
"Apa kau ingin membunuhku ? membawaku ke tempat yang lebih mirip Hutan Psikopat" sambung Harumi dengan kening mengerut, menatap ke sekelilingnya dengan mata semakin membesar.
Anton langsung tertawa lepas menangkap pertanyaan Harumi yang sama lucunya dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Mungkin lain kali, tapi tidak untuk saat ini" Anton semakin menggoda sang istri.
"Kau sudah tidak waras, kurasa pikiranmu mulai gila setelah meneguk wine di restaurant tadi" Harumi kembali fokus menghadap ke depan sambil terus menggerutu.
Suasana alam bebas saat malam hari memang tidak terlalu bersahabat dengan indera penglihatan. Pencahayaan seadanya hanya lampu jalan yang berjarak jarang-jarang.
Bisa Dihitung dengan jari tiap lampu penerangan jalan berbatu itu saat melintas.
"Kita sudah sampai" celetuk Anton
"Ini seperti perkebunan Anggur, untuk apa kita ke sini ? jangan membuat masalah! ayo kita pulang"
Semakin Harumi gelisah dan keheranan menatap ke sekelilingnya, Anton makin bersikap menyebalkan membuat Harumi kesal.
"Hari Valentine kita rayakan di sini" sahut Anton mematikan mesin, membuka safety beltnya dan segera keluar dari mobil.
"Bisakah kita merayakan Valentine lebih Normal, walaupun kau tidak romantis, setidaknya jangan menyeramkan seperti ini."
Harumi tidak bergeming, ia lebih memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Seluruh tubuhnya gemetar, rasa kantuk yang tadi ia rasakan kini berubah menjadi rasa Horror.
Anton mengenal kelemahan istrinya, Harumi sangat penakut. Itulah yang membuat Anton membawanya kemari. Lebih tepatnya ia ingin mengerjai istrinya.
"Ayo turun " ajak Anton sudah membuka Pintu mobil untuk Harumi, ia mengulurkan tangannya.
"Ini bukan Oktober Anton, ini Februari. Kau ingin apa sebenarnya ? lihatlah ke sekeliling kita, hanya pohon anggur tidak ada manusia satu pun. Bagaimana kalau ada pembunuh berantai, ada perampok. Aku tidak akan keluar" teriak Harumi seraya mengambil tas dan memeluk erat di dadanya. Kedua kakinya di hentakkan bergantian ia terus menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda tidak akan menuruti keinginan suaminya.
Tertawa lepas kembali mendarat di wajah Anton, ia sangat puas mengerjai Harumi. Ia masih berdiri menatap istrinya, menahan pintu mobil dengan satu tangan.
"Kalau kau tidak mau turun, yasudah aku mau ke sana"
"tung..tunggu dulu. Kau mau kemana ? Antoooon!"
__ADS_1
Langkah cepat Anton berbalik meninggalkan Harumi di mobil, ia menyeringai puas tanpa sepengetahuan Harumi.
"Aku bisa terbunuh jika di mobil sendirian, bagaimana kalau ada Psikopat membawa Kapak atau Gergaji Besi , nyawaku akan dihabisinya" batin Harumi, membayangkannya saja membuatnya merinding. Penakut yang berlebihan, kelemahan Harumi sejak kecil, ia selalu mengkhayal terlalu tinggi jika berhubungan dengan cerita-cerita Horror.
Dengan Langkah hati-hati, matanya bergerak kekiri dan kekanan memantau jauh ke sekeliling. Tasnya masih menempel erat di dada, kali ini semakin kuat di peluknya. Kuku-kuku tangannya sangat terasa di lengannya ketika ia mulai menekan kuat.
Perlahan Ia mulai keluar dari mobil, sambil tetap kedua matanya memantau mengawasi apapun yang menurutnya bisa begerak mencurigakan "Antooooon,tunggu kenapa kau cepat sekali ?" Teriak Harumi mempercepat langkah kakinya dan mulai berlari menyusul Anton yang berjalan 10 meter didepannya.
Kedua mata Harumi membesar, merasakan getaran diseluruh tubuhnya.
"Apa tidak masalah kita memasuki tempat ini tanpa seizin pemiliknya ?" Harumi sudah berjalan beriringan dengan Anton, ia tidak ingin berjauhan sedikit pun dari tubuh suaminya.
Dalam batinnya, Anton masih ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Harumi yang menurutnya sangat menggemaskan.
Ia menarik bahu Harumi ke dalam dekapannya, Tubuh mungilnya sangat mudah masuk dalam rangkul hangat tangan Anton.
