Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 186 Paint Of Love


__ADS_3

"Lalu kau akan memilih bersama Liam ?!" Elena mencoba menyunggingkan senyum yang pahit


Secara tidak langsung, Elena menampakkan sikap yang sama sekali tidak menyenangkan. Wanita paruh baya itu memang sangat menyayangi Anton ketimbang Liam. Walaupun kedua pria itu dilahirkan dari rahim yang sama. Tapi, Elena menunjukkan sikap yang sangat berbeda pada keduanya.


Harumi menatap mertuanya dengan tenang, walaupun ada sesuatu yang sangat bergejolak hebat di dadanya saat ini. Senyuman pun terulas indah di wajahnya "Aku tidak memaksa Liam untuk bersamaku, tapi kami dipertemukan bukan tanpa alasan dan terjadi pada semua jalan yang sudah terlewati. Dan perasaan yang kami rasakan, mungkin semua orang akan menganggapnya hanya nafsu yang sia-sia, obsesi semata dan bukan sebenar-benarnya cinta. Tapi, bukan seperti itu yang kami hadapi sekarang."


Sambil terus menekan dadanya, pedih itu semakin menjadi-jadi saat seuntaian kata-kata yang dilontarkan Harumi begitu menyedihkan bagi Elena.


Tekad wanita itu benar-benar tidak tergoyahkan, Harumi bukan seperti wanita yang dulu dikenalnya. Bukanlah seperti menantu yang di sayanginya dulu.


Harumi telah banyak berubah hanya dalam waktu yang singkat, bagi Elena dia sudah dibutakan cinta yang semu.


Keduanya saling menatap, Elena menatapnya tajam "Anton bukanlah suami yang sempurna, Rahasia yang disimpannya selama ini. Bukan untuk bermaksud menyakitimu, tapi untuk mempertahankan Pernikahan kalian. Setiap manusia pasti memiliki masa lalu yang kelam, dan kau seharusnya bisa menerimanya. Memaafkan. Bukan membalasnya dengan menusuknya dari belakang."


Elena terpejam sesaat lalu kembali menatap Harumi "Aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan Liam. Bagaimanapun Liam juga Puteraku, dan sebagai ibu kandungnya aku TIDAK AKAN PERNAH MENERIMAMU KEMBALI SEBAGAI MENANTUKU." tatapan Elena menusuk


Ada hawa panas terasa di bola matanya, Harumi diam. Tubuhnya membeku, hatinya hancur berkeping-keping ketika ia harus menerima kenyataan bahwa sang ibu mertua yang sangat dicintainya selama ini. Akan menjadi orang yang begitu membenci Harumi.


Sekuat apapun, Harumi menahan kesedihan. Air mata itu tak sanggup lagi dibendung. Matanya berkaca, ketika kata-kata terakhir yang diucapkan Elena, semua begitu menyakitkan.


Sejak awal, Harumi menyadari bahwa keputusan yang diambilnya sekarang. Tidak akan mudah dijalani, ada konsekuensi besar yang harus di terimanya.


Yang pertama tentu saja. Penolakan.


Tapi, tidak pernah terbesit dalam pikiran Harumi bahwa ia akan menerima penolakan yang begitu menyakitkan dari orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Apakah hal ini sudah setimpal dengan apa yang sudah diputuskannya ?


Hukuman demi hukuman terus menghimpitnya, masalah satu per satu terus mengurung Harumi tidak ada hentinya.

__ADS_1


Suara parau terdengar miris terucap, memecah keheningan yang sejenak tercipta di antara tebing besar di hadapannya "Kumohon. Maafkan aku."


Harumi menarik napas berat, untuk menetralisir perasaannya yang begitu sesak. Beberapa kali ia mengusap kedua matanya menahan tangis. "Ibu...kumohon..." Harumi memanggil tanpa sadar, tapi Elena tidak memberikan responsnya, matanya tetap lurus ke depan, menyorot tanpa ekspresi.


Lalu, ia meminta Ameera untuk mengantarnya ke Kamar.


Sekilas, Ameera menatap Harumi dengan sedikit iba. Lalu tak berapa lama ia kembali fokus pada ibunya dan membantunya berjalan menuju Kamar.


Harumi masih berdiri di posisi yang sama dengan pikiran yang berkecamuk. Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering, Ia hanya menunduk, menatap tangannya yang terasa dingin, dan gemetar.


...****************...


Kini Nami tengah duduk berhadapan dengan Liam. Seorang pria yang sama sekali belum dikenal wanita itu dengan baik, tapi siapa akan menyangka pria ini yang telah membuat Harumi benar-benar jatuh cinta.


Sosok pria lain yang hadir di antara hubungan Pernikahan Harumi dengan Anton.


