Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 190 Devil Beside Me


__ADS_3

"ENOUGH !!!!" teriak Anton mencengkeram tangan Harumi dengan cepat menghentikan tindakannya "What are you doing with your self ?!! Its Enough !!!!"


Harumi terkekeh pelan "Bukankah ini yang kauinginkan ?!! Menyakitiku." Bibirnya melengkung naik dengan miris memperlihatkan sebagian pipinya yang berubah warna setelah ia menyiksa dirinya sendiri begitu keras


"Apa sesulit itukah memintamu untuk tenang ? Membicarakan ini baik-baik." alis Anton terangkat


Tanpa rasa takut atau menyesal sedikitpun, Harumi mengangkat wajahnya dengan perasaan puas "Kita tidak sedang baik-baik saja. Ini sudah berakhir, Anton. Kau dan Aku tidak akan pernah bersama"


"Bahkan kau sudah mengganti cincin pernikahan kita dengan cincin dari Bajing** itu." Anton sudah menyadarinya saat ia mencengkeram tangan Harumi tadi, ia merespon dengan kekecewaan "Apa kalian pikir hubungan itu akan bahagia ?!"


"Aku tidak perlu nasihat darimu !"


"Kau benar-benar wanita yang sangat MENGERIKAN , Kau akan menyesal, dan ingat ... Jika Kau tidak kembali padaku, maka DIA JUGA TIDAK AKAN BISA MEMILIKIMU."


...****************...


Suara langkah kaki berjalan dengan santai, memasuki sebuah ruang kerja pribadi milik seseorang.


Ruangan bergaya klasik ala Inggris begitu kental dari ukiran-ukiran yang tergambar jelas pada perapian dan ornamen perak serta rak buku-buku yang menghiasi tiap sudutnya.


"Well, how are you Mr. Yarrow ?" suara serak menggema pada ruangan yang hanya terdapat kedua orang yang sedang berdiri tanpa bertatap muka.


Pria itu berbalik, dan menyeringai miring saat ia melihat sosok dari sumber suara tersebut "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini. Liam"


Liam Seymour berdiri tepat didepannya, gelap dan berbahaya seperti apapun yang membara di neraka. Tubuhnya sepenuhnya diam, matanya waspada.


Dan pandangannya seolah mengawasi.


"Tidak sulit untuk menemuimu."


"Aku tidak akan membahas panjang lebar, karena kedatanganmu kemari pasti bukan membahas sesuatu yang biasa-biasa saja." pria paruh baya itu cukup tenang tanpa melakukan apapun kecuali menatap.


Mata Liam mengunci tatapannya dengan akurasi letal senjata mematikan dan udara meninggalkan tubuhnya. Lalu, sekilas pandangannya beralih pada postur tubuh pria itu "Sepertinya keadaanmu sangat sehat. Untuk seseorang yang mengalami kecelakaan mobil" cetusnya dengan nada mengejek


Selama sesaat yang sangat meresahkan, Mr. Yarrow mulai menampakkan kegelisahannya "Jangan katakan kedatanganmu kemari, demi wanita itu"


"Aku tidak akan basa basi, jika anda ingin memainkan permainan kotor sebaiknya kenali lawan main anda dengan baik." nada tajam dalam suara berat Liam yang maskulin sudah cukup membuat pria itu mulai tersudut "Hanya untuk 60,000 poudsterling, orang seperti anda ingin bermain-main denganku. Mr. Yarrow ini bukan tandingan untuk anda. Karena aku tidak segan-segan Menghabisimu"


Mr. Yarrow melihat ke dalam matanya yang cekung dan sinis, ia meyakini Liam adalah pria yang lebih mengancam dan mengintimidasi daripada seluruh predator manapun.


Liam terkenal kejam dan berhati dingin dihadapan semua lawannya.


"Dengarkan aku, ini bukan permainan kotor seperti yang ada di dalam pikiranmu. Youre Wrong."


"Apa Anita yang memintamu ?!" Liam dalam sekejap menembak tepat sasaran

__ADS_1


Mata pria itu membesar "What ?"


"Kau tidak perlu gelisah, itu sama saja akan membuatmu bunuh diri dalam sekejap." Rambutnya yang kecoklatan dan disisir menjauhi wajah yang keras dan tampan, mengenakan kemeja hitamnya yang lembut menempel di pundak yang lebar serta kuat. Liam menampakkan sisi lain dari dirinya yang merupakan seorang Pimpinan Gengster yang selama ini tidak selalu diperlihatkannya pada semua orang. "Aku tidak menyukai permainan receh seperti ini."


Liam dengan santai mengambil sesuatu dari balik kemejanya, dan meletakkannya di atas meja. Tepat dihadapan Mr. Yarrow. Mulut pria itu terkatup rapat dan matanya berkilat-kilat gelisah ketika ia melihat pada benda yang dikeluarkan Liam.


Sebuah senjata api, yah itu adalah sebuah pistol.


