Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 36 My Valentine


__ADS_3

"Untuk Ibuku, sudah lama aku tidak memberikan karangan bunga kepadanya" jawab Jonah mengangkat kembali wajahnya, tersenyum rendah.


"Kau Pria yang baik Jonah, pasti ada wanita yang menerimamu dengan sepenuh hati"


Harumi kagum dan membalas senyuman Jonah.


"Terimakasih Mrs. Harumi, Selamat Hari Valentine"


Jonah berbalik melangkah keluar Toko. Ia membawa Karangan Bunga yang dipesannya dengan sangat hati-hati. Ia berjalan menyeberangi jalan dan memasuki Mobil milik ayahnya.


Harumi membantin "Seandainya Beatrix mau menerima Jonah, dia pasti tidak akan khawatir tersakiti lagi."


Lampu yang menyala di Toko, mulai di matikan Harumi satu per satu. Ia sudah mengunci Ruang Kerjanya. Saat langkah kakinya sedikit lagi menuju pintu depan, suara mobil terdengar berhenti di depannya.


Harumi terkejut menatap di balik pintu kaca Toko, ia mengenali mobil tersebut.


Itu adalah mobil suaminya, Harumi ingat bahwa Anton akan menjemputnya.


Anton membuka kaca Mobil, ia menatap Harumi tersenyum. Sambil tetap berpegang pada kendali mobilnya.


"Sudah siap." sapa Anton menyeringai menatap Harumi.


Harumi mulai terkejut dengan perubahan sikap suaminya. Ia keluar dari Toko, mengunci dan mengaktifkan Alarm. Harumi bisa merasakan suasana hangat Valentine menyelimuti kota. Banyak pasangan yang berjalan santai bergandengan saling berbincang lalu lalang melewati Toko.


Malam sangat indah hari itu dengan aroma Romantis bisa nampak dari sudut-sudut jalan begitu banyak ornamen Valentine menghiasi, Harumi berjalan dengan santai masuk ke mobil.


Harumi duduk di kursi penumpang, "Kau tidak perlu menjemputku"


Wajah Harumi memang terlihat lelah, bahkan ia sering menghela nafas panjang beberapa menit tadi.


"Hanya ingin membawamu jalan-jalan, bukannya ini Valentine" jawab manis Anton, ia berbalik menatap Harumi sambil menyalakan mesin mobilnya.


Harumi semakin di buat bingung "Jalan-jalan ? aku sudah sangat lelah, sebaiknya kita pulang aja"


Anton tetap fokus menatap jalan di depannya, ia seolah tak mendengarkan perkataan istrinya.

__ADS_1


"Mencari suasana baru tidak ada salahnya, ikuti saja " Anton menyapu rambutnya dengan satu tangannya. Ia menyeringai lagi, menoleh sebentar menatap Harumi.


Harumi menaikkan alisnya, ia heran seperti bukan Anton biasanya.


"kita mau kemana ? aku sudah sangat lelah"


"Makan malam, aku lapar sekali"


Anton menjalankan mobilnya dengan santai, Harumi yang sesekali miliriknya keheranan. Ia merasa ada sesuatu yang aneh sedang di pikirkan suaminya itu.


Tak berapa lama Mobil mereka pun berhenti di sebuah Restaurant sangat terkenal di Pusat Kota. Cahaya lampu yang gemerlap di Restaurant siap saji tersebut menyambut mereka dengan hangat.


Salah satu pelayan Laki-laki membukakan pintu mobil untuk kami.


Anton mematikan mesin mobil, melepas safety belt dan keluar dengan santai. Ia melepaskan kancing jasnya agar tidak terlalu formal.


Ia tersenyum kembali, menyambut tangan Harumi yang baru saja turun dari Mobil. Sudah sangat lama, Anton tidak pernah menggandengnya seperti ini. Harumi tampak kaku menerima perlakuan Anton yang semakin aneh.


Perasaan Harumi bercampur aduk, ia memang sangat lelah setelah seharian menyelesaikan pekerjaannya di Toko tapi ini membuatnya semakin bertanya-tanya dengan perubahan Anton. Mereka baru bertengkar beberapa hari lalu, belum ada pembicaraan serius lagi mengenai hal itu.


