
"Aku menghubungimu kemarin gara-gara semua kado yang kau kirimkan saat acara Ben, sangat banyak dan terlalu mahal untuk anak berusia 10tahun. Aku mohon, kau bisa minta Taylor mengambilnya kembali" pinta Harumi
"Aku memberikan semua kado itu bukan untukmu tapi untuk Ben, kalau Ben senang menerimanya. Apa masalahnya ?" balas Liam
"Terlalu berlebihan jika Ben menerima barang-barang mahal seperti itu, ia belum saatnya mengetahui hal-hal di luar batas usianya, seharusnya kau mengerti maksudku Liam"
Liam sempat tertegun dengan pernyataan Harumi. Ia tidak pernah bermaksud seperti itu, Liam sangat tulus memberi begitu banyak hadiah kepada Ben, karena Liam belum pernah merasakan memiliki saudara kandung. Hanya caranya saja yang tidak tepat bagi Harumi.
"Please, biarkan tahun ini Ben menerima semua hadiah itu. Anggap saja Santaklaus datang lebih awal dari biasanya, hehee...apa kau tega Ben sudah sangat senang, tiba-tiba semua hadiahnya kuambil kembali ?,,,hmm aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Liam berusaha melunakkan hati Harumi.
Kali ini, Harumi sempat diam beberapa detik ia berfikir mengenai jawaban Liam.
"ehmmmm, kau memang pintar mencari-cari alasan, Baiklah, tapi...kau harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah kebingungan harus menjawab semua pertanyaan keluargaku. hmmm tapi Liam....Terimakasih, terimakasih sudah memberi perhatian dan peduli kepada Adikku walaupun aku tau kau sangat sibuk." balas Harumi dengan lembut, ia mulai memandang Liam dari sisi yang berbeda. Harumi beranggapan sebenarnya Liam hanya seseorang yang sedang kesepian.
Liam tersenyum simpul, ia makin jatuh hati dengan sikap Harumi. Bagi Liam, Harumi adalah seorang Wanita yang baik dan tulus memandangnya sebagai pria biasa, tanpa ada iming-iming Uang, kekuasaan dan kekayaan.
"Aku harap bisa segera menemuimu kembali....Harumi"
Tanpa di ketahui, Mendengar jawaban dari Liam, sebenarnya Harumi tersenyum. Perasaan aneh yang kadang mengganggu Harumi sering muncul secara tiba-tiba jika Liam berada di dekatnya.
Tapi Harumi tidak pernah mau memperdulikan perasaan itu, karena baginya yang terpenting adalah Nasib Pernikahannya dengan Anton.
***
Ruang Baca Kediaman Seymour
California, USA
Di dalam ruang kerja sekaligus perpustakaan yang cukup luas, banyak Rak-rak buku yang mendominasi, ada Anita sedang berdiri menatap pemandangan di balik jendela besar di ruangan tersebut.
Ia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, ia membelakangi Sekretaris Will yang kini berdiri menghadapnya.
Mereka tampak akan melakukan pembicaraan serius, atmosfir di ruangan itu tiba-tiba berubah sangat hening.
__ADS_1
"Pak Will...kau mengerti kenapa aku memintamu menemuiku, bukan ?" tanya Anita yang masih fokus memandang di balik jendela.
"Iya, Nyonya." jawab tegas Sekretaris Will
Sekretaris Will kemudian melanjutkan pembicaraan tersebut.
"Selama di Bristol, Tuan Liam seperti biasa melakukan kunjungan Kerjanya ke Perusahaan cabang baru di sana. Bertemu sebanyak 2kali dengan Direktur Utamanya Pak Anton Riandra, melakukan berbagai Meeting Virtual dengan Para direksi dan meluangkan waktunya beristirahat di Mansion"
"Pak Will, aku tau kau sudah mengabdi dengan kami selama bertahun-tahun. Kau sangat mengerti, aku tidak suka ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku." ketus Anita yang berbalik menghadap Sekretaris Will, ia menatap tajam sekretaris Paruh baya tersebut.
