
Liam berjalan keluar kamar, ia membuka pintu dan kulihat berbicara dengan salah satu pelayan wanita.
Tak lama Liam masuk kembali membawa sesuatu, seperti tas kecil berwarna merah cerah dan satu mangkok berisi pecahan es batu.
"Kau bisa menggunakan ini, aku tidak faham cara pakainya, tapi menurut pelayan, ini bisa digunakan untuk menutupi" ucap Liam yang meletakkan benda-benda tersebut di atas meja.
Ia mendekatiku dengan perlahan, wajahnya tampak menyesal. Liam begitu berhati-hati berbicara padaku saat ini.
Aku masih berdiri tak menatapnya sama sekali, tapi aku bisa mendengarkan semua perkataannya dengan jelas.
"Kau bisa di sini dulu, aku ke bawah menemui Anton."
Liam tak berhenti memandangiku yang bahkan aku sendiri buang muka tak ingin melihatnya.
"Maaf kan aku...." Lanjut Liam, ia langsung membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Sikap Liam berubah dari sebelumnya, aku tau ia sangat menyesal atas perbuatannya.
Aku memang terlalu lemah sehingga tak bisa menyadarkan tindakan Liam tersebut.
Mataku mulai tertuju pada benda-benda yang dibawa Liam tadi, sebuah tas kecil berwarna merah.
Kubuka ternyata isinya beberapa alat kosmetik, ada bedak, lipstik dan foundation. Ini pasti milik pelayan wanita yang berbicara dengan Liam tadi.
Mungkin maksudnya, ini bisa membantu menutupi pola merah di leherku.
Aku menghela nafas panjang, mataku masih tampak sedih. Kucoba memaksakan diriku begerak menghias diriku menggunakan alat-alat kosmetik itu dan mengambil sedikit es batu di mangkuk untuk mengompres mataku yang sembab.
***
Ruang Kerja Liam
Kini kedua pria tersebut sudah berada di ruangan, duduk bersama.
Liam tampak tenang, ia tak menampakkan tingkah canggung di hadapan Anton setelah apa yang dilakukan nya pada Harumi.
"Maaf sudah menunggku" jawab Liam santai
"Tidak apa-apa Liam, aku sudah menyelesaikan beberapa tugas kerjanya. Tak kusangka Proyek besar yang di bahas tadi sudah berhasil disetujui, ini menghasilkan banyak keuntungan. Beberapa Vendor pun mulai menyelesaikan dengan cepat, solusi dari anda sesuai dengan hasil yang diinginkan semua pihak. Anda memang luar biasa "
Wajah Anton tampak sumringah, ia senang karena banyak pekerjaannya berhasil dan menghasilkan keuntungan untuk perusahaan.
__ADS_1
Liam memandang sinis ke arah Anton, ia seolah tampak masih memendam amarah dengannya. Sorot matanya tak bisa diragukan lagi, Ambisi Liam untuk berkompetisi dengan Anton masih sangat besar. Keinginannya merebut Harumi semakin tidak terbendung, ia tak peduli risiko nanti.
"Lama sekali ia pergi ke kamar kecil" ucap Anton dengan pelan, ia tampak bingung, karena Harumi tak kunjung kembali ke ruangan mereka.
"Sepertinya Istrimu tengah asik berkeliling melihat lingkungan di sini" jawab Liam dengan senyuman angkuh ke arah Anton
Tak lama berselang, Harumi memasuki ruangan tersebut. Ia berusaha menutupi kejadian tadi, langkah kaki nya mengejutkan Liam yang duduk membelakangi.
Ekspresi Harumi datar dan memaksakan dirinya tersenyum kepada Anton.
"kita pulang sekarang" tegasku yang menatap Anton yang masih duduk dan aku yang kini berdiri dihadapannya.
"Kau kemana saja ?" tanya Anton yang bingung dengan kehadiranku, ekspresi suamiku sendiri seolah mencurigaiku.
Sebelum aku menjawab pertanyaan suamiku, Liam memotong pembicaraan kami.
Ia tau aku terlihat masih marah kepadanya.
"Ia bersama pelayan melihat Taman Bunga yang akan di kerjakannya" potong Liam yang memperhatikanku dan berusaha memperbaiki keadaan.
Liam melirik ke bagian leher Harumi, ternyata tanda-tanda merah di lehernya sudah tidak ada. Ia tersenyum tipis, ia yakin Harumi menggunakan kosmetik yang diberikannya untuk menyamarkan.
