
Keadaan Tidak secanggung yang disangka Harumi pada keesokan paginya. Dia duduk di bangku dapur sementara Liam menunjukkan satu lagi kemampuan menakjubkan pria itu dihadapan Harumi.
Memasak ? Benarkah ini Liam yang kukenal ?
Menggoreng bacon tanpa memercikkan minyak ke pakaiannya, memotong bawang dengan potongan yang sangat rapi.
Harumi sempat mengernyit samar-samar tak berkedip sedikit pun memandangi pria yang tadi malam bersikap dingin padanya. Dan tentu saja setelah mereka menghabiskan sebagian malam indah itu dengan bercinta.
Harumi benar-benar tidak menyangka, Liam memasak dan menguasai dapur.
Wanita itu tersenyum simpul seakan ini pertunjukkan langka yang sangat menghibur paginya.
Liam tidak menyadari kehadiran Harumi, bahkan pria itu masih sibuk dengan menggoreng Bacon, memanggang Roti dan menyiapkan dua piring putih.
Harumi curi pandang ke arah otot-otot kencang di lengan Liam saat pria itu membalikkan Bacon sambil memegang tangkai wajan. Mengingatkannya pada apa yang mereka lakukan bersama semalam.
Liam berbalik, lalu sedikit terkejut dengan kehadiran Harumi yang sudah sedari tadi memandangi aktivitas memasaknya.
Pria itu mengantarkan sepiring Bacon kepadanya "Sudah bangun ?"
"yah, aku tidak menyangka kau mahir dalam urusan dapur" Harumi menyeringai sambil memperhatikannya "Sepertinya enak !"
Dia menunggu sampai pria itu ikut bergabung di seberang meja dapur. Bacon itu garing sempurna dan saat menggigitnya, dia hampir mengerang.
Liam balas memperhatikan "Enak, kan ?'
"Ya"
"Hanya Bacon dan Roti panggang, ini sangat mudah, semua orang pasti bisa melakukannya" Liam mengangkat sepotong Bacon, dan untuk beberapa menit, mereka makan bersama dalam keheningan.
Harumi tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya, pria yang sudah berhubungan intim dengannya bahkan pria itu membuatkan sarapan untuknya dan makan bersama. Karena selama pernikahannya dengan Anton, tak pernah sekalipun suaminya membuatkan Harumi sarapan. Tapi, Harumi tak pernah mempermasalahkan itu karena baginya memasak adalah urusan istri. Tapi, kenyataannya itu semua jadi terasa berbeda jika sesekali dia bisa mendapatkan pelayanan sederhana seperti ini.
Dan ini semua begitu...begitu asing bagi Harumi. Padahal sejak kemarin mereka sudah sarapan bersama, tapi pagi ini tentu saja sangat berbeda, sangat berbeda setelah apapun yang menggairahkan terjadi pada mereka semalam.
Walaupun terasa menakutkan, bahkan mengerikan dia bisa membayangkan dirinya menjadi terbiasa dengan semua ini.
Liam menghabiskan isi piringnya, saat dia mendorong piringnya menjauh lalu melipat tangan di atas meja dapur, tatapan di wajahnya mengatakan bahwa keadaan akan menjadi serius.
__ADS_1
Perut Harumi mencelus "Apa ?"
"KIta perlu membicarakan soal Anton" cetus Liam dan perut Harumi semakin mencelus. Entah mengapa, Ya Tuhan, dengan santai Liam menyebutkan nama itu dihadapan Harumi.
Harumi memahami mereka bukan lah pasangan pria dan wanita dalam hubungan yang normal.
Harumi mengunyah bacon, sambil memberikan dirinya waktu beberapa detik untuk menarik otaknya dari pikiran soal semalam. "Maksudmu ?"
"Aku ingin kalian segera bercerai" Liam berkata sambil membalas tatapannya "tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya dengan mudah"
Dia menggelengkan kepala "Liam...itu tidak semudah seperti yang kau pikirkan. Karena..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, kemudian pikiran itu kembali muncul. Karena bagi Harumi, tidak mudah untuknya berpisah dengan Anton mengingat semua yang akan mereka hadapi nantinya.
Harumi kembali menggelengkan kepala, alisnya berkerut.
"Apa ?" bibir Liam menipis "Kau masih mencintainya ? benarkan ?"
