Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 107 The Memory of Us


__ADS_3

Harumi ingin mengatakan sesuatu, tetapi Cathy seolah membungkamnya hanya dengan kata-kata.


Perasaan tidak nyaman bangkit di dasar perut Harumi. Dia tahu bahwa semua yang dikatakan Cathy memang benar adanya. Saat ini, Anton adalah suaminya. Itu bukan sesuatu yang bisa dihindari Harumi sekarang, dia harus menerima bahwa statusnya masih terikat dengan Anton.


Kakinya tiba-tiba gemetar dan rasa mual naik ke perutnya karena dalam hatinya ia tahu bahwa apa yang akan Cathy sampaikan tidak mudah didengar. Tapi sejak kapan hidup itu mudah ? Kapan ia pernah menghindar dari hal-hal yang sulit dan berat ?


Cathy menghadapnya dengan matanya yang gelap "Kau pasti bisa melewatinya. Mungkin menyakitkan tapi setidaknya kau bisa menjaga perasaan semua orang. Tidak bersikap egois jauh dibutuhkan jika kau ingin menghadapi Anton. Jangan bahayakan dirimu, Rumi" mata Cathy tak berkedip ia semakin berusaha menekan Harumi dan meyakinkannya.


Cathy mengerti dengan apa yang dirasakan dan dilema yang bergejolak di hati sahabatnya. Menjalani pernikahan tanpa ada perasaan tidaklah mudah, tapi jika Harumi bersikeras mengutamakan egonya, Cathy tahu bagaimana ini akan berakhir lebih pada penderitaan bagi Harumi dan menghancurkan lebih banyak kehidupan orang lain.


Cathy berhasil mengulaskan senyum, meskipun usahanya hampir-hampir menyakitkan "Masih teringat jelas dalam ingatanku waktu itu, betapa bahagianya kau ketika Anton melamarmu. Perasaan kalian waktu itu begitu indah bahkan aku pun iri padamu, Rumi. Kau sangat beruntung. Hanya saja, kau terlalu polos dan belum mengenal banyak Pria, jadi tidak bisa membedakan rasa Cinta dan Obsesi."


Tiap kata-kata yang terlontar dari bibir Cathy terasa berputar-putar dalam benak Harumi, ia tak mampu menelaah dengan jelas. Seolah akal sehat dan hatinya berperang hebat.


Harumi menarik diri sedikit, alisnya berkerut saat menatap paperbag yang dibawanya tadi "Bahkan untuk membuangnya saja aku terlalu lemah, bagaimana harus melupakannya."


Harumi menyeringai masam "Apa aku terlalu bodoh, terlalu polos hingga mengendalikan perasaan dan tubuhku sendiri saja aku terlalu lemah"


Pada satu titik, Harumi belum yakin kapan tepatnya dia benar-benar menerima bahwa dirinya telah jatuh seperti pohon tumbang. Inikah yang dinamakan Cinta atau hanya sebuah Obsesi sesaat.


Apa yang dia rasakan di dalam dadanya dan apa yang di inginkannya ? Itu adalah Cinta. Sederhana dan indah, tapi bisa menjadi hal yang paling berbahaya.


Harumi memejamkan mata, kilatan memory itu berkecamuk di dalam pikirannya. Hanya dalam waktu yang sesingkat itu, kenapa Dia bisa merebut hati Harumi. Menggoyahkan pendiriannya, membuatnya berbalik arah, dan menciptakan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya dan semua orang di sisinya yaitu


Pengkhianatan.


Jemari Cathy meraih lengan Harumi dengan erat dan Wanita itu mengguncangnya sedikit "Sadarlah Rumi. Kumohon !"


"Tidak ada satu hal pun yang bisa kau lakukan untuk sekarang, selain tetap menyembunyikan hubungan kalian. Bersikap normal dan kembali kepada Anton. Dan menganggap kau tidak pernah bertemu dengannya. Percayalah semua akan baik-baik saja" Cathy berkata dengan sungguh-sungguh.


Setelah berhasil mengendalikan diri, Harumi menelan ludah sambil mengangkat dagunya "Baiklah" Wanita itu berhenti membuka bibirnya, gumpalan aneh di tenggorokannya terasa menghalangi kata-kata yang akan keluar.


Lalu dengan bibir bergetar dan dentaman yang semakin menyakitkan di dalam dirinya terus menjalar "aku akan melupakannya dan mungkin menghapusnya dari ingatanku." jantung Harumi langsung hancur, begitu perih dirasakannya membuat semua bagian tubuhnya rapuh seperti pasir yang tersapu ombak dan ini lebih menyakitkan dibanding sewaktu ia harus menghadapi hal berbahaya seperti kematian.


