
Masih tertegun dan terkejut oleh kenyataan perih yang harus diterimanya hanya dalam waktu semalam, Harumi berbaring diam tanpa tahu harus mengatakan apa.
Berulang kali ibunya menghubungi dan mengirimkan pesan singkat. Tapi, ponsel itu hanya tergeletak begitu saja di atas meja riasnya. Bahkan, tak sedikit pun Harumi berusaha untuk meresponnya.
Keheningan malam itu terasa sangat kuat mencengkeram tubuhnya. Harumi terbaring menyamping dengan matanya yang masih terjaga.
Kedua matanya tampak sembab akibat letih oleh airmata yang terus mengalir di wajahnya.
Waktu sudah menunjukkan jam 4 subuh, tapi Harumi tidak juga mengistirahatkan dirinya. Wanita itu memilih terus membuka matanya. Walaupun tergambar jelas raut lelah yang memuncak di wajahnya.
Lemas, letih, penuh tekanan dan perih di dadanya yang tidak kunjung menghilang. Semua dirasakannya menjadi satu kesatuan di tubuh mungilnya.
Ribuan pertanyaan terus mengusik di kepalanya, membuat Harumi merasakan perasaan ini kembali. Perasaan sakit yang seharusnya tidak perlu ia hiraukan sampai sekarang.
Tapi, ada satu pertanyaan yang benar-benar membuat nya menginginkan jawaban dari mereka.
Kenapa mereka harus berbohong ?
Sempat terlintas dalam pikiran Harumi, ternyata Harapan Anton untuk menjadi seorang Ayah telah Nyata adanya.
Tentu saja, Pria itu memang sangat mengharapkan keturunan dan akhirnya ia bisa mendapatkannya. Di saat Harumi mengalami kesulitan untuk mewujudkan harapannya itu.
Tapi, kenapa di antara semua wanita di dunia ini. Wanita itu adalah Cathy. Itu yang sudah membuat Harumi sulit menerima kenyataan mengenai kebenaran itu.
Tidak akan mudah baginya, untuk bisa bersikap normal kepada mereka nantinya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi.
Di sisi lain, Cathy adalah sahabat baik yang sangat dipercayainya, Harumi selalu menaruh kepercayaan penuh pada Cathy. Tak ada satu rahasia pun yang disembunyikan darinya, tapi disisi lain Harumi harus mengahadapi Anton yang merupakan suaminya.
Rasanya lucu, pikir Harumi dengan menyiksa diri ketika ia terbaring di tempat tidur ini membayangkan bahwa di saat yang sama Anton dan Cathy sedang menyusun rencana untuk berbagai kobohongan lainnya.
Sedangkan Harumi sedang berjuang menjalani hidup, dan ia akan melakukannya. Tentu saja ia akan melakukannya. Ia akan melanjutkan hidup.
Tapi hidupnya tidak akan bergerak maju jika ia masih mematung dan terus menerus menyalahkan diri.
__ADS_1
Ada begitu banyak kemarahan dan luka yang mendidih dalam dirinya sampai-sampai ia tidak tahu bagaimana mengatasinya.
Sambil menghela napas yang menahan ketakutan serta keengganan karena ia sangat membenci konfrontasi, Harumi berdiri dan meraih ponselnya.
Entah apapun yang sedang direncanakannya, tapi wanita itu hanya ingin satu hal.
Kebohongan apapun ini harus segera berakhir, tidak ada yang Menang ataupun kalah. Tapi, Harumi hanya ingin ini berakhir baik untuk semuanya tanpa ada lagi yang dominan untuk saling menyakiti.
***
Scripps Mercy Hospital, California
"Sulit sekali jika bertemu denganmu, aku harus membuat janji seminggu sebelum. Kau benar-benar Gila. Seharusnya pasien yang membuat janji dengan Dokter, bukan sebaliknya" tukas seorang pria berpakaian rapi mengenakan jas putih sambil menatap dengan kesal
Dengan tatapan mengejek, pria satunya membalas "kau benar-benar seperti wanita tua !"
Pria berjas putih yang berprofesi sebagai dokter itu, hanya menyeringai miring "Kau tidak berubah, Liam. Kukira seiring semakin bertambahnya usia, kau akan terlihat lebih baik. Ternyata aku salah. Kau masih Angkuh."