Mereka mulai memasuki Restaurant Mewah itu diiringi salah satu Pelayan Laki-laki, memang benar Anton sudah mereservasi tempat itu.


"Silahkan Tuan dan Nyonya" ucap Pelayan tersebut menggeserkan kursi bergantian untuk kami.


Anton memilih Meja untuk mereka berdua di spot yang sangat nyaman. Meja mereka berada di Lantai Atas karena Restaurant tersebut terdiri dari 2lantai.


Terlihat pemandangan malam kota sangat indah dari balik jendela kaca, dari meja mereka.


"Silahkan" sapa pelayan itu lagi memberikan dua buku Menu.


Harumi diam sejenak, ia masih memperhatikan ke sekeliling suasana indah Restaurant tersebut. Banyak lampu kristal yang terang dan gemerlap indah, para pelayan berseragam sibuk mondar mandir mengantarkan pesanan dari meja-meja pelanggan Restaurant.


Harumi sepintas mengingat kembali Moment saat Makan Siang bersama Liam waktu itu. Moment untuk pertama kalinya ia makan bersama dengan Pria yang baru dikenalnya, bahkan latar belakang pria tersebut sama sekali tidak di ketahuinya.


Bedanya waktu itu, hanya Harumi dan Liam saja yang berada di Restaurant itu sama sekali tak ada pengunjung lain jadi terasa sangat sunyi dan tenang, sekarang suasananya sangat tidak sama karena Restaurant ini sangat ramai tak ada satu meja pun yang kosong.

__ADS_1


Ada debaran aneh menyerang Harumi lagi jika ia mengingat bahkan menyebut nama Liam walau sepintas saja dalam pikirannya.


Harumi mulai merindukan Liam, itulah yang kadang menghantui pikiran nya. Tapi ia tak pernah mau mengakuinya. Karena bagi nya sedikit saja Rindu yang dibiarkannya berkembang akan membahayakan dirinya. Karena bagi Harumi ia tak pantas memiliki perasaan apapun pada Liam. Sedikit pun tidak akan dibiarkannya.


"Mau makan apa ?" tegur Anton menatap Harumi


Harumi pun terbangun dari lamunannya, awalnya tatapan kosong ke arah lain kini sekejap langsung menoleh kepada Anton.


Bulumata Harumi nampak naik turun dengan cepat, ia berusaha menyadarkan dirinya yang hampir beberapa menit tadi di penuhi dengan nama Liam dan moment makan siang bersamanya.


"Hah, aku makan apapun yang kau pesan aja." Harumi sama sekali tidak melihat bahkan membuka Buku Menu tersebut.


Ia sama sekali tidak tertarik untuk makan malam, sebenarnya yang diinginkannya sekarang hanya menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya yang nyaman. Memenjamkan matanya lalu tidur dengan lelap karena ia sudah sangat kelelahan.


Anton langsung memesan beberapa Menu Makanan Klasik Khas Inggris dan Sebotol White Wine kesukaannya.


Pelayan itu pun memberi hormat dan meninggalkan meja kami setelah selesai berdiskusi tentang menu yang Anton inginkan.


Anton sejenak tak mengatakan apapun, ia meletakkan handphone di samping piringnya. Ia mengubah mode handphonenya menjadi Mode pesawat.


"Sayang, Kau sangat kurus, Maafkan aku tempo hari yang sudah menyinggungmu. Bukan maksudku seperti itu, aku hanya lelah setelah bekerja, jadi..."


"Tidak apa-apa, sudahlah" potong Harumi


"Makanlah yang banyak, aku memang jarang memperhatikanmu tapi bukan maksudku ingin membuatmu menderita"


Harumi menatap tajam suaminya, ia sudah sering mendengar perkataan manis Anton seperti ini. Mood nya selalu berubah sesuka hatinya, ia bisa bersikap manis, bisa sangat menyebalkan lalu minta maaf lagi.


Bola mata Harumi berbelok menatap ke pemandangan di balik jendela. Ia bosan dengan pembicaraan ini. Tetiba pikirannya teringat tentang dokumen kelahiran itu kembali.


Harumi kembali menoleh kepada Anton, matanya membesar menatap tajam suaminya. Ini lah kesempatan Harumi untuk mengungkap surat-surat itu.


"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Anton ?"


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote


Thank You ❤


__ADS_2