Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 157 Play With Fire


__ADS_3

"Sebaiknya anda harus segera kembali ke Bristol"


Napas Anton memburu, langkahnya tidak henti-hentinya bergerak bolak balik menghilangkan kegelisahan.


Alisnya berkerut, kepalanya melayang dengan banyak pemikiran-pemikirannya sendiri.


Kepala Anton tidak lelah menggeleng berkali-kali ketika apa yang didengarnya saat ini begitu tiba-tiba dan tidak masuk diakal sehatnya "Itu MUSTAHIL"


"Its True, Mr. Riandra. Bahkan Surat Resmi nya sudah keluar. Saya sudah mengirimkannya ke email anda"


"Bagaimana mungkin pergantian posisi jabatan di Perusahaan bisa dilakukan secara Mendadak ? bahkan hanya diketahui oleh beberapa pihak saja. Dan tidak ada pembicaraan lebih dulu antara aku dengan Dewan Direksi, bukan seperti ini seharusnya. Ini pasti ada yang Tidak Beres. Aku sudah bekerja keras siang dan malam untuk Keuntungan Perusahaan. Dan Lihatlah apa yang kuterima sekarang ?!!!" nada kerasnya menusuk


Daniel tidak merespon, sejenak orang kepercayaan Anton tersebut hanya diam.


"KATAKAN DANIEL ! APA KESALAHANKU HINGGA PERUSAHAAN DENGAN SANTAINYA MEMBUANGKU BEGITU SAJA ?!!! SETELAH AKU BERKOMITMEN UNTUK PERUSAHAAN" dada Anton terasa begitu sesak, dengungan napas amarah meraung dengan panas di tubuhnya.


Ia merasa dipermainkan dan dimanfaatkan oleh beberapa oknum di Perusahaan.


Anton harus menerima kenyataan pahit secara bertubi-tubi hari itu. Dengan kesal, ia hampir membanting ponselnya jika sekilas bayangan itu kembali muncul. Bayangan pahit karena kerja keras nya selama ini justru tidak menghasilkan apa-apa.


"Jika anda ingin kembali ke Bristol, saya akan memesan tiket pulang untuk anda."


Anton tidak mendengarkan perkataan terakhir Daniel, ia akhirnya melempar ponselnya ke sofa tanpa menutup panggilan dari Sekretarisnya tersebut. Dan dengan raut amarah yang memanas, Anton semakin terpuruk. Pikirannya sangat kacau, otaknya buntu.


Anton Hancur, satu per satu apa yang dimilikinya perlahan menghilang dari genggamannya.


Pekerjaan, Kariernya, Masa Depan dan tentu saja


Harumi.


Cathy yang menyaksikan kondisi Anton saat itu hanya bisa diam tidak berkomentar apapun. Awalnya wanita itu ingin mengomelinya menyangkut kepentingan Freddy, tapi Cathy lebih memilih bungkam.


Wanita itu berdiri mematung dan menarik napas perlahan. Ini bukan saat yang tepat, walau bagaimanapun Anton sudah cukup kesakitan dan tersiksa dengan apa yang diterimanya sejak tadi malam.


"Apa yang kulakukan, kenapa ini begitu mendadak ?" Anton terus berjalan bolak balik, mulutnya tidak berhenti mengoceh.Tampak sekilas pandangan matanya kosong, tapi otaknya seolah dipaksa untuk berpikir keras. Menghubung-hubungkan kejadian demi kejadian yang sudah dilalui sebelumnya.


Sampai sesuatu melintas di dalam pikirannya, Anton bergerak kembali mengambil ponsel yang telah dilemparnya di atas sofa tadi.


Dengan gegabah dan tidak sabaran ia menatap layar, lalu mencari-cari email yang dikirimkan daniel sebelumnya.


Setelah ia membuka email tersebut. Di akhir Surat Peresmian Pergantian Jabatan itu, mata Anton terbelalak ketika kedua matanya tertuju pada bagian bawah dimana surat itu langsung ditanda tangani dan di setujui oleh CEO sekaligus Pemilik Perusahaan "LIAM SEYMOUR"


Mulut Anton terbuka, ia mulai mengerti sekarang. Kemana arah permainan ini sebenarnya, Anton tersenyum miris dengan Siksaan penuh tekanan di tiap bagian tubuhnya.


Ia seolah dilempar kotor** tepat di wajahnya. Tidak ada harga diri yang tersisa karena sebagai seorang pria ia sudah kehilangan segalanya.