"Apa maksudnya semua ini ? K-kau ingin membunuhku ?!!!" suaranya mulai memperlihatkan ekspresi kecemasan, tapi tetap saja ia berusaha menyembunyikannya


Tatapan Liam sangat mematikan "Mr. Yarrow untuk apa aku membunuhmu secepat itu, bermain-main lebih dulu denganmu jauh lebih menyenangkan. Tentu saja, membunuhmu terlalu mudah untukku"


Keresahan berkembang di dalam dirinya "A-apa yang kau inginkan ? Kau ingin aku mencabut tuntutan pada ayah dari wanita itu, bukan ? Baiklah."


Pria paruh baya itu berusaha bernegosiasi lebih lanjut. Tetapi Liam tidak menjawab. Dia tidak memberikan jaminan atau dorongan. Dia hanya memperhatikan Mr. Yarrow dengan semua kecemasannya seperti sebuah boneka hiburan.


"Jawab aku, apa yang kau inginkan ? Anita memintaku melakukan ini semua karena ia terus mengancamku. Dan begitu bodohnya aku masih memiliki perasaan padanya, dan menurutinya."


"Bagaimana dengan Bisnis gelap yang kaujalankan ? Bukankah sangat berkembang pesat, bahkan beberapa oknum mulai mencium kejanggalan pada pembagian hasil." Liam berbicara dengan nada lambat yang berat, aksennya sangat tipis sampai-sampai hampir tidak bisa dideteksi.


Liam duduk bersandar di kursinya dan mengangkat alis dengan penuh penantian "Aku memberimu sepuluh menit, sebaiknya selesaikan segera, sebelum....." ia menatap tajam ke arah senjata api yang masih tergeletak di atas meja, lalu menyeringai pada pria itu.


Tidak siap menerima pendekatan tidak ramah seperti itu, Mr. Yarrow ternganga "Apa maksudmu ? Kau benar-benar serius ketika berkata aku hanya punya sepuluh menit ?"


Jelas Liam tidak akan menjadikan ini mudah bagi pria tersebut.


Tercengang melihat ketidakacuhan Liam terhadap kesulitannya, Mr. Yarrow mengambil waktu sejenak untuk menyatukan pikiran "Baiklah, aku memang menerima banyak aliran dana dari ibumu selama ini untuk melancarkan bisnis yang kami jalankan bersama. Tapi, aku tidak bisa mengatakan secara terbuka mengenai pembagian hasil kepada semua rekan bisnis kami."


"Jangan membuang waktu untuk menyatakan hal yang membosankan" ujar Liam mulus, matanya mengerling ke arah jam, terang-terangan mengingatkan tentang waktunya "Sekarang kau hanya punya sembilan menit lagi."


Mr. Yarrow merasakan secercah kepanikan "A-apa yang kau inginkan Liam ? Aku sudah mengatakannya. Ibumu sendirilah yang memintaku untuk bersandiwara seolah itu adalah kejadian yang benar-benar sedang terjadi, bahwa Harry Whiston yang dijadikan penyebab utama dari kerusakan mobilku."


Jelas, pria itu mempertanyakan hal yang sama karena alisnya bertautan dalam kernyitan mengecilkan semangat "Kau pikir aku tidak tahu hal itu, sebaiknya gunakan otakmu untuk hal yang lebih menguntungkanmu saat ini. Dan waktumu sisa delapan menit lagi."


"Liam dengarkan aku, tidak ada lagi yang kusembunyikan. Sudah kukatakan semuanya, ibumu adalah dalang dari semua yang terjadi pada Ayah dari kekasihmu. A-aku hanya melakukan apa yang dimintanya itu saja, tidak ada lagi." suaranya semakin gemetar, tampak pria paruh baya itu berusaha melangkah mundur perlahan.


Saat ia menatap Liam mengambil senjata api tersebut dan kini berada di genggamannya "Wait, a-aku sudah mengatakan semua hal yang ingin kau ketahui. Jawaban apalagi yang kau inginkan. "


"Bukankah sudah kukatakan gunakan otakmu untuk berpikir, Mr. Yarrow ? aku membicarakan soal bisnis gelap yang sedang kau jalankan." Liam menekankan kata-kata tersebut.


"B-bisnis ? Tapi apa hubungannya dengan Harry Whiston, bukankah kedatanganmu kemari hanya untuk mencari kejelasan tentang pria itu." Mr. Yarrow menolak untuk membiarkan pria itu mengintimidasi dirinya.


Tatapan sinis Liam meluncur turun ke kakinya "Jujur saja, aku takjub kau masih bisa berdiri dan berbasa-basi. Mungkin ini akan sedikit membuka pikiranmu."


DOOORR !

__ADS_1


Suara tembakan terdengar sangat keras menggema di ruangan itu, ketika Liam melepaskan peluru tepat pada tungkai kaki kanan pria itu.


Mr. Yarrow shock, pria paruh baya itu reflek mencari tumpuan untuk menyeimbangkan tubuhnya. "W-what are you doing ?!!!" ia merasakan sakit yang luar biasa pada kaki kanannya yang mulai mengeluarkan banyak darah.


