Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 120 Secrets and Lies


__ADS_3

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin mendesak saat ia berdiri di sana, mengamati dan akhirnya ia menarik diri. "Kau bertemu dengannya ?"


"yah" singkat wanita itu


Suasana hangat yang lembab terasa kuat di ruangan itu, pikiran Anton penuh dengan berbagai dugaan "Jadi, maksudmu kau sudah mengatakan padanya ?"


Cathy menggeleng pelan, menatap Pria itu "Almost"


Anton berdiri, mengernyitkan alis "Maksudmu ?"


Wanita itu mundur selangkah, memberikan jarak di antara mereka. Cathy tahu suatu hari ini akan menjadi pembahasan di antara keduanya dan wanita itu tidak ingin ada sesuatu yang disembunyikannya lagi, karena semua kepingan-kepingan puzzle ini harus mulai di selesaikan "Aku adalah orang yang membawa Harumi ke rumah sakit di malam kecelakaan itu."


Ekspresi dingin Anton seolah tidak menerima dengan semua pengakuan Cathy.


Gelenyar kimiawi yang berapi-api serta menyengat yang menjadikan udara sarat ketegangan dan membuat tubuhnya mendenyut respons tajam yang sepenuhnya bersifat amarah.


Tentu saja, semua bak skenario yang diatur sedemikian rupa ketika satu kejadian itu menghubungkan tiap bagian-bagian kehidupan yang saling mengaitkan orang-orang yang sebenarnya begitu dekat.


Anton kehabisan kata-kata, di dalam hatinya ia begitu shock, marah, kecewa, tapi kemarahan ini entah ditujukan untuk siapa. Kedua tangannya terkepal dengan sangat erat, guratan-guratan kekesalan tergambar jelas di wajahnya.


Sambil menggeleng-geleng dan tersenyum tipis "Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Harumi di saat kondisinya seperti itu. Seandainya kau melihat langsung keadaanya di jalan waktu hujan lebat itu, aku yakin kau tidak akan pernah sanggup untuk menyakiti perasaannya."


Anton membeku dan sekarang ia dipenuhi penyesalan dan rasa menyalahkan diri.


***


Tiga menit yang lalu


Suara dering ponsel samar-samar terdengar, membangunkan seseorang dari tidurnya.


"Hallo"


Harumi yang mendengar jawaban dari panggilan tersebut, langsung terkejut. Lalu ia menatap kembali layar ponselnya, memastikan kembali apakah nomor yang dihubunginya memang benar atau ia sudah menghubungi nomor yang salah.


Alisnya berkerut, nomor nya memang benar tapi suara yang menjawab panggilan tersebut bukan suara pemilik kontak tersebut.


"Who is ..." jawab Harumi ragu-ragu


"Hallo"


Suara ini begitu asing, bahkan Harumi sama sekali tidak mengenalinya.


Tetapi, Harumi bisa memastikan bahwa ini adalah suara seorang anak kecil.


Anak kecil ? ini sudah sangat malam, kenapa ada anak kecil di apartemennya ?


"Hello, aku ingin bicara dengan Cathy ?" dengan nada lembut Harumi mencoba kembali berbicara dengan nya


Butuh waktu beberapa detik, hingga akhirnya ia merespon pertanyaan Harumi.


"Mommy is not here."

__ADS_1


Mommy ? Harumi terdiam sejenak untuk menyaring arsip di otaknya. Tertegun oleh respon anak itu dan masih berusaha memahami implikasinya, wanita itu mengerutkan kening "are you sure, Cathy is your Mommy ? Catherine Jones ?"


"Yah" jawabnya dengan nada polos


Harumi menghela napas dalam-dalam "What's your name ?"


"Freddie"


"Berapa usiamu ?" lanjutnya


"Iam Four years old"


Ekspresi Harumi tiba-tiba suram. Dan malam itu terasa semakin dingin semakin menusuk kulit Harumi, wanita itu masih berdiri di balkon dan berharap bisa berbicara dengan seseorang yang bisa sedikit membantunya melewati malam ini.


Dan ia berharap itu adalah sahabat baiknya, Catherine Jones. Tapi, semua berbalik dengan kenyataan yang membuat Harumi begitu shock.


Apa Cathy menyembunyikan sesuatu dariku ? Selama ini dia memiliki seorang anak laki-laki ?


Pikiran Harumi terasa penuh sesak dan mulai membuka kembali berbagai spekulasi dan memilah berbagai ingatan-ingatannya.


Kemudian terlintas kilatan itu, ia mengingat sesuatu ketika terakhir kali ia meninggalkan Apartemen Cathy.


Sikat gigi ? apa itu milik anak ini ?


Mulut Harumi menegang, matanya melebar.


Lalu ia kembali berusaha fokus pada ponsel yang dipegangnya, dan mengembalikan perhatiannya pada anak itu.


"Yah, aunty whats your name ?"


"Harumi"


Suara loncatan dari tempat tidur dan suara langkah kaki terdengar oleh Harumi. Anak itu yang bernama Freddie berjalan membuka pintu.


