Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 61 Pertemuan Hangat


__ADS_3

Cathy tersentak menatap wajah Liam yang sangat dekat dengannya.


Ia melihat cengkraman tangan kuatnya, kemudian menatap kembali ke arah Pria yang di sembunyikan Harumi darinya.


"Ba..gaimana kau..." tanya Cathy terbata-bata, kini pikirannya penuh dengan banyak spekulasi dan pertanyaan tentang bagaimana sahabatnya itu bisa mengenal Pria seperti Liam.


"Cepat Katakan...dimana dia!" Liam mulai geram menaikan nada bicaranya, menghentakkan Cathy lagi. Bahkan mengangkat lengannya lebih tinggi.


"Kami datang bersama, tapi mungkin anda salah orang. Tidak mungkin Harumi yang anda..." Cathy coba memastikan lagi bahwa tak mungkin yang ia maksud Harumi sahabatnya.


Liam perlahan melepaskan cengkramannya, akibatnya lengan kiri Cathy sedikit memerah. Tapi Cathy tak mempermasalahkan itu sekarang.


Ekspresi Cathy masih keheranan, kedua alisnya berkerut, matanya menyipit menatap Liam yang berjalan menjauhinya.


Dari belakang Punggung Liam tampak sangat tegang.


Langkah kakinya mulai semakin cepat, ia mengambil ponselnya kembali lalu menghubungi Seseorang "She's here, Pak Will Cepat temukan dia .Jangan ada yang terlewatkan di gedung ini"


"Liaaaamm..."panggil Olivia mencoba mengejarnya.


Tapi, langkahnya terhenti karena dihalang oleh dua pelayan pria yang memang sudah di beri kode oleh Sekretaris Will untuk menghambat Olivia.


Sekretaris Will menyusuri perlahan satu per satu tiap sudut Gedung tersebut dengan tenang, agar tidak mengganggu kenyamanan para tamu.


Tapi tak kunjung menemukannya, ia cukup kesulitan karena banyaknya tamu yang memenuhi tempat Acara.


Liam dengan langkah tergesa-gesa, tak melepaskan pandangannya pada setiap tamu wanita yang hadir di sana. Ia menatap satu per satu wanita yang memiliki rambut hitam panjang dan postur mirip Harumi, tapi tetap tidak menemukannya.


Saat ia mulai menaiki anak tangga menuju Lantai tiga, Anita melihat anaknya lalu memanggil "Liam...Liam..."


Panggilan sang ibu tak sampai ke telinga Puteranya, ia terus berjalan tak memperdulikan situasi apapun di kiri dan kanannya.


Balkon Tepat di lantai tiga, sosok wanita berambut panjang hitam, mengenakan dress hitam dengan potongan terbuka di punggungnya terekspos bebas kulit putihnya. Yeap wanita itu adalah Harumi yang memilih menghabiskan waktunya menyendiri di tempat itu, setelah kejadian memalukan setengah jam lalu.


__ADS_1


Tak ada aktivitas apapun yang dilakukannya di sana, hanya memandang keramaian di bawah, melihat langit malam penuh cahaya bintang berlomba dengan cahaya sorot lampu pesta dan tentu saja tujuan utamanya ia ingin bersembunyi.


Awalnya Harumi ingin pulang lebih dulu, tapi diurungkannya karena tak ingin merusak malam Cathy di pesta ini yang sudah dipersiapkannya dengan baik.


Harumi berdiri dengan ditopang kedua tangannya, dari samping garis lekukan tubuh indahnya makin terlihat mempesona.


Hanya ia seorang yang berdiri di Balkon tersebut, terdengar jelas riuh suara musik dari dalam. Tapi Harumi tetap menikmati dengan caranya sendiri.


Suara asing samar-samar sampai di telinga Harumi, bercampur dengan irama musik, tapi bisa di kenali bahwa ada suara sepatu seseorang melangkah di belakangnya dan berhenti.


Harumi perlahan menegakkan tubuhnya, tetap berpegangan erat pada pagar balkon, kedua kelopak matanya berkedip pelan, bahkan dadanya bernafas dengan hati-hati.


Tentu saja, ada seseorang di belakang punggungnya. Suara langkah sepatu itu terdengar lagi, ia merasa orang itu berdiri sedikit lebih dekat dari jarak tubuhnya.


Harumi mencoba melepas genggaman kedua tangannya di pagar, dan memutar pelan tubuhnya. Pandangan matanya masih ke bawah lalu bulumata lebatnya terangkat.


