
Apa hanya rasa frustrasi dan amarah yang dilihat mata itu ? Mungkin.
Harumi mengernyit lalu memusatkan perhatian pada sorotan Mata Anton "Kenapa kau selalu bersikap seperti ini kepadaku ? Selalu menuduhku tanpa alasan yang jelas. Aku tidak membela siapapun, hanya ingin kau bisa lebih menahan diri karena setiap kita berkumpul bersama. Kau selalu bersikap dingin dan melontarkan kata-kata tidak sewajarnya pada Robert. Bahkan kau tidak peduli mengatakannya dihadapan anak-anak "
Kata-kata, senjata paling mematikan yang dianugerahkan kepada manusia.
Anton, dari semua orang, tahu kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh kata-kata tetapi ia sendiri melontarkannya secara sembarangan, tanpa memikirkan luka yang mungkin di sebabkannya.
Pria itu menggeleng dengan tegas "Itu tidak benar. Aku merasa kau tidak pernah berpihak padaku, Rumi. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya di remehkan oleh seseorang, di anggap tidak kompeten. Bahkan Ameera hanya diam tidak membela sedikit pun. Sama halnya sepertimu"
Bibir Harumi membuka "Oh, yah, jadi ini salahku ? Karena kau merasa diremehkan oleh Robert. Kau terbawa emosi, tapi selalu melampiaskannya padaku." Wanita itu melemparkan senyuman masam.
Sorot tatap Anton mengeras "Diam !!! Aku TIDAK PERLU Komentar darimu lagi"
Harumi terdiam ketika kata-kata lelaki itu meresap "Jadi, maksudmu ..." wanita itu kembali menahan dirinya, seakan gumpalan aneh menahan tenggorokannya. Rasa perih itu hadir dengan lebih kuat di dadanya. Kata-kata yang begitu ingin dilontarkannya tak mampu di utarakannya karena Pria itu sudah memberi tusukan tajam pada jantung Harumi.
Sempat diselimuti dengan keheningan yang sesaat merasuki mereka, Anton kembali melontarkan sesuatu yang membuat Harumi semakin menyakitkan.
"Asal kau tahu, alasanku Menyusulmu ke sini, karena ingin menghentikan sikap Liarmu. Ini yang sudah kuduga sebelum kau pergi, kau benar-benar berubah semakin tidak terkendali. Aku tidak habis pikir, apa ada wanita yang masih berstatus menikah pergi bersenang-senang seorang diri di negara lain ? Tanpa komunikasi apapun denganku as your husband " suara Anton sarat dengan sarkasme "Seharusnya kau tahu posisimu sekarang !"
Harumi menatap suaminya, berusaha memahami dahsyatnya tuduhan Pria itu. "A-apa yang kau bicarakan Anton ? Bersenang-senang ?"
"Itu benar bukan ? Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu, berpesta" seringai miring tergambar di wajah Anton "Jika, aku salah. Lalu, Apa yang sebenarnya yang kau sembunyikan dariku ?"
"Itu bukan urusanmu lagi. Aku memiliki hidupku sendiri. Sudah cukup kau membuatku menderita. Enough ... Enough !" telapak tangannya berkeringat dan ia mengusapkannya ke celana. "Pernikahan kita tidak bahagia, Anton. Apa kau tidak menyadarinya ?"
__ADS_1
Anton menatapnya "Tidak bahagia ? siapa sebenarnya yang memulainya duluan ? Kalau bukan kecerobohan bodohmu, tidak keluar pada malam itu. Ini semua tidak akan berbuntut panjang, Rumi. Aku selalu mengingatkanmu agar selalu menjaga calon bayi kita dan meminta izinku lebih dulu. Look What youve done !!!"
Mulut Harumi tiba-tiba kering, sakit itu kembali hadir dengan rasa tusukan ribuan jarum menghujami jantungnya saat ini "Oh Tuhan, sebegitu parahnya kau bisa berkata sekasar itu padaku"
Anton tersenyum tipis "Jangan merasa hanya dirimu yang menjadi korban dari semua ini. Kau sudah menghilangkan calon bayi kita, menghancurkan semua harapanku. Dan sekarang, dengan santainya tanpa bersalah kau meninggalkan Bristol ke New York seorang diri hanya untuk mencari kesenangan di luar. Apa pantas seperti itu ?"