Harumi tak menolak sedikit pun saat Anton melingkarkan tangannya di bahunya.
Ia bahkan bisa mencium Aroma tubuh Anton begitu dekat, tak pernah berubah sejak dulu, perpaduan Aroma Vanila dan Cinnamons yang sangat di sukainya. Anton selalu beraroma sangat wangi, parfum yang digunakannya tak pernah berubah, makanya ia sangat mengenalinya dengan sangat baik.
Suasana perkebunan tersebut sangat hening dan sunyi. Tak ada suara ribut yang memecahkan telinga, hanya sesekali terdengar suara jangkrik bersahutan dari kejauhan.
Kami menyusuri jalan setapak di perkebunan Anggur tersebut, perkebunan itu memang sangat luas dan terawat dengan baik.
"Siapa pemilik tempat ini ?" tanya Harumi mengangkat kepalanya melihat wajah Anton.
"Milik Keluarga Seymour"
Yeap, Seymour lagi. Sepertinya nama itu sudah tak pernah lepas dari pendengaran Harumi setiap hari. Ia seolah sudah terikat dengan popularitas Nama besar keluarga itu.
Apalagi seseorang yang selalu menghubunginya setiap hari, yang tak henti memberikan perhatian, hadiah-hadiah mahal, senang mengerjai Harumi, sering memanggilnya dengan sebutan Gadis Bunga siapa lagi kalau bukan salah satu keturunan Seymour, Liam.
Bahkan Liam tak disini pun, sudah berkali-kali nama itu selalu terngiang ditelinga Harumi.
"Sudah lama kita tidak berjalan bersama seperti ini, aku sangat merindukan saat kita masih pacaran. " Anton menghentikan langkahnya. Memutar tubuh Harumi sejajar di hadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak masalah kita akan berpergian kemana pun tapi setidaknya bukan tempat seperti ini pilihanmu" gerutu Harumi, matanya masih tak berhenti bergerak mengawasi sekeliling bahu kiri dan kanannya.
Anton menghadapkan tubuhnya kepada Harumi, memindahkan tangannya dari bahu Harumi, menggenggam pipi lembut istrinya dengan kedua tangannya. Anton tidak melepas pandangannya sedikitpun dari mata Harumi yang juga membalas pandangannya.
"Sayang, dengarkan aku sebentar " ucap lembutnya, menenangkan Harumi. Ibu jari Anton membelai pelan tiap lekuk wajah mulus istrinya dengan penuh kasih sayang.
"hmmm ?"
Kedua pasang mata itu kini saling bertemu, terpaku dalam ikatan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Mata mereka memandang dalam diamnya, saling berbicara walau tak mengucapkan apapun.
"Kau sangat Cantik, Rumi."
Anton menghujani kata-kata manis dan pujian kepada Harumi, kata indah yang sangat jarang di ucapkannya selama ini.
Ia serius dengan perkataan yang dilontarkan dari bibirnya. Cantik, Yah Harumi memang sangat Cantik, ia perpaduan kecantikan Alami dari Wanita Jepang dan Keanggunan khas Wanita Inggris, lebih dari kata sempurna di mata Anton, itulah yang membuat dirinya langsung jatuh hati pada saat kali pertama bertemu di hari pertama kerja Harumi di Perusahaan tempat Anton masih menjadi Kepala Personalia.
Mata Harumi berkilat, terkejut bercampur entah apa bisa di bilang antara Senang dan canggung saat suami yang super dingin itu memujinya. Karena ia tau, sang suami sangat berbeda malam ini.
Rasa Horor yang menyelimuti Harumi sedari tadi berubah 180 derajat menghilang berasa terbang begitu saja, saat Anton tanpa pikir panjang mulai mencondongkan lebih dekat dirinya ke tubuh Harumi.
Ia sedikit menundukkan kepalanya, mengangkat wajah Harumi dengan tangannya. Mendekatkan dirinya lebih dekat dan sangat dekat.
Tak ada jarak lagi, Bola mata Anton yang gelap seolah menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar menyentuh istrinya. Nafas Anton semakin terasa di wajah Harumi, debar jantungnya seolah akan sampai ke saraf otak Harumi lalu turun menyebar menjadi desiran hangat di seluruh tubuhnya.
Bibir Pria tampan yang sudah menikahinya selama 4tahun ini mulai mendekat semakin meronta ingin segera mendarat di bibir mungil sang istri.
"Kau Milikku" bisik Anton sesaat bibirnya sudah mulai ingin melahapnya.
#Jangan Lupa Vote Ya
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1