
"Kau mengalami banyak perubahan, seperti bukan Liam yang kukenal dulu. Wanita itu benar-benar membuatmu bertekuk lutut dihadapannya. Kau yang dulu menganggap wanita hanya sebagai alat penghilang stress disaat kau memiliki waktu luang, bahkan kau tidak pernah bertahan lama dengan satu wanita yang sama. Tapi, sekarang...who knows...termyata setelah kau bertemu dengannya, mungkin kau baru mengerti arti dari perasaan saling memiliki."
Sejenak Liam tertegun, dan kilatan memory tentang masa lalunya terlintas dalam pikiran "She is Different, Harumi tidak pernah membuatku bertekuk lutut dihadapannya. Dia bukan wanita seperti itu, tapi...aku lah yang bergantung padanya."
"Apa kau yakin ini bukan sekedar bertujuan untuk menebus kesalahan yang pernah kau lakukan padanya ?!"
Awalnya ia tidak ingin memberikan respon apapun, Liam diam sambil menarik napas dalam. Tidak mudah baginya, karena bagaimana pun keduanya memiliki hubungan di masa lalu yang saling berkaitan. Dan Harumi belum tahu akan hal tersebut.
Kesalahan yang pernah dilakukan Liam di masa lalu pada Harumi, mungkin akan sulit diterima wanita itu jika ia sudah mengetahui kebenarannya. Mencintai seseorang yang pernah menggoreskan trauma cukup perih di masa lalunya, akan terus membekas di dalam hidup Harumi sampai kapanpun.
"Aku ingin dia Bahagia. Bahagia."
...****************...
Harumi melangkah menuruni anak tangga, setelah berganti pakaian santainya dengan dress selutut bernuansa kuning cerah sambil membawa tas kecil berbahan kulit yang menggantung di bahunya. Ia berjalan lalu menemui Scarlett.
"Nyonya akan pergi ?" Scarlett menghampiri majikannya
Harumi mengangguk pelan "Yah, aku akan pergi ke suatu tempat. Hari ini, kau bisa beristirahat saja Scarlett. Aku akan naik taksi"
"Tapi, Nyonya... Mr. Seymour memerintahkan saya untuk selalu mengawal anda." jawab tegasnya walaupun wajah Scarlett yang ramping tampak kebingungan
Harumi menatapnya tersenyum "Its Ok, aku akan bicara pada nya. Hari ini, kau kuliburkan. Aku yakin kau juga membutuhkan waktu untuk berlibur. Aku bisa pergi ke sana sendiri, ada hal penting yang ingin kuselesaikan."
"Tapi, bagaimana jika Mr. Seymour menanyakan tentang anda ? Tuan pasti akan sangat marah jika saya tidak menjalankan.."
"Scarlett" sela Harumi dengan lembut "untuk kali ini saja, aku membutuhkan bantuan dari mu. Kumohon jika Liam menanyakan kemana aku pergi, katakan saja aku membeli beberapa barang di Toko Elektronik."
Scarlett terdiam, ia mengernyit "T-tapi, Nyonya...jika Tuan tahu saya berbohong. Ia pasti akan langsung memecat saya."
Harumi mendekat, ia menyentuh tepi bahu Pengawal pribadinya tersebut untuk sedikit menenangkannya "Kumohon Scarlett, kali ini saja. Aku membutuhkan bantuanmu. "
Walaupun dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi Scarlett tidak mampu menolak permintaan sang majikan. Ia terpaksa mengiyakan keinginan Harumi.
Scarlett mengangguk sekali dengan ragu-ragu "Baiklah, saya akan mencarikan Taksi untuk anda."
Harumi merasakan kelegaan di wajahnya "Terimakasih, Scarlett"
...****************...
__ADS_1
Meraih gelasnya yang sudah berisi red wine, Liam menatap dari tepi gelas "Bagaimana kondisinya ?"
"Informasi yang saya terima, Mr. Whiston kini sudah di tempatkan di kamar perawatan setelah menjalani operasi dan sudah melewati masa kritisnya. Kondisinya mulai stabil, walaupun ia masih harus menjalani perawatan secara intensif. Untuk sekarang ia masih belum sadarkan diri." jawab Sekretaris Will tenang
Liam menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tatapannya beralih pada jendela yang masih menampilkan suasana puncak awan yang tinggi dan hamparan berwarna putih kebiruan.
Sekretaris Will yang duduk tepat di hadapannya mencoba memberikan informasi lainnya. Wajahnya terlihat mulai serius "Saya sudah menemukan sumber yang telah menyebarkan berita rumor tersebut."
"Apa dia orang yang kukenal ?" Liam tanpa basa basi langsung pada sasaran
Sekretaris Will mengangguk "Benar, Tuan. Dia adalah Mr. Wals. Noah Wals"
Liam memberikan respon diluar dugaan, ia sangat tenang mendengar jawaban dari orang kepercayaannya tersebut. Bahkan pria itu tersenyum kecil sambil tidak melepaskan pandangannya dari balik jendela "Kenapa semua orang-orang pengecut senang bermain Permainan Murahan ?!!!"
"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya ?"
