
"TUTUP MULUTMU !!!" suara tajam Anita menggema, wanita itu melemparkan tatapan amarah tak tertahan "Jangan pernah memanggilku seperti itu !! Dengar baik-baik, aku tidak ingin berhubungan apapun itu dengan pria licik sepertimu !!!" Anita membulatkan matanya, dadanya bergemeruh berusaha menahan emosi yang hampir-hampir membakar di dadanya.
Noah tidak bergeming, ia hanya merespon dengan santai. Diluar dugaan, pria itu memperlihatkan ekspresi aneh yang tetiba berubah menjadi seringai "Aku sangat merindukanmu, bukankah itu sesuatu yang alamiah bagi sepasang kekasih, bukan ?"
Anita mengangkat wajahnya, dadanya sudah penuh sesak dengan emosi yang menggelindung membentuk bola panas "Kita sama sekali tidak ada hubungan apapun lagi. SEBAIKNYA KAU PERGI SEKARANG JUGA, SEBELUM KAU MENYESALINYA."
Pria itu berjalan perlahan tanpa terganggu sedikitpun oleh ancaman tersebut, melangkah menuju jendela kaca dan berdiri membelakangi Anita, pandangannya dingin mengitari pemandangan kota California yang terpantul di kedua matanya "Apa yang kau takutkan, Anita ? Bukankah Liam tidak bisa mengingat apapun mengenai kejadian malam itu ? Putera kesayanganmu hanya bisa terus menyesali dengan apa yang terjadi pada kekasihnya ? Benar-benar hidup yang sangat dramatis, bukan ?!!!"
"HENTIKAN MULUT BESARMU !!!" raung Anita dengan mata menyala "Itu semua akibat kebodohanmu, seharusnya kau lebih berhati-hati dalam menyimpan rahasia. Lihatlah!! semua karena ulahmu. Dan sekarang kau datang seolah-olah tidak bersalah. Kau benar-benar BAJING**"
Noah tertawa lepas, dan itu sontak membuat Anita terkejut "Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku, daripada terus mengancamku. Kalau bukan aku, Liam akan semakin membuat masalah lebih besar. Dan mungkin sekarang Puteramu akan semakin menyesalinya."
Wanita yang selalu berpakaian elegan tersebut tersenyum kecut dan berdiri hanya beberapa kaki dari Noah lalu menatapnya tajam "Kau menjadikan Puteraku sebagai alasan agar Lisensi Dokter yang kau miliki tidak dicabut. Aku bukan wanita bodoh, dulu aku memang telah salah menjalin hubungan denganmu. Tapi, semua tidak akan membuatku lemah. Aku akan melindungi Liam dari cengkeraman pria licik sepertimu. "
"Itu benar, aku melindungi apa yang kumiliki. Bukankah itu sudah sewajarnya, kedudukan yang kumiliki sekarang tidak semudah itu kudapatkan. Dan kaupikir aku akan membiarkan Liam dengan mudah menghancurkan semua yang sudah kubangun dari nol"
Noah menarik napas panjang. Ia mengalihkan tatapannya dari luar jendela, berbalik menatap wanita itu "Tidak bisa dipungkiri, aku sadar cepat atau lambat Liam pasti akan mengetahui hubungan kita. Dan...malam itu .... Aku yang sudah memasukkan obat ke dalam minumannya."
"CUKUUUUPPP !!!" teriak Anita histeris
"Tenanglah, bukankah semua sudah terlewati selama tiga tahun dan semua berjalan baik-baik saja. Bahkan Roberto sampai akhir hayatnya pun tidak mengetahuinya. Sebaiknya, kau lebih banyak bersyukur."
Anita melempar tatapan tidak bersahabat, dengan tubuhnya yang semakin gemetar oleh rasa panas amarah yang ditahannya bertahun-tahun. Suasana ketegangan semakin menjadi-jadi menyelimuti ruangan yang terasa sangat mengikat keduanya dalam keadaan yang tidak nyaman satu sama lain.
"Cukuuuupp...Cukuuuuppp !!!!" suara parau Anita tampak seiring dengan kedua matanya yang tiba-tiba berkaca
Anita Seymour yang terkenal dengan keangkuhan, elegan dan begitu kejam. Seolah semua sirna seketika, saat ia bertemu kembali dengan Noah Walls seorang pria dari masa lalunya yang juga merupakan teman dari Puteranya.
Pria itu menyeringai miring, tampak tak berhenti untuk terus memkonfrontasi Anita "Satu hal lagi, aku sangat berterimakasih pada Luciano yang sudah membersihkan semua masalah itu dengan sangat rapi. Seymour benar-benar bukan Keluarga sembarangan, aku salut pada kalian semua. Begitu kekeluargaan hingga bisa saling melindungi. Aku iri."
