
Suara dering ponsel itu menjadi awal mula masalah baru bagi mereka berdua.
"Sial !" gerutu Anton mendengar ponselnya berdering.
Suasana romantis yang ingin diciptakan mereka berdua harus berantakan karena suara ponsel itu.
Ia menarik kembali tubuhnya, menjauh 5 centi dari Harumi sambil meraih ponsel dari saku jas.
Menatap layar ponselnya, cahaya layar itu langsung menyinari wajah Anton. Ekspresinya heran, ternyata panggilan dari Sekretaris pribadinya, Daniel.
"Hallo" jawabnya dengan nada meninggi, benar sekali ada rasa kesal di wajah Anton. Ia berjalan sedikit lebih jauh dari Harumi.
Harumi hanya menghela nafas sesaat, diam tak berkomentar apapun. Moment kebersamaan dengan suaminya, tak berjalan semestinya.
Ada rasa kecewa di mata Harumi, mereka berdua memang sering berbeda pendapat dan hubungan yang semakin hambar hari demi hari. Dari hati, sebenarnya Harumi sangat bahagia sesaat ketika Anton memberikan kejutan, Yeap walaupun menurut Harumi kejutannya tidak lazim tapi ini sudah usaha terbaik dari suaminya., ia sangat hargai itu.
Ia memandang sendu punggung Anton tengah fokus dengan ponselnya.
Malam ini, bukan malam Valentine yang cukup normal bagi orang lain. Tapi bagi keduanya, tidak ada moment yang bisa diingat melainkan sesuatu yang tak lazim seperti ini. Setelah makan malam dari Restautant mewah, berubah menjadi moment horror di perjalanan sampai ke perkebunan Anggur. Saling tertawa lepas, mencairkan dan melepas semua beban di pundak mereka berdua untuk sesaat.
Bibir mungil Harumi melengkung, merasakan kebahagiaan kecil dan debaran singkat sesaat Anton ingin menciumnya tadi.
Suara Anton sangat jelas terdengar menjawab panggilan ponselnya dari pendengaran Harumi. Ia tampak kesal dan marah, punggung Anton semakin tegang, tangannya tak henti mengusap tengkuk lehernya sejak ia pertama menerima panggilan itu.
"Pak, sebaiknya anda buka email segera!"
"kenapa Daniel ?" wajah Anton gusar, mendengar nada bicara Daniel meninggi, ia sama sekali tak tenang.
"Tuan Alex, Client VIP kita marah besar, salah satu asistennya baru menghubungi saya"
"Maksudmu apa ? bukankah proyeknya sedang kita kerjakan."
"Terjadi banyak kesalahan dari desain hingga perusahaan Kontraktor yang bekerja sama dengan kita. Ia ingin memutuskan Kontrak kerjanya segera"
__ADS_1
Nafas Anton sudah tak beraturan, Saraf otaknya semakin memanas. Semua ototnya seolah bekerja cepat semakin memompa, Ia bergerak tak tenang, mengusap wajahnya mencoba untuk menjernihkan pikirannya tapi sia-sia.
"Bagaimana ini Pak ? padahal kita sudah mengerjakan sesuai dengan keinginan pihak Client, tapi entah kenapa bisa ada kesalahan fatal hingga menghancurkan proyek Pembangunannya. Dan itu kesalahan dari kita, ia meminta ganti rugi atas semua perbaikannya" sambung Daniel
"Aku akan bicara dengan Pak Alex, ini pasti hanya salah faham. Semua sudah dikerjakan dengan baik sejak awal, tidak ada komplain apapun. Kita selesaikan di Kantor!" Anton langsung memutuskan sambungan.
Ia masih berdiri di tempatnya sekarang, menundukkan wajahnya sembari memikirkan langkah apapun yang akan dilakukannya untuk menyelesaikan masalah ini.
Harumi mencoba melangkah mendekati suaminya. Tapi Anton sudah membalikkan tubuhnya, menatap Harumi dengan bola matanya yang semakin gelap.
"Ada apa Anton ?" tanya Harumi dengan hati-hati
"aku harus ke kantor sekarang"
"sekarang ? ini sudah malam, tidak bisakah di selesaikan esok pagi ?"
"harus sekarang Rumi, aku akan mengantarmu" Anton langsung berjalan melewati Harumi begitu saja.
Langkah kakinya penuh tekanan, tiap hembusan nafas Anton mengisyaratkan ada beban dan tanggung jawab baru di pundaknya.
Anton berjalan di depan, Harumi mengikuti di belakang menyusuri jalan setapak di perkebunan anggur tersebut. Jalan yang mereka lalui sebelumnya dengan tawa dan moment sederhana pasangan suami istri yang bahagia. Kini mereka lewati kembali dengan suasana berbeda.