Liam berbalik menatapnya "Biarkan saja, ia menjalankan permainannya. Kita cukup mengikuti alur permainan. Belum saatnya untuk balik membalas. Not this time." titahnya sambil meletakkan gelasnya kembali di atas meja.
...****************...
Sebuah mobil berhenti tepat di sebuah rumah, lalu sopir membukakan pintu untuk penumpangnya.
Wanita itu sempat berdiri cukup lama, hanya menatap rumah tersebut di depan pagar.
Raut wajahnya cukup tegang, ia bisa merasakan getaran perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya.
Harumi sempat tidak ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Langkahnya sangat berat, hampir-hampir ia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang setiap kali ia melangkah kan kakinya.
Napasnya terasa sesak ditenggorokan, dengan erat ia memegang tali tas yang masih tergantung di bahunya.
Harumi bisa merasakan dirinya begitu gugup. Rona ketegangan mewarnai wajahnya semakin intens.
Walaupun ia merasa belum siap untuk sekarang, ia masih tetap memaksakan dirinya.
"Kau harus bisa, Harumi. Kau pasti Bisa" gumamnya.
Dengan langkah-langkah yang berat dan ia merasa semakin dekat jarak yang ia tempuh hingga sampai pada pintu rumah tersebut. Ketegangan semakin menjadi-jadi, tubuh Harumi kaku. Ia diam cukup lama sebelum akhirnya ia menekan bel.
Dia menunggu, wajahnya menunduk memandangi kedua kakinya yang tertutup rapat. Lalu sesekali memperhatikan pakaian yang dikenakannya saat itu. Terkadang ia merapikan sedikit lipatan bagian bawah dressnya.
__ADS_1
Lalu....
Setelah menunggu cukup lama, Harumi mendengar seseorang menarik gagang pintu.
Pintu terbuka.
Harumi mengangkat wajahnya, dan ia memperhatikan seseorang yang tengah berdiri dihadapannya.
"Kau ?!" orang itu melemparkan tatapan menusuk
Harumi menarik napas, lalu berusaha tersenyum walaupun itu benar-benar terlihat penuh beban "Kak Ameera."
"untuk apa kau ke sini ? Kau tidak perlu lagi datang kemari ! Bukankah kehidupanmu sekarang sudah jauh lebih baik" sentak Ameera mulai berapi-api. Kemarahan tampak jelas sudah menyelimuti wanita itu.
Napasnya memburu, wajahnya merah. Walaupun terlihat Ameera masih berusaha menahan emosinya. Tapi, tidak ada lagi Ameera yang bersahaja di sana. "Pergilah, sebelum aku mengusirmu lebih KASAR."
Dada Harumi semakin terasa sesak, ia tidak sanggup merespon apapun. Wajahnya shock ketika Harumi harus menerima sambutan yang benar-benar tidak menyenangkan dari seseorang yang sangat di sayanginya. Seseorang yang sudah dianggapnya sebagai Kakak Perempuannya.
"Kak, dengarkan penjelasanku dulu." suara Harumi gemetar, tubuhnya mulai lemas.
Rasa bersalah jelas terlihat dari wajah Harumi.
"Penjelasan apapun itu, aku sudah tidak mempercayaimu lagi !! PERGILAH !!" bentak Ameera, ia menatap Harumi tajam tidak ingin dibantah
Harumi memohon-mohon dengan kedua matanya berkaca-kaca " Maafkan aku, ini b-bukan seperti yang dibayangkan..."
"LALU APA ?!!! Kau tidak sadar, apa yang sudah kaulakukan, telah mengakibatkan Hal buruk bagi orang lain. Dan sekarang, kau datang setelah pergi tanpa kabar. Apa kau tidak tahu bagaimana keadaan kami sekarang ?!!!. INI SEMUA KARENA ULAHMU. KARENA TINDAKAN BODOHMU, DAN semua menderita KARENA KEEGOISANMU. Kau sudah menghancurkan semuanya. Menghancurkan KAMI."
Harumi terdiam, airmatanya mengalir. Wanita itu menghapusnya dengan cepat. Tapi, airmatanya tidak berhenti mengalir. "M-maafkan aku, Kumohon."
Tatapan Ameera semakin menusuk "Elena sedang sakit, penyakitnya semakin parah. Ia begitu menderita mendengar kebenaran itu. Dan... Robert akan segera menceraikanku. Ia sudah melayangkan dokumen perceraian dan akan mengambil hak asuh ketiga anak kami."
Harumi tidak bisa berkata-kata lagi. Untuk beberapa saat, suasana hening. Ia bisa merasakan tubuhnya membeku dan jantungnya pedih sekali di saat bersamaan.
"Aku tidak bodoh, setelah aku mencari tahu semua. Ini berkaitan dengan hubunganmu dan Putera dari Keluarga Seymour. Robert dipecat dari Perusahaannya. Dan sekarang akan menceraikanku karena orang tua Robert ada perjanjian rahasia dengan Anita, Ibu dari Liam Seymour." Ameera tersenyum sinis sekaligus miris. Wajah wanita itu dirundung bayangan hitam yang terbelenggu dengan kesedihan yang begitu mendalam.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan LIke, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you❤