
Sedari tadi Liam terus memperhatikanku. Mulai kami datang, bertegur sapa dengan Anton sampai kami duduk bersama di Ruangan itu.
"Oh ya, Pak Liam kenalkan ini Istri saya, Harumi Nayaka. " Anton dengan santai memperkenalkanku dengan Liam yang pada kenyataannya kami sudah beberapa kali bertemu. Jadi sudah sama sekali tidak asing.
Anton melanjutkan lagi "Maaf saya membawanya kemari karena dia hanya fokus di Toko mengurus usahanya, setidaknya sekali-sekali dia bisa melihat suasana baru"
Aku tidak ingin menatapnya, kutundukkan pandanganku agar ia tidak membuatku jadi salah tingkah lagi.
Liam hanya diam memandangku, ia menatap tajam diriku. Bola matanya bergerak mulai bawah hingga ke atas, memperhatikan penampilanku yang tengah duduk tak berapa jauh darinya.
Ia duduk dengan santainya di kursi utama miliknya, kursi besar bermotif dan bercorak paling berbeda di antara kursi-kursi lainya. Ia menyilangkan kakinya, membentangkan kedua tanganya dan menyandarkan tubuhnya. Memang cara duduk Liam menggambarkan dirinya paling berkuasa dan memiliki segalanya.
"Tidak perlu bicara terlalu formal, cukup panggil namaku. Aku senang kita lebih akrab,,, Anton" ucap Liam yang mengisyaratkan ada maksud lain dari perkataannya. Ia tersenyum tipis, melemparkan pandangan sinis kepada Anton.
Saat ia mengucapkan nama suamiku, pandangannya beralih kepadaku.
"Istrimu sangat muda dan cantik, beruntung sekali" Goda Liam
"Terimakasih....hmmm Liam" jawab Anton sangat berhati-hati karena ia tidak ingin salah bicara, apalagi Liam memintanya lebih santai, itu jauh lebih sulit bagi Anton karena yang dihadapinya sekarang adalah atasannya Pemilik Banyak Perusahaan Besar Dunia.
"Kenapa kau diam saja, Nona Harumi ? Apa aku menakutkan untukmu ?"
"Tidak, Tuan Liam." Jawab singkatku.
Liam tampak tidak senang dengan jawabanku.
Tak berapa lama datang dua pelayan wanita yang membawakan Minuman dan makanan kecil ke ruangan tersebut.
Suasana yang awalnya agak canggung, mulai perlahan mencair.
Mereka mulai membicarakan tentang Pekerjaan, Anton lebih banyak meminta saran mengenai beberapa masalah perusahaan kepada Liam.
Liam memang sosok pebisnis yang sangat kompeten, profesional, pintar dan cara berfikirnya pun cepat. Wajar saja semua perusahaan yang di jalankannya dapat berkembang pesat dan memperoleh keuntungan melimpah. Ia mudah mencerna setiap permasalahan yang di bicarakan Anton kepadanya.
Aku hanya duduk di samping Anton, memperhatikan mereka yang fokus membicarakan tentang Perusahaan. Hampir 30 menit aku duduk seperti pajangan hanya diam tak begerak mendengarkan mereka, seolah aku orang ketiga di antara kencan mereka.
Pikiranku kemana-mana sambil menunggu mereka.
__ADS_1
Tak berapa lama, Liam melirik kepadaku. Ia tersenyum mengejekku.
"Kau Bosan Nona Harumi ? Kalau bosan, kau bisa melihat-lihat sekeliling rumah ini" tegur Liam, ia tau aku sangat Bosan dan jenuh, lebih baik waktu bosanku selama 30 menit bisa kuhabiskan merangkai satu karangan bunga pesanan pelangganku di Toko.
Tapi untunglah Beatrix sangat pengertian, ia mau menjaga Toko seharian ini seorang diri.
"Aku mau ke kamar Kecil,dimana ya ?"
Setidaknya kamar kecil jadi cara awal menghilangkan rasa jenuhku.
"Kau bisa keluar Ruangan ini, ada pelayan yang akan mengantarkan mu"
Aku mulai berdiri dari duduk, kakiku agak keram.
Berjalan keluar ruangan itu, melirik kekiri dan ke kanan, tingkahku mirip seorang mata-mata. Tapi kenapa tidak ada pelayan satu pun.
"Permisi Nona" seorang pelayan menegurku dari belakang, membuatku melompat karena terkejut.
