
"why ?" pandangan Anton lebih dalam "why...me ?"
"Why not you ?" balas Luciano cepat
Sontak Anton diam, tapi di dalam dirinya yang terdalam ia masih merasakan sesuatu yang belum ia fahami.
Walaupun ia sangat kecewa dan sangat menyakitkan setelah mengetahui kebenaran itu. Jauh di lubuk hatinya, Anton ingin mengetahui lebih dalam Apa yang sebenarnya telah terjadi, Rahasia apa lagi yang masih tersembunyi.
Tapi jika mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya, Harumi dan juga Liam. Api amarah itu kembali menguasai Anton lebih panas, bagaimana hidupnya begitu terpuruk karena semua masalah yang dialaminya.
Wajah Harumi selalu terbayang dalam pikiran Anton, walaupun kini Harumi sudah kembali padanya. Tapi, itu bukanlah Harumi, bukan istrinya yang dulu. Harumi lebih dingin dan tidak mudah ditebak.
Sekarang ini, Harumi bukanlah seperti wanita yang dikenal Anton dulu.
She is Different.
...****************...
"Iam sorry" ucap Sekretaris Will
Liam diam dalam keheningan yang menusuk, ketika setibanya di rumah itu.
Pria itu hanya berdiri dengan wajah dingin memandangi sebuah gaun malam yang indah tergeletak dengan rapi di atas tempat tidur.
Tepat di hadapannya, gaun indah yang terakhir kali dikenakan Harumi saat pesta malam itu. Menyayat jauh di dasar diri Liam karena ia hanya menemukan gaun itu.
Liam tidak menemukan Harumi di sana, hanya sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni.
Sorotan matanya begitu lekat, Liam seolah tenggelam dengan semua pikiran-pikirannya yang tidak dapat ditebak sedikit pun.
Ia melangkah perlahan, meraih gaun itu dan meremasnya dalam genggamannya.
Sekretaris Will yang masih berdiri tak jauh dari Liam, hanya bisa memperhatikan atasannya dengan perasaan tidak nyaman.
Liam membisu dan terus memandangi gaun itu dalam genggamannya, sorotannya tajam. Ketegangan menyeruak pada dirinya, seakan amarah siap meledak-ledak tapi Liam seolah menahan sekuat nya.
"Tuan ?" sahut Sekretaris Will kembali
Liam tetap tidak merespon, sikapnya sangat berbeda ketika awal ia tiba di rumah itu. Awalnya ia sangat antusias setelah mengetahui kabar keberadaan Harumi.
Tapi pada kenyataannya, tidak ada Harumi di rumah itu. Hanya gaun itu yang ditemukannya di dalam kamar tidur.
Gaun malam yang terakhir kali Harumi kenakan saat Pesta malam waktu itu. Bahkan Liam masih bisa merasakan aroma Harumi yang begitu manis di ruangan itu.
"Tuan Liam, anda harus melihat ini" Sekretaris Will mengulurkan tangannya dan memberikan sesuatu pada Liam
Tapi, pandangan Liam benar-benar tidak teralihkan. Ia seakan sudah tidak memperdulikan lagi dengan apapun kecuali kekecewaan yang merenggut dirinya saat itu.
Melihat kondisi atasannya itu, yang bisa dilakukan Sekretaris Will hanya meletakkan benda itu diatas ranjang.
Dan itu berhasil menarik perhatian Liam, sorotannya teralihkan pada benda tersebut.
"How you found this ?!" tukas Liam cepat, ia langsung mengambilnya
__ADS_1
Itu adalah handphone milik Harumi yang diberikan Liam padanya, dan satu benda kecil lagi yang hampir merusak konsentrasinya.
Benda itu, cincin yang di lingkarkan Liam di jari manis Harumi. Cincin saat Liam melamar Harumi.
Handphone dan cincin.
"What this ?!" suara berat Liam tergambar seolah ada sesuatu yang begitu tajam menombak tepat didadanya.
"Tuan..."
"Kenapa SEMUA INI ADA PADAMU ? Dimana kau menemukannya ?!!!! WHERE IS SHE ?!!!" amarahnya meledak, Liam langsung menarik kerah kemeja Sekretaris Will dengan kencang. Hingga tubuh pria paruh baya itu terhuyung tak berdaya ketika Liam menariknya dengan kasar "Where is She ?!!!"
Tatapannya saling beradu, tetapi Sekretaris Will hanya diam. Tatapan membara Liam semakin menjadi-jadi, ia tidak sabaran dan terus mempererat cengkeramannya sampai pria itu sulit bernapas dengan benar.
Tetapi tidak terduga, Sekretaris Will tidak mengucapkan sepatah katapun membiarkan atasannya tersebut berbuat sesukanya. Melampiaskan semua kemarahannya.
"Apa yang kausembunyikan dariku ?!" Liam mengoyak keadaan itu menjadi semakin memanas
Dua hari yang lalu....
"Hallo, Sekretaris Will"
"Mrs. Harumi ?" ketika Sekretaris Will hendak menghampiri Liam untuk memberikan ponsel, Harumi langsung menghalanginya
"Sekretaris Will, please. Jangan biarkan Liam mengetahuinya "
"Kenapa anda menghubungi ke nomor saya ?"
"Hanya kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini."
"Its Ok, Iam fine. I need your help."
Sekretaris itu terdiam, lalu beranjak pada Ruangan yang berbeda dengan Liam.
"Anda dimana ? Apa yang bisa saya bantu untuk anda ?"
"Aku akan memberitahukan keberadaan ku, dan kumohon setelah dua hari dari sekarang. Baru Kau bisa memberitahukannya pada Liam."