Aku tidak mendengarkan semua yang dikatakan Liam. Yang kuinginkan hanya bisa segera keluar dari tempat ini.
"Maaf Liam, aku sangat berterimakasih untuk hari ini. Semoga perjalanan pulang anda lancar" Anton mengulurkan tangannya.
"Baiklah, Aku tunggu progresmu ke depannya" Liam menyambut uluran tangan Anton. Liam mencuri pandang melirik ke arahku. Aku tak ingin melihatnya aku hanya membuang muka.
Anton melirikku, sorot matanya seolah memberi kode kepadaku agar bersikap lebih ramah dan membalas ucapan Liam.
"Terimakasih" jawab sinisku, kemudian dengan langkah cepat berjalan menuju pintu.
Di luar ruangan, ada sekretaris Will yang tersenyum dan mengantarkan kami.
***
Perjalanan di Dalam Mobil
Aku terlihat murung dan diam sejak pulang dari Mansion Liam, Anton tengah fokus mengendarai mobil. Sesekali ia meliriku yang hanya melamun sepanjang jalan.
"kenapa daritadi kau diam ?" tanya Anton membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"hanya memikirkan Toko dan Beatrix" jawabku dengan pelan.
"Aku senang karena Liam sudah mempercayakan pekerjaan penting kepadaku, jika beberapa Proyek Milyaran bahkan ada 2 proyek besar bernilai Triliunan nanti berhasil aku eksekusi, Liam akan memberikan 4% saham perusahan kepadaku. Luar biasa !"
Anton tampak antusias menceritakan pencapaiannya selama ia bekerja sekarang ini. Ia seolah tidak memperdulikan kondisi ku.
Aku hanya bisa mendengarkan semua kebahagiaan yang dirasakan suamiku saat ini. Melihatnya seantusias itu, aku tidak ingin berkomentar apapun untuk menghancurkan impiannya.
Anton memang sangat mengejar kariernya, jika ia berhasil mendapatkan saham itu. Itu akan membuat derajatnya semakin bagus di mata para pengusaha kelas atas.
"Antarkan aku ke Toko " pintaku
Tangan kanan Anton seketika menggenggam tanganku dengan erat. Ia memandangku sambil tersenyum lepas. Sambil mengemudi dengan satu tangannya, ia tak melepas genggaman tangannya.
Sudah lama sekali aku tidak pernah melihat senyuman suamiku seperti ini. Hatiku pun dengan sendirinya langsung luluh. Melihatnya begitu bahagia. Sentuhan hangatnya membuatku terbuai dan tenang.
"terimakasih sudah menemaniku, Rumi. Sudah bersabar untukku"
"aku mohon jangan berkata seperti itu...." aku tak sanggup mendengar suamiku mengatakan itu, aku akhirnya memecahkan suasana haru saat itu. Air mata kembali keluar dari pelupuk mataku, kali ini air mata penuh rasa bahagia dan haru yang sangat kurindukan.
Aku terisak menangis, aku tak peduli apapun lagi. Air mata yang tak hentinya mengalir membuatku semakin menangis. Aku menangis bahagia karena sudah lama menunggu ia mengucapkan kata-kata manis itu. Yang kuinginkan selama ini hanya Anton, suamiku, suami yang mencintaiku dengan segala kekuranganku.
Anton menghentikan mobil menepi jalan. Ia langsung menarik dan memelukku dengan erat.
Ia mengusap kepalaku, menenangkan ku.
"Maaf sayang, jangan menangis lagi"
Anton memang sejak kemarin mulai berubah, ia kembali seperti dulu, sejak pertama kali aku mengenalnya. Anton yang kukenal dulu lembut dan sangat memperhatikanku.
Aku membalas pelukan hangat dari suamiku. Ia memang bukan Pria yang sempurna, banyak kekurangan padanya. Begitu juga aku yang tak bisa memberikan kesempurnaan untuknya.
Tuhan pasti akan menjawab doa-doaku selama ini pada waktu yang paling indah. Aku tidak membutuhkan Anton sebagai Direktur Utama, atau seorang pengusaha kaya raya. Aku hanya ingin Anton, Pria yang kukenal dulu. Pria yang mencurahkan hatinya untukku. Mencintaiku seutuhnya.
"Aku mencintaimu" bisikku
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1