
Wajah Elena tampak dingin, pikirannya manafsirkan berbagai spekulasi hal-hal yang tidak masuk akal.
Entah apa yang sebenarnya direncanakan Anita, karena sudah pasti dia lah yang mengirimkan undangan ini.
"Aku tidak akan hadir." tegasnya
Meera sudah menduga jika ibunya akan bereaksi seperti ini "Aku mengerti. Tapi, bukankah sangat aneh undangan ini ditujukan untukmu dan Anton ?"
Elena menarik napas dalam-dalam "Anita bisa berbuat apapun untuk melancarkan keinginannya."
Ameera memejamkan matanya, airmatanya keluar dan menghapusnya dengan cepat. Beberapa waktu ini perasaannya semakin hari semakin sensitif kalau ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Elena menyadarinya "Meera...."
"Maafkan aku, Mom..."
"Aku mengerti perasaanmu sekarang."
Ameera menggeleng dengan wajah tertunduk "Robert belum menghubungiku sama sekali, setelah ia membawa Alana dan Julie. Aku bahkan tidak bisa menemui kedua putriku sendiri, entah apa yang membuat Robert berubah begitu cepat."
Elena merasakan kepedihan yang dirasakan Putrinya dan Ameera sudah mengerti bahwa semua ini ada hubungannya dengan Kekuasaan yang dimiliki Keluarga Seymour.
Perubahan sikap Robert, kehilangan pekerjaannya yang secara tiba-tiba. Semua terasa janggal, tapi Elena tidak mudah tertipu karena sejak awal ia sudah menduga hubungan Harumi dan Liam pasti akan berdampak panjang pada orang-orang disekelilingnya.
Karena dendam masa lalu Anita belum usai.
"Tenanglah, Meera. Ibu yakin Robert akan berubah dan kembali padamu. Terutama kedua putri kalian." ada perasaan bersalah tergambar jelas di wajah wanita paruh baya itu. Ia mengusap bahu Meera dan sekilas menatap undangan itu yang masih dalam genggamannya.
Aku berjanji, akan mengembalikan semua keadaan ini menjadi membaik. Percayalah Meera
...****************...
Berbagai kesibukan di kantor yang kini sedang di lakukan Harumi cukup menyita waktunya.
Persiapan untuk acara tersebut mulai sedikit demi sedikit rampung, dan deadline acara itu pun semakin dekat.
Harumi bekerja sangat giat, ia menyukai kesibukannya. Seolah itu sedikit membantunya melupakan akan semua masalah-masalah yang tengah dihadapinya.
Walaupun ada saja staff di sana yang masih menggunjingkannya, membicarkan perihal pemberitaan tentangnya seolah menganggap Harumi sebelah mata. Tapi Harumi menutup telinganya rapat-rapat. Ia tidak ingin menggubrisnya.
Anita memberikan kebebasan padanya untuk apapun yang bisa ia lakukan di Perusahaan.
Tapi, Harumi sama sekali tidak pernah melewati batasan. Ia bekerja secara profesional. Ia mengatur semua persiapan dan memimpin beberapa staf di Gallery dengan sangat baik.
Tanpa terkecuali adanya Cathy yang selalu mendampinginya.
Harumi memang bersikap dingin pada Cathy, tapi itu jauh lebih baik daripada ia harus mengingat-ngingat apa yang sedang mereka alami saat ini.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Cathy yang tampak merasa bersalah, sikapnya seolah kebingungan jika ia harus menerima perintah dari Harumi. Ada perasaan yang mengganjal, dan terkadang jika ada waktu luang saat bekerja bersama entah itu sesingkat apapun. Cathy selalu menyempatkan untuk meminta maaf dan memohon-mohon agar Harumi menerimanya kembali sebagai sahabat baiknya seperti dulu.
Tapi, tentu saja Harumi tidak bergeming. Sikapnya cuek dan dingin. Ia bungkam dan hanya berbicara jika menyangkut masalah pekerjaan.
Ia tidak ingin lagi mendengar masalah pribadi yang terhubung antara dirinya, Cathy dan juga Anton.
"Mrs. Nayaka ada yang ingin menemui anda ?"
Harumi menerima laporan dari Cathy melalui telepon di meja kerjanya.
"Who ?"
Belum sempat menjawab, terdengar suara pintu terbuka.
Seseorang membuka dan mendorong pintu tersebut.
Harumi meletakkan gagang teleponnya kembali, lalu tatapannya teralihkan pada sosok itu.
Wajahnya tampak penasaran, siapa yang sedang memasuki Ruang Kerjanya.