"Freddy ?" panggil Harumi pelan


Tapi, Freddie tidak merespon karena ponsel kini berada di genggamannya sambil terdengar suara langkah kaki mulai menuruni tangga.


Harumi bisa mendengar tiap gerakan Freddie dengan sangat jelas dari balik ponsel tersebut. Mulai suara loncatannya dan suara langkah kakinya menuruni anak tangga.


Harumi berusaha mengatur ritme napasnya, pikirannya masih penuh dengan banyak pertanyaan. Walaupun tanpa disadari, Harumi bahkan melupakan yang seharusnya ia khawatirkan sekarang ini, yaitu Anton yang beum juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan dini hari.


Kekhawatiran terus merambat dalam diri Harumi, karena ia belum dapat kabar darinya sejak Anton meninggalkannya setelah mereka bertengkar.


Harumi menggosok-gosok leher dan menutup matanya sebentar. Wanita itu berusaha berpikir jernih, dan bersikap tenang. Tapi, usahanya itu tidak berhasil karena bagaimanapun pikiran akal sehat dan hatinya sudah tidak berjalan dengan sinkron semenjak tiga tahun lalu.


Katika Harumi ingin memanggil "Fred..." ia terhenti


Wanita itu mendengar sesuatu yang seharusnya bahkan tidak akan pernah terbayangkan olehnya.


Dari balik ponselnya, walaupun samar-samar ia bisa mendengar dua orang saling berbicara serius satu sama lain.

__ADS_1


Harumi tidak lagi mendengar suara langkah kaki Freddie, seperti sesuai dengan dugaannya anak laki-laki itu berhenti di tempat sambil terus memegang ponsel ditangannya.


Harumi berusaha memanggil namanya kembali, tapi, Freddie tidak merespon.


Wanita itu mulai merasa khawatir dan cemas dengan keadaan yang sedang terjadi. Ia tidak bisa berbuat apapun.


Harumi masih terus mengaktifkan panggilannya, kemudian dengan seksama mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut yang mulai terdengar kembali.


Awalnya, Harumi tidak yakin. Tapi, setelah di dengarkannya dengan baik ada suara wanita, dan ia sangat yakin itu adalah Cathy.


Kemudian, suara yang satunya mulai terdengar dan kali ini sangat jelas. Yah, itu suara seorang Pria.


Jemari Harumi semakin erat menggenggam ponsel di telinganya, ia cukup penasaran dengan suara pria itu yang memang agak samar-samar mungkin karena jaraknya lebih jauh dari posisi Cathy.


Lalu, suara itu mendekat. Memberikan efek suara yang lebih jelas sampai ke indera pendengaran Harumi saat itu.


"Untuk sementara jangan beritahu apapun pada Harumi, terutama mengenai anak itu"


Anton ? Merasa ingin pingsan dan gemetar, Harumi tanpa sadar menjatuhkan ponselnya.


Wanita itu mendengar jelas dan sangat mengenali suara pria itu. Itu adalah suara suaminya, Anton Riandra.


Entah, kenapa hari ini seakan semua hal yang membuat nya shock menghampiri Harumi bertubi-tubi.


Napas tersekat di tenggorokannya dan tiba-tiba Harumi dibanjiri perasaan yang telah ia sembunyikan selama bertahun-tahun.


Wanita itu menarik napas dengan gemetar.


Apa yang dilakukan Anton di Apartemen Cathy di jam segini ? Apa yang sedang mereka bicarakan, apa yang mereka sembunyikan dariku ? Sandiwara apa ini ?


Harumi terkujur kaku, ia berdiri mematung. Di sergap rasa kekecewaan yang mendalam, Harumi merasakan wajahnya dingin sedingin bongkahan es. Aliran darahnya terhenti, seolah waktu mulai membuatnya menghilang dari dunia.


Harumi masih tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya saat ini.


Siapa anak itu sebenarnya ? kenapa Anton mengetahui tentang Freddie ?


Wanita itu mulai mengingat-ngingat kembali dimana sebelumnya ia pernah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Pembicaraan mereka berdua waktu lalu. Sekilas ingatan itu kembali muncul, ketika ibunya Harumi pernah mengatakan agar ia jangan pernah mempercayai Cathy.


Awalnya Harumi tidak ingin menganggap serius pernyataan sang ibu, karena menurutnya sangat tidak mungkin Cathy yang sahabat baiknya akan menutupi sesuatu darinya.


Harumi merasakan kebimbangan sejenak, dadanya naik turun saat ia menarik udara ke paru-parunya.


Lalu, ia mengambil ponsel yang terjatuh tadi dan mencoba menghubungi ibunya. Harumi tidak ingin menunggu ini sampai pagi. Dia ingin mencari jawabannya sendiri, tidak perlu menunggu sampai Anton datang.


Harumi memang wanita bodoh yang banyak melakukan kesalahan, tapi ia tidak ingin menyiksa dirinya lagi.


#Jangan lupa vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2