Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 211 Moon River


__ADS_3

"Apa kau mulai menunjukkan taringmu ?!!"


Liam hanya merespon santai, sejak tadi ia sudah tidak ingin meladeni pembicaraan ini lebih lama "Aku tidak akan menyerahkan posisiku. Perusahaan yang sudah di jalankan ayahku, tidak akan...." tegasnya


"Roberto tidak akan sukses jika bukan ada campur tanganku. Apa kau pikir ayahmu adalah Pengusaha yang benar-benar Bersih, aku lah yang selama ini menutupi dan membereskan pekerjaan kotornya. Dia Pengecuuut, yang hanya bisa bersembunyi di balik kekuasaannya dan menjaga tangannya tetap bersih. Ayah kami terlalu memanjakannya, bahkan sampai akhir hayatnya ia mewariskan sebagian besar aset dan perusahaan kepadanya. Tidak peduli denganku yang justru adalah anak tertua dalam keluarga."


"Kalian tidak ada bedanya, aku tidak peduli dengan masa lalu kalian. Bagiku saat ini, Santa Monica harus kembali beroperasi. Dan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya."


Liam bergerak selangkah menuju pintu, tetapi terhenti seketika mendengar suara Luciano tertawa sumbang dan mulai berkomentar lagi.


"William...apa kau berpura-pura lupa dengan keberadaan Anthony ? Your--Brother." suasana langsung hening tepat setelah kalimat terakhir menggema di telinga Liam. "Bukankah dia juga memiliki hak atas kedudukan di Keluarga kita. Dan aku yakin kau sudah mengetahui hal itu. Sadarlah, Kau tidak bisa menguasai ini seorang diri, karena kau harus berhadapan dengannya."


Tampak intens, punggung Liam menegang. Ia mengepal erat kedua tangannya sambil menahan amarah di dadanya "Jika memang ia menginginkannya Silahkan, aku tidak peduli dan akan berhadapan dengannya."


"Walaupun sedarah, kalian memiliki sifat yang sangat berbeda. Anton sangat berambisi untuk mencapai tujuannya bahkan merelakan apapun demi mencapai puncak keinginannya. Dia Keras kepala dan berapi-api. Dan terlihat sekali dia begitu menyimpan dendam padamu, tapi uniknya kalian memiliki selera yang sama dalam hal wanita." Luciano menajamkan tatapannya, lalu berjalan mendekat. "Sayangnya, Anton masih belum mengetahui siapa yang sedang dilawannya ? Bagaimana jika ia mengetahui hal yang sebenarnya ? Bukankah dia akan semakin berambisi untuk menghancurkanmu. Well... Permainan ini benar-benar semakin menarik"


Liam menarik nafas dalam "Kebenaran mengenai masa laluku, tidak akan mengubah apapun."


"Lalu... bagaimana dengan wanita itu ? Apa kau bisa mempercayainya ? Bahkan kau tidak sadar, mungkin saja saat ini dia sedang menikmati hal intim dan bersenang-senang dengan ....seseorang"


"Apa maksud perkataanmu ?!!!" nafasnya memburu, suara beratnya seolah mengisyaratkan sesuatu yang mulai berkobar panas di dasar dirinya. Liam tidak menyukai orang lain berbicara buruk tentang Harumi. Apalagi tidak adanya bukti apapun yang akurat.


Liam tidak seharusnya merasa cemburu, karena ia sangat mempercayai Harumi.


"Sebaiknya berfokuslah pada masalah ini, tidak perlu terlalu memikirkan seorang wanita. Apalagi wanita yang belum sepenuhnya milikmu. Karena yakinlah, Dia sedang bersama seseorang yang bisa saja membuatnya lupa denganmu." Luciano menyeringai, menyentuh bahu Liam. Tatapan pria paruh baya itu melambangkan sebuah kemenangan besar karena ada sesuatu yang sedang dirahasiakannya.


Guratan wajah Liam mengeras "Bersama Seseorang ?!"


"Yah, apa kalian tidak saling..."


Sebelum Luciano menyelesaikan perkataannya Liam lebih dulu bergerak dengan cepat.


Sekretaris Will langsunb menghampiri atasannya tersebut, setelah ia melihat Liam keluar dari Ruang Rapat dengan langkah tergesa-gesa.


"Ada apa, Tuan ?"


"Where is she ?!" sambil menghubungi ponsel Harumi, Liam terus melangkahkan kakinya lebih cepat.

__ADS_1


Tapi, berulang kali Liam menghubungi.


Ponsel Harumi tidak aktif.


...****************...


"Apa kau berhasil membawanya ?"


"Hmm, kurasa aku tidak perlu melaporkan apapun denganmu."


"Dari bahasamu aku yakin wanita itu tengah bersamamu saat ini."