Jantungnya tiba-tiba dipompa dengan sangat kencang, nafasnya seakan terhembus dengan kuat, matanya membesar, bibir pink Harumi terbuka. Sosok seseorang yang di belakangnya hampir menggoyahkan tubuhnya.


"Lii..am" lirihnya terbata-bata, tangannya terangkat menutup bibir.


Tak ada penghalang apapun yang berarti lagi untuk mereka, sekarang di pesta penuh kemeriahan, musik yang masih berdentang, keramaian para tamu, dan tentu saja Harumi tidak akan melihat Balkon ini dengan pandangan yang sama lagi nantinya.


Liam menatap tajam ke sosok wanita yang sudah membuatnya kecanduan itu dengan penuh gairah terpendam di kedua matanya. Melangkah semakin dekat, hasrat yang sangat ingin ia sampaikan kepada Harumi sudah tak bisa terbendung.


Kedua kaki Harumi melangkah mundur dengan hati-hati, sorot mata Liam sudah seakan mulai merangkul nya, walaupun pria itu tak mengucapkan sepatah katapun.


Tapi langkahnya semakin cepat.


Harumi sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi Liam langsung membungkamnya dengan bibir.


Liam menciumnya.


Rasa kaget merambat turun di tulang punggung Harumi. Pertama, ciuman itu hampir tidak menyentuh, tetapi bibir Harumi tergelitik dan panas, seolah-olah dia ditantang untuk mencium matahari.


Bibir Liam kembali menyapu bibirnya sementara dia meletakkan tangan di dada pria itu, siap untuk mendorong Liam menjauh, tetapi kemudian Liam menggigiti bibir bawahnya.

__ADS_1


Gigitan-gigitan kecil yang membangkitkan gelombang gairah muncul entah dari mana.


Liam menggigiti sudut bibir Harumi seraya menariknya ke dalam pelukannya, merangkap tangannya di antara tubuh mereka.


Tangan Liam mulai berjalan jalan di punggung Harumi yang terbuka, bisa ia rasakan dengan jelas sentuhan kedua kulit mereka sudah tak ada penghalang apapun lagi.


Ya Tuhan, Liam mencium sudah seperti pria yang ingin memakan Harumi seutuhnya.


Sambil menggoda bibir Harumi yang tertutup rapat, Liam terus mendesak, menuntut Harumi untuk membuka diri untuknya.


Harumi tidak dapat menghentikan reaksinya pada ciuman itu, tidak peduli seberapa besar dia berharap , ia tidak terpengaruh oleh ciuman itu. Dia ingin dirinya tidak terpengaruh oleh serangan sensual itu, untuk tetap benar-benar dapat mengendalikan dirinya, tetapi rasa mendamba bangkit dari dalam dirinya, menyebar seperti kobaran api.


Bibirnya membuka saat ia mendes*h, dan Liam mencec*p ke dalam, dengan perlahan menjajaki setiap sudut di dalam mulutnya.


Rasa Wine perpaduan Champagne yang memabukkan sangat terasa di kedua lidah mereka semakin kuat dan dalam.


Ciuman itu, menjadi semakin dalam dan alih-alih mendorong Liam menjauh, tangannya mencengkeram tuxedo berbahan kaku yang dikenakan Liam, menahannya di tempat.


Liam menciumnya seakan-akan mampu menundukkan Harumi dengan lidahnya. Dan nyaris berhasil melakukannya.


Saat bibir Liam meleleh bersama bibir Harumi, tangan Harumi mengejang di tuxedo Liam. Untuk sejenak dia menjentikkan lidahnya ke lidah Liam, membalas ciuman pria itu. Geram balasan Liam menggema di dalam dada pria itu dan cengkraman di tubuh Harumi semakin erat.


Ketika akhirnya Liam mengangkat kepala, nafas Harumi memburu dan tatapannya tidak fokus.


"Rasamu sangat manis dan memabukkan" ujar Liam dengan suara serak, sambil melepaskan pelukan dan memberikan jarak di antara mereka.


Harumi tersipu sambil mengangkat tangan ke bibirnya. Tentu saja, terasa lembab dan agak sedikit bengkak sekarang.


Liam menyentuh dagu Harumi dengan sangat lembut, ibu jarinya mengusap wajahnya. Memandanginya tak berkedip, dan seketika mendaratkan kecupan manis di keningnya.


"Ikutlah malam ini, aku ingin menghabiskannya denganmu." bisik Liam, desiran panas merayap untuk kesekian kalinya di tulang punggung Harumi.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 💋


__ADS_2