"Apa maksud anda ?"
"Aku...harus melakukan ini. Kumohon Sekretaris Will lakukan apa yang kukatakan. Setibanya kau di rumah itu, tepat di dalam nakas di samping tempat tidur aku meletakkan barang untuk Liam."
"T-tapi, bagaimana dengan Tuan Liam..."
"Kumohon Sekretaris Will, aku harus melakukan ini. Waktuku tidak banyak, hanya kau yang bisa membantuku."
"Mr. Seymour sangat mengkhawatirkan anda, dengan kondisinya saat ini. Orang yang satu-satunya yang dibutuhkannya adalah Anda. Anda harus tetap berada disisinya."
"I Can't, aku harus menghadapi semua permasalahan yang sudah kulakukan. Aku harus menyelesaikannya."
"B-bagaimana jika Tuan menanyakannya ? Anda sangat memahami sifat Tuan Liam, ia tidak akan menyerah begitu saja."
"Kumohon, kau harus mencari alasan apapun untuk menutupi ini"
__ADS_1
"Apa anda bersama dengan..."
"Yah, jika itu yang memang kau pikirkan. Aku bersama Anton, aku tidak akan membiarkan dia semakin menghancurkan hidup orang lain lebih banyak. Aku harus menghentikannya."
"Apa anda yakin ini adalah keputusan yang tepat ?"
"Aku tidak peduli dengan keputusan apapun yang kuambil dalam hidupku saat ini, bagiku aku hanya ingin terlepas dari beban ini secepatnya. Sudah cukup beban berat ini menghantuiku."
"Anda harus tetap menjaga kesehatan, Tuan Liam sangat menyayangi anda, aku mengenalnya sejak ia masih kecil. Tuan tidak akan berbuat sejauh ini kalau bukan untuk orang yang benar-benar berharga untuknya."
"Perasaanku tidak akan berubah untuknya. Sekarang saatnya, giliranku yang harus melindunginya. Thank you, Sekretaris Will. Kau orang baik dan aku yakin Kau akan menjaga Liam"
...****************...
"Dewan Direksi menuntutmu untuk segera menyelesaikan permasalahan ini"
Liam fokus menatap layar laptop pribadinya tapi ia tidak tuli. Semua keluhan yang ditujukan padanya semakin meningkat, desakan dari Dewan Direksi Perusahaan makin menghujamnya menuntut untuk membalikkan keadaan kembali normal yang justru kenyataannya semakin memburuk.
"Liam ini sudah 2minggu, dan penyelesaian yang kau janjikan belum terealisasikan dengan benar. Saham kita semakin menurun, Apa kau ingin menambah banyak kerugian Perusahaan kita ?!"
Liam membuka lebar kedua sorotannya dan melemparkan tatapan menusuk "Ini Perusahaanku, Aku akan melakukan apa yang sesuai dengan keinginanku. Paman tidak perlu mengaturku"
Luciano menatap tidak percaya dengan sikap dingin Liam "Kau semakin menggila, Apa kau tidak sadar di saat kondisi Perusahaan yang semakin genting. Rumor miring semakin semerbak tentangmu dengan wanita simpananmu itu."
"DIAM!" Liam sontak berdiri dan menunjuk ke wajah Luciano dengan kemarahan.
"Jaga Emosimu, Sikapmu berubah. Bahkan lihatlah kau semakin kehilangan arah. Setiap malam kau hanya mabuk-mabukan di Diskotik. Dan semakin gilanya, kau mengajukan Pinjaman dan kerja sama pada Perusahaan yang merupakan Rival berat kita. APA KAU GILA ?!"
"YOU'RE NOT MY FATHER, Kau tidak berhak mengatur hidupku. GET OUT !!" bentaknya dengan keras
"Tapi, ini adalah bisnis Keluarga kita. Tidak ada seorang pun yang berhak menghancurkan nya, bahkan Kau sekalipun. Dan satu hal lagi, Dewan Direksi sudah memutuskan akan mengangkat satu CEO lagi untuk menyelesaikan kekacauan ini."
Liam hanya tersenyum miring "Another CEO, You Lose your Mind ?!!!"
"Thats True, Dewan Direksi sudah memutuskannya Kemarin. Dan jika kau tidak percaya, kau bisa memastikannya. Lihatlah email masuk pagi ini."
Liam menatap pada kotak masuk email hari ini, dan itu benar. Surat resmi itu keluar atas persetujuan hampir semua dewan. "Tidak Mungkin, bagaimana Keputusan ini keluar tanpa sepengetahuanku."
"Tentu bisa, karena ini hal terdesak. Lagipula, kami tidak menurukan posisimu hanya menambah orang lain untuk membantu menyelesaikan ini semua. Dan kehadiranmu tidak diperlukan, jika salah satu anggota keluarga sudah mewakilimu"
Sorotan Liam semakin tajam "Who ? Siapa yang kalian ajukan ?" tatapan Liam penuh kecurigaan. "Apa maksudmu anggota keluarga yang mewakiliku ?"
Luciano duduk dengan santai sambil bersandar, lalu tersenyum sinis.
Tidak lama kemudian, pintu Ruangan terbuka.
Seseorang memasuki ruangan dengan setelan jas hitam, keduanya langsung menatap kearah yang sama.
"Hello, Brother." pria itu menyeringai menatap Liam
Luciano berdiri sambil merapikan jasnya lalu memperkenalkan seseorang yang kini berdiri dihadapan mereka "Perkenalkan Dia adalah CEO baru kita, yang akan berdampingan denganmu. Anthony Osvaldo Seymour. Your big Brother"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Terimakasih