkan sesuatu yang mengerikan itu akan menimpa Harumi. Tetapi, Pria itu tahu ini adalah tindakan yang paling benar yang harus dilakukannya. Pria Misterius itu sudah sepantasnya Mati ditangan Liam.
"Aku akan kembali ke Apartemen Cathy malam ini" dengan terbata-bata Harumi membuka bibirnya sambil menahan tekanan kuat dalam dirinya.
Untuk sekarang, Harumi tidak mampu membedakan antara kenyataan dan Mimpi Buruk, Tindakan buruk dan Benar. Pikirannya benar-benar terusik dengan semua dugaan buruk dan pandangannya terhadap Liam.
Perasaan kaget merambat dalam diri Liam dan tatapan Pria itu mengeras "Kembali ke Apartement Cathy ?"
Diamatinya bulumata Harumi yang menutup menyapu pipinya "Di sana tidak Aman, aku tidak akan membiarkanmu kembali ke sana"
Seringai masam mewarnai bibir Harumi "Iam Not safe with YOU !"
Liam membalas tatapan Harumi dan seakan itu Tamparan keras melayang padanya ketika Pria itu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Harumi.
Liam menggeleng "Kau tidak akan kemana-mana"
Sambil menatap Liam, Wanita itu mengalihkan sorotan matanya pada Lantai Marmer dingin yang bahkan dia sendiri tidak merasakan kedua kakinya sedang tidak mengenakan alas dan rasa dingin itu seolah merambat sampai ke atas tubuhnya.
Harumi bertanya-tanya mengapa kehidupannya berubah dengan sangat cepat, sebenarnya sejak kapan kehidupannya menikung ke arah ini ? dan mengapa dia setuju membiarkan Liam memasuki kehidupannya lebih dalam.
Apakah dia menyesalinya sekarang ?
Percuma saja menyesal pada kemudian hari.
Menghadapi Peristiwa mengerikan itu mungkin hal sepele yang bisa dilupakan dengan mudah bagi Liam, tetapi bagi Harumi itu adalah Langkah yang besar.
Beberapa detik kemudian, Liam berusaha mendekatinya kembali. Pada saat ingin melangkah, Harumi seolah memberi penolakan tegas dan melangkah mundur lebih jauh membuat jarak di antara mereka.
Dengan wajah yang bersalah dan Liam tahu untuk saat ini ia harus membuang Egonya sejauh mungkin "Iam so sorry, Please Don't Go"
Untuk sesaat, Liam tidak bergerak dan hanya menatap Harumi sangat lama. Menunggu jawabannya.
__ADS_1
Perasaan sesak yang muncul di dalam dadanya tidak tertahankan, Harumi seperti membangun tembok di antara mereka. Bahkan untuk mendekatinya sedikit saja, Liam tidak mampu berbuat apapun.
Segala hal yang ingin diucapkan Harumi terasa seperti abu pahit di bibirnya saat ini.
"Aku butuh ruang untuk sekedar bernapas, I need Time" Jantung Harumi berdebar sangat kencang.
Hatinya terasa berat saat Liam harus membiarkan Harumi dengan kedaan seperti ini. Liam tidak akan mampu bertahan jika peristiwa mengerikan itu akan terulang kembali, Pria itu berpikir untuk segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Harumi sadar jika bukan karena Liam, nyawanya pasti sudah melayang. Tetapi, membiarkan dirinya hanyut dalam ego dan memilih terus bersama Pria itu, masa depan yang mereka rencanakan, rasa damba yang membara, takkan bisa bertahan selamanya. Ia tahu hubungan ini akan ada Ujungnya, dan sekarang lah saatnya.
Harumi memaksakan dirinya melangkah cepat, Wanita itu berjalan melewati Liam yang berdiri dihadapannya tanpa ada pembicaaran apapun lagi.
"Rumi, Please" Liam mencengkram lengan Harumi dengan cepat. "Please Don't Go"
Saat Liam berusaha menarik Harumi, Wanita itu memberontak "Don't do this, Lepaskan !"
Harumi membuatnya sulit bernapas, "Why ?" jemari lainnya terjulur ke pipi Harumi.
Harumi melangkah ke samping menghindari sentuhannya. "Aku tidak ingin membahas ini lagi, aku yakin kau sudah menemukan pelaku dibalik serangan itu, dugaan ku pasti benar jika orang dibalik ini semua adalah Ibumu. Benarkan ?"
Liam terdiam lagi, tatapannya membeku. Tanpa di sadarinya, ia melepas tangan Harumi. Padahal, Pria itu tahu ini bukan saatnya ia akan memberitahu kenyataan ini kepada Harumi.
"Sudah cukup Liam, sudah saatnya Kita mengakhiri Hubungan ini dan Melupakan Semua yang terjadi di antara Kita. I'am So Tired"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You 🙏
Dear All,
Thank you So Much, sudah mengikuti Novel ini sampai pada Bab ini. Iam so Happy, karena tanpa dukungan semua Novel ini tidak akan bisa berjalan dengan baik. Thank You for all Supports and I hope can do better than Now.
I Love You Guys ❤
Love,
__ADS_1
Anita Moera
Nb : Saat pembuatan bab ini, aku terinspirasi dengan sebuah lagu indah dari Ruelle-The Other Side. Bagus di dengarkan sambil kalian membaca Bab ini, sangat menyentuh.