Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 84 Dosa di Masa Lalu


__ADS_3

Perbincangan yang terus menerus menyudutkan Wanita itu tak bisa mengungkapkan keseluruhan kebenaran yang jelas mengenai kejadian kelam di masa lalunya, Rahasia demi rahasia terkuak ke permukaan satu per satu dari seseorang yang seharusnya bisa terus menjaga Rahasia itu tetap tersimpan rapat.


"Teddy hanya seseorang yang bernasib sial...Itu saja. Tidak ada sangkut pautnya mengenai apapun tentang perencanaan Pembunuhan yang kau maksud" balas Anita yang kepercayaan dirinya kini mulai meningkat dibanding sebelumnya.


Luciano mengernyit "Waaah kau memang luar biasa dan Terlalu percaya diri, wajar jika kau sangat membenci wanita itu karena dia sudah merebut Roberto dari sisimu tapi Keserakahanmu akan berakhir buruk. Kau ingat itu baik-baik !!!"


Anita duduk, membeku dalam keheningan. Dia menatap sebuah figura foto kecil sebelah laptop di atas meja kerjanya, ada gambar dirinya, sang suami dan Liam ketika berusia 10 tahun yang tersenyum lepas dalam pelukan nya.


Wanita itu mengingat dengan jelas sebuah moment yang sangat membahagiakan pernah ia rasakan dalam kehidupan rumah tanggannya ketika itu, sebuah moment kenangan dimana di hari ulang tahun Liam yang ke 10 mereka bisa berkumpul bertiga di sebuah Restauran Pizza sederhana di pinggiran Kota dimana itu terjadi karena permintaan Liam ketika itu yang hanya menginginkan Pizza di perayaan Hari Kelahirannya.


Moment kebersamaan mereka pun diabadikan oleh seorang Pelayan Restauran tersebut.


"Aku sangat menyayangi Liam, dia anakku...Puteraku!" jawab Wanita itu menaikkan sedikit volume suaranya penuh ketegasan


Suara serak Luciano semakin dalam "Bagaimana pun kini Liam sudah mengetahui kebenarannya, dan Dia akan mengungkapkan semua kebenaran itu dengan kemampuannya sendiri."


Ada keheningan panjang, kemudian Anita mulai berbicara dan suaranya begitu berapi-api "Dia tidak akan mampu mengubah apapun yang sudah terjadi, TIDAK AKAN PERNAH !!!"


Suara-suara meninggi, kemudian wanita itu membekap mulut dengan tangan dan menggeleng-geleng, air matanya merebak.


Luciano bisa menyimpulkan bahwa saat ini Anita sangat risau, cemas dengan diiringi penuh tekanan yang tinggi "Sebaiknya kau mulai memperbaiki semua yang telah kau lakukan di masa lalu dan bicarakan dengan baik-baik kepada Liam, dia tetap harus mengetahui kebenaran mengenai identitas Roseanne dan saudara laki-lakinya."


"Cukuup...Cukuuuppp.! Tidak perlu meneruskan pembicaraan ini ke depannya, sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas mengenai apapun yang ada dimasa lalu."


Anita sudah terlalu Lelah untuk terus menerus melawan dan menggoyahkan pendirian saudara iparnya tersebut. Dia sangat kecewa karena tiap jawaban yang dilontarkan lelaki itu mengecilkan hatinya.


"Ada harga mahal yang harus kau bayar, Anita. Semua perbuatan kelam di masa lalumu tidak akan berjalan semulus yang kau pikirkan. Kematian pria itu, Teddy Riandra akan terus menjadi Dosa di masa lalumu dan mengikutimu sampai sekarang."


Dada Anita semakin geram ketika nama Roseanne dan pria yang di sebutnya sebagai Teddy Suami dari Wanita itu berulang kali terdengar di telinganya. Anita berusaha memahami dahsyatnya tuduhan Luciano terhadapnya.


"Aku TIDAK PEDULI ! Karena masa lalu itu sudah terkubur lama dan tidak akan pernah terkuak kembali" Nada suaranya lincir dan Luciano tampak tidak terganggu oleh Ketegangan Anita yang semakin besar.

__ADS_1


Lalu, tanpa berpikir panjang Anita langsung menutup pembicaran mereka dan memutus panggilan tersebut.


Malamnya sudah cukup terganggu dengan ketidaknyamanan dari semua ocehan saudara iparnya tersebut yang dianggapnya hanya sebuah Lelucon demi menetralisir keadaannya. Karena semua yang dikatakan Luciano membuat Anita di selimuti amarah, kepanikan menusuk-nusuk habis kesabarannya.