"Bagaimana jika Putriku mengetahui kenyataan itu ? Kebenaran itu ? Apakah perasaannya kepadamu akan masih sama seperti sekarang ?!"


"Kau benar-benar nekad, tidakkah kau sadari. Akan lebih banyak masalah yang akan kalian hadapi. Dan tidak hanya kalian yang akan menerima semua akibatnya, tapi semua orang-orang disekeliling kalian. Dan semua semata-mata hanya untuk mempertahankan keegoisan semata."


Liam mengelak dengan tegas "Hubungan kami bukan bentuk keegoisan, ini adalah pilihan. Pilihan untuk BAHAGIA. We Fight for this."


Nami menatap Liam tidak percaya "Kini baru kusaksikan ternyata memang benar perasaan manusia tidak pernah bisa diukur kedalamannya. Kalian memperjuangkan hal yang sangat ditentang semua orang. Demi memilih untuk bahagia. Kebahagiaan yang harus kalian dapatkan dengan Pengorbanan yang sangat Besar. Bagaimana jika kau harus kehilangan segalanya ? Semua yang melekat pada dirimu, seperti kekayaan, uang, popularitas, kekuasaan akan berubah menjadi hujatan dan makian. Bahkan orang-orang yang disekelilingmu akan mulai menjauh dan dunia akan semakin menyudutkan kalian. Apa kau sudah siap ?!!"


Tidak ada keraguan sedikit pun dimata Liam ketika itu "Aku akan jauh lebih hancur jika dia tidak berada disampingku. She is My Life. My Whole Life." Hatinya sungguh sakit saat ia membayangkan Harumi pergi meninggalkan kehidupan Liam, pergi dari sisinya.


Nami menahan napas saat kalimat sederhana yang memiliki arti sangat dalam itu terucap dari seorang Pria seperti Liam. Pria dengan pesona luar biasa dengan semua hal hebat yang melekat didirinya. "Kalian bertemu dalam waktu yang sangat singkat, bagaimana kau bisa mengucapkan hal itu ? Bahkan kau belum begitu mengenal Harumi, begitu pun sebaliknya."


Terulas senyuman hangat di wajah tampannya "Saat pertama kali aku menatap wajahnya, tidak pernah menyangka aku akan begitu tergila-gila padanya. Bahkan, ia tidak pernah sekalipun menatapku. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. But, why this feeling ... So deep."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mengernyit "What you mean ? Melihatnya dari kejauhan ?"


"Untuk pertama kalinya, secara perlahan ingatanku mulai kembali. Sedikit demi sedikit kejadian malam itu membayang terus dalam pikiranku. Walaupun masih begitu samar, tapi aku ingin secepatnya menebus semua kesalahan itu. Sampai pada akhirnya, aku menemukan semua data informasi tentang Harumi. Lalu, aku mulai mencari tahu semua tentangnya secara langsung. Pekerjaannya, keluarganya dan semua kehidupan pribadinya."


"Maksudmu secara diam-diam kau selalu mengawasi kehidupan Putriku tanpa sepengetahuannya ?"


"Tidak seperti yang anda bayangkan, awalnya aku ingin bertemu langsung dengannya. Untuk meminta maaf dan menebus semua kesalahan yang sudah kulakukan padanya. Tapi, semakin aku mengetahui lebih dalam semua kehidupannya. Justru membuatku semakin tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Harumi wanita yang sangat hebat, ia wanita yang begitu berani dan kuat. Bahkan ia sendiri pun tidak menyadarinya"


Nami mengangkat wajahnya, tersenyum penuh arti "Kau pria pertama yang mengatakan Harumi seperti itu dengan lantang. Aku sangat mengenal Putriku, ia wanita yang kuat padahal hatinya sudah benar-benar terkoyak, ia masih bisa bersikap berani bahkan dihadapannya sekarang ada terjal dalam yang siap melahapnya. Tubuhnya memang kecil, tampak tak berdaya. Tapi, Putriku sangat hebat, aku bangga padanya. Dengan semua kekurangan dan masalah yang dihadapinya. Dia berani bangkit bahkan disaat semua harapan itu pupus. Ia tetap bertahan."


Nami menarik napas. Menetralisir perasaannya untuk tidak larut dalam kesedihan.


Liam menatap dengan tenang "Mrs. Whiston..."


Keduanya saling menatap.


Sejenak suasana pun menjadi hening.


Liam membuka matanya lebih lebar


"Aku ingin segera menikahi Harumi."


Nami terdiam, pandangan matanya tidak beralih.


"Please, give us your Blessing"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, komen dan Vote

__ADS_1


Thank you ❤


__ADS_2