Harumi tiba-tiba tidak lagi merasa lapar, dia meletakkan potongan Bacon terakhir kembali ke piring.
"Kau tidak paham ..Hanya saja...itu konyol"
Napas Harumi tersekat " Tidak mudah mengakhiri sebuah pernikahan yang sudah kami jalani. Aku harus memikirkan semua keluarga, dan semua orang-orang yang berharga untukku"
Setelah menarik napas panjang, Harumi berusaha mengatur ritme bicaranya agar dia masih tetap bisa fokus tanpa harus diiming-imingi gejolak perasaan yang akan mendominasinya.
Harumi tahu bahwa dirinya juga memiliki perasaan itu kepada Liam, bahkan perasaan itu semakin hari semakin dalam tapi Harumi tak berani mengakuinya sementara waktu karena wanita itu masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya kembali dan menata perasaan itu dengan baik.
Wanita itu sadar bahwa tak mudah baginya untuk berpisah begitu saja dari Anton setelah semua yang mereka alami bersama. Anton adalah Cinta Pertama Harumi, pria itu yang sudah membuatnya mengenal kebahagiaan sekaligus kesedihan dalam hidupnya.
Raut suram dan berbahaya muncul di wajah Liam yang tampan "Aku bukan Pria yang sabaran, aku tidak ingin menunggu keputusanmu terlalu lama"
"Liam....kumohon mengertilah. Aku juga tidak ingin menyakiti Anton"
Rahang Liam terasa lepas dari posisinya, "Apa ?"
Harumi memutar bola matanya "Walaupun Pernikahanku tidak berjalan bahagia, tapi aku tidak ingin menyakiti semua orang karena keputusanku"
Di atas bangku, Liam mengayun tubuhnya ke belakang, tangannya dilipat di dada "Mungkin aku perlu berbicara dengannya"
__ADS_1
Senyum tegang muncul di bibir Harumi saat dia membayangkan kedua pria itu berbicara. Dia ragu itu akan melibatkan banyak pembicaraan. Mungkin banyak tinju.
"Kau pikir aku akan diam saja, melihat nya terus menghubungimu mengucapkan kata-kata manis agar kau kembali padanya. " sambung Liam geram
Tanpa diharapkan dan tak terduga, getaran merambat di tulang punggungnya saat tatapannya bertemu dengan mata coklat gelap Liam. Ada awan hitam di sana, membayangi wajah pria itu.
Harumi menyadari bahwa saat ini Liam sedang di kuasai perasaan Cemburu.
"Beri aku waktu, aku tidak bisa memutuskannya sekarang" balas Harumi dengan keyakinan.
Liam sejenak menghentikan waktu untuknya berpikir lalu menjawab "Mungkin ini akan membantumu mengambil keputusan"
"Hah ?"
Pria itu berdiri dari bangkunya, membawa cangkirnya yang sudah kosong dan mengisinya kembali dengan kopi panas dari teko.
Sebelum meminum kembali kopinya "Hari ini aku akan membawamu berlibur"
Harumi dibuat terkejut untuk kesekian kalinya oleh Liam "berlibur ? tunggu dulu...ini tidak bisa. Aku tidak sedang ingin berlibur"
Pria itu mengangkat cangkirnya dengan santai, sambil menyeringai memandang Harumi dari tepi cangkir "Aku hanya ingin kita bersenang-senang"
"Kau selalu memutuskan segalanya sesuai kehendakmu, selalu memberikan kejutan yang membuatku takjub sampai-sampai aku sulit bernapas"
"sudahlah, kita harus segera bersiap. Penerbangan kita dua jam lagi"
"Dua jam lagi ? kau benar-benar ... apa kau sudah merencanakan ini semua ?" Harumi beranjak dari duduknya menatap Liam
Pria itu hanya balas tersenyum sambil meletakkan cangkirnya kembali di meja dapur "Aku akan menjelaskan dalam perjalanan, kau tidak perlu membawa pakaian apapun selain yang kau kenakan karena semua sudah di persiapkan oleh Sekretaris Will"
Liam semakin membuat Harumi ternganga atas tindakan yang sangat sangat sangat tidak terduga olehnya, inilah salah satu kebiasaan Liam yang sangat menyebalkan bagi Harumi karena pria itu selalu melakukan semua sesuka hatinya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Komen dan vote
Thank you ❤
__ADS_1