"Kumohon, hentikan semua kata-kata itu"
"Itu benar adanya" nada suaranya lincir dan Anton tampak tidak terganggu oleh ketegangan Harumi yang semakin besar "Sadarlah, jangan pernah bertindak bodoh untuk kedua kalinya"
Wanita itu menggigit bibir "Itu tidak benar. Kau salah menilaiku seperti itu"
"Ooh jadi, maksudmu aku yang salah. Aku yang sudah menyebabkan kecelakaan itu. Kau ingin menuduhku seperti itu bukan ? BENAR KAN !"
Harumi ingin menambahkan semua perkataan untuk membela diri, lalu mengatupkannnya lagi. Apa gunanya ? Apa gunanya memberitahu Anton bahwa tidak biasanya ia tak dapat menahan diri seperti ini ? Itu hanya akan menyanjung ego Anton yang sudah terlalu menggembung, dan Pria itu tidak akan percaya kepadanya.
Mata Anton dingin "Bercerai ?" tersenyum sekilas dengan sinis "Itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan sampai kau bertekuk lutut sekali pun. Tidak ada kata Perceraian diantara kita. seumur hidup kau akan menghadapiku, Rumi. SEUMUR HIDUPMU !!"
Harumi tidak peduli tentang gelap dan tidak peduli tentang bahaya yang siap menerkamnya setiap saat dalam hidupnya. Iblisnya jauh lebih dekat dan lebih nyata dari itu.
"Kenapa kau sangat berbeda, Anton ? Pertama kali bertemu denganmu, kau benar-benar berbeda dengan dirimu yang sekarang. Kupikir dengan musibah yang menimpa kita, akan membuat rasa saling memiliki, saling menjaga, rasa sayang kita akan semakin kuat. Semua diluar dari yang kuharapkan. Apa aku salah menilaimu saat ini ? Semakin aku berusaha memperbaikinya, perasaan sakit itu justru semakin intens." suaranya bergetar oleh emosi.
Harumi tidak berhenti "Entah siapa yang harus disalahkan dalam kondisi ini ? Aku sudah muak." emosi dalam suaranya jelas memiliki efek karena Pria itu mengamatinya untuk waktu yang lama.
"Apa yang bisa kau harapkan ? Tidak ada." suara Anton terdengar menusuk "Ini adalah diriku yang dulu, yang sekarang dan seterusnya. Tidak ada yang berubah."
__ADS_1
Masih tersiksa oleh rasa mencerca diri, Harumi berdiri, jemarinya menusuk telapak tangan "Tidak. Kau tidak perlu mengubah apapun. Karena kau harus bersiap dengan perubahanku yang baru." Dan Harumi tahu tentang bagaimana rasanya berjuang.
"Oh baiklah. Aku tunggu perubahanmu" senyum tipis Anton mengolok-olok "Kau itu orang suci, Harumi Nayaka. Orang suci dengan hoby berpesta"
Mulut Harumi menegang "Apa sudah puas dengan semua ocehanmu ?"
Pandangan Anton terang-terangan tidak menunjukkan rasa simpatik, ia berjalan mendekati Harumi. Menghapus jarak di antara keduanya, seringai sinis menyapu wajahnya "Aku suka dengan semua perlawananmu yang sekarang. Sikap lebih terbuka dan Agresif adalah dirimu yang baru. Ini membuatku lebih bergairah" tangan Anton menyentuh pipi Harumi.
Kemudian, wanita itu berpaling ke samping tidak membiarkan Pria itu menyentuhnya "Hentikan !"
Harumi mengangkat dagu dan menatap mata Anton. "Jangan bersikap seolah Aku masih menjadi milikmu ! It's a BIG MISTAKE."
Ekspresi di mata Pria itu sekeras nada suaranya "Oh Really ? Jangan bercanda denganku, Rumi. Karena kau akan menyesal !" satu tangan Anton menangkup dagu istrinya dengan erat.
Sesaat, rasa tak berdaya yang familiar melandanya dan Harumi hanya ingin meringkuk menjadi bola dan bersembunyi dari hidupnya.
"Aku tidak TAKUT" mata nya tidak berkedip membalas tatapan sinis Anton
Anton menarik napas dalam-dalam "Jika kau merasa bukan milikku lagi. Maka, INGATLAH ! Tidak akan ada Pria lain yang bisa memilikimu, Tidak akan Pernah Ada. Kalaupun, ada yang berani mendekatimu. Kematian adalah pilihan yang terbaik untukmu dan juga DIA."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You ❤
__ADS_1