Anita kembali melanjutkan "Kau yakin Liam tidak mencari-cari Wanita Sialan itu lagi ? Wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi Duri dalam kehidupan kami, kalau bukan karena Roberto suamiku, sudah kumusnahkan Dia dari dulu !! Liam cepat atau lambat pasti akan mengetahui keberadaannya, ia sangat terobsesi menemukan saudara kandungnya" Anita tampak Geram
"Saya bersumpah Nyonya, Tuan Liam tidak mencari-cari Wanita tersebut lagi. Saya selalu mendampingi beliau selama di Bristol" Jawab Tegas Sekretaris Will
"Kudengar Jane menemui Liam di sana, benarkah ? bagaimana urusannya mereka berdua, aku tidak suka dengan perempuan itu. "
Sekretaris Will mencoba menarik nafas perlahan, sebelum menjawab pertanyaan dari Anita.
Sorot mata Anita mulai berubah, ia berbalik lagi memandang ke luar jendela. Kedua tangannya kini menyilang ke belakang, ia tampak lebih santai dibanding beberapa menit lalu.
"Pak Will, Apa Liam sedang dekat dengan seseorang ?" tanya Anita
"Yang saya ketahui Tidak ada Nyonya, Tuan hanya fokus mengurus pekerjaannya." Sekretaris Will berusaha menutupi sosok Harumi dari Anita, sesuai perintah Liam.
"Apa kau yakin ? aku harap semua ucapanmu benar, jangan pernah menutupi sesuatu dari ku."
"Oh ya, satu lagi Pak Will, aku sangat percaya padamu, jangan sampai Liam mengetahui keberadaan Wanita Bi**L itu. Laporkan apapun kegiatan Liam kepadaku, aku tidak ingin Puteraku terlibat masalah lagi." sambung Anita
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi. Kedua matanya tampak penuh kebencian ketika menyebut hal tentang Wanita Misterius tersebut.
"Baik Nyonya." balas Sekretaris Will sambil tetap berdiri tegak dan menatap serius Anita.
Lalu Sekretaris Will pun berbalik meninggalkan Ruangan Tersebut setelah pembicaraan mereka selesai.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, para pelayan yang berseragam hitam putih sedang sibuk mempersiapkan Makan Malam demi menyambut kedatangan Liam.
Semua menu yang disajikan adalah Makanan kesukaan Liam, Mulai dari Menu Beef sampai Menu Vegan.
Liam yang sudah rapi mengenakan setelan santainya, masuk Ke Ruang Makan. Terdapat Meja Makan yang sangat besar dengan banyak kursi yang tersusun sangat rapi.
Makanan-makanan yang lezat sudah tersaji di sana, ketika Liam mulai memasuki ruangan, para pelayan wanita mulai melirik dan mencuri pandang kepada Liam. Pesona Liam seakan bersinar mendominasi setiap pandangan wanita yang berada di sekitarnya. Wajah tampannya yang mempesona tak hentinya membuat para pelayan wanita di sana sering senyum-senyum sendiri mencari perhatian.
Liam duduk di kursi, ia menatap kursi kosong di seberangnya.
"Nyonya sebentar lagi akan turun, Tuan" sahut salah satu pelayan yang sedang berdiri di samping meja makan.
Liam mengambil handphone disampingnya, ia menatap layarnya. Lalu melihat ke arah jam.
Kemudian Mengirimkan satu pesan singkat kepada Harumi, Karena perbedaan waktu sekitar 8 jam di Bristol.
"Jangan Lupa Makan Siang, Gadis Bunga" isi pesan singkat Liam ke Nomor Harumi.
Ia meletakkan handphonenya kembali, lalu Anita masuk.
"Sepertinya Ada yang lagi bahagia sekarang" Goda Anita yang tak di sadari Liam, bahwa ibunya memperhatikan anaknya yang daritadi senyum-senyum sendiri menatap layar handphonenya.
"Sepertinya ada yang cemburu ?" ejek Liam yang balas menggoda Ibunya.
"Hahaha,, Mama tidak pernah melihat mu sumringah begitu, tidak seperti biasanya. Mama tentunya jadi cemburu, jangan-jangan....Gadis mana Liam ?" Anita perlahan duduk di kursinya, setelah salah seorang pelayan membantu menggeser kursi untuknya.
"Belum waktunya...Nanti. Nanti pasti Mama akan bertemu dengannya" jawab santai Liam, membuat sang ibu semakin penasaran, karena untuk pertama kalinya Liam bicara seperti itu.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment, dan Vote ya
Thank You 💞
__ADS_1