"Luciano hanya ingin melindungi reputasi nama besar keluarga dan adiknya. Dia sama sekali tidak peduli denganmu, kau hanya mementingkan dirimu sendiri." balas Anita menekan pernyataannya, dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Kalian sungguh membuatku terkagum, begitu eratnya kekeluargaan kalian.Tapi, sadarkah bagaimana jika ingatan Liam kembali ? Apa aku harus memukulnya lagi lebih keras ?!!!" nada mengejek tampak santai keluar dari bibirnya, diiringi senyuman cerah bak itu lelucon yang mudah diucapkan "dan sekarang, lucunya. Liam jatuh cinta dengan wanita itu. Wanita yang sudah dicelakainya, korban yang hampir kehilangan nyawa akibat ulahnya. Sungguh mengharukan"
"Apa yang sebenarnya yang kau inginkan ?!! Apakah belum cukup uang yang kuberikan selama ini ?"
"Kedatanganku bukan untuk meminta sejumlah uang darimu, aku tahu itu terlalu mudah. Tapi, ada sesuatu yang kuinginkan."
Anita menatap serius. Menunggu jawaban.
...****************...
"Apa yang kau lakukan ?!!!!!" Ameera bergegas membantu Elena berdiri yang terduduk lemas di lantai. Wanita itu menatap geram ke arah Harumi "PERGILAH !!!! JANGAN PERNAH DATANG LAGI KE SINI. PERGIIII!!!" suara geram menggema bahkan itu cukup membuat Harumi shock
Harumi berdiri mematung. Ia terdiam dan hanya menatap. Tidak ada lagi satu kata pun terlontar dari bibirnya.
Elena yang terus menerus menekan dadanya yang sesak dan perih, masih terus berusaha menatap menantunya "B-benarkah itu ? Ku-kumohon katakan sekali lagi ?!" dengan suara yang hampir tidak terdengar lagi, tapi wanita paruh baya itu terus menerus tidak bergeming. Ia ingin memperjelas sesuatu yang ingin didengarnya lagi.
"Ibu, kumohon tenanglah. Ikutlah denganku, aku akan membawamu ke kamar" Ameera memaksa untuk ibunya melangkah menuju kamar setelah bersusah payah berdiri dari duduknya dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.
Dengan penuh tekanan, Harumi hanya mengangguk sekali. Wanita itu bisa merasakan posisinya kini begitu tragis, entah apakah ini adalah perbuatan yang benar. Atau....
Sebuah kehancuran yang diciptakannya sendiri.
Harumi menyadari kondisi sang ibu mertua yang sangat lemah. Apalagi menyangkut penyakit yang dideritanya, Harumi tidak ingin menyakitinya.
Tapi, posisinya sekarang pun tidak sedang baik-baik saja. Ini pun tidak mudah baginya.
"Ada apa sebenarnya ?" Ameera menatap Elena lalu kembali menatap Harumi. Ia satu-satunya yang dibuat bingung oleh keduanya.
Melihat reaksi yang diperlihatkan Harumi, Elena diam seketika.
Wanita paruh baya itu hanya memenjamkan matanya. Lalu, ia merasakan kilatan memori yang terlintas saat-saat dimana ia memandang semua kesalahan itu bersumber hanya dari Harumi.
__ADS_1
Bagaimana pikirannya begitu terpuruk mengingat-ngingat nasib pernikahan Putera kesayangannya harus ternodai oleh perselingkuhan yang dilakukan Harumi dan semua kesalahan dilemparkan kepadanya.
Menyadari kebenaran yang menyakitkannya, Elena sulit untuk menerima keadaan sekarang. Bahwa ternyata kini, ia memiliki seorang cucu dari Anton dengan wanita lain yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya.
Harumi pun merasakan tubuhnya begitu ringan seolah akan melayang, kepalanya terasa pusing. Tapi, ia masih mampu berdiri dengan kedua kakinya. Ia menatap ke arah lantai menundukkan kepalanya lalu mengangkat wajahnya kembali sampai pandangannya teralihkan pada langit-langit di ruangan tersebut. Sejenak ia memenjamkan matanya.
Aku wanita kuat. HARUS KUAT.
"Aku tidak pernah sekalipun membenci Anton, dia tetaplah orang yang pernah kucintai. Pernah menyayangiku, sekaligus pernah membuatku terpuruk. Pernikahanku dengannya bukan tanpa campur tangan Tuhan, semua berjalan dengan sangat baik. Dan aku tidak pernah menyesali itu.
Tapi, bukankah dibalik kebahagiaan kami ternyata ada rahasia besar yang disembunyikannya dan tidak sanggup kuterima. Dan kesalahan yang sudah kulakukan sekarang, jalan yang kupilih saat ini. Semua hujatan ini, merupakan keputusan yang kupilih dibandingkan pernikahanku yang klise. Berulang kali kesempatan Pernikahan itu kami lewati tapi semua tetap berakhir sia-sia. Kami hanya saling menyakiti. Perasaan yang kami miliki ternyata tidak sebesar dengan keegoisan yang tertanam di dalamnya. We are nothing, but we will be something when we have own way. Kami akan lebih saling menyakiti lagi jika memilih memaksakan untuk terus bersama. "
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You
Dear All Readers,
Thank you so much for all your supports, Iam so happy. I hope you enjoy with my story.
And so sorry, because often disappoint you. Iam really sorry. Because my problem is "Time". Next time, iam doing much better than this.
And one more thing, thank you for all the good comments and suggestions that are very important for me.
Thank you
See you again in Next Chapter
Love,
__ADS_1
Anita Moera