Orang itu masuk, dan tentu saja Harumi terpaku ketika ia melihat jelas siapa yang sedang berjalan menuju ke arahnya saat ini.
Liam.
"Apa aku mengganggumu Mrs.Nayaka ?" ucap manis dengan gurauan tergambar jelas di wajah tampannya
Liam tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wanita itu.
Pria itu berdiri tepat dihadapan Harumi, memandanginya dalam hening. Samar-samar kedua sudut bibirnya naik "Apa aku tidak boleh menemui wanitaku ?"
Wajah Harumi mulai merah dan merasakan jutaan kupu-kupu berterbangan di dalam dadanya. Ia tersenyum walaupun terlihat tidak nyaman karena gejolak yang menggebu-gebu terasa intens di dalam dirinya.
Wanita itu berjalan mendekati Liam, dan...
Harumi memeluknya.
Memeluk pria itu dengan erat.
Dan meletakkan wajahnya tepat di dada Liam, seutas senyuman menghiasi wajah cantiknya "Aku merindukan aroma ini" bisiknya dengan lembut
Liam membalas pelukannya, ia mencium puncak kepala Harumi dengan sangat romantis seolah itu adalah puncak kerinduan yang terbayar penuh.
Pria itu menarik tubuh Harumi semakin dalam pada dirinya, tangannya mengusap rambut hitamnya yang panjang "I miss you, my love."
Gejolak panas menjalar tak terduga di dalam diri Harumi, wajahnya semakin memerah. Dan ia bisa merasakan telinganya membesar ketika ucapan-ucapan manis terlontar dari bibir Liam.
Liam bukan pria kaku yang tidak paham dengan apa yang sedang dirasakan Harumi saat itu.
Perlahan-lahan kedua tangan pria itu turun tepat di pinggang rampingnya.
__ADS_1
Ia mencengkeramnya, lalu hal tak terduga terjadi.
Liam mendorong tubuh Harumi hingga tepat menyentuh tepi meja kerjanya.
Ia menggeser barang-barang diatas meja dengan sekali ayunan hingga berjatuhan ke lantai.
Wajah Harumi sempat terkejut, tapi sebelum ia membuka bibirnya.
Liam sudah mengangkat tubuhnya ke atas meja, mendudukkan Harumi di sana.
Debaran jantungnya semakin menjadi-jadi di saat kini posisinya setara dengan Liam.
Harumi bisa melihat kedua matanya, ia bisa memperhatikan tatapan Liam lekat dari jarak yang sangat dekat. Hidung keduanya saling menempel dengan napas halus yang terasa dari napas masing-masing.
Liam membelai pipi Harumi dengan sangat lembut.
"L-Liam..."
Harumi merasa gugup dengan sikap manis Liam "Kita sedang berada di kantor, aku takut--" ucapan Harumi terpotong saat Liam menciumnya. Hanya ciuman singkat tapi ampuh membuat Harumi terdiam.
"Tidak ada yang akan berani mengganggu kita." ucap Liam dengan seringai menyebalkannya.
"Kau sungguh tunangan yang buruk!"
Liam tersenyum kecil "Kau pikir aku harus menahan diri setelah berhari-hari meninggalkanmu."
"Tapi, aku sedang bekerja. Kita bisa bertemu di Rumah." Harumi memicingkan matanya pada Liam
"Aku tidak ingin menahannya lebih lama lagi" Liam membelai bibir wanitanya, Hati Harumi langsung mencelos dengan ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya.
"Tapi kau sedang berada di ruanganku, dan sekarang masih jam kerjaku. Jadi kau hanya tamuku. Not My Lover." Harumi mengalungkan kedua tangannya pada belakang leher Liam, menggoda dan mengejek dalam waktu bersamaan.
Liam tertawa rendah "Aku bisa membayar waktu kerjamu hari ini, dengan satu jet pribadiku sebagai hadiah."
Harumi membuang mukanya dari Liam "Apa kau coba menyuapku ? Itu tidak akan berhasil."
"Benarkah ?" Liam meraih pipi Harumi agar menghadapnya. Kemudian mencium bibir Harumi dengan sangat lembut, dan sialnya naluri alamiah Harumi membuat dirinya membalas ciuman dari pria itu.
Liam tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian tangan pria itu beraksi pada tubuh Harumi, perlahan turun dan mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.
Dan bibirnya merayap pada pipi hingga ke leher, dan membuat Harumi melenguh. Liam berbisik "Kau milikku maka ikuti perintahku"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote ya
Thank you ❤
__ADS_1