
Mulut Harumi menegang "What you mean ? Ada apa dengan Cathy ?"
"Ibu tidak bisa menjelaskannya sekarang, Rumi. Apalagi hanya lewat telepon. Ibu akan menjelaskannya secara langsung jika kau sudah pulang ke Bristol."
Harumi dibuat semakin bingung oleh semua pernyataan sang ibu, "Menjelaskan tentang apa ? apa maksud ibu, apa ada sesuatu yang belum kuketahui ? Kumohon ada apa sebenarnya ?"
"Listen Rumi, ibu akan jelaskan semuanya. Tapi, mengertilah tidak bisa sekarang ini bukan waktu yang tepat. Tidak lewat telepon. Please, Trust me Ok. Semua baik-baik saja. Ibu akan menunggumu sampai kau kembali ke Bristol. Jadi, nikmatilah liburanmu selama di sana. Jangan berpikir hal-hal yang buruk tentang apapun. Percayalah pada ibu !"
Sesuatu yang gelap dan tidak mengenakkan teraduk-aduk di dalam dirinya dan Harumi menegang saat dipaksa menghadapi situasi ini "Tentu saja, Aku selalu mempercayaimu, bu. Tapi, semoga sesuatu yang ibu maksud itu bukan mengenai Anton atau yang berhubungan dengan pernikahanku."
Nami sontak terkejut mendengar jawaban Putrinya, jantung wanita paruh baya itu serasa melayang terlepas dari tubuhnya "Kenapa kau berpikir sampai kesitu, Rumi ?"
"Entahlah" Harumi menyeringai miring seolah tidak percaya dengan apa yang terlintas dalam pikirannya sekarang "hmm, tidak mungkin Cathy melakukan hal buruk kepadaku. Aku mempercayainya, She is my best friend. Dia selalu membantu dan mendukungku."
Entah apa yang harus di balas Nami, untuk mematahkan pemikiran Harumi tersebut, dari nada suaranya sudah tergambar jelas kalau Ibunya tidak menyukai Cathy, tapi Harumi seakan tidak ingin berpikiran buruk mengenai hal apapun tentang sahabatnya tersebut.
"Kau harus berjanji satu hal pada ibu, nak !
Don't Trust Anyone. Ikuti kata hatimu" Nami menahan rasa cemas berkecamuk di dalam hatinya mengingat apa yang sudah terjadi pada Harumi dan apa yang akan dialaminya nanti " Ibu yakin semua akan ada akhir yang bahagia di penghujung perjalananmu yang berliku, Putri Kecilku. I Love you My Daughter. Take Care."
Harumi tersenyum lembut "I Love you too. Take care"
Harumi mengakhiri pembicaraannya dengan tenang karena akhirnya ia sudah memberanikan diri untuk mengobrol kembali dengan ibunya, dan sedikit mengobati kekhawatiran sang ibu walaupun masih diselimuti dengan banyak tanda tanya mengenai apapun yang sedang disembunyikan oleh ibunya.
***
Sesaat Anton yang akan keluar rumah, tampak ia berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari Kamar tidurnya meninggalkan Harumi, menciptakan suara keras dari pintu yang sudah dibantingnya. Sampai juga ke telinga Ameera.
Ameera tampak sangat terkejut mendengar kejadian itu yang tengah menggendong bayinya di Ruang Tv. Menatap Anton, adik laki-lakinya tersebut yang menuruni anak tangga dengan wajah penuh amarah.
"Anton !!" panggil Ameera nyaring.
Wanita itu meletakkan Jamie di keranjang bayi, lalu melangkah cepat mengejar Pria itu.
"Anton !"panggilnya lagi
Awalnya Pria itu tidak ingin menghiraukan Ameera. Tapi, Ameera sempat menyusul dan berteriak di belakang punggungnya.
"Apa yang kau lakukan barusan ? Aku mendengar kalian bertengkar hebat tadi" tukas Ameera cemas.
Anton berdiri kaku, punggung bidangnya semakin menegang. Dia berhenti, membelakangi Ameera.
"JAWAB AKU ! Ada apa ? Kenapa sikap mu seperti ini ? Kau bahkan bukan Anton yang kukenal"
Pria itu berbalik, kemudian Ameera melihat wajah Anton yang gelisah.