Anita menyadari bahwa ada banyak hal yang terjadi di masa lalunya, bahkan didalam dirinya ia sangatlah tersiksa.


Tersiksa oleh Fakta bahwa kini ada Luciano yang tidak akan tinggal diam dan terus mengancamnya.


Las Vegas


Pukul 2.15 pm


Malam itu, mata Luciano tampak dingin "apa kau sudah mendapatkan apa yang kuminta ?"


Sekretaris kepercayaannya tengah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah berkas di tangan "ini Tuan..semua informasi mengenai wanita tersebut sudah ada di sini" pria itu menyerahkan nya kepada Luciano dengan ekspresi datar.


Luciano dengan tenang membuka berkas itu yangq berupa beberapa lembaran kertas di dalam sebuah Map Hitam.


Ekspresinya berubah hanya dalam beberapa detik ketika salah satu lembaran yang di bacanya mencuri perhatiannya.


Alisnya mengernyit tetapi matanya masih tetap tertuju pada lembaran tersebut, kedua sorot matanya sangat tajam "Bristol ? Kecelakaan Mobil ?" nada bicaranya pelan sambil memutar otaknya dengan sangat keras seolah memaksanya mengingat sesuatu yang dulunya pernah terjadi.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, wanita ini pernah mengalami kecelakaan Mobil, dia adalah korban tabrak lari sekitar 3 tahun lalu di Bristol" pernyataan Sekretaris tersebut seolah hanya terdengar sayup di telinga Luciano.


Luciano menarik napas dalam-dalam, lalu salah satu sudut bibirnya naik "Kenapa harus wanita itu, Liam ?" lirihnya


"Bagaimana dengan pelaku pengendara mobil tersebut ?" sambung Luciano, matanya sebentar beralih menatap sekretarisnya dengan santai lalu kembali membaca berkas itu


Sempat diam, akhirnya Sekretaris tersebut dari menjawab "Tidak ada laporan apapun mengenai hal itu, tapi menurut informasi kasus itu sudah ditutup karena belum ada cukup bukti mengenai identitas dari pelakunya "


Dengan ekspresi santai Luciano bergumam "Permainan dalam Kehidupan sangat mudah di putar balikkan dengan Uang dan Kekuasaan, tapi tanpa disadari ada kalanya kehidupan memberikan Lelucon yang sangat Konyol"

__ADS_1


Pandangan Luciano terang-terangan tidak menunjukkan rasa simpatik "Awasi semua aktivitas wanita itu selama ia bersama Liam, laporkan kepadaku. Termasuk keponakanku, awasi semua gerak geriknya"


***


Harumi terbangun oleh suara gerimis hujan yang masih terdengar di malam itu, ia membuka mata dengan senyum terulas di bibirnya.


Ia berbaring menyamping sementara Liam menggeletak sembarangan di sisinya, satu kaki menjebaknya di ranjang, seolah mencegahnya meloloskan diri.


Tapi Harumi tidak berencana pergi, untuk sejenak saja ia masih ingin terus bersama pria ini. Pria yang sudah membuatnya hanyut dalam pusaran paling dalam di sebuah Lautan luas. Harumi tahu bahwa sulit untuknya kembali ke permukaan atau mengembalikan keadaan semula.


Tapi...ada satu titik dimana ia sangat takut pada dirinya sendiri karena tak ada rasa penyesalan dalam dirinya yang membuatnya ingin menyudahi hubungan ini.


Barangkali itu karena mereka berdua sudah rusak, pikirnya.


Harumi berbalik menatap Liam yang tertidur, wanita itu menyadari memang benar kalau Liam memiliki tubuh yang luar biasa dan jelas bagi siapa pun yang cukup beruntung melihatnya bahwa dia adalah lelaki yang sangat jantan. Seorang lelaki dengan kekuatan yang mendorong dan menguji dirinya sendiri.


"Kau memandangiku"


Harumi bahkan tidak sadar lelaki itu ternyata masih terjaga, dia memindahkan pandangannya dari pundak Liam ke wajahnya dan melihat bahwa lelaki itu pun sedang memandanginya.


Bulumatanya yang begitu tebal dan gelap, hampir menyembunyikan ekspresinya dan tiba-tiba Harumi merasa sangat malu.


Lalu dengan gerakan refleksnya, Harumi membalikkan tubuhnya kembali membelakangi Liam.


Tapi godaan tak berakhir sampai disitu, saat jemari Pria itu mulai bergerak perlahan menyusuri kembali kulit mulus bak sutera wanitanya tersebut.



#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 🥰


__ADS_2