Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 184 Fight For Us


__ADS_3

Cukup lama sampai akhirnya Liam membuka suaranya, ia menarik napas dalam "I'am Liam" suara serak yang tegas


Nami menatap dengan kening berkerut "Liam ?" ekspresinya bingung sambil mengatur pikirannya untuk mengingat-ngingat nama itu.


"M-maksudmu ? Kau pria yang bersama Harumi ?" mata wanita paruh baya itu melebar seketika, saat kilatan itu terlintas di benaknya. Nama yang tidak asing, nama yang kini sangat ingin ditemui Nami. Dan disaat yang tidak terduga kini pria itu sedang berdiri dihadapannya.


Liam mengangguk, bibirnya mengulas senyuman menenangkan.


Sempat mematung di tempat, Nami bingung untuk mengambil sikap. Entah reaksi seperti apa yang harus ia tampakkan dihadapan pria yang kini menjadi perbincangan hangat di media cetak dan membawa-bawa nama Putrinya.


"Bisakah saya berbicara dengan anda ?" tanya pria itu dengan hormat


Walaupun sulit untuk membedakan sikap apa yang benar dan salah, tapi Nami hanya bisa bersikap datar menghadapi Liam saat ini. Bagaimanapun, Nami merasa belum mengenalnya seratus persen. Apalagi mempercayai pria ini sekalipun Harumi begitu mempercayainya.


Dengan raut wajah datar Nami mempersilakan masuk ke dalam.


Saat melangkah masuk ke ruang perawatan, pandangan Liam langsung tertuju pada seseorang yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Seorang pria yang tampak seperti sedang tertidur, mengenakan seragam Rumah Sakit, selang infus yang masih tertempel pada lengannya dan sebuah alat bantu pernapasan menempel di mulutnya.


Pria itu tidak berdaya dan belum sadarkan diri. Liam berdiri sejenak, lalu hanya beberapa kaki saja ia menggerakkan kakinya mendekati pria yang sedang terbaring lemah tersebut dengan perasaan cemas dan iba.


Pria itu tentu saja adalah Harry Whiston, ayah Harumi.


"Bagaimana keadaannya ?" tanya Liam dengan tatapan masih tertuju pada Harry.


Tampak kesedihan mewarnai wajah Nami, ketika ikut memandangi Harry. Tapi, wanita itu begitu tabah dan sabar hingga ia mampu menahan airmatanya walaupun terlihat jelas begitu terpukulnya ketika semua masalah ini terjadi secara bertubi-tubi pada keluarga mereka "Menurut dokter, perlahan semua akan kembali normal. Dengan perawatan yang intensif. Kedaannya akan membaik dengan cepat." wanita paruh baya itu menaikkan kedua sudut bibirnya dengan mata berkaca memandangi wajah sang suami yang masih pucat.

__ADS_1


"Harumi..."


Nami menoleh cepat. "Apa putriku baik-baik saja ?"


Liam mengangguk dengan ragu lalu menatap Nami "Keadaannya baik-baik saja, hanya saja dia sangat merindukan kalian"


Bibir Nami bergetar dan menahan tangisnya ketika perasaan rindu itu mulai menabur di dadanya "Aku tidak memberitahukan keadaan ayahnya sekarang, karena Harumi sudah cukup menghadapi banyak masalah dalam hidupnya. Aku tidak ingin ia merasa khawatir."


"Aku akan melindunginya" tegas Liam


Nami mengangkat wajahnya, mengusap kedua matanya yang hampir mengeluarkan airmata "Sebenarnya aku tidak berhak mencampuri kehidupan pribadi Harumi, ia berhak memilih siapapun yang akan membahagiakannya. Tapi, aku hanya khawatir dengan hubungan yang sedang kalian jalani sekarang. Hubungan yang kalian jalani sekarang, bahkan seribu alasan yang kalian utarakan tidak akan membenarkan hubungan ini. Kehidupan yang dijalani Putriku begitu menyedihkan, semenjak kecelakaan itu. Hidupnya berubah, di saat ...."


"Biarkan aku mengembalikan kebahagiaan itu untuknya, mengembalikan senyuman itu lagi di wajahnya" Liam menyela, kedua matanya sarat akan ketegasan dan itu sama sekali tidak mudah untuk dipatahkan


Nami mendadak diam, sejenak ia hanya memandangi wajah pria itu dengan seksama lalu ia berjalan menuju sofa dan duduk sambil menghela napas. "Tampak dengan sangat jelas Kau memiliki segalanya, bahkan dunia berada digenggamanmu. Kekayaan yang melimpah, ketampanan, usia yang mapan, kecerdasan, terkenal dan kekuasaan. But, why ? kenapa kau memilih Harumi ? Aku menyadari Putriku memiliki kekurangan, dan ia bukan wanita yang begitu menonjol di antara semua wanita yang mungkin berada disekelilingmu ?"


Tatapan Nami berubah dingin "Apa karena ia wanita yang mudah dipermainkan seperti sebuah tantangan untukmu ? Putriku....hatinya begitu rapuh. Memang tidak ada yang sanggup jika berada diposisinya saat ini. Anton yang seharusnya menyayanginya, justru terus menerus menghancurkan perasaannya, menerima kondisi kesehatan yang dialami Putriku pasca kecelakaan malam itu. Menerima kenyataan ketika suaminya memiliki anak dengan wanita lain. Dan rahasia itu disembunyikan sudah bertahun-tahun. Wanita lain itu yang ternyata adalah sahabat baiknya. Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya perasaan Harumi. Dan sekarang kau hadir di tengah-tengah penderitaan Putriku, entah kau memposisikan dirimu sebagai Malaikat Pelindung atau hanya sebuah Pelarian saja"


Liam masih tidak merespon. Ia hanya terus mendengarkan perkataan Nami dengan baik. Membiarkan ia menyelesaikan semua keluh kesah di benaknya saat itu.