Hati Ameera tetiba sontak terkejut menatap Anton yang seperti orang asing.
Wanita itu mengulurkan tangan dan menyentuh lengan adik nya tersebut "Anton, katakan ada apa ?" wanita itu berusaha mengendalikan emosinya
Anton menarik napas dalam-dalam "Ini bukan urusanmu." tatapannya mengeras
__ADS_1
Dengan tegas, pria itu menarik lengannya. "Jangan ikut campur, Meera. Kau bahkan tidak bisa berbuat apapun"
Kemudian, Anton berbalik dan berjalan menuju Mobilnya.
Pergi begitu saja, tanpa peduli dengan apa yang sudah dikatakannya telah membuat Ameera semakin cemas.
Wanita itu terus menatap Anton sampai mobilnya pergi menghilang dari pandangannya.
Ameera sangat menyayangi Anton, ia sangat peduli pada adiknya tersebut. Bahkan dia tidak pernah bermaksud ingin mencampuri urusan rumah tangga nya, tapi entah apapun yang terasa di dalam benak Ameera yang tak disengaja ketika ia mendengar pertengkaran mereka, membuatnya ingin turun tangan membantu Mereka berdua.
Ini seolah sesuatu yang sudah tidak bisa di abaikan begitu saja.
Sejam berlalu, Harumi masih memilih untuk berdiam diri di kamar. Ia hanya berbaring di atas tempat tidur, sambil menatap layar ponselnya.
Wanita itu menatap deretan satu per satu foto di galery ponsel miliknya, sesekali senyuman kecil tergambar jelas di wajahnya saat ia melihat foto-fotonya bersama orang-orang terdekatnya.
Ia merindukan setiap moment yang ada di foto-foto tersebut, dan masih mengingatnya dengan sangat jelas betapa bahagianya ia saat itu.
Foto penuh keceriaan dan kebahagiaan dimana mereka adalah orang-orang yang paling penting dalam hidupnya, Ayah, Ibu, foto Ben ketika ia berusia 8bulan, Foto Harumi bersama Andrea sahabat karibnya sejak semasa SMA dulu yang sampai kini masih menjalin persahabatan dan tak hentinya mengkhawatirkan Harumi , Takeru, dan juga Cathy di saat ia berulang tahun.
Mereka lah yang selalu membuat Harumi tetap tegar dan selalu memberinya supportnya tanpa henti.
Harumi bertekad tidak akan mengecewakan mereka, ia yakin semua ini akan segera berakhir. Segala kekecewaan, kesedihan dan penderitaan ini akan ada ujungnya. Badai ini pasti akan dihadapi Harumi dengan akhir yang bahagia.
Sesaat kemudian, Harumi berusaha merapikan penampilannya, lalu keluar kamar dan menuruni tangga.
Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Karena baginya ini bukan kebiasaan yang baik jika harus terus menerus memikirkan semua ucapan bodoh dari Anton yang sangat memekakkan telinganya.
Dengan pakaian santainya, t shirt berwarna putih di balut dengan cardigan berbahan wol berwarna mustard, dengan bawahan piyama abu-abu yang masih dikenakannya sejak tadi.
Rambut Harumi tergerai panjang dengan gelombang-gelombang hitam yang lembut.
"Rumi" Ameera menatapnya
Harumi sempat terkejut karena ia tidak menyadari kehadiran Kaka iparnya tersebut. "Yah"
Ameera berjalan mendekatinya lalu melipat tangan "Bagaimana hari ini kita lunch di luar ?"
"Lunch dimana ?" Harumi tampak bingung
Harumi mungkin saja merasa lebih baik jika tampak dari luar, tapi Tidak di dalam dirinya.
Dengan wajah sumringah, Ameera mendorong tubuh Harumi "Ganti pakaianmu cepatlah, berhubung Alana masih sekolah, Robert di Kantornya, sebentar lagi Mertuaku akan mampir kemari, dan ia bersedia dengan senang hati akan mengurus Julie dan Jamie selama kita keluar. So, cepatlah bersiap."
Harumi mengernyit "Memangnya kita mau kemana."