Senyuman itu berangsur-angsur memudar, saat matanya tertuju pada Cathy. Yang baru ia sadari sudah berdiri sejak tadi memperhatikannya.


Keadaan mulai canggung "Apa kau sudah mendengarnya tadi ?" ucap sinis Anton

__ADS_1


"Apa maksudmu ?"


"Kau dengar pembicaraanku di telepon tadi, bukan ? Kau pasti merasa sangat senang melihat keadaanku sekarang"


"Aku tidak peduli dengan urusanmu" sanggah Cathy, ia melangkah menghindari kecanggungan di antara mereka saat itu


Anton tertawa meskipun tidak ada yang lucu "Jangan Menghindar !! Katakan padaku, Dimana Liam membawa Harumi ? KATAKAAAAN !!!!" teriak Anton begitu keras hingga hampir membuat telinga Cathy keram


Wanita itu menatap Anton dengan tatapan cuek. "Aku tidak tahu dan tidak peduli"


Tapi, bentakan Anton tidak berhenti sampai disitu saja. Pria itu melangkah cepat mendekat lalu menarik lengan kiri Cathy dengan kasar.


Bahkan pria itu tidak peduli ketika Cathy merasa kesakitan. "Lepaskan, Anton"


"KATAKAN !! JANGAN MENGHINDAR ! TATAP AKU !" Anton menyeret Cathy paksa, lalu melempar wanita itu ke sofa.


Anton meraih kedua tangan Cathy dan menguncinya dalam genggamannya, lalu menempelkan di kedua sisi sandaran sofa.


Cathy sudah terperangkap. Ia tidak mampu bergerak apalagi memberontak. Posisi pria itu kini tepat dihadapan Cathy ketika Anton mendekatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak lagi diantara keduanya.


Cathy yang hanya terduduk sedangkan Anton mendekat dengan posisi membungkuk dihadapannya. Pria itu menaikkan kedua alisnya menatap Cathy serius "Berhentilah bermain-main, Aku yakin kau tahu dimana Liam membawa Harumi ?"


Bibir Cathy bergetar, ia menelan salivanya dan menggeleng keras " Aku tidak akan memberitahu apapun "


Salah satu tangan Anton melepas cengkeramannya dari tangan Cathy, beralih meremas wajah wanita itu begitu kasar. Hingga membuat Cathy meringis kesakitan, Cathy berusaha melawan. Anton semakin melampiaskan kemarahannya.


"A-a-aku...t-t-tidak...a-a-ak-an.." karena cengkeraman Anton sangat kuat, Cathy kesulitan membuka mulutnya.


Pria itu tidak ragu meremas wajah Cathy hingga terangkat. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya perlakuan Anton saat itu.


Sudah diketahui sebelumnya bahwa Cathy memang pernah bertemu Harumi di Penthouse milik Liam. Dan Cathy yakin kalau Liam pasti membawa Harumi ke sana sejak tadi malam, tapi Cathy tidak ingin memberitahu yang sebenarnya.


"Dengar baik-baik, jika kau masih menutup-nutupinya. Aku akan membawa Freddy dari tanganmu. Kau tahu bagaimana aku mampu bertindak HAL GILA yang bisa merugikanmu, Catherine !!!!" sorot matanya seperti Pembunuh.


Mata Cathy melebar, mendengar ancaman Anton. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdebar dengan kencang, Mata nya berkaca-kaca, karena Anton tahu titik lemah wanita itu. Cathy tidak akan kuat jika ia harus kehilangan Freddy.


"Kau pasti tidak akan bungkam terus menerus, itu sama saja kau membiarkan Freddy lepas darimu. Apa kau lebih memilih sahabat atau Puteramu sendiri ?" Anton menyeringai bak iblis


Cathy cukup lama mengenal Anton yang sangat keras kepala dan pemberontak, pria itu mampu melakukan hal-hal gila jika ia sedang marah, kecewa ataupun merasa dipermainkan. Cathy akan menjadi sejenis orang yang dapat memunculkan sisi terburuk dari dalam diri Anton.


Melihat ke dalam mata pria itu yang cekung dan sinis, Cathy memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia hanya ingin melindungi Freddy, Dan tidak ingin berpisah darinya. Jika Anton sampai membawa Freddy darinya, hati Cathy sebagai seorang ibu akan hancur karena bocah itu adalah harta paling berharga satu-satunya yang dimiliki wanita itu didalam hidupnya.


