
"Apa sebenarnya hubunganmu dengan pasien ini ?"
"Lebih sedikit yang kau ketahui, itu jauh lebih baik untukmu"
"Noah, kita bekerja untuk kemanusiaan. Mengambil sumpah untuk tidak melibatkan hal pribadi dalam pekerjaan. Kau seharusnya mengerti konsekuensi yang kita ambil jika melakukan kesalahan. We were a Doctor, Tugas kita menyelamatkan manusia. Kau mengerti ?!"
"Kau tidak perlu menasihatiku tentang dunia medis apalagi tentang kehidupan seseorang. Kau tidak jauh berbeda dariku."
"Aku tidak sedang menasihatimu saat ini, tapi berbicara sebagai seorang teman. Jangan sampai tindakan mu ini akan membuatmu menyesal seumur hidup. Entah apapun tujuanmu pada wanita ini, sebaiknya jangan pernah melibatkan hal buruk pada siapapun. "
"sebaiknya lakukan yang sudah ku bicarakan tadi, tentang bagaimana hasilnya kau cukup duduk sebagai penonton."
"Ok, aku akan membantumu, tapi jangan pernah libatkan aku dengan apa yang terjadi ke depannya."
...****************...
Suara gemericik air terdengar dari balik pintu kamar mandi, Harumi duduk di tepi ranjang. Dengan terdiam, ia memandangi ke arah luar jendela.
Ia menunggu.
Tak lama Liam keluar dari kamar mandi, pria itu berjalan menuju dressing room. Mengenakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Rambutnya yang kecoklatan tampak setengah basah, sambil melangkah ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Lalu melemparnya di atas ranjang.
Sikapnya dingin, ia hanya diam.
Melewati Harumi yang duduk menatapnya, tapi pria itu sama sekali tidak membalas tatapannya.
Ia tetap berjalan tanpa sepatah katapun dengan ekspresi datar bahkan sedingin sikapnya.
Suasana menjadi sangat hening dan Harumi merasakan intensitas ketegangan yang sangat dibencinya.
"Liam..." Harumi mulai bersuara
Sikap Liam tidak bergeming, ia masih bergerak menuju ruang ganti, tanpa menoleh.
"Sampai kapan kau bersikap seperti ini, pada ibumu. Pada masa lalumu." Harumi menatap punggung Liam.
Langkahnya terhenti, ia berdiri membelakangi Harumi.
Berbalik. Liam menatapnya "Dia bukan wanita yang bisa dimaafkan."
Kekerasan hatinya, menampakkan sisi lain Liam yang baru diketahui Harumi.
"Setiap manusia berhak untuk berubah, perubahan sikap Anita bukan untuk menyakitimu."
"Apa sebenarnya yang sudah dikatakan wanita itu, sampai membuatmu berpihak padanya ?" ia berjalan mendekati Harumi
Mata keduanya saling beradu.
Harumi menggeleng "Ia tidak menawarkan apapun, hanya saja---" Harumi menutup kembali bibirnya, ia menahan diri. Ia tidak ingin mengatakan mengenai apa yang sudah diketahuinya dari Anita.
Terutama tentang Ayah Kandung Liam yang sebenarnya.
"Apa kau sudah lupa mengenai kejadian penembakan itu ? Kau pikir siapa yang sudah merencanakannya ? Yah. Itu adalah rencananya."
Kejadian penembakan yang hampir merenggut nyawanya waktu itu, sontak membuat Harumi gemetar ketakutan. Kepalanya terasa pusing.
Suara tembakan berdengung berputar di kepalanya. Ia masih mengingat jelas kejadian itu. Harumi memerosotkan tubuhnya dengan kedua tangan menutupi kedua telinga. Dadanya naik turun tidak beraturan, udara disekitarnya seakan menghilang, keringat dingin membasahi keningnya.
Liam meraih pundak Harumi, mengangkatnya. Membantunya berdiri. Pria itu Langsung memeluknya dengan erat.
Ia menyadari sikap yang diperlihatkan Harumi menunjukkan bagaimana perasaan trauma itu belum sepenuhnya menghilang.
Harumi sudah menerima begitu banyak peristiwa menyakitkan dalam hidupnya, hidup yang selalu dihantui oleh trauma tidaklah mudah bagi seorang wanita.
"Atur napasmu." Liam mengusap bahunya, menenangkan wanita itu.