"Jangan banyak bertanya, cepatlah ganti pakaianmu." Alis Ameera terangkat ketika menatap adik iparnya tersebut.
Tak berlangsung lama, Harumi sudah berganti pakaiannya dengan dress terusan selutut berwarna lime, dan menggulung rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Saat ia sudah siap dan menuruni tangga. Ameera menatap tetiba berkomentar dengan sedikit menyipitkan kedua matanya "Kenapa wajahmu sepolos itu Rumi, hmm sangat pucat. Ada baiknya kau menggunakan sedikit Makeup agar terlihat lebih fresh. Ayo ikut ke meja rias ku" Ameera tanpa pikir panjang langsung menarik lengannya.
Mereka menuju dressing room, yang terhubung langsung ke Ruang Riasnya. Luar biasa, Harumi tidak menyangka sebelumnya. Kalau ada Ruangan seindah ini.
Ameera sangat beruntung dengan segala kemewahan yang dimilikinya dan ini semua sangat diimpikan para Wanita.
"Welcome to My World" ucap Ameera dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung
Harumi tak bisa berkomentar apapun lagi, Dia sangat kagum dengan dressing room yang bernuansa putih dan silver ini yang begitu elegan.
Banyak sekali gaun-gaun pesta yang tergantung rapi dengan berbagai motif, dan tas-tas mewah yang tersusun menyesuaikan ukuran dan warnanya dalam sebuah lemari kaca yang di lengkapi penerangan.
Ini semua Benar-benar luar biasa bagi Harumi.
"Duduklah, aku akan memberimu sedikit polesan." Ameera dengan antusiasnya
"Apa Julie dan Jamie tidak apa-apa jika kita disini ?"
Ameera terkekeh "Tidak perlu khawatir, Mertuaku sudah datang saat kau berganti pakaian tadi. Sekarang ia bersama dengan kedua cucunya di kamar Jamie."
Harumi mengamati perlahan-lahan setiap sudut ruangan yang sebagian besar dipenuhi oleh kaca tersebut. Sampai akhirnya, sorotan matanya terhenti pada satu titik.
Ada sesuatu yang tetiba mencuri perhatiannya, sebuah foto di atas rak tepat di bagian meja rias tersebut.
Foto seorang wanita sedang menggendong seorang bayi perempuan.
Harumi berdiri mendekati dan mengamati foto itu dari dekat. "siapa yang ada di dalam foto ini ?"
Ameera yang tengah fokus mengambil kapas makeup dan alat lainnya di rak makeupnya, berbalik menatap Harumi lalu beralih melihat ke arah foto tersebut.
"Ooh, She is My Mother"
Mother ? Harumi sedikit asing dengan jawaban Ameera, karena ia sangat mengenal wajah Elena mertuanya. Dan difoto ini, Wanita yang sedang menggendong seorang bayi ini tentu sangat jelas wanita ini bukanlah Elena yang dikenalnya. Sangat berbeda jauh. Wajahnya lebih Asia sedangkan Elena berdarah Amerika.
"Maksudnya ?"
Ameera meletakkan kembali alat makeupnya dan berfokus pada Harumi "She is My Mother, My Real Mother. Apa Anton tidak pernah bercerita apapun tentang diriku padamu ?"
Harumi menggeleng pelan.
"Oh God, Si Bodoh itu benar-benar sangat merepotkan." gumam Ameera kesal
Harumi bertanya dengan datar "Lalu...maksudnya ?"
Ameera menarik napas perlahan "Anton adalah saudara tiriku. Hmmm, yang di dalam foto itu adalah Ibu Kandungku, dia sudah meninggal di saat usiaku 8 tahun karena kanker hati yang di deritanya beberapa tahun sebelumnya. Ibuku berasal dari Filipina, Namanya Nenita Baquiran. Pertama kali, ibuku bertemu dengan ayah sewaktu di Bali, ketika ayah masih menjadi Tour Guide di sana. Ibu adalah salah turis yang berkunjung ke sana. Mereka saling jatuh cinta dan menikah, lalu ayah menerima pekerjaan dari kenalannya di sebuah perusahaan otomotif sebagai mekanik di New York. Dan akhirnya mereka memutuskan pindah ke sana."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1