
Dengan tenang, Harumi menuruni anak tangga satu per satu menyusul Liam yang tengah menunggunya di bawah.
Beberapa kali Harumi berusaha menghindari semua keinginan Liam dengan banyak pertimbangan yang dipikirkannya matang. Tetapi, kenapa perasaan itu jauh lebih berkekuatan besar dibandingkan apa yang sedang berada di pikirannya.
Seolah Harumi tidak pernah merasa keberatan dengan segala apapun yang diatur pria itu untuknya, walaupun hubungan ini akan berisiko sangat besar bagi kehidupan keduanya.
Di dalam hatinya terdalam, Harumi mengakui Perasaan sayang untuk Anton pun masih ada, karena wanita itu mengerti bagaimana perasaan kuat itu dulunya pernah tumbuh subur dalam hatinya. Yeah, tentu saja Anton adalah bentuk Cinta Pertama Harumi yang sangat sulit disandingkan dengan perasaan apapun yang dialaminya sekarang bersama Liam.
Itulah yang begitu berat untuknya, membedakan apakah hubungan ini benar-benar hanya sebuah hubungan terlarang dari sebuah Persinggahan Sementara atau kah mereka masih memiliki Kesempatan Masa Depan Indah sebagai Pasangan yang diiming-imingi sebagai sebuah Cinta Sejati.
Apa yang mereka lakukan bersama akan mengisi khayalan Harumi untuk waktu yang lama, entah bagaimana wanita itu akan bisa kembali menata perasaannya yang terus terbagi.
Mungkin Harumi terlalu banyak berpikir, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
Harumi mendapati Liam tengah mengobrol serius dengan seseorang berdiri membelakangi Harumi, tentu saja Harumi bisa mengenali suara itu. Liam pasti sedang berbicara dengan Sekretarisnya, itu Pak Will.
Liam mengamati Obrolan Sekretarisnya sesaat kemudian melangkah mundur, memberi isyarat kepada Pria paruh baya itu. Liam menyadari kehadiran Harumi.
"Sudah siap ?" sapa lembut pria itu menatap Harumi yang sudah berdiri beberapa kaki darinya.
Sekretaris Will refleks berbalik, saat ia mengetahui keberadaan Harumi di balik punggungnya.
"Selamat Siang Nona Harumi" sapa Sekretaris Will tersenyum memberi hormat
Harumi membalas senyuman dengan ramah, karena baginya Sekretaris Will adalah Pria paruh baya yang sangat dihormati Harumi layaknya seorang Ayah untuknya "Selamat Pagi, Sekretaris Will. Apa kabar ?"
"Baik, Nona. Silahkan " Pria paruh baya itu pun melangkah mempersilahkan keduanya menuju Mobil yang sudah di sediakan
"Apa anda ikut bersama kami ?" dengan wajah penasaran Harumi mengajukan pertanyaan yang membuat Sekretaris tersebut tersenyum simpul
Sekretaris itu pun menjawab sambil bergerak melewati ambang pintu "Tidak, Nona. Saya mengurus semua keperluan Tuan seymour di sini dan di California selama ia tidak ada"
Harumi berbalik mengernyitkan alisnya sambil menatap Liam yang mengiringinya di belakang "Memangnya kita mau kemana ? tidak biasanya Sekretarismu tidak ikut"
Saat dia menatap Liam, wanita itu merasakan tatapan pria itu bergerak turun "Aku benar-benar menyukai saat kau mengenakan dress putih ini"
Dia mengangkat alis sementara bibirnya berkedut "Kau selalu mengalihkan topik pembicaraan dan tidak menjawab pertanyaanku"
__ADS_1
"Kau tidak jauh berbeda denganku, sangat tidak sabaran " Mata coklat gelap Liam perlahan-lahan bergerak untuk kembali menatapnya. Seringai kecil muncul, tangan Liam meraih pinggul ramping Harumi dan menariknya mendekat.
Lalu, pria itu merangkul tubuh mungil Harumi menyatu dengan dirinya agar mereka bergerak bersama, mereka melewati Sekretaris Will yang sudah berdiri menunggu pasangan sejoli itu di ambang pintu.
Rona merah terpancar di pipi Harumi, ketika tangan Liam merangkul pinggul wanita itu dengan sangat posesif "Apa yang kau..."
"Sudahlah, bukankah kita sekarang sedang akan berbulan madu" goda Liam dengan seringai nakal di wajah tampannya.
Mereka bergerak melewati Sekretaris Will dan memasuki pintu Lift yang sudah terbuka. Diikuti dengan Sekretarisnya.