Harumi mulai sedikit lebih tenang. Ia perlahan-lahan kembali stabil.
"Maafkan aku" ucapnya dengan napas yang masih tersengal ditenggorokannya.
Liam memeluk lebih erat "Semua akan baik-baik saja, i promise."
Harumi berusaha mengendalikan dirinya, mengatur nafasnya.
Pelukan itu hangat, sehangat matahari di musim semi bahkan disaat Liam mengusap puncak kepala Harumi dengan lembut. Itu cukup membuat perasaan cemas dan rasa takut berubah menjadi asap yang terbang menjauhinya.
"Dan satu hal, aku belum memberitahumu mengenai tujuan kedatanganku ke Bristol."
"What ?"
"Aku menemui kedua orangtuamu"
Harumi mengangkat wajahnya dan membuka lebar kedua matanya "B-bagaimana mungkin kau menemui mereka ? Apa yang sudah kau lakukan ?"
Liam menyeringai santai "Tentu saja, aku ingin meminta restu dari mereka."
Tanpa sadar Harumi membuka bibirnya, ia benar-benar dibuat heran. Mengingat Liam yang memiliki kebiasaan selalu memberikan kejutan -kejutan yang tidak terduga.
Tapi...ini diluar dugaan. Kejutan apalagi yang sedang direncanakannya ? Menemui orang tua Harumi ? Meminta restu tentang hubungan mereka ? Harumi tidak bodoh, ia masih dalam kondisi sadar. Hubungannya dengan Liam tidak bisa dikatakan sebagai hubungan yang biasa.
Bahkan semua orang sudah menghujat nya, memberitakan dengan banyak hal buruk yang menjadi opini publik secara bertubi-tubi. Menyudutkan mereka berdua, terutama posisi Harumi.
__ADS_1
"Why ?!!!! Kenapa tidak membicarakannya denganku lebih dulu ?!! Bagaimana mungkin meminta restu pada mereka, sedangkan hubungan yang kita jalani sekarang...."
Liam langsung menutup bibir Harumi dengan satu jari "Bisakah sikapmu lebih tenang, atau aku harus membungkammu terus dengan cara yang biasanya." pria itu tersenyum nakal
Harumi cemberut dan menggigit jari Liam, pria itu sontak terkejut.
"bagitulah akibatnya jika kau selalu mempermainku!!!" Harumi menatap Liam dengan alis terangkat.
Liam tertawa "Aku menyukai gigitanmu"
Harumi meruncingkan matanya dengan sebal. "Aku bisa mematahkan jarimu dengan mudah"
"We are Strong, My love. We will not be defeated. Aku berulang kali berjanji padamu, I will Fight For you."
"Tapi--bagaimana dengan respon ibuku ? Terutama ayahku ?"
"Apa kau penasaran ?" godanya
Harumi menatap membulatkan matanya.
Pria itu menyentuh dagu Harumi dan mengangkatnya lalu mengecup bibir Harumi.
"I got their blessing" bisiknya tepat setelah ia melepaskan bibirnya dari bibir Harumi
Harumi tiba-tiba merasakan wajahnya memanas "w-what ?!!"
"Tentu saja awalnya tidak berjalan dengan mudah, dan aku mengerti. Tapi, tentu saja Liam Seymour tidak akan menyerah begitu saja."
"Kau sudah menemui ibu dan ayahku. Bagaimana kondisi mereka ? Apa mereka baik-baik saja ?"
Liam bisa merasakan kekhawatiran di wajah Harumi "Mereka sangat merindukanmu, dan berharap bisa bertemu denganmu secepatnya."
Harumi tersenyum "Ibuku adalah wanita yang sangat hangat, berbeda dengan ayahku yang sangat konservatif. Kau pasti kesulitan menghadapinya."
Liam mengerutkan keningnya "awalnya mungkin tapi pada akhirnya dia akan melunak secara perlahan. Mereka sangat menyayangimu, kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka."
"Aku juga merindukan mereka, Ayah, Ibu, Takeru dan Ben."
Pria itu mencubit pipi Harumi dengan mesra "Kita akan segera menemui mereka bersama."
Seutas senyuman mewarnai wajah cantiknya, "Liam.."
"hmm"
"Kumohon sekali ini saja, terimalah ajakan Anita untuk makan malam bersama"
Liam menarik nafas dalam "Apa kau masih membelanya ?"