Cathy mengangguk dengan terpaksa "The Goddes Palace Penthouse, Manhattan" akhirnya


***


Harumi menoleh ke samping tempat tidurnya, dan kosong. Bantal itu masih rapi seperti tidak ada bekas seseorang yang sudah menidurinya.


Tidak ada Liam.

__ADS_1


Harumi mengangkat tubuhnya dan menatap sinar matahari yang masuk dari balik tirai tipis jendela kamar itu. Suasana di kamar itu tidak berubah sedikit pun semenjak terakhir kali ia meninggalkannya, semua tampak sama hanya saja terlihat lebih rapi dan bersih. Bahkan kosmetik, perhiasan yang diberikan Liam untuknya masih tertata dengan posisi yang sama di meja riasnya.


Aroma kamar ini pun masih segar di ingatan Harumi, aroma Jasmine dan Vanila. Benar-benar tidak ada yang berubah seolah tidak ada seorang pun yang memasuki kamar ini kecuali dirinya.


Wanita itu mengingat-ngingat kejadian tadi malam. Matanya masih terasa berat karena Harumi hanya tertidur beberapa jam. Memang sejak kejadian semalam ia tidak bisa tidur dengan tenang.


Ia mengingat tadi malam, Liam sempat masuk ke kamar mengucapkan selamat tidur kepadanya. Pria itu mengatakan ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan di Ruang Kerjanya.


"Apa semalaman ia tidur di ruang kerjanya ?" gumamnya lalu segera bangun mengambil kimono tidur yang tergeletak di kursi meja riasnya. Dan tanpa sengaja Harumi menatap ponselnya.


Membukanya dan ada puluhan pesan singkat dan panggilan suara, semua dari Anton. Semua masalahnya kembali menyeruak seolah-olah membuat Harumi berhenti bernapas.


Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja rias, lalu berjalan keluar kamar setelah ia mengenakan kimono tidurnya.


Harumi berjalan menuruni tangga, dan matanya mencari-cari ruang kerja di tempat seluas itu. Sulit pada awalnya karena begitu banyak ruangan di sana. Sampai akhirnya, Harumi melihat sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Wanita itu perlahan mendorong pintu, lalu kepalanya lebih dulu masuk dan menatap ke sekeliling ruangan tersebut untuk memastikan.


Benar saja dugaan Harumi, itu adalah ruangan kerja milik Liam. Dia menarik napas pelan, lalu dengan hati-hati ia melangkah dan tidak ingin menimbulkan suara yang terlalu bising. Karena cukup canggung, ini pertama kalinya Harumi memasuki Ruang kerja Liam setelah sebelumnya ia pernah menginap di sini.


Tapi, Harumi tidak menemukan Liam di sana.


Kemana dia ? apa dia sudah pergi ?


Ruangan itu benar-benar luas dan didominasi dengan deretan rak buku sangat besar dan semua penuh berisi buku-buku penting yang terlihat umurnya cukup tua. Dindingnya dilapisi wallpaper dengan ukiran corak klasik dan semua furniture berasal dari kayu. Adapun satu space untuk tempat perapian dan di atasnya diletakkan beberapa foto dan vas berisikan bunga aster.


Harumi juga melihat di tengah-tengah ruangan tepat di depan rak buku ada meja kerja diatasnya laptop dan beberapa berkas dengan kursi berbahan kulit.


Sepertinya semalam Liam sedang mengerjakan pekerjaannya disini.


Harumi sangat kagum dengan desain ruangan ini yang begitu anggun dan berkelas.


Hingga, pandangan Harumi berhenti pada sebuah figura foto kecil di atas perapian.


Harumi mendekat, lalu melihat foto itu. Ternyata, foto Liam yang sedang berdiri tepat di sebuah jalan raya luas yang tidak ada kendaraan satu pun yang melintas, di atas tebing dengan hamparan rerumputan. Dia berdiri tepat di samping sebuah mobil.


Mobil sport mewah berwarna Silver. Harumi mengambil figura itu dan menatapnya cukup lama, ia seperti mengenal spot lokasi di dalam foto itu.


Bukankah ini di Bristol ?


Harumi tersenyum tipis, karena itu membuatnya rindu dengan kota kelahirannya.


Lalu matanya beralih kepada mobil yang tepat di samping Liam .


Mobil ini sepertinya tidak asing ? apa aku pernah melihatnya sebelumnya ? tapi dimana ?Atau hanya perasaanku saja ?


#Jangan Lupa Vote


Dukung Author dengan like, Koment dan Vote


Thank you 🥰

__ADS_1


__ADS_2