Setelah itu ia tak mengucapkan apapun lagi, Harumi langsung berbalik menuju kamarnya mempersiapkan semua barang-barang miliknya, seperti ada belati yang mengoyak dadanya tapi ini berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


Ini sangat menyakitkan.


Terlalu menyakitkan. Bagaimana ia bisa melupakan semua memory itu dengan mudah, semua yang sudah dilewatinya bersama. Dari hal-hal yang indah sampai hal yang paling Berbahaya.


Langkah kaki Harumi begitu berat, tapi itulah yang bisa ia lakukan sekarang.


Terlepas dari semua yang terjadi dalam hidup Harumi, ia tidak pernah kehilangan harapan. Harapan untuknya Bahagia.


Cathy merasakan kesedihan dalam diri Harumi ketika akhirnya ia memutuskan untuk melawan apa yang ada di dalam hatinya. Dan itu tidaklah semudah seperti halnya jatuh cinta.


Pada satu titik di masa lalu, Harumi pernah kehilangan semua harapannya. Trauma yang menghantuinya dengan segala kegelapan di dalam kehidupannya.


Beberapa detik berlalu sementara Cathy menatap Harumi dari belakang dengan perasaan bersalah. Reaksinya yang seperti ini, tidak akan membuat Harumi bisa bertahan lebih lama.


Kau harus bisa bertahan, Rumi.


Setelah di dalam kamar, ia tidak langsung bersiap ataupun mengambil kopernya. Harumi memilih duduk di tepi ranjang dalam keheningan. Bulumatanya rendah, pandangannya sayu dengan tatapan kosong.


Rasa perih itu kembali hadir membentuk simpul-simpul kecil di dalam dadanya. Ia meremas kedua tangnnya menahan airmata yang berusaha membanjiri wajahnya.


Seraya mengabaikan kerlip kegelisahan yang menyeruak dalam dirinya, Harumi berhenti untuk melawan, ia mengusap wajahnya dan mengedarkan pandang, bergerak mengumpulkan barang-barangnya, yang sempat ditinggalkannya berhari-hari.


Memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam koper, tapi entah apa yang membuat semuanya terasa asing.


Sekilas Harumi menggelengkan kepalanya, menariknya dari lamunan yang sesingkat itu.


Setelah Harumi menata pakaiannya dengan rapi ke dalam koper, Wanita itu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil semua peralatan mandi miliknya.


Ketika membuka lemari kaca di atas wastafel, awalnya Harumi akan mengambil sikat giginya, lalu matanya teralihkan pada sebuah benda yang membuat nya heran.


Alisnya berkerut memperhatikan benda kecil itu yang terletak di balik pasta gigi.


Harumi mengambilnya, ia merasa aneh kenapa ada benda ini di sini. Seingatnya sebelum ia pergi meninggalkan Apartemen Cathy, Harumi yakin tidak pernah melihat barang ini sebelumnya.


Harumi mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan penglihatannya.

__ADS_1


Itu adalah sebuah Sikat Gigi bercorak biru muda, ukurannya kecil. Harumi meyakini, ini bukan sikat gigi untuk orang dewasa melainkan untuk Anak-anak.


Harumi semakin heran, dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat dan digenggamnya sekarang.


Kenapa ada sikat gigi anak di sini ? Apa setelah aku meninggalkan Apartemennya ia mengundang anak kecil bermalam di kamar ini ?


Wanita itu menghembuskan napas panjang dan berusaha membuka jalan pikirannya.


Harumi menggeleng "ini pasti milik keponakannya, but wait...seingatku Cathy tidak memiliki keponakan karena ia anak tunggal. Hampir semua keluarganya bermukim di Amsterdam"


Harumi mengerutkan keningnya kembali, tidak memahami apa yang menerawang di dalam pikirannya. Tapi, ia berusaha untuk tidak memikirkan hal kecil ini terlalu dalam karena Harumi tahu mungkin Cathy memiliki alasan.


Dan itu bukan urusannya.


Harumi meletakkannya kembali ke tempat semula dimana ia sudah mengambilnya. Lalu, menutup lemari kaca tersebut.


Ketika pintu lemari itu tertutup, sekilas Harumi melihat pantulan dirinya di cermin. Dia menatap dirinya cukup lama.


Dalam pikirannya, ia mengulaskan beban berat itu menjadi hembusan abu asap yang terbang ke langit. Tapi, hatinya berkata lain, karena bagaimanapun ada ruang khusus untuk dirinya.


Di mana Ruang itu hanya untuk nya seorang, dan Harumi berusaha menutupnya.


Menguburnya lebih dalam.


Walaupun itu akan membunuhnya secara perlahan.


Good bye.


Liam


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2