"Bukan, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Entah apa yang sedang direncanakan ibumu padaku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin kita semua berakhir dengan baik-baik saja. Aku tidak ingin membalas hal buruk dengan hal-hal buruk lainnya."
Memanglah tidak ada manusia satu pun yang dilahirkan sempurna, tapi baginya Harumi Wanita yang menyempurnakan hidupnya.
Banyak hal buruk yang dialaminya, begitu banyak masalah demi masalah yang menghampiri bahkan merintangi mereka.
Tapi, bagaikan benang kusut, Liam membenarkan satu per satu helaian demi helaian dalam hidup mereka yang penuh dengan masalah.
Jangan berharap kemudahan, Jangan berharap keringanan bagi dua orang yang kini sedang memperjuangkan sebuah hubungan.
Hubungan yang diawali dari pengkhianatan, Hubungan yang diawali dari kebohongan,
Menghancurkan komitmen Sakral Pernikahan, mengatasnamakan Cinta.
Konsekuensi besar yang harus diterima keduanya, karena memilih keputusan ini.
Semua didasarkan pada apa yang diyakini oleh keduanya.
Walaupun akan banyak anak panah yang siap tertuju ke arah mereka, dari berbagai penjuru.
Mereka siap menghadapinya.
Bahkan disaat Kehancuran dan Kematian sedang mengintainya.
...****************...
Liam menyetujui untuk makan malam bersama, tapi ia memilih tidak berbicara sepatah katapun selama makan malam berlangsung.
Walaupun Anita tidak berhenti berusaha mengambil hati Puteranya, tapi Liam tetap bersikap dingin.
Hanya Harumi yang mencairkan suasana, mengajak Anita mengobrol hal ringan terutama menyangkut pekerjaan.
Sampai akhirnya Liam selesai makan, ia meletakkan garpu dan serbet di atas meja.
Sesaat ia hendak berdiri, Anita menarik tangannya.
"Liam, bisakah duduk sebentar saja."
Ia memalingkan wajahnya, lalu menarik tangannya.
"Kumohon, sebentar saja. Ibu masih ingin melihatmu."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan"
"Kumohon biar ibu jelaskan, apapun yang kalian pikirkan. Semua itu salah. Itu sama sekali tidak benar."
__ADS_1
Harumi menatapnya "Apa maksud anda ?"
"Aku mengerti bagaimana kau sangat membenciku, membenci semua hal yang kuperbuat. Tapi, mengenai penembakan itu, mengenai apa yang terjadi pada Ayah Harumi."
Harumi terkejut, ketika Anita menyebut hal yang berkaitan dengan keluarganya.
Keningnya mengernyit "Apa maksud anda ? Apa yang terjadi pada ayahku ?"
Liam berbalik melempar tatapan amarah pada Anita "Hentikan"
Anita heran melihat reaksi Harumi "Apa kau tidak mengetahuinya ?"
Ia menelan salivanya "Katakan, apa yang terjadi pada Ayahku ?"
Liam berusaha keras menutupi perihal yang sedang dialami ayah Harumi di Bristol. Begitu halnya dengan Nami, ibunya pun tidak ingin kejadian yang menimpa suaminya di ketahui oleh Harumi.
Karena itu akan semakin membebani hidup Harumi.
Harumi menoleh kepada Liam "Apa kau sudah mengetahui hal ini sebelumnya ? Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada keluargaku ? Karena itukah alasannya kau pergi ke Bristol menemui orang tuaku ?!"
"Dengarkan aku." ia meraih tangan Harumi, tapi wanita itu langsung berdiri
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Liam ?!!! Apa lagi ?!!!" dengan suara gemetar Harumi menahan emosinya
Anita hanya menatap keduanya "Yang melakukan penyerangan terhadap Harry Whiston bukan lah atas Perintahku."
"STOP !!" bentak Liam menunjuk ke arah Anita, kedua matanya berapi-api, bahkan ia hampir meluapkannya pada Anita. Tapi ia menahan diri karena tidak ingin semakin memperkeruh keadaan.
Anita terkejut, melihat reaksi Liam yang sangat mengerikan. Tatapannya, gestur tubuhnya yang tak biasa. Seolah-olah mengingatkannya pada seseorang.
Roberto. Liam memang bukan darah daging Roberto.
Tapi, ketika sedang diselimuti Amarah. Sikap keduanya tidak bisa dibedakan.