Dokter tersebut berdiri dari duduknya, berjalan menuju meja yang diatasnya ada teko yang sudah berisikan kopi panas lalu ia menuangkannya pada dua buah cangkir.
Sembari dokter itu menuangkan, tatapannya dingin. Ia sempat terdiam sejenak, lalu membuka kembali bibirnya. "apa kau masih menemui wanita itu ?"
Butuh waktu beberapa detik, sampai akhirnya Liam menjawab "sudah beberapa hari aku tidak menemuinya."
Mendengar jawabannya, Dokter itu berhenti menuang pada cangkir kedua "Apa kalian tidak lagi saling berkomunikasi ?"
"Yah" nada tajam dalam suara berat Liam yang maskulin sudah cukup menyadarkan suasana di ruangan itu yang mulai tegang.
Dokter itu berbalik, ia menatap Liam beberapa saat kemudian menyipitkan mata "Are you sure ?"
Liam tidak merespon.
Setelah kedua cangkir tersebut terisi, Dokter itu membawa dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
"Aku tahu wanita itu sangat baik, dan selama kita bersahabat cukup lama. Tidak pernah sekalipun, aku melihat reaksimu seperti ini pada wanita manapun yang kau kencani. Kau banyak berubah." dokter itu mengamatinya lama.
Sekali lagi, Liam hanya diam tidak ada respon apapun. Tatapan nya dingin, ia hanya duduk sambil memandang ke arah jendela besar di ruangan tersebut.
Dokter itu melanjutkan "Do you love her ?" ia menyeringai lagi "Sepertinya aku tidak perlu jawabanmu, sudah tergambar jelas dari raut wajahmu, Liam "
Liam mulai membuka bibirnya, "Zac, aku tidak tahu harus berbuat apa" pria itu berbicara dengan nada lambat yang berat, aksennya sangat tipis.
Dokter Zac Marton adalah Dokter Spesialis Bedah yang cukup terkenal di US. Pria yang selalu berpakaian rapi ini adalah sahabat baik Liam. Mereka bersahabat karena kedua ayah mereka yang juga merupakan rekan bisnis dalam bidang properti.
Zac memang jarang bertemu dengan Liam akibat kesibukan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi, komunikasi mereka sangat baik. Bisa dikatakan Zac adalah orang yang sangat dipercaya Liam.
Pria tampan ini masih lajang, dan baru-baru ini diketahui ia sedang menjalin hubungan dengan wanita yang berprofesi sama dengannya yang juga seorang Dokter.
"Listen to me.., aku sudah selalu memperingatkanmu agar tidak melibatkan perasaan dalam hal ini. Tapi, kau tidak pernah mendengarkanku. Yah, beginilah jadinya. Semua akan berjalan sulit." suara Zac tajam
Liam berdiri, dan menjejalkan tangan ke saku lalu mulai melangkah. Menuju meja kerja Zac.
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana jika wanita itu mengetahui yang sebenarnya, sebelum ingatanmu kembali. Liam sadarlah. Sementara, pikirkan baik-baik. Kau harus menetralkan perasaan itu, agar pikiranmu jernih."
Liam mengernyit, menahan emosi. Ia tidak menatap Zac. Tapi, berfokus menatap berbagai berkas di atas meja dengan hati yang mulai memanas "Its Not Easy, Kau tidak tahu bagaimana sakitnya, melihatnya berdiri dihadapanku tapi aku mengacuhkannya. Padahal waktu itu aku sangat merindukannya."
Rasa khawatir yang tulus mewarnai raut wajah Zac "Liam...Sedikt demi sedikit ingatanmu mulai kembali. Itu akan menjadi kunci, dimana kau akan mengungkap semua yang terjadi pada malam kecelakaan itu."
"Aku sudah mencelakainya, Zac. Hanya itu yang bisa kuingat." kepala pria itu merendah, punggungnya yang bidang tampak mengeras seolah beban masa lalu mulai menghantuinya.
Zac menarik napas panjang "Kau sudah berusaha menebus kesalahanmu tanpa sepengetahuannya, kau ingin mengembalikan kehidupan wanita itu lagi. Dan berusaha menemukan kepingan-kepingan ingatan yang hilang itu agar terkumpul kembali. Semua kau lakukan dalam setahun ini. Tapi.....Kumohon jangan libatkan perasaan kalian dalam hal ini. Jangan, Liam"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1