Dia hampir-hampir merasakan sebagian tubuhnya mati rasa, rasa sakit itu menusuk-nusuk semakin dalam bahkan ketika ia bergerak sedikit saja. "Arrrggghhhhh" ia bahkan merasakan tulang kakinya seolah tidak bisa berfungsi lagi.


Tangannya meraba-raba pada tembok, untuk menuju kursi. Dengan berjalan terhuyung-huyung mengharapkan kekuatan hanya dengan satu tumpuan kaki kirinya saja. Wajah Mr. Yarrow mulai ketakutan.


"Mana Pengawalku ?!" gumamnya kesal


"Tidak ada yang akan menolongmu." ucapan tajam Liam membuatnya tersentak.


Mr. Yarrow menoleh dan menatap Liam dengan putus asa "Yah, itu benar. Aku yang sudah meminta seorang penyusup menikamnya."


Liam tidak akan menyerah atau berkompromi. Tidak ada pelunakan, tidak ada kelembutan dan tidak ada kemanusiaan. "Waktumu semakin menipis"


Gelombang kepanikan mulai menelan pria itu dan merasakan tatapan Liam tidak sedang bermain-main saat ini "Harry Whiston. Ayah dari kekasihmu itu....tanpa sengaja menyaksikan transaksi tersembunyi kami pada pihak Kepolisian. Dan ia mendengar semua percakapan kami terutama tentang pembagian hasil bisnis yang kujalankan bersama ibumu. Aku menyadarinya dengan cepat. Lalu, meminta anak buahku untuk segera menghabisinya. Tapi, salah satu pengawalmu mengetahuinya, sempat menolongnya sebelum keadaannya makin parah."


Liam mengamatinya dengan seksama, sikapnya sangat tenang bahkan setelah melukai seseorang. Tidak ada penyesalan sedikitpun di wajahnya "Pengakuan yang sangat mengesankan" suaranya lembut dan mematikan "Kau mungkin berpikir ini sudah selesai, Mr. Yarrow. Tapi, aku tidak suka kau menyakiti seseorang yang tidak bersalah hanya untuk kepentinganmu." Tatapan Liam beralih ke matanya dan Mr. Yarrow menatapnya, tidak mampu bicara atau bergerak, terperangkap dalam panas berbahaya dari tatapannya.


"Hentikan tindakanmu, Liam !!!" dia mengangkat kedua tangannya, berusaha berlindung.


Kali ini, tampak kemarahan dan kekesalan yang jelas memuncak setelah ia berusaha bersabar. Liam berdiri mengangkat pistolnya dan mengarahkan tepat pada kepala pria paruh baya itu yang sudah tidak berdaya. Tentu saja dengan jarak hanya beberapa kaki saja, tidak akan sulit bagi Liam untuk mengarahkan tepat pada sasaran yang diinginkannya.


Dan yah, Liam adalah penembak yang jitu. Tidak pernah sekalipun tembakannya meleset.


Mr. Yarrow menatap dengan sangat ketakutan, bola matanya membesar "J-Jangan lakukan, Liam!!! KUMOHON DENGARKAN AKU !!!!! JANGAN MEMBUNUHKU !!!!!"


Disaat hampir menarik pelatuknya, Mr. Yarrow masih membuka bibirnya berusaha memohon agar Liam mengurungkan niatnya "INI SEMUA KARENA IBUMU, ANITA. Aku selalu menurutinya, bahkan disaat ia masih menjalin hubungan gelap dengan pria muda itu. Dengan bodohnya aku masih mencintainya, memaafkannya. Dan aku juga yang harus menanggung semua kejahatannya." ia membentangkan tangan dalam sikap memohon agar Liam memberinya kelonggaran " Kumohon Liam !!!"


"Pria muda ?" suaranya sekeras tatapannya yang tidak simpatik "Dalam posisimu aku pasti akan gemetaran dan akan menggunakan setiap trik yang ada untuk mencoba menyelamatkan diri. Bahkan termasuk mengatakan hal tidak masuk akal."


"Apa kau tidak ingat ? Tiga tahun lalu, malam perayaan Anniversary Pernikahan yang diadakan oleh kedua orang tuamu di villa pribadi mereka di sini. Aku pun hadir malam itu, dan tidak disengaja aku melihatmu berselisih dengan seorang pria yang sedang bersama Anita. Aku masih mengingat nama bocah tengik itu, Noah. Yah, namanya Noah. Kau dengannya sempat berkelahi di balkon malam itu, aku tahu kau kesal dan marah ketika memergoki sahabatmu memiliki hubungan gelap dengan ibumu sendiri. Setelah itu, aku melihatmu meninggalkan pesta dan Noah berusaha menyusulmu. Kalian berada dalam satu mobil malam itu, kau yang berada di kursi kemudi"


Liam mengamatinya sejenak dan ketegangan memekat di antara mereka. Ada sesuatu dalam kilatan memory pikirannya yang meningkatkan perasaan tidak nyamannya.


Ingatan itu perlahan kembali, bayangan-bayangan gelap yang selama ini menyelimuti pikiran Liam soal kejadian kecelakaan yang mengakibatkan sebagian ingatannya hilang.


Seolah menemui titik terang.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2