"Aku tidak akan membahas apapun kecuali pekerjaan yang sudah kita rencanakan dari awal"


"Wanita itu adalah salah satu bagian rencana kita, tentu saja aku perlu membahasnya denganmu. Dan satu hal lagi, jangan sampai kehadiran wanita itu dapat menghancurkan rencana kita. Kau dan Liam sama saja kalian lemah jika berhadapan dengan wanita itu. Jangan sampai ia bisa mempengaruhimu !"


Anton tidak merespon lagi, ia langsung menutup panggilan tersebut.


Lalu, ia berjalan dikoridor dan menuju sebuah kamar tidur.


Perlahan-lahan ia mendorong pintu, hingga ia mendapati seorang wanita tengah duduk seorang diri tepat di sebelah jendela yang kacanya tertutup rapat.


Anton bisa mencium aroma vanilla dan Jasmine yang tidak asing baginya. Aroma yang cukup lama sangat dirindukannya.


Wanita itu berbalik, menatap sinis "Sudah kukatakan, kau tidak perlu memperlakukanku seperti sandera yang bisa kau manfaatkan. Mengunci dan mengurungku seperti ini. Bukankah ini atas keinginanku sendiri untuk ikut bersamamu ? Beginikah kau memperlakukan istrimu atau wanita-wanita lainnya ?" sindirnya sinis


Anton membalas dengan tatapan lebih tajam, ia diam sejenak sampai akhirnya ia membuka bibirnya "Aku tidak percaya denganmu. Mungkin saja kau akan bertindak lebih buruk."


"Apakah kau belum sadar juga, Itulah yg menghancurkan hubungan kita, kau selalu tidak mempercayai dirimu sendiri dan selalu melempar kesalahan padaku atas semua kejadian yang sudah kita alami. Disaat aku berusaha memperbaiki pernikahan kita, kau selalu memilih untuk menjauh dan bersembunyi di balik pekerjaanmu yang tidak pernah selesai. Kini, disaat aku bersama orang lain..."


"ENOUGHT !!!!" bentaknya memecah suasana berubah semakin menusuk


Harumi mendekat "Itu benar, kau hanya ingin membalaskan dendam pada Liam tapi pada akhirnya kau sudah mengetahuinya. Kau tidak akan mendapatkan APAPUN. Selain PENYESALAN"


Dada pria itu bergemuruh hebat, karena serangan Harumi yang semakin menyudutkannya.


Harumi melemparkan aura kebencian tersirat di wajahnya "Aku yang akan menghadapimu , Aku sendiri yang akan melawanmu. Tidak akan ada lagi yang harus menjadi Korban atas kesalahanku. Jika memang KEMATIAN adalah jalan terakhir, Aku sendiri yang akan memastikan bahwa kita akan mengakhiri ini bersama. Karena sudah cukup, orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban." kedua matanya menyiratkan sesuatu yang perih mendalam. Keberaniannya adalah pembuktian bahwa Kesempatan Terakhir dalam Pernikahannya akan menjadi hal yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


...****************...


"Liam" tegur Anita melangkah menghampiri Puteranya yang tengah berdiri di Balkon kamarnya.


Tatapan Liam datar, ia diam dan hanya menatap kedepan tanpa ekspresi apapun.


"Liam" panggil Anita lagi, lalu menyentuh pundak Puteranya dengan lembut. Tapi, Liam tetap tidak merespon. "Anakku, bicaralah dengan ku. Jangan berusaha memendamnya seorang diri."


Pundak Liam yang mengeras seolah mengisyaratkan banyaknya beban dan tanggung jawab besar sedang bertumpu padanya.


"Maafkan ibu, nak. Karena kelalaian ku. Harumi..."


Liam langsung berbalik.dan memilih mengacuhkan ibunya.


"Dengar Liam, sebaiknya jangan pernah mempercayai Luciano. Aku yakin dia ada hubungannya dengan semua ini."


"Kumohon, Pergilah" akhirnya pria itu membuka suara sambil berjalan lalu duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya pada kedua tangannya.


"William, as your mother. Aku tidak akan membiarkan siapapun berusaha menghancurkanmu."


Tidak berapa lama, ponsel Liam berdering.


Sigap pria itu langsung meraih ponselnya dari nakas.


Panggilan dari Sekretaris Will.


"We found her, kami menemukan lokasinya."


Mendengar kalimat itu, Liam bergegas berdiri lalu meraih mantelnya sambil terus menempelkan ponsel pada telinganya "Where ?"


Sudah berlangsung selama tiga hari, Liam tidak mengetahui keberadaan Harumi. Ia seolah menghilang begitu saja tanpa kabar, ponselnya tidak aktif. Bahkan orang-orang yang terakhir kali bertemu dengannya tidak bisa memberikan jawaban apapun. Termasuk Cathy.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan vote


Thank You 🥰

__ADS_1


__ADS_2