Dan Liam sangat menghargai hal itu, Yah that's right. Sebagian besar perkataan Nami memang benar tapi satu hal yang perlu digaris bawahi, Liam dengan tegas tidak pernah menganggap hubungan mereka hanya sebuah permainan apalagi hanya pelarian. Karena tujuannya saat ini ia ingin berjuang untuk Harumi. Membersihkan semua permasalahan mereka. Karena Liam ingin memulai hubungan mereka kembali dalam keadaan bersih.


"Kenapa kau hanya diam ? Katakanlah sesuatu, aku yakin kehadiranmu saat ini, untuk membicarakan banyak hal. Dan satu hal lagi, aku menghargai semua bantuan yang kau berikan, termasuk semua hadiah yang pernah kau berikan pada Puteraku Ben waktu itu. Tapi, itu semua belum cukup untuk membuatku mempercayaimu. Aku yakin kau memiliki sesuatu yang sedang kau sembunyikan, pertemuanmu dengan Harumi bukanlah hal yang tidak disengaja. Benar, bukan ?" wanita itu menatap dengan lekat


"Itu Benar" akhirnya Liam menjawab dan kali ini tatapannya begitu berbeda dan Nami semakin merasa yakin.

__ADS_1


Ada desakan begitu kuat dari dalam dirinya, hingga Liam tidak ingin lagi menutupi semuanya. Napasnya memburu, jantungnya mengeras ketika pengakuan itu pada akhirnya akan terucap juga "Akulah...." ia kembali menarik udara masuk ke dalam paru-parunya dengan kuat "Aku adalah Pengendara mobil di malam kecelakaan itu. Aku lah yang sudah mengakibatkan ia harus kehilangan calon bayinya."


Langit itu seolah runtuh seketika, wanita paruh baya itu menarik napas pendek. Langit-langit ruangan itu seolah-olah berputar-putar di atas kepalanya. Dinding-dinding seakan bergerak menghimpit tubuh Nami hingga membuat dadanya begitu sesak. Wajahnya shock, ia sontak berdiri dan menatap dengan tatapan tidak percaya. Bahkan tanpa sadar air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya "Tidak mungkin, bagaimana mungkin Putriku mencintai seseorang yang sudah mencelakainya. Bagaimana mungkin Harumi memilih menjalin hubungan denganmu ?!!! Orang yang telah menghancurkan harapan dan merubah hidup Putriku. TIDAK MUNGKIN." kepalanya terus menggeleng cepat dan berulang kali ia menekan dadanya yang perih "Kenapa Harumi menerima semua kemalangan ini selama hidupnya, Oh Tuhan, kenapa penderitaan harus terus hadir pada Putriku ?"


Liam berdiri menatap Nami dengan perasaan berkecamuk. Baginya itu pun tidak mudah, memberikan pengakuan yang sangat pahit bagi siapapun.


Liam siap menerima semua tanggung jawab itu, semua konsekuensinya. Ia ingin menebus semua kesalahannya, walaupun ingatan itu belum sepenuhnya kembali. Tapi, Liam tetaplah harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia tidak ingin menunggu terlalu lama sampai Harumi semakin terpuruk dengan rasa bersalah.


"Aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahan yang sudah kulakukan."


"Lalu....KENAPA KAU MELARIKAN DIRI PADA MALAM KECELAKAAN ITU ? KENAPA KAU MENINGGALKAN HARUMI DAN SETELAH BERTAHUN-TAHUN TERLEWATI KAU TIBA-TIBA HADIR UNTUK BERTANGGUNG JAWAB DISAAT PUTRIKU SUDAH MENARUH KEPERCAYAAN PADAMU ? APA BARU SEKARANG KAU MENYADARI KESALAHAN ITU ? KATAKAN !!!!" dengan suara gemetar, tampak hal satu-satunya yang sedang dilakukan Nami sekarang adalah untuk mengembalikan kehormatan Putrinya.


Liam dengan tegas mengelak "Itu tidak benar, aku tidak pernah meninggalkannya malam itu, tapi ada seseorang selain aku dan Harumi yang berada ditempat kejadian itu. Dan orang itu juga yang telah mencelakaiku saat aku berusaha ingin menolongnya. Itulah kebenaran yang terjadi. Dan... Aku sedang berusaha meluruskan semua. Trust me, AKU TIDAK PERNAH BERUSAHA MENINGGALKAN HARUMI. TIDAK MELARIKAN DIRI DARINYA. "


...****************...


Suara pintu terbuka, dan gema langkah terdengar memasuki ruangan "Well, hello.." sapa santai seseorang yang berpakaian sangat rapi


Mendengar suara itu, sontak seseorang yang tengah duduk dari balik meja berdiri dengan cepat dan melempar tatapan sinis "What are you doing here, Noah ?!!"


Pria itu hanya membalas menyeringai sambil menatap dingin "Aku hanya mulai merindukanmu sayang, My Love. Anita"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 🥰


__ADS_2