Harumi semakin menajamkan sorot matanya, napasnya memburu. "Katakan yang sebenarnya !!"
Liam akhirnya memilih menyerah karena ia tidak ingin jika harus berselisih paham lagi dengan Harumi dan menceritakan semuanya satu per satu tanpa apapun yang disembunyikannya.
Harumi terdiam, ekspresinya sedih ketika mendengarkan penjelasan Liam. Ia hampir tidak bisa menahan airmatanya. Berulang kali ia mengusap kedua matanya, menahan dirinya untuk tidak tampak lemah.
Sampai pada satu kesimpulan,
Ia ingin Menyerah.
Menyakiti Keluarganya, ini sudah diluar batas.
"Sekali ini saja, Kalian Harus mendengarkanku. Mendengarkan penjelasanku yang sebenarnya. Bahwa apa yang terjadi pada kalian tidak sepenuhnya benar."
"Semua sudah terbukti"
"Bukti apa, Liam ? Dengarkan ibu baik-baik. Mengenai penyerangan di Minimarket, itu bukan Perintah dariku. Memang benar aku memerintahkan orang-orang suruhan untuk membuntuti kalian, melaporkan semua informasi kegiatan kalian. Tapi, penembakan itu SAMA SEKALI BUKAN PERINTAH DARIKU."
"Maksudmu seseorang sedang mengadudomba ?!! Jangan mencari-cari alasan !!!"
"Aku tidak pernah memerintahkan untuk membunuh. Kau bisa dengarkan rekaman ini. Ibu merekamnya untuk berjaga-jaga. Karena pada akhirnya ini akan berguna "
Anita mengeluarkan ponselnya, dan membuka rekaman suara. Antara dirinya dan salah seorang petinggi Kelompok Gangster Orion.
Liam mendengarkan sama halnya dengan Harumi.
Dalam percakapan tersebut, memang terdengar jelas. Anita hanya meminta agar orang-orang dari Orion hanya untuk membuntuti mereka, bukan mengancam apalagi menyakiti.
Dan pada rekaman kedua dihari yang berbeda, dari situ terdengar Anita marah besar atas kejadian penembakan itu.
"Aku tidak pernah memerintahkan penembakan tersebut. Bahkan yang menimpa Harry Whiston di Bristol, itu perintah dari seseorang. Memang benar, aku sempat diselimuti amarah karena tidak bisa merestui hubungan kalian. Aku memang sempat merencanakan hal buruk itu, tapi aku langsung mengurungkannya. Karena Ibu menyadari perbuatan ibu ini akan semakin membuatmu membenciku."
"Lalu maksudmh Mr. Yarrow berbohong ?" Liam menyorot penuh selidik
Anita menaikkan sudut bibirnya "Pria itu hanya ingin membalaskan dendamnya padaku, karena aku tidak pernah menerima keberadaannya. Jadi dia seolah-olah mengarang cerita bahwa aku bekerja sama dalam bisnis dengannya. Benarkan ? Aku yakin ssperti itu pengakuannya kepadamu"
"Bisnis yang kalian jalankan memang benar, kau tidak bisa berbohong."
"Itu adalah bisnis yang dijalankan Roberto dengannya, menggunakan namaku. Padahal sebenarnya aku tidak pernah menjalankan bisnis itu, Roberto hanya ingin meraub banyak keuntungan. Dengan memanfaatkan ku, karena ia sudah mengetahui perasaan pria itu padaku."
Anita berdiri menatap Liam dan ada ketegasan di dalam sorotan matanya
"Maksudmu ada seseorang yang mengatur ini semua ?!!"
"Tentu saja, ibu memikirkan ini. Kau pikir ibu akan diam saja setelah nama baik ibu selalu dicoreng sebagai Wanita Jahat yang kejam. Apalagi Puteraku sendiri semakin membenciku. Aku mencurigai satu orang. Dalang dari semua permasalahan ini."
"Noah ?"
"Bukan, aku yakin Noah hanya sebagai bidak catur yang sedang di mainkan orang tersebut. Karena tidak mungkin Noah dengan mudah memiliki semua informasi perusahaan"
Liam mengernyit "Maksudmu ... Orang itu ?"
Anita tersenyum "Liam kau adalah orang yang Cerdas, pasti kau berpikiran hal yang sama denganku. Siapa lagi yang mengetahui semua Rahasia dikeluarga kita, dan tentu saja yang memiliki akses semuanya."
"Luciano"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