Harumi tak bisa berbuat apapun bahkan tidak menjawab. Pasrah, yah jika melihat tingkah laku Liam yang selalu dan selalu semaunya, sudah menjadi hal biasa yang dihadapi Harumi.
Ketika di dalam Lift, Liam berbisik "sepertinya menyenangkan jika kita melakukan sesuatu yang panas di dalam Lift, benar bukan ? kita harus mencobanya lain waktu"
Mata Harumi membelalak "Apa !!!" Dia melirik ke arah Sekretaris Will yang berdiri beberapa kaki di belakang mereka "Jangan membuatku ingin melayangkan tinjuan di wajahmu, Liam"
"Tinjuan ? waah, itu yang membuatku tergila-gila padamu, Kau Agresif" bibir Liam melengkung dengan sensual
Otot di bawah perut Harumi menegang, Liam memang sangat ahli dalam menggoda wanita.
Harumi mengingatkan dirinya sendiri, dan dia akan baik-baik saja, tetapi anehnya, itu membuat dirinya merasa hampa.
Dari balik pintu Kaca, sudah menunggu seseorang di depan mobil mereka. Itu adalah Sopir pribadi Liam. Anehnya, Harumi tidak melihat adanya para pengawal yang biasa mengikuti Liam kemana pun.
"Mobil Anda sudah siap, Tuan Seymour" ucap Sopir itu saat menatap Tuannya yang sudah keluar melewati Pintu.
Liam bergerak mengambil kunci dari tangan sopir tersebut lalu memasuki kursi kemudi, Harumi dibuat heran "Kau yang mengemudikan mobil ?"
Sekretaris Will dengan santun menjawab "Tuan Seymour sendiri yang ingin mengemudikan Mobilnya, bahkan tanpa pengawalan siapapun. Hanya Nona dan Tuan saja"
Harumi yang masih keheranan, hanya bisa mengikuti dengan semua skenario yang sudah di rencanakan pria itu untuknya.
Sekretaris Will tidak ikut bersama mereka, tanpa Sopir pribadi bahkan tanpa pengawalan ketat, wanita itu terus berpikir ketika langkah kakinya membawa ia memasuki Mobil Sport Hitam super mewah tersebut.
"Ada apa ini, Liam ? kenapa...?"
Liam menyalakan mesin mobil lalu berbalik menatap Harumi yang sudah duduk di sebelahnya "Kau terlalu banyak pertanyaan" seringai singkat melintas di wajah Liam.
__ADS_1
Sesaat sebelum mobil bergerak, Liam menatap Sekretaris kepercayaannya tersebut "Thank you, Pak Will"
"Aku memang banyak bertanya" Harumi mengakui
" Tapi, wajar kan jika aku menanyakan sesuatu yang di luar kebiasaanmu"
"Maksudmu tanpa Sopir pribadi dan pengawalan ketat. Lalu, kenapa ? aku hanya ingin berdua denganmu, benar-benar berdua" sambil memegang kemudi, tatapannya sesekali beralih ke kaca spion.
Ini untuk pertama kalinya, Harumi menatap pria itu yang tengah fokus, Liam tak mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.
Harumi diam dalam keheningan, membiarkan pria itu tetap fokus.
Terlintas dalam pikiran Harumi saat matanya mengarah kembali memandang Liam, dari samping wajah pria itu. Entah kenapa, bagi Harumi garis wajah Liam mengingatkannya pada Anton.
Mereka terlihat mirip. Yah, apapun yang begitu saja terlintas di benak Harumi. Ia tidak yakin kenapa itu tiba-tiba muncul dengan anggapan kalau kedua pria itu memiliki kemiripan.
Itu hanya perasaanku saja ? mirip ? Tidak mungkin, mereka bahkan memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang.
Harumi beralih menatap pemandangan perkotaan Manhattan yang mereka lalui dari balik jendela mobil di sampingnya.
Gambaran aktivitas perkotaan yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas mereka, Dan Harumi masih sangat mengingatnya ketika dia pernah menjalani kehidupan perkotaan di New York dulu selama 5 tahun.
Ketika lampu lalu lintas berwarna merah menyala, mobil mereka berhenti sejenak. Liam berbalik memandangi Harumi yang tak menyadarinya.
"Rumi..."
"Yah" wanita itupun akhirnya berbalik
"Apa ... ehmm..." Liam menarik nafas sejenak "Apa kau membalas Pesan Singkat itu ?"
Liam menatap Harumi, kemudian tatapannya kembali ke arah Spion.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan LIke, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you 💓