
Liam menarik napas kasar "SIAL !!! Apa yang kalian LAKUKAN SAMPAI MELALAIKAN TUGAS YANG KUBERIKAN ?!!!!!" suara serak menggema seketika
Dia marah. Dadanya memompa dengan kencang seluruh napas yang mengalir di tenggorokannya, wajahnya sarat akan kemarahan yang tak terkendali.
"Maafkan kami, Tuan. Kami lalai, dan kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Mr. Whiston kini sudah dibawa ke Rumah Sakit dan ditangani oleh beberapa Dokter. Dia sekarang berada di Ruang Operasi karena kondisinya yang cukup kritis. Kejadiannya sangat cepat, sekitar jam 7 malam waktu Bristol. Saat itu terjadi Mr. Whiston keluar menjemput Puteranya Ben."
Kemarahan itu setibanya berubah. Menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Rasa Bersalah.
Liam menahan napas, tanpa menyahut. Ia menutup panggilan tersebut.
Pria itu hanya diam berdiri membeku, ia menggenggam erat ponsel ditangannya. Tatapannya kosong menghadap ambang pintu.
Dalam kecemasannya, Liam merasakan tancapan pedang yang tajam di tubuhnya.
Perlahan ia menutup matanya, dan selama hidupnya ia tidak pernah merasakan tersudut seperti sekarang. Terhimpit oleh keadaan, berputar-putar dalam pemikirannya yang sudah terlalu sesak.
Apakah ini jalan yang harus ia lewati lebih dulu agar bisa Bahagia ? Atau Harusnya ia sudah sadar bahwa jalan yang mereka ambil salah ? Harus berapa banyak lagi yang akan menjadi korban demi mengutamakan keinginan mereka ?
...****************...
Di dalam perjalanan, Liam masih diam. Tapi tidak di dalam pikirannya. Otaknya bekerja begitu keras, hati dan akal sehatnya berperang hebat. Entah apa yang harus diutamakannya.
Ia tidak akan menyerah begitu saja, walaupun dorongan untuknya berhenti sempat mempengaruhinya beberapa jam lalu.
"Sekretaris Will, siapkan penerbangan ke Bristol jam 10 nanti."
"Anda akan ke Bristol ?" Sekretaris Will yang duduk tepat di samping Sopir berbalik
Liam hanya mengangguk sekali lalu ia menoleh ke jendela.
"Baik, Tuan"
Setelah menempuh perjalanan, Liam tiba di kediamannya bersama Harumi.
Dia melangkah masuk dan langsung menuju kamar tidur mereka. Liam ingin segera bertemu dengan Harumi, melihat wanita itu.
Ia sangat merindukannya.
Dengan perlahan Liam membuka pintu, dan ia mendapati Harumi sedang tertidur di ranjang.
Pria itu cukup lama hanya berdiri menatapnya. Dari tatapan yang dipancarkannya, Liam sangat ingin memeluk wanita itu. Tapi, ia tidak ingin membangunkannya.
Kemudian, ia duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Harumi yang masih tertidur pulas.
Wajah Harumi begitu cantik, pipinya sedikit merona bahkan ketika ia tengah tidur. Rambut hitamnya yang tergerai panjang dengan gelombang-gelombang kecil menutupi sebagian wajahnya. Sama sekali tidak mengurangi keindahannya, Harumi tampak damai.
Tidak peduli sebesar apapun masalah yang sedang menghadang mereka, Liam tidak akan membiarkan nya menderita.
__ADS_1
Cukup. Sudah cukup orang lain menyudutkannya. Sudah saatnya, ini sudah waktunya mereka bergerak dan meluruskan semuanya.
Perlahan ia menyingkirkan juntaian rambut di kening Harumi, dan dengan lembut Liam mengusap pipinya.
Pria itu memperhatikan sambil tersenyum samar.
Sekilas Harumi refleks bergerak menggeliat ketika sentuhan itu terasa di wajahnya. Dan...
Ia membuka matanya. Harumi terbangun.
Ia sedikit terkejut "Sudah pulang ?" suaranya parau
Liam hanya tersenyum.
"Apa semua baik-baik saja ?" Harumi yang masih posisi terbaring, menatap Liam cemas
Liam mengangguk sekilas "Tidak ada yang pernah baik-baik saja." ia tertawa tanpa humor
Harumi mengangkat tubuhnya, duduk tepat dihadapan pria itu "Ada apa ?" matanya tampak sembab, Liam menyadari itu
Ia tidak bisa menyembunyikannya dari Liam. "Kenapa matamu selalu sembab ?" Ia menangkup wajah Harumi
Harumi memalingkan wajahnya "Hanya kurang tidur."
Bohong. Liam tahu itu, Harumi selalu menutupi kesedihannya. Tapi, Liam tidak pernah ingin memaksakan Harumi untuk selalu terbuka untuknya. Karena ia lebih menyukai jika Harumi berterus terang atas keinginannya sendiri.
"Rumi...aku akan berangkat untuk beberapa hari ke depan."
Liam mencoba bersikap biasa "Hanya beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan."
"Apa soal pemberitaan itu ?"