Tak ada rasa takut akan Psikopat, pembunuh berantai dan khayalan horror lainnya lagi dalam pikiran Harumi. Rasa Takut terbesarnya sekarang adalah sikap dingin Anton dan ambisinya akan semakin perlahan-lahan menghantam kuat pada hubungan mereka.
Tak ada pembicaraan apapun selama di perjalanan, sejak mereka memasuki mobil. Tatapan Anton hanya fokus ke depan, pikirannya gusar dan sama sekali tidak tenang.
Karena Proyek yang dipermasalahkan ini, bernilai Milyaran. Memang sangat besar nilainya, jika Anton melakukan kesalahan sedikit saja, perusahan akan rugi banyak dan kinerjanya akan dipertanyakan.
"Lebih baik kau istirahat, ini sudah sangat malam untuk ke kantor." Harumi melirik lagi ke angka yang menunjukkan waktu saat ini.
Anton masih diam, kedua tangannya menggenggam erat kendali mobilnya.
"akan kuantar kau pulang, jadi mengertilah situasiku sekarang"
__ADS_1
"Tapi bisakah kau dengarkan aku untuk saat ini saja ?"
"Ada masalah tidak bisa kutunggu sampai besok, dengar Rumi, kau istirahat di rumah. Jangan bertanya atau berfikiran yang tidak penting" Anton menjawab tegas, ia menoleh sebentar melihat Harumi.
"Kenapa kita selalu harus berakhir seperti ini ? selalu ada aja masalah, masalah, masalah. Aku Muak !!" Harumi membalas dengan nada meninggi, ia seakan berteriak di telinga suaminya.
"Cukuuuup Rumi, aku tidak ingin meladenimu saat ini"
Tubuh Harumi pun semakin sesak, pikirannya seakan berputar. Kata-kata terakhir Anton mulai membuatnya emosi. Ia berusaha tenang sebelumnya, tapi Anton bukannya mengerti justru ikut marah.
"Aku bosan membahas tingkah lakumu selama ini, kepentingan perusahaan selalu teratas dalam hidupmu. Aku kira kau akan berubah sejak malam ini, ternyata aku salah. Salah menilaimu, aku diam dan menurutimu bukan untuk mengalah, tapi..."
"Tapi apa ? kau ingin membalas ku, apa yang bisa kau harapkan, aku bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu. Apa yang bisa dihasilkan hanya menjual bunga-bunga itu. Tidak ada apapun yang bisa kau andalkan dari itu!! kalau bukan aku yang menopang hidupmu" Mata Anton berapi-api, ia seolah melemparkan Bola panas ke arah Harumi.
Dada Harumi semakin sesak, airmatanya tertampung di pelupuk matanya, bernafas pun ia tidak sanggup. Seluruh tubuh seakan terhimpit oleh bola panas yang dilemparkan Anton.
Marah, sangat besar amarah yang dirasakannya seolah membakar habis tubuhnya. Kata-kata makian kasar sudah di tenggorokan dan ingin segera keluar di bibirnya.
Mata Harumi tak berkedip sedikit pun, ia mencengkram erat tangannya, menahan tangan ini agar tidak melayang ke wajah Anton. Benar sekali, Harumi sudah sangat ingin menampar wajah suaminya.
Sombong, itu kata baru yang tersimpan di pikiran Harumi tentang Anton saat ini. Ia semakin tinggi semakin ingin menginjak Harumi. Kekurangan dalam diri Harumi memudahkan Anton memandang rendah dirinya.
Detak Jantung yang memompa kencang di dadanya, tak sanggup menahan airmata yang akhirnya tumpah juga.
Terlintas kembali mengenai Dokumen Rahasia itu, pikiran Harumi sudah penuh. Setidaknya ia ingin melepaskan satu beban berat dalam otaknya saat ini.
Bibir nya ingin terbuka, mencerca Anton dengan kebohongan mengenai hal yang sudah di sembunyikannya. Tertunda seketika, saat Anton mulai menyerang lagi dengan kata-kata paling menyakitkan bagi Harumi.
"Kau sudah tidak bisa memberiku keturunan, seharusnya bersyukur karena aku masih menerimamu. Jadi jangan bertingkah seolah kau Perempuan paling sempurna di muka bumi ini, hingga ingin mengaturku" ketus Anton menatap sangat tajam menusuk Harumi tidak hanya di matanya tapi seluruh organ tubuh Harumi.
Harumi hancur, hatinya Hancur habis tak berbentuk. Hantaman keras dari Suami yang sangat di cintainya menghancurkan setiap inci dalam dirinya.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you 💋