Bola mataku membesar akibat kaget gara-gara seorang pelayan perempuan yang menegurku tiba-tiba. Entah darimana ia muncul, aku curiga ia bukan pelayan melainkan anggota Ninja Rahasia yang diperkerjakan Liam.
"Apa ada yang bisa dibantu Nona ?" tanya si pelayan dengan wajah tanpa dosa sudah membuat jantungku hampir lepas.
Rumah ini terlalu besar , aku perlu peta untuk pergi ke kamar mandi sekalipun. Kalau perlu Liam harus menyediakan GPS khusus rumah ini.
"baik Nona saya antar ya" pelayan tersebut lalu menemaniku menuju Kamar mandi.
Kami berdua melewati koridor, melewati beberapa Ruangan seperti kamar bisa kulihat semua ornamen dan furniture di rumah ini sangat mahal. Tapi Menurutku untuk ukuran rumah sebesar ini, malah tidak memiliki terlalu banyak barang dan perabotan, mungkin karena masih baru.
Aku bahkan tidak sempat menghitung ada berapa kamar di rumah ini.
"Apa Liam....hmmm maaf maksudku Tuan Liam, apa dia selalu tidur di sini jika ke Bristol ?"
"Tidak Nona, Tuan lebih memilih tidur di Hotel"
"Di hotel ? sudah berapa lama ia membeli rumah ini ?" Rasa penasaranku semakin memuncak
"Setahun lalu Nona" Jawabnya dengan ramah.
__ADS_1
Pandanganku tiba-tiba teralihkan dengan salah satu Ruangan yang pintunya terbuka. Sekilas kulihat Itu adalah sebuah kamar tidur, aku menghentikan langkah kakiku. Ada beberapa pelayan sedang fokus membersihkan kamar tersebut.
"Ini Kamar tidur siapa ? Cantik sekali" Aku sangat menyukai kamar tidur ini, sangat luas dan nyaman.
Kamarnya sangat bersih, dugaanku penghuni kamar ini pasti seorang wanita. Tampak dari gaya dekorasinya yang sangat feminim di penuhi dengan ornamen bergaya Classic dan modern. Catnya di dominasi warna putih Beige dan ke emasan.
Bahkan kamar ini juga sangat luas, lengkap dengan fasilitas perapiannya.
"Saya kurang tau namanya Nona, cuma kata Tuan Liam, Pemilik kamar ini nantinya adalah Wanitanya Tuan yang akan ke sini."
"Wanitanya ? Dia sudah punya pacar ya ?"
"Tidak tau Nona, tapi saya pernah dengar dari Pembicaraan Sekretarisnya Tuan, ia memerintahkan para pelayan agar kamar ini harus selalu bersih dan sering mengganti bunga yang disini dengan bunga segar. Katanya si "wanita" nya Tuan, sangat menyukai bunga " jawab pelayan wanita tersebut.
"hah, maksudnya ?"
"Yah begitulah Non, Mari nona, kamar kecilnya sebelah sini "
Di kamar mandi, sebenarnya aku tidak ingin buang air kecil. Yang ingin kulakukan hanyalah mencuci wajahku dengan air keran, agar tidak mengantuk.
Tak kalah mewah dengan ruangan-ruangan yang lain, kamar mandi ini juga sangat mewah. Kamar mandi orang-orang kalangan atas tak hanya menawarkan kemewahan, tapi juga kualitas premium semua furniturenya.
Aku pun akan betah di kamar mandi seperti ini, mungkin aku akan tidur di sini. Luasnya pun hampir sama dengan luas Rumah ku dengan Anton.
Terbesit dipikiranku lagi mengenai siapa wanita yang dimaksud pelayan itu ? Liam sampai menyediakan kamar semewah itu di mansionnya, katanya wanita itu sangat menyukai bunga.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, membuang semua dugaan yang ada di pikiranku. Itu bukan urusanku, tidak seharusnya aku memikirkan sosok wanitanya si Pria Usil itu.
Setelah selesai dengan urusanku di kamar kecil, aku melangkah keluar. Menengok ke kiri dan ke kanan, ternyata si pelayan wanita yang menemaniku tadi menghilang.
"kemana dia ? dia memang usil meninggalkanku di tempat seluas ini, aku kan lupa arah ke Ruangan kerja Liam dan Anton tadi" lirihku yang menarik nafas dan mencoba berfikir dengan tenang. Aku mencoba mengingatnya. Karena banyak sekali Ruangan di sini, aku bahkan tidak bisa membedakannya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