Sempat membuat Liam terkejut, karena pada akhirnya Harumi sudah mengetahui tentang hal itu "are you Ok ?" tatapannya cemas
Reaksi yang diluar dugaan Liam, Harumi cukup tenang menanggapinya "Aku tidak peduli dengan pendapat mereka, awalnya menyebalkan bagaimana mereka dengan santainya berkomentar sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasarnya. Jadi, untuk apa aku harus memperdulikannya. Dan satu hal lagi, ketika aku sangat mengkhawatirkan keluargaku. Ternyata kau lebih dulu melindungi mereka. Jadi, yang seharusnya kupercaya adalah keluargaku dan kau. Bukan media, rumor atau apapun itu."
Sungguh Liam tidak pernah menyangka akan melihat reaksi Harumi yang begitu berbeda tidak seperti yang pernah ia bayangkan "You're the bravest woman I've ever seen in my Life"
Liam menarik tubuh Harumi dan membawa dalam dekapannya. Harumi bisa merasakan dadanya berdetak tidak seirama, sekitar wajahnya terasa panas yang ia yakini kini berwarna merah seperti badut. Ia sedikit menyembunyikannya agar Liam tidak menyadarinya.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, untuk mengendalikan perasaan yang berlebihan dalam dirinya.
Tak lama kemudian, Harumi menaikkan tatapannya dengan hati-hati pada Liam. Perasaannya tiba-tiba gugup luar biasa.
"L-Liam..." suara Harumi hampir menghilang. Liam mengangkat satu alisnya.
"Thank you, sudah bertahan denganku" Harumi mencium bibir Liam dan memangut bibir pria itu dengan sangat lembut.
...****************...
__ADS_1
Sudah sejam, Harumi menyiapkan koper untuk perjalanan Liam.
Pria itu masih menyembunyikan maksud kepergiannya dari Harumi, ia tidak ingin merusak suasana hatinya saat ini. Ini terpaksa ia lakukan untuk kebaikannya. Dan ia meyakini, kalau Harumi belum mengetahui kedaaan ayahnya yang sedang terjadi di Bristol dari ibunya.
"Berapa hari kau akan di Italy ? Jadi aku bisa menyiapkan beberapa pakaian kerja" teriak Harumi sibuk di dressing room memilih beberapa kemeja kerja, celana, jas dan beberapa arloji. Yang padahal, biasanya setiap melakukan perjalanan, Liam hampir tidak pernah membawa koper pakaian. Karena semua sudah disiapkan oleh para Pelayannya di tempat manapun ia mendarat.
Tapi, ia tetap membiarkan Harumi melakukannya.
Liam yang masih terbaring di atas ranjang setengah telanjang dan sebagian kain selimut yang menutupi tubuhnya, tiba-tiba bangun dan bergegas menghampiri Harumi.
Pria itu langsung memeluknya dari belakang "Bisakah kau menemaniku saja di tempat tidur ?" suara serak dengan rambut yang masih berantakan. Sikap nakalnya, ia menyentuh tengkuk Harumi dengan bibirnya.
"Liam, hentikan!!" Pipi wanita itu langsung merah padam "Lihatlah bukankah kau harus segera terbang jam 10. Bahkan, kopermu belum satu pun yang selesai."
Liam terkekeh rendah "Aku masih terasa asing melihat mu menyiapkan pakaian untukku. Karena selama ini, sudah ada pelayan yang menyiapkannya. Bahkan terkadang Sekretaris Will ikut membantu."
"Liam, jika kau tidak melepaskanku. Bagaimana aku akan ..."
Pelukan Liam semakin erat, tangan kekar pria itu melingkar dengan mudah di tubuh mungil wanitanya.
Harumi yang masih mengenakan pakaian tidurnya yang berbahan tipis, itu membuat Liam bener-benar tergoda.
Pria itu tidak ingin membuang waktunya, ia mengangkat tubuh Harumi.
"Liam, apa yang kau lakukan ?!! Turunkan aku !!!" Harumi menggerak-gerakkan kakinya yang tidak lagi menyentuh lantai.
Pria itu membawa Harumi kembali di atas tempat tidur "Aku tidak akan menyianyiakan waktuku, aku ingin menghabiskannya bersamamu" posisi Liam yang kini berada tepat diatas Harumi, menatapnya dengan tajam.
Reflek, mata Harumi membesar. Telinganya tidak salah mendengar, kan ? Waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi. Sejam lagi.
"Aku cukup gila, membayangkan akan meninggalkanmu" Liam mencium leher Harumi.
Senyum Harumi mengembang perlahan. Hatinya melompat-lompat tidak karuan. "Stop it. Aku juga pasti akan merindukanmu"
Liam tidak merespon. Pria itu meraih dagu Harumi, menciumnya dengan sangat lembut. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Liam.
Ciuman keduanya semakin dalam, saling menyecap, lida* mereka bertali menyalurkan hasrat.
Gelenyar aneh seperti sengatan listrik menyentuh perasaannya.
Matanya terpejam, ketika Liam mulai menikmati setiap inchi tubuh Harumi setelah dengan lembut gaun tidur itu sedikit demi sedikit terlepas darinya.
Harumi meremas rambut Liam, ketika setiap cumbu** sensu** dari pria yang dicintainya.
"I Love you"